Prau – Spesies Jamur Liar (Wild Mushroom)

Jamur sering kita jumpai pada saat musim penghujan pada tempat-tempat yang lembab. Jamur tumbuh di kayu-kayu yang telah lapuk, serasah, jerami, dan bahan organik yang lainnya. Umur hidup jamur tidaklah lama, pada musim kemarau jamur sulit ditemukan kecuali pada lantai-lantai hutan yang iklim mikronya masih sangat bagus. Tidak semua orang mengetahui manfaat jamur, bahkan ada beberapa orang yang tidak tertarik untuk mengenalnya karena alasan kotor dan beracun. Beberapa jenis jamur telah diketahui bisa dimakan (edible mushrooms) bahkan ada yang berkhasiat obat. Tapi ada juga beberapa jenis lainya yang berbahaya untuk dimakan.

Identifikasi jamur liar di hutan Gunung Prau perlu dilakukan untuk mengetahui keragaman jamur liar yang tumbuh di dalamnya. Dari kegiatan identifikasi akan dapat diketahui jenis jamur apa saja yang berpotensi untuk dimakan, yang beracun, dan yang berkhasiat obat.

Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya, yaitu dalam hal : struktur tubuh, cara makan, dan reproduksinya.

a. Struktur Tubuh
Struktur tubuh jamur ada yang satu sel, misalnya: khamir, ada pula jamur yang multi seluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, misalnya : jamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.

Tubuh buah jamur pada umumnya tersusun oleh bagian bagian yang dinamakan  tudung/cap (pileus), bilah (lamellae), kumpulan bilah (gills), cincin (annulus/ring), batang/tangkai (stipe), cawan (volva), akar semu (rhizoids), sisik (scale)

b. Cara Makan
Untuk memperoleh makanan jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya yang akan disimpan dalam bentuk glikogen. Jamur bersifat heterotrof yaitu sebagai konsumen murni yang bergantung pada subtract yang menyediakan karbohodrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
  1. Parasit Obligatif, merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya, sedangkan diluar inangnya tidak dapat hidup, misalnya Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS).
  2. Parasit Fakultatif, merupakan jamur yang bersifat parasit jika mendapat inang yang sesuai, tetapi dapat bersifat saprofit jika tidak menemukan inang yang cocok.
  3. Saprofit, merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang telah mati.
c. Reproduksi
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generative) dan aseksual (vegetative). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Sedangkan secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu.
Berikut macam spesies jamur yang berhasil kami temui tumbuh di rimba Gunung Prau :








Identifikasi jamur dilakukan pada jalur tracking yang ada di dalam kawasan rimba Gunung Prau. Selama di lapangan dilakukan pengambilan gambar dengan kamera. Selanjutnya akan dilakukan identifikasi jenis berdasarkan bentuk, warna, dan ukuran tubuh buah dengan merujuk pada berbagai sumber. Kami sangat senang bilamana ada yang hendak bertukar informasi dan sharing dengan kami tentang bahasan ini. Terimakasih.

Daftar Referensi :
dhony-syach.blogspot.com
wikipedia

MPCP (Mount Prau Conservation Program)

Preambule
Permasalahan utama yang sering timbul di kawasan hutan Gunung Prau adalah kebakaran hutan dan penggundulan hutan oleh masyarakat untuk kayu bakar dan para pembuat arang. Kebakaran selain dipicu oleh alam, juga disebabkan oleh sisa api para pembuat arang dan mungkin rokok masyarkat atau pendaki di musim kemarau. Dari data yang dikumpulkan teman-teman dari Bull Eggs, saat ini diwilayah Gunung Prau bagian selatan ada sekitar 45 hektar lahan yang gundul dan harus segera ditanami.
– Solusinya adalah dengan mengadakan bibit tanaman kehutanan dan melakukan reboisasi di kawasan hutan Gunung Prau. Diusahakan bibit tanaman yang ditanaman adalah tanaman hutan asli Gunung Prau dan yang tidak mempunyai nilai secara ekonomis hingga kemungkinan ditebang untuk dimanfaatkan oleh masyarakat kecil. Hal ini untuk menghindari penebangan atau pencurian di kemudian hari.
– Reboisasi akan dilakukan dengan populasi tanaman 500 pohon per ha dengan harga bibit tanaman kehutanan Rp 1.500 per pohon, jadi untuk luas lahan 45 ha dibutuhkan dana Rp 33.750.000. Dana ini secara bersama-sama akan dicari oleh panitia.

Masalah lain yang harus segera diselesaikan adalah kasus penangkapan dan pencurian satwa liar di kawasan hutan Gunung Prau. Kasus terbanyak adalah penangkapan burung penghuni kawasan hutan Gunung Prau dari lereng selatan. Juga perburuan liar satwa lain seperti kancil, rusa, macan, dan sigung, baik dikawasan hutan lereng utara, selatan, dan barat.
– Solusi dari perburuan dan penangkapan satwa liar ini adalah dengan mengadakan sosialisasi undang-undang tentang penangkapan dan perburuan satwa liar kepada para pemburu dan masyarakat di sekitar hutan Gunung Prau. Para masyarakat pemburu satwa liar akan dikumpulkan, terutama di wilayah lereng selatan untuk sosialisasi masalah pelarangan perburuan. Jika masih ada perburuan setelah sosialisasi maka undang-undang akan diterapkan dan akan diproses sesuai hukum yang berlaku.
– Solusi lainnya untuk sosialisasi adalah akan ada pemasangan undang-undang tentang perburuan satwa liar ini di jalur masuk pendakian di Pathak Banteng, Kenjuran, dan di Tugu Perbatasan di Puncak Teletubies.

Akan dilakukan pemetaan flora dan fauna di kawasan hutan Gunung Prau. Sebagai penanggungjawab yaitu Saudara Andi Gunawan sebagai seksi perlindungan satwa liar dan Nur Khamid sebagai seksi perlindungan tanaman hutan. Pekerjaan pemetaan flora dan fauna akan mendata flora dan fauna apa saja yang ada di kawasan hutan Gunung Prau, dan diharapkan ada jumlah populasinya. Juga pemetaan lokasi habitatnya.
Hasil pemetaan flora dan fauna ini selain berupa data jenis dan jumlah juga diharapkan ada data berupa foto dan video flora dan fauna yang ada. Untuk itu kedepan, akan dilakukan ekspedisi pendataan flora dan fauna secara bersama dengan team fotografer dan videografer. Juga akan dilakukan pelatihan pengenalan flora dan fauna dan pelatihan fotografi untuk teman-teman di lapangan.

Rencana jangka panjang adalah merubah status hutan yang ada di kawasan Gunung Prau menjadi daerah konservasi. Saat ini hutan ini masih dikelola oleh PT Perhutani, hingga masih banyak tumpang tindih kepentingan, baik masyarakat maupun para mantri PT Perhutani sendiri. Harapannya adalah hutan di kawasan Gunung Prau akan menjadi Taman Nasional Gunung Prau, sesuai tahapan yang berlaku di Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementrian Kehutanan.

Kampanye tentang target “Taman Nasional Gunung Prau” ini akan dilakukan bersama-sama, dengan membuat petisi online, dengan artikel di majalah dan koran, juga media online dan elektronik, dan akan menekan Kementrian Kehutanan untuk merealisasikan tujuan ini.
Kedepan, promosi dan kampanye akan dibantu oleh “Bee Violet” band yang ada dibawah management PT Samatha Music Indonesia. Bee Violet selain membantu kampanye dalam setiap performnya, juga akan membantu mencarikan dana untuk operasional teman-teman di lapangan.
Sebagai rumah untuk pekerjaan ini, akan dibentuk website yang berisi segala induk informasi di www.gunungprau.com.

Untuk legalisasi dan mewadahi pekerjaan teman-teman yang bekerja untuk pelestarian hutan di Gunung Prau ini maka akan dibentuk lembaga dan dilegalkan dengan bentuk Yayasan. Tujuan legalisasi ini adalah untuk memudahkan membentuk jaringan dan berhubungan dengan lembaga serupa baik di dalam maupun di luar negeri, dan pertanggungjawabannya jelas.

Nama Yayasan yang sampai saat ini disepakati adalah “Yayasan Pelestarian Gunung Prau”.

1. Sebagai “Ikon” Gunung Prau yang akan menjadi logo dan nilai jual kawasan Gunung Prau adalah tanaman atau satwa endemik yang ada di Gunung Prau. Disepakati, ikon yang akan digunakan adalah kantong semar yang ada di Gunung Prau, yaitu Nepenthes gymnamphora. Jika akan menggunakan perwakilan flora dan fauna, maka akan digunakan Nepenthes gymnamphora dan Nisaetus bartelsi.

2. Program pendanaan untuk mendukung pekerjaan akan dibuat dengan prioritas sumber dana adalah swadaya. Dengan cara membuat sebuah badan usaha yang bidang usahanya akan dipikirkan sambil berjalan nanti. Salah satunya adalah dengan mematenkan nama “Prau” ke Dirjen HAKI oleh Yayasan Pelestarian Gunung Prau dalam berbagai kategori produk. Selanjutnya nama “Prau” akan menjadi merk dagang, dan yang menggunakan merk ini akan membayar royalti kepada Yayasan Pelestarian Gunung Prau untuk sumber dana.

3. Akan dilakukan pelatihan dan standardisasi terhadap guide yang akan memandu para pengunjung ke kawasan Gunung Prau. Kemudian akan dibuat dua trip dari pintu masuk Pathak Banteng. Yaitu “Sunrise Trip” dan “Gymnamphora Trip”. Pelatihan juga akan dilakukan untuk calon guide di lereng utara. Untuk promosi wisata kawasan Gunung Prau akan dibuat foto-foto dari Puncak Prau dan dipublikasikan di hotel-hotel dan penginapan serta di TIC (Tourist Information Centre) di kawasan Dieng Plateau.

4. Untuk merangsang masyarakat di sekitar Gunung Prau lebih peduli lingkungan maka tiap tahun Yayasan Pelestarian Gunung Prau akan memberikan award kepada masyarakat yang berperan besar terhadap pelestarian kawasan Gunung Prau. Award akanberupa piala berupa simbol Gunung Prau dan berupa uang yang akan dicari dari sponsor atau lembaga lain. Nama award ini diusulkan adalah “Gymnamphora Award”. Dan untuk tahun 2013 salah satu nominator penerima “Gymnamphora Award” adalah pak Basri yang berada di Desa Kenjuran, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal.

5. Setelah susunan panitia terbentuk, program kerja selesai, dan legalitas Yayasan Pelestarian Gunung Prau siap, maka pengurus akan melakukan audience kepada pihak-pihak terkait. Misalnya kepada PT Perhutani, BKSDA, Bupati Kab. Kendal, Wonosobo, Banjarnegara, dan Pekalongan. Juga kepada Kementrian Kehutanan.

6. Untuk kesuksesan pekerjaan ini maka dibentuk pengurus yang terdiri dari: Disini

Mount Prau Conservation Program, Patean-06 Februari 2013
(Notulen Rapat)

MPCP Activity :

Curug Sirawe

Sempat bingung mau nulis dalam bentuk FR (field report) atau hanya sekedar informasi baku tentang curug ini :D. Setelah dipikir, mending menggabungkan 2 gaya tersebut #uhuk

Untuk kesekian kali, bukan hal umum yang saya tulis tentang apa yang ada di kawasan dataran tinggi Dieng. Sudah banyak yang menulis tentang apa itu telaga warna, kawah sikidang, komplek candi arjuna dan hal mainstream lainya di Dieng. Itu standar dan tidak akan saya ulas. Dan mungkin juga sudah ada beberapa postingan di internet yang menulis tentang curug ini… tp saya mencoba menyajikanya ala blog ini sendiri.

Sebenarnya… secara wilayah curug sirawe masuk dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang, kabupaten Batang. Karena sejarah, orang lebih banyak mengetahui curug ini masuk wilayah Banjarnegara, tepatnya desa Bitingan. Lalu bagaimana sejarahnya? Katanya… dulu curug ini sempat menjadi rebutan 2 kabupaten, Banjarnegara dan Batang. Pihak Banjarnegara mengklaim curug sirawe sebagai asetnya karena memang sumber mata air curug (di desa Bitingan) masuk wilayah Banjarnegara. Pihak Batang tidak begitu saja meng-iya-kan klaim tersebut, karena memang curugnya sudah masuk wilayah Batang. Pihak Batang berdalih, kalau memang curug tersebut mau diaku menjadi milik Banjarnegara, pihak Banjarnegara tidak diperkenankan mengalirkan aliran sumber mata air dari desa Bitingan tersebut ke wilayah Batang oleh pihak Batang. Dengan begitu Banjarnegara diharuskan mencari jalan lain untuk meneruskan aliran sumber mata air tersebut ke wilayah Banjarnegara sendiri, tidak ke wilayah Batang. Batang rela tidak memiliki curug Sirawe asal air yang mengalir dari wilayah Banjarnegara tidak mengalir ke wilayah Batang. Itu dirasa sulit dilakukan, karena cekungan atau daerah yang lebih rendah tempat jatuhnya air yang terdapat di sekitar daerah tersebut merupakan wilayah Batang. Dan kontur disitu murni proses alam atau lebih luasnya adalah ciptaan Tuhan. Aliran air dari curug ini menjadi sungai besar di kecamatan Bawang dan bermuara di pantai utara. Jadi bisa disimpulan seperti ini :

  • Mata air berasal dari wilayah Banjarnegara, tepatnya dusun Bitingan, desa Kepakisan, Kecamatan Batur
  • Air yang mengalir manjadi curug sudah masuk wilayah Batang, tepatnya dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang

Karena proses pemikiran tersebut curug Sirawe jatuh ke pangkuan Batang. Tetapi pihak Batang tidak serta merta membangun sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata di tempat ini, apalagi mempromosikanya. Curug ini dibiarkan saja seperti aslinya. Mungkin Batang sudah berpikir antara anggaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang akan didapat. Tetapi entah nanti jika Batang berubah pikiran :). Jika dipikir, untuk membangun proyek besar ini sebagai obyek wisata yang potensial di kabupaten Batang, maka Batang harus memperbaiki jalan antara Bawang – Bintoro – Sigemplong, atau jalan antara Bawang – Pranten – Sigemplong dan jembatan di selatan desa Pranten yang entah bagaimana kabarnya :)
Review nya bisa dilihat disini : Desa Pranten

Berbicara akses ke curug Sirawe, ada 2 jalur yang bisa dilewati. Pertama jalur Pawuhan (Geodipa) – Siglagah – Sigemplong. Dari Pawuhan dihadapkan jalanan aspal dan cor beton yang mengelupas. Sesampai Sigemplong kendaraan berhenti disini, dilanjut dengan jalan kaki ke atas desa, ke lereng gunung Sipandu. Kemudian menyusuri jalan setapak alternatif penghubung desa Sigemplong dan desa Bitingan. Jalur ini sulit dan jauh. Akan lebih sulit dan berbahaya di musim hujan.
Jalur kedua bisa lewat Kepakisan – Kawah Sileri –  Bitingan. Jalur ini lebih dekat dari jalur Sigemplong. Jalanan aspal mengelupas tetap bisa dijumpai dari pertigaan kawah Sileri sampai desa Bitingan. Sampai desa Bitingan semua kendaraan berhenti, menuju curug dilanjut dengan jalan kaki.
Kedua jalur tersebut sama sulitnya ketika memasuki turunan curug Sirawe, terlebih jika musim hujan.

Mengenai hal lain, curug ini gabungan dari air panas dan air dingin serta 2 air terjun yang berjejer. Air panas berasal dari proses geothermal di pegunungan Dieng, dan air dingin dari sungai biasa. Yang saya lihat, disekitar curug masih terjaga hutan heterogen khas dengan pohon pohon besarnya.

ツ ツ ツ

Saya dan tim berangkat dari Dieng sekitar pukul 9 malam, lewat jalur Pawuhan Siglagah Sigemplong. Sekitar 15 menit kami sampai di Sigemplong, mampir ke rumah sesepuh desa tersebut. Nitip motor dan pamitan untuk bermalam di wilayah curug Sirawe. Perjalanan dilanjut jalan kaki menyusuri lereng gunung Sipandu, sepi gelap dingin dan berkabut. Sesampai tempat yang di maksud, kami bingung hendak dimana mendirikan tenda. Karena tempat landai sangat jarang dan ini merupakan bukan area camp yang wajar. Setelah pilah pilih tempat diputuskan nenda di samping perkebunan kentang warga, dimana sebelah baratnya adalah jurang curug Sirawe. Tak banyak yang dilakukan setelah tenda berdiri, ngobrol dan ngopi saja. Sesekali terdengar hembusan suara air curug yang terbawa angin. Malam ini beraura horor tapi saya suka :D. Pukul setengah 12 an kami tidur didalam tenda zzz…

Keesokan harinya, pagi jam 6 kurang 5 menit bangun dan keluar tenda, subhanallah… tepat dibelakang tenda terlihat jauh 2 curug yang berjejer tersebut, ini yang di cari! Pemandangan ini tidak kami jumpai semalaman… Terbayar rasanya bermalam disini dengan berbagai rasa semalam. Desa Bitingan nampak tertata rapi diatas curug. Dari sebelah timur muncul mentari dari sisi gunung Prau, di sebelah tenggara ada gunung Sipandu, di sebelah utara nampak ijo hutan hutan lebat. Spot yang komplit buat selow… Banyak ditemui petani yang berangkat berkebun dan tampaknya mereka bingung dengan keberadaan kami. Bermalam di tempat seperti ini mau cari apa tanya-nya…
Mengemas tenda dan perabot camp done, dilanjut jalan ke timur menyusuri lereng Sipandu, kembali menuju desa Sigemplong tepatnya. Sambil berjalan melihat aktivitas petani sekitar sini, sesekali mengobrol. Perjalanan kembali ke Sigemplong cukup lama, karena melewat jalur memutar arah desa Bintoro. Di jalur ini masih banyak terdapat tanaman ucen liar dan gandapura. Pukul 10 pagi tiba dirumah sesepuh desa Sigemplong tempat menitip motor. Gak lama berselang kami berpamitan. Sampai di penghujung desa mampir dulu di sumber air panas, berniat mandi dan melepas lelah. Kurang lebih 1 jam berada di pancuran air panas ini dan hasilnya… sangat freshhh! #lebaydikit
Pukul 12 siang lebih kami sampai lagi dieng :D

Desa Bitingan nampak diatas curug Sirawe

Matahari pagi dari samping gunung Prau

Gunung Sipandu

Lahan kentang & langit di sebelah utara

Hutan lebat disebelah barat, berjajar sampai telaga Dringo

Desa Pranten dari atas Sigemplong

Ucen liar

Lebih dekat lagi dengan Ucen

Gunung Prau

Pancuran air panas

Pemandangan depan pancuran, sekitar lereng Prau

Curug kecil sekitar pancuran air panas

Pemandangan desa Pranten dari sekitar air panas

Di Balik Keindahan Alam dan Budaya Dieng

Dieng… mendengar namanya akan langsung terpikirkan sebuah area pegunungan yang sangat dingin. Ya, Dieng adalah sebuah kaldera raksasa dari gunung Prau purba. Konon Dieng adalah sebuah cekungan bekas letusan kawah gunung Prau purba yang begitu besar. Dan bekas kawah itu menjadi pemukiman penduduk dengan pertanian yang sangat subur. Selain itu, Dieng adalah salah satu obyek wisata andalan Jawa Tengah yang dimiliki oleh kabupaten Wonosobo (dieng wetan) dan kabupaten Banjarnegara (dieng kulon).

kaldera dieng, dikiri adalah telaga warna dan pengilon

Dari sisi wisata, Dieng mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Untuk wisata dataran tinggi, Dieng merupakan tujuan wajib bagi turis mancanegara selain Bromo-Tengger-Semeru di malang dan kawah Idjen di Banyuwangi. Banyaknya pengunjung, dilengkapinya fasilitas dan diperbaikinya infrastruktur menjadi contoh wisata Dieng berkembang dengan baik. Keunggulan Dieng, banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi dalam satu komplek. Lihat saja, Telaga warna, telaga pengilon, komplek goa semar, DPT, kawah sikidang, candi bima, sunrise sikunir, telaga cebong menjadi obyek yang dimiliki oleh Wonosobo. Kemudian komplek candi arjuna, museum kailasa, candi dwarawati, kawah sileri, kawah candradimuka, sumur jalatunda dan telaga merdada menjadi milik Banjarnegara. Wisata budaya diwakili oleh candi-candi dan bangunan purbakala lain. Wisata alam banyak dijumpai berupa telaga, kawah dan keindahan alam lain. Satu area yang komplit dah banyak pilihan obyek wisata.

penginapan

Banyaknya penginapan, tersedianya transportasi, internet dan fasilitas lain menjadikan Dieng lebih baik. Dari segi ekonomi pun sangat membantu perekonomian warga pribumi Dieng. Membuka penginapan, membuka warung makan, jualan souvenir, jualan oleh-oleh, tukang ojek, rental mobil dan motor, pengusaha warnet dan guide adalah pekerjaan yang muncul setelah Dieng menjadi obyek wisata yang berkembang. Perekonomian  Dieng menggeliat, banyak pilihan profesi dan tidak melulu bertumpu pada sektor pertanian. Walau tetap di sisi lain pertanian masih banyak diminati oleh warga Dieng. Warisan alam yang begitu subur ini sangat sayang untuk didiamkan. Wortel, kobis, loncang, lombok bagong dan kentang adalah sayuran yang sering ditemui di ladang pertanian sekitar Dieng. Hasil pertanian tersebut biasanya dikirim ke kota-kota di sekitaran Jateng – DIY, Bandung dan Jakarta. Satu lagi, buah-buahan yang hanya tumbuh di dieng yang biasa disebut carica. Seperti pepaya tetapi lebih kerdil ukuranya dan baunya wangi. Buah ini biasanya diolah menjadi manisan carica, dikemas dalam botol dan menjadi salah satu oleh-oleh andalan khas Dieng.

candi dwarawati, candi di kaki gunung prau

carica

Dari sisi spiritual, dieng juga tak kalah mistis. Sebut saja goa semar. Salah satu goa yang terletak ditengah-tengah telaga warna dan pengilon. Di sebelahnya terdapat goa jaran dan goa sumur yang konon di dalam goa, antara goa satu dan goa lain saling terhubung. Goa ini bisa dilihat dari luar tetapi tidak sembarang orang boleh masuk. Di bibir goa ditutup pakai pintu besi dan digembok. Di dalam goa sering digunakan untuk ritual, semedi, meditasi, yoga,  dan kegiatan semacamnya oleh orang yang berkepentingan. Dan tentunya setelah mendapat ijin dari sang juru kunci Dieng, pak Rusmanto salah satunya . Gunung kendil, gunung pakuwaja, gunung bisma dan gunung prau adalah gunung-gunung yang dikeramatkan dan sering digunakan untuk kegiatan ritual. Masih bisa ditemuin dupa, menyan dan kembang di tempat ritual gunung-gunung tersebut.

gunung pakuwaja, batu besar untuk ritual

Dari segi alam, Dieng menyuguhkan berbagai keindahan alam lukisan maha pencipta. Kawah-kawah yang telah mati dan kemudian terisi air, kawah-kawah yang masih hidup , air terjun, bukit-bukit kecil, dan sumber air panas. Tetapi dibalik keindahan alam tersebut ada bahaya yang mengancam baik dari dalam atau dari luar tanahnya. Dimulai dari luar, keadan para petani kentang dan tanaman sayuran lain yang memanfaatkan lahan miring di perbukitan dan gunung-gunung kecil dapat memicu terjadinya erosi dan tanah longsor. Hutan yang seharusnya menjadi daerah resapan air dengan tanaman kayu keras dan akar tunggang berubah menjadi lahan gembur pertanian berakar serabut. Yang secara otomatis akan sangat mengurangi daya cengkeram tanah saat hujan turun. Tanah yang seharusnya stabil akan mudah tergerus kebawah bersama air hujan, mengingat curah hujan di dieng cukup tinggi. Sekarang pun longsor kecil sudah sering terjadi kalau hujan turun berjam-jam. Di bahu-bahu jalan, di tebing-tebing longsor sudah menjadi pemandangan wajib. Salah satu puncaknya adalah peristiwa longsor di desa Tieng, akhir Desember 2011. Puluhan rumah warga hancur dan belasan nyawa menjadi korban. Itu terjadi karena lereng timur gunung prambanan telah gundul, dari hutan berubah menjadi lahan pertanian.

telaga warna, salah satu warnanya adalah karena belerang

salah satu kawah di gunung pangonan

kawah sikidang

Tetapi sebagian warga sadar akan hal tersebut. Bersama pemerintah, sudah beberapa daerah rawah longsor mulai ditanami pohon keras. Mengembalikan kodrat awal lahan miring menjadi lahan hidup tanaman keras. Gunung sikunir sekarang tampak lebat kembali, pohon-pohon mulai besar dan petani sudah dilarang kembali membuka lahan di area tersebut. Di puncak sebelah utara gunung prau pun mulai tumbuh kembali tanaman keras seperti cemara dan pinus. Walau masih kecil, setidaknya sudah ada langkah untuk mengembalikan gunung dan lahan miring menjadi hutan kembali. Dan di beberapa tempat lain, semoga kegiatan ini terus berjalan.

papan larangan kph kedu utara

salah satu sumur pltu geodipa

telaga dringo, bekas kepundan kawah

Kedua, bahaya dari dalam tanah, mengingat Dieng adalah daerah yang masih aktif. Fumarol dari bekas gunung berapi yang masih sering dijumpai mengeluarkan asap dan gas. Solfatara yang terdapat di kawah-kawah belerang dengan gas CO dan CO2 sangat berbahaya bagi manusia dan hewan jika berbaur dalam konsentrasi tinggi. Seperti yang pada peristiwa kawah Senila 20 Februari 1979 , 149 warga desa Pekasiran meninggal menghirup gas CO (karbon monoksida) dan yang terbaru ini, meningkatnya aktifitas kawah timbang (2011) yang mengegerkan warga Batur walau tak sempat merenggut korban jiwa.

Bagai dua sisi mata koin, dibalik peninggalan budayanya yang kuat, dibalik keindahan alamnya yang hebat, terdapat dua potensi dari tanah yang bisa dibilang bom waktu bagi Dieng sendiri, bisa muncul kapan saja jika alam berkehendak. Mari kita jaga dan rawat alam ini, hingga tercipta suatu timbal balik yang saling menguntungkan.

Wasallam :)

Disadur dari tulisan pribadi di Blog Kompasiana Cincin Api (klik ikon)

*Semua poto adalah karya pribadi

Gunung Prau – Awesome Juli

Ceritanya simple…

Kami ber 3 berangkat nanjak dari Dieng jam 2 siang, jalur mainstream.
Tanpa dokumentasi karena langsung tancap gas, ngibrit bagai anjing kena timpuk,
tak lupa ditambah ngos – ngosan tapi gak pake julurun lidah loh yah #Skip

Sampai pada hutan tower sekitar jam 4 sore dan langsung turun ke punggungan gunung menuju savana, dimana kanan jalan adalah jurang dan kalau jatuh saja bisa nyampe Dieng lagi. Bagai turun step karena nginjek lantai ular di permainan ular tangga #End

#1 – Ini poto di salah 1 puncak Prau, jepretan pertama dalam jalan sehat sore ini

#2 – Duduk – duduk di savana, nikmatin angin sepoi – sepoi

#3 – Hamparan bunga daisy (sepertinya sih spesies daisy endemik prau)

#4 – Bukit cinta (salah satu bukit di puncak prau )

#5 – Dobel S, “awesome”. Ini keesokan paginya

#6 – Landscaper, nunggu sunrise

#7 – Tinggal kasih jubah dah mirip “scarecrow”

#8 – Looks warm , kanan bawah “Taman Sireang” camp area

#9 – Kontur puncak gunung yang unik. Adakah ditempat lain? beri tahu saya

#10 – Before sunrise, Bukit Singgeni mendadak tertutup kabut

#11 – Three maskenthir, tugu perbatasan (ki – ka : danar – me – eko)

#12 – Trekking pulang

#13 – Telaga wurung berkabut, penuh dengan butiran butiran embun

#14 – Tiba di bukit pertama njepret, dan itu buah Cantigi

#15 – Romansa di ketinggian

#16 – Landscape Hunter

#17 – Perjalanan turun, ketemu ibu muda yang lagi ntraining putra putrinya

#18 – Pemuda tanggung di penghujung jalan (depan gunung Pangonan)

Sampai jumpa di Prau lagi :)