“Ada kalanya api besar itu menjadi hal yang menyengankan, disertai tawa riang dan obrolan pelepas lelah. Berbagi kehangatan di pertigaan Dieng”
Prau – Tugu Perbatasan
Telaga Dringo
Kisah Sindoro Sumbing
Sindoro dan Sumbing, nama mereka cantik sekali… seperti memang terlahir akan selalu bersama… berdampingan, berdekatan, saling memperhatikan..
Ditengah dinginya 2565 mdpl puncak dieng, hamparan taman bunga di atas langit, mahakarya Tuhan yang telah membuatnya sangat sempurna… Sumbing terpaku, terpana, dia tidak menyangka untuk ke dua kalinya, Sindoro meminang Sumbing… ditempat yang sama… di ketinggian yang sama… di taman bunga yang sama.. dibukit ilalang yang sama… bahkan di Titik yang sama…
Sindoro selalu ingat tempat itu, bahkan sesungguhnya Sumbing adalah wanita pertama yang Sindoro ajak ke tempat itu… tempat yang belum banyak orang tahu…. lagi-lagi Sindoro tak menemukan jawabannya, bibir sumbing bahkan membeku di tengah dinginya puncak Prau… disaksikan kebisuan merbabu dan merapi…
Sindoro menutup kekecewaanya, dia tengah berada di roda yang di putar Sumbing… dengan tunduk, dia mengucap lirih…
untaian rasa yg ku selipkan
semoga mampu tuk meluluhkan
hati pemilik senyum itu
berbagai cara akan ku coba
agar aku takkan kehilangan
pandangan dari senyum itu
dan bisa aku katakan
jadi kekasihku
akan membuat
kau jauh lebih hebat
percaya padaku,
percaya padaku,
jiwaku untukmu,
hidup terlalu singkat
untuk kamu lewatkan
tanpa mencoba cintaku
dan lagi-lagi, Sumbing diam membisu,… banyak hal yang belum di mengerti Sindoro, bergejolak dalam hatinya, apalagi yang kurang??? harus aku bawa kamu kemana Sumbing??? harus sejauh apa perjuanganku untukmu?? tidak kah cukup bagimu, puncak ini? hamparan taman bunga atas awan ini? dan ini kedua kalinya aku meminangmu sumbing??? dan untuk ratusan kalinya kamu dengar aku sayang kamu??? sumbing… buat aku mengertiii… 1 kata saja… teriak batin Sindoro.
Dalam hening, sunyi, sepi, hanya hembusan angin yang terdengar, Sumbing lalu bercerita… kisah legenda Tangkuban Perahu„, Sindoro, diam, membisu…
kisah sangkuriang dan dayang sumbi„ seorang pria yang tampan dan sakti bertemu wanita cantik. mereka jatuh cinta dan berkeinginan menikah. tetapi sang wanita baru menyadari ada luka di pelipis yang mirip dengan anaknya dulu yang hilang setelah ia pukul. sang wanita ingin membatalkan pernikahan dengan memberikan syarat kepada sangkuriang untuk membuatkan danau dan perahu dalam semalam. tetapi sangkuriang tidak bisa menyanggupi dan marah dengan membalikkan perahu yang setengah jadi. perahu itu konon menjadi gunung “tangkuban perahu”.
Sindoro bingung, dengan maksud cerita itu… Sumbing senyum, ia bilang..
“syarat yang diberikan dayang sumbi sangat berat, tapi tidak mematahkan semangat Sangkuriang…”
Sindoro, masih terdiam„, kemudian Sumbing bercerita lagi. masih ingat kisah cinta dyah pitaloka? ingat hayam wuruk?
ingat bahwa gelegak cinta Saniscara terhadap Dyah Pitaloka. Dengan kekuatan cintanya Saniscara melukis putri pujaannya seolah hidup. Namun, lukisannya pula yang membuat Prabu Hayam Wuruk kemudian ingin menyunting Putri Sunda itu. Kisah cinta mereka berdua menjadi bumbu yang sangat “pedas” yang mengiringi Tragedi Bubat.
Perang Bubat adalah tragedi sejarah di mana Raja Sunda-Galuh (Pajajaran) dan putrinya, Dyah Pitaloka, beserta seluruh pengiringnya gugur dalam pertempuran melawan pasukan Gajah Mada di Tegal Bubat. Raja Pajajaran Prabu Linggabuana tidak sudi meluluskan permintaan Gajah Mada, yang meminta Dyah Pitaloka diserahkan sebagai upeti, tanda tunduk kepada kekuasaan Majapahit. Padahal, dalam perjanjian sebelumnya Dyah Pitaloka akan dipersunting menjadi permaisuri Prabu Hayam Wuruk.
Harga diri ksatria Sunda terkoyak dengan permintaan Gajah Mada. Mereka yang hanya berjumlah kurang dari seratus orang itu kemudian mengamuk melawan pasukan segelar sepapan Majapahit. Semua pengiring raja dan Putri Sunda yang sudah bersiap besanan dengan Maharaja Majapahit pun akhirnya tumpas tapis, termasuk Dyah Pitaloka yang memilih mengakhiri hidupnya dengan mati lampus (bunuh diri).
“begitu rumit kisah cinta orang lain Sindoro, jangan anggap kisahmu yang paling menyedihkan…”
Sindoro, tertegun„ dia tatap tajam mata Sumbing… bingung apa yang harus dikatakan… Sumbing masih melanjutkan ceritanya yang lain…
Baginda Sulaiman yang memang sudah tak sanggup lagi membayar hutang-hutangnya tidak menemukan pilihan lain selain yang ditawarkan oleh Datuk Maringgih. Yaitu menyarahkan puterinya Siti Nurbaya kepada Datuk Maringgih untuk dijadikan istri.
Siti Nurbaya menangis menghadapi kenyataan bahwa dirinya yang cantik dan muda belia harus menikah dengan Datuk Maringgih yang tua bangka dan berkulit kasar seprti kulit katak. Lebih sedih lagi ketika ia teringat Samsulbahri, kekasihnya yang sedang sekolah di stovia, Jakarta. Sungguh berat memang, namun demi keselamatan dan kebahagiaan ayahandanya ia mau mengorbankan kehormatan dirinya dengan Datuk Maringgih.
Sindoro tertegun, apa maksud dari cerita legenda yang diceritakan Sumbing, dengan lirih, sumbing berkata, kamu mau tau, carita “Dewi Rengganis”… Sindoro mengangguk lembut, diam dengan seksama mendengar cerita Sumbing.
Kisah cinta Ki Santang yang merupakan keponakan Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran) dan Dewi Rengganis yang merupakan putri dari Kerajaan Majapahit. Perang Bubat yang melibatkan Kerajaan Pajajaran dan Majapahit memisahkan kedua sejoli tersebut. Namun karena rasa cinta yang sangat dalam, mereka saling mencari dan akhirnya dipertemukan kembali di sebuah tempat yang hingga kini bernama Batu Cinta.
Setelah keduanya bertemu kembali, dikisahkan Dewi Rengganis meminta Ki Santang untuk membuat sebuah danau dan sebuah perahu untuk berlayar. Perahu itulah yang kini menjadi sebuah pulau berbentuk hati ditengah Situ Patengan.
Sindoro, mulai memahami, tidak semua yang diperjuangkan itu, akan berakhir tragis… tapi kita harus siap, dengan kemungkinan yang akan terjadi…
“Sindoro…Kalo boleh lagi, aku tak ingin jatuh cinta. Jatuh itu sakit, boleh dibuat melayang saja karenanya? Rasa-rasanya tidur di awan menyenangkan. Lalu, ketika aku melayang, aku akan terbang. Aku akan melewati hutan awan, dan tak akan lagi berharap pada bintang jatuh. Biar kukunjungi ia sendiri dan kugigiti ribuan bintang hingga kenyang.”
Lagi-lagi Sindoro, dibuat kaget oleh Sumbing„, Sumbing, menceritakan banyak kisah cinta yang perlu perjuangan, disini mereka belajar, bahwa Cinta itu perlu diperjuangkan bukan hanya dikatakan, Sindoro luluh, dan berjanji akan slalu berjuang untuk Sumbing, untuk Sumbing…untuk Sumbing…
Sumbing menunggu Sindoro
Sape Dayak Instrumen
Thank God you’ve made the instrument of Heaven at Borneo, SAPE!
to be continued…
Prau – Prosa Tak Beraturan
Adalah satu satunya hal penting yang disepakati dunia.
ukuran dalam meter atau kaki, kopi atau teh, buddha atau Allah, menyetir di lajur kiri atau kanan, liberal atau komunis, antartika atau gurun sahara, euro atau dolar, berhala atau atheis, forever atau 4ever, bunga tulip atau kincir angin, pemberontak atau vandalisme, menstream atau indie idealis, new zealand atau mountain cook, genghis khan atau temudgin, shinto atau bethlehem, memetik sitar atau dawai sape, tibet atau dalai lama, sulawesi atau garis wallace, casino atau pantai asuhan, taiwan atau cina taipe, vintage atau relic , sheryl crow atau regina spektor, country atau bagpipe scotland, menulis di kertas atau daun lontar, suriname atau maladewa, hawaii atau bunga sakura, salju eropa atau puncak jayawijaya,
Planet ini tidak bisa menghasilkan konsensus dalam hal apapun, kecuali benar² berada dalam ekspektasi lawan jenis yg sungguh hidup dan bisa memberikan esensi timbal balik
Pria Kesepian Akustik Cover
Traveller Kaskus DCF 2012
Nih poto-poto bareng #235 sebelum bubaran di DCF 2012. Loc : depan Losmen Asri
Gimbal Dieng
Alfarizi… akrab disapa Rizi.
Bisa ditemui di desa Patakbanteng, desa 2 KM sebelum Dieng dari arah Wonosobo








