YPGP / MPCP – Rapat Pengurus #1

Diluar kesibukan masing-masing, rapat pertama ini berhasil mempertemukan kembali teman-teman seperjuangan dari 2 wilayah di lereng Gunung Prau, Wonosobo dan Kendal. Wonosobo diwakili dari Patak Banteng dan Kendal diwakili dari Sukorejo.

Rapat ini membahas visi misi kedepan MPCP, AD/ART , susunan pengurus dan pelegalan Yayasan Pelestarian Gunung Prau (YPGP). Banyak yang dibahas disini, termasuk juga pembuatan website www.gunungprau.com guna pusat informasi pelestarian dan kegiatan.

Tempat : Patean Sukorejo
Waktu : 6 Februari 2013
Daftar hadir :

  • Mujib Syafii
  • Andi Gunawan
  • Khamid Noer
  • Paulus Nugrahajati
  • Arin
  • Giyantono
  • Heri
  • Misyadi
  • Susanto
  • Desi Kristiana
  • Yoyok
  • Susana Y
  • Sendi Kurniawan
  • Bernard T. Wahyu Wiryanta

Adapun Kepengurusan yang terbentuk dalam rapat :

1. Ketua               : Bernard T. Wahyu Wiryanta
2. Sekretaris       : Desi Kristiana
3. Bendahara     : Paulus Nugrahajati
4. Humas :
– Humas Kawasan Lereng Utara      : Yoyok
– Humas Kawasan Lereng Selatan   : Mujib Syafii
– Humas Kawasan Lereng Barat      : Kukuh

1. Seksi Perlindungan Satwa Liar   : Andi gunawan
2. Seksi Perlindungan Flora             : Khamid Noer
3. Seksi Reboisasi                              : Susanto
4. Promosi dan Publikasi                 : Paulus N, Bernard T. Wahyu Wiryanta, Bee Violet Band


Selanjutnya masing-masing seksi dan yang menjabat pengurus akan membuat program kerja, masing-masing seksi dan mencari teman untuk membantu pekerjaannya. Tiap akhir bulan masing-masing seksi akan melaporkan pekerjaannya, kemudian team akan melakukan evaluasi dan membuat solusi dan program kerja selanjutnya. Selamat Bekerja :)

Prau – Spesies Jamur Liar (Wild Mushroom)

Jamur sering kita jumpai pada saat musim penghujan pada tempat-tempat yang lembab. Jamur tumbuh di kayu-kayu yang telah lapuk, serasah, jerami, dan bahan organik yang lainnya. Umur hidup jamur tidaklah lama, pada musim kemarau jamur sulit ditemukan kecuali pada lantai-lantai hutan yang iklim mikronya masih sangat bagus. Tidak semua orang mengetahui manfaat jamur, bahkan ada beberapa orang yang tidak tertarik untuk mengenalnya karena alasan kotor dan beracun. Beberapa jenis jamur telah diketahui bisa dimakan (edible mushrooms) bahkan ada yang berkhasiat obat. Tapi ada juga beberapa jenis lainya yang berbahaya untuk dimakan.

Identifikasi jamur liar di hutan Gunung Prau perlu dilakukan untuk mengetahui keragaman jamur liar yang tumbuh di dalamnya. Dari kegiatan identifikasi akan dapat diketahui jenis jamur apa saja yang berpotensi untuk dimakan, yang beracun, dan yang berkhasiat obat.

Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya, yaitu dalam hal : struktur tubuh, cara makan, dan reproduksinya.

a. Struktur Tubuh
Struktur tubuh jamur ada yang satu sel, misalnya: khamir, ada pula jamur yang multi seluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, misalnya : jamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.

Tubuh buah jamur pada umumnya tersusun oleh bagian bagian yang dinamakan  tudung/cap (pileus), bilah (lamellae), kumpulan bilah (gills), cincin (annulus/ring), batang/tangkai (stipe), cawan (volva), akar semu (rhizoids), sisik (scale)

b. Cara Makan
Untuk memperoleh makanan jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya yang akan disimpan dalam bentuk glikogen. Jamur bersifat heterotrof yaitu sebagai konsumen murni yang bergantung pada subtract yang menyediakan karbohodrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
  1. Parasit Obligatif, merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya, sedangkan diluar inangnya tidak dapat hidup, misalnya Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS).
  2. Parasit Fakultatif, merupakan jamur yang bersifat parasit jika mendapat inang yang sesuai, tetapi dapat bersifat saprofit jika tidak menemukan inang yang cocok.
  3. Saprofit, merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang telah mati.
c. Reproduksi
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generative) dan aseksual (vegetative). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Sedangkan secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu.
Berikut macam spesies jamur yang berhasil kami temui tumbuh di rimba Gunung Prau :








Identifikasi jamur dilakukan pada jalur tracking yang ada di dalam kawasan rimba Gunung Prau. Selama di lapangan dilakukan pengambilan gambar dengan kamera. Selanjutnya akan dilakukan identifikasi jenis berdasarkan bentuk, warna, dan ukuran tubuh buah dengan merujuk pada berbagai sumber. Kami sangat senang bilamana ada yang hendak bertukar informasi dan sharing dengan kami tentang bahasan ini. Terimakasih.

Daftar Referensi :
dhony-syach.blogspot.com
wikipedia

MPCP (Mount Prau Conservation Program)

Preambule
Permasalahan utama yang sering timbul di kawasan hutan Gunung Prau adalah kebakaran hutan dan penggundulan hutan oleh masyarakat untuk kayu bakar dan para pembuat arang. Kebakaran selain dipicu oleh alam, juga disebabkan oleh sisa api para pembuat arang dan mungkin rokok masyarkat atau pendaki di musim kemarau. Dari data yang dikumpulkan teman-teman dari Bull Eggs, saat ini diwilayah Gunung Prau bagian selatan ada sekitar 45 hektar lahan yang gundul dan harus segera ditanami.
– Solusinya adalah dengan mengadakan bibit tanaman kehutanan dan melakukan reboisasi di kawasan hutan Gunung Prau. Diusahakan bibit tanaman yang ditanaman adalah tanaman hutan asli Gunung Prau dan yang tidak mempunyai nilai secara ekonomis hingga kemungkinan ditebang untuk dimanfaatkan oleh masyarakat kecil. Hal ini untuk menghindari penebangan atau pencurian di kemudian hari.
– Reboisasi akan dilakukan dengan populasi tanaman 500 pohon per ha dengan harga bibit tanaman kehutanan Rp 1.500 per pohon, jadi untuk luas lahan 45 ha dibutuhkan dana Rp 33.750.000. Dana ini secara bersama-sama akan dicari oleh panitia.

Masalah lain yang harus segera diselesaikan adalah kasus penangkapan dan pencurian satwa liar di kawasan hutan Gunung Prau. Kasus terbanyak adalah penangkapan burung penghuni kawasan hutan Gunung Prau dari lereng selatan. Juga perburuan liar satwa lain seperti kancil, rusa, macan, dan sigung, baik dikawasan hutan lereng utara, selatan, dan barat.
– Solusi dari perburuan dan penangkapan satwa liar ini adalah dengan mengadakan sosialisasi undang-undang tentang penangkapan dan perburuan satwa liar kepada para pemburu dan masyarakat di sekitar hutan Gunung Prau. Para masyarakat pemburu satwa liar akan dikumpulkan, terutama di wilayah lereng selatan untuk sosialisasi masalah pelarangan perburuan. Jika masih ada perburuan setelah sosialisasi maka undang-undang akan diterapkan dan akan diproses sesuai hukum yang berlaku.
– Solusi lainnya untuk sosialisasi adalah akan ada pemasangan undang-undang tentang perburuan satwa liar ini di jalur masuk pendakian di Pathak Banteng, Kenjuran, dan di Tugu Perbatasan di Puncak Teletubies.

Akan dilakukan pemetaan flora dan fauna di kawasan hutan Gunung Prau. Sebagai penanggungjawab yaitu Saudara Andi Gunawan sebagai seksi perlindungan satwa liar dan Nur Khamid sebagai seksi perlindungan tanaman hutan. Pekerjaan pemetaan flora dan fauna akan mendata flora dan fauna apa saja yang ada di kawasan hutan Gunung Prau, dan diharapkan ada jumlah populasinya. Juga pemetaan lokasi habitatnya.
Hasil pemetaan flora dan fauna ini selain berupa data jenis dan jumlah juga diharapkan ada data berupa foto dan video flora dan fauna yang ada. Untuk itu kedepan, akan dilakukan ekspedisi pendataan flora dan fauna secara bersama dengan team fotografer dan videografer. Juga akan dilakukan pelatihan pengenalan flora dan fauna dan pelatihan fotografi untuk teman-teman di lapangan.

Rencana jangka panjang adalah merubah status hutan yang ada di kawasan Gunung Prau menjadi daerah konservasi. Saat ini hutan ini masih dikelola oleh PT Perhutani, hingga masih banyak tumpang tindih kepentingan, baik masyarakat maupun para mantri PT Perhutani sendiri. Harapannya adalah hutan di kawasan Gunung Prau akan menjadi Taman Nasional Gunung Prau, sesuai tahapan yang berlaku di Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementrian Kehutanan.

Kampanye tentang target “Taman Nasional Gunung Prau” ini akan dilakukan bersama-sama, dengan membuat petisi online, dengan artikel di majalah dan koran, juga media online dan elektronik, dan akan menekan Kementrian Kehutanan untuk merealisasikan tujuan ini.
Kedepan, promosi dan kampanye akan dibantu oleh “Bee Violet” band yang ada dibawah management PT Samatha Music Indonesia. Bee Violet selain membantu kampanye dalam setiap performnya, juga akan membantu mencarikan dana untuk operasional teman-teman di lapangan.
Sebagai rumah untuk pekerjaan ini, akan dibentuk website yang berisi segala induk informasi di www.gunungprau.com.

Untuk legalisasi dan mewadahi pekerjaan teman-teman yang bekerja untuk pelestarian hutan di Gunung Prau ini maka akan dibentuk lembaga dan dilegalkan dengan bentuk Yayasan. Tujuan legalisasi ini adalah untuk memudahkan membentuk jaringan dan berhubungan dengan lembaga serupa baik di dalam maupun di luar negeri, dan pertanggungjawabannya jelas.

Nama Yayasan yang sampai saat ini disepakati adalah “Yayasan Pelestarian Gunung Prau”.

1. Sebagai “Ikon” Gunung Prau yang akan menjadi logo dan nilai jual kawasan Gunung Prau adalah tanaman atau satwa endemik yang ada di Gunung Prau. Disepakati, ikon yang akan digunakan adalah kantong semar yang ada di Gunung Prau, yaitu Nepenthes gymnamphora. Jika akan menggunakan perwakilan flora dan fauna, maka akan digunakan Nepenthes gymnamphora dan Nisaetus bartelsi.

2. Program pendanaan untuk mendukung pekerjaan akan dibuat dengan prioritas sumber dana adalah swadaya. Dengan cara membuat sebuah badan usaha yang bidang usahanya akan dipikirkan sambil berjalan nanti. Salah satunya adalah dengan mematenkan nama “Prau” ke Dirjen HAKI oleh Yayasan Pelestarian Gunung Prau dalam berbagai kategori produk. Selanjutnya nama “Prau” akan menjadi merk dagang, dan yang menggunakan merk ini akan membayar royalti kepada Yayasan Pelestarian Gunung Prau untuk sumber dana.

3. Akan dilakukan pelatihan dan standardisasi terhadap guide yang akan memandu para pengunjung ke kawasan Gunung Prau. Kemudian akan dibuat dua trip dari pintu masuk Pathak Banteng. Yaitu “Sunrise Trip” dan “Gymnamphora Trip”. Pelatihan juga akan dilakukan untuk calon guide di lereng utara. Untuk promosi wisata kawasan Gunung Prau akan dibuat foto-foto dari Puncak Prau dan dipublikasikan di hotel-hotel dan penginapan serta di TIC (Tourist Information Centre) di kawasan Dieng Plateau.

4. Untuk merangsang masyarakat di sekitar Gunung Prau lebih peduli lingkungan maka tiap tahun Yayasan Pelestarian Gunung Prau akan memberikan award kepada masyarakat yang berperan besar terhadap pelestarian kawasan Gunung Prau. Award akanberupa piala berupa simbol Gunung Prau dan berupa uang yang akan dicari dari sponsor atau lembaga lain. Nama award ini diusulkan adalah “Gymnamphora Award”. Dan untuk tahun 2013 salah satu nominator penerima “Gymnamphora Award” adalah pak Basri yang berada di Desa Kenjuran, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal.

5. Setelah susunan panitia terbentuk, program kerja selesai, dan legalitas Yayasan Pelestarian Gunung Prau siap, maka pengurus akan melakukan audience kepada pihak-pihak terkait. Misalnya kepada PT Perhutani, BKSDA, Bupati Kab. Kendal, Wonosobo, Banjarnegara, dan Pekalongan. Juga kepada Kementrian Kehutanan.

6. Untuk kesuksesan pekerjaan ini maka dibentuk pengurus yang terdiri dari: Disini

Mount Prau Conservation Program, Patean-06 Februari 2013
(Notulen Rapat)

MPCP Activity :

Curug Sirawe

Sempat bingung mau nulis dalam bentuk FR (field report) atau hanya sekedar informasi baku tentang curug ini :D. Setelah dipikir, mending menggabungkan 2 gaya tersebut #uhuk

Untuk kesekian kali, bukan hal umum yang saya tulis tentang apa yang ada di kawasan dataran tinggi Dieng. Sudah banyak yang menulis tentang apa itu telaga warna, kawah sikidang, komplek candi arjuna dan hal mainstream lainya di Dieng. Itu standar dan tidak akan saya ulas. Dan mungkin juga sudah ada beberapa postingan di internet yang menulis tentang curug ini… tp saya mencoba menyajikanya ala blog ini sendiri.

Sebenarnya… secara wilayah curug sirawe masuk dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang, kabupaten Batang. Karena sejarah, orang lebih banyak mengetahui curug ini masuk wilayah Banjarnegara, tepatnya desa Bitingan. Lalu bagaimana sejarahnya? Katanya… dulu curug ini sempat menjadi rebutan 2 kabupaten, Banjarnegara dan Batang. Pihak Banjarnegara mengklaim curug sirawe sebagai asetnya karena memang sumber mata air curug (di desa Bitingan) masuk wilayah Banjarnegara. Pihak Batang tidak begitu saja meng-iya-kan klaim tersebut, karena memang curugnya sudah masuk wilayah Batang. Pihak Batang berdalih, kalau memang curug tersebut mau diaku menjadi milik Banjarnegara, pihak Banjarnegara tidak diperkenankan mengalirkan aliran sumber mata air dari desa Bitingan tersebut ke wilayah Batang oleh pihak Batang. Dengan begitu Banjarnegara diharuskan mencari jalan lain untuk meneruskan aliran sumber mata air tersebut ke wilayah Banjarnegara sendiri, tidak ke wilayah Batang. Batang rela tidak memiliki curug Sirawe asal air yang mengalir dari wilayah Banjarnegara tidak mengalir ke wilayah Batang. Itu dirasa sulit dilakukan, karena cekungan atau daerah yang lebih rendah tempat jatuhnya air yang terdapat di sekitar daerah tersebut merupakan wilayah Batang. Dan kontur disitu murni proses alam atau lebih luasnya adalah ciptaan Tuhan. Aliran air dari curug ini menjadi sungai besar di kecamatan Bawang dan bermuara di pantai utara. Jadi bisa disimpulan seperti ini :

  • Mata air berasal dari wilayah Banjarnegara, tepatnya dusun Bitingan, desa Kepakisan, Kecamatan Batur
  • Air yang mengalir manjadi curug sudah masuk wilayah Batang, tepatnya dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang

Karena proses pemikiran tersebut curug Sirawe jatuh ke pangkuan Batang. Tetapi pihak Batang tidak serta merta membangun sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata di tempat ini, apalagi mempromosikanya. Curug ini dibiarkan saja seperti aslinya. Mungkin Batang sudah berpikir antara anggaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang akan didapat. Tetapi entah nanti jika Batang berubah pikiran :). Jika dipikir, untuk membangun proyek besar ini sebagai obyek wisata yang potensial di kabupaten Batang, maka Batang harus memperbaiki jalan antara Bawang – Bintoro – Sigemplong, atau jalan antara Bawang – Pranten – Sigemplong dan jembatan di selatan desa Pranten yang entah bagaimana kabarnya :)
Review nya bisa dilihat disini : Desa Pranten

Berbicara akses ke curug Sirawe, ada 2 jalur yang bisa dilewati. Pertama jalur Pawuhan (Geodipa) – Siglagah – Sigemplong. Dari Pawuhan dihadapkan jalanan aspal dan cor beton yang mengelupas. Sesampai Sigemplong kendaraan berhenti disini, dilanjut dengan jalan kaki ke atas desa, ke lereng gunung Sipandu. Kemudian menyusuri jalan setapak alternatif penghubung desa Sigemplong dan desa Bitingan. Jalur ini sulit dan jauh. Akan lebih sulit dan berbahaya di musim hujan.
Jalur kedua bisa lewat Kepakisan – Kawah Sileri –  Bitingan. Jalur ini lebih dekat dari jalur Sigemplong. Jalanan aspal mengelupas tetap bisa dijumpai dari pertigaan kawah Sileri sampai desa Bitingan. Sampai desa Bitingan semua kendaraan berhenti, menuju curug dilanjut dengan jalan kaki.
Kedua jalur tersebut sama sulitnya ketika memasuki turunan curug Sirawe, terlebih jika musim hujan.

Mengenai hal lain, curug ini gabungan dari air panas dan air dingin serta 2 air terjun yang berjejer. Air panas berasal dari proses geothermal di pegunungan Dieng, dan air dingin dari sungai biasa. Yang saya lihat, disekitar curug masih terjaga hutan heterogen khas dengan pohon pohon besarnya.

ツ ツ ツ

Saya dan tim berangkat dari Dieng sekitar pukul 9 malam, lewat jalur Pawuhan Siglagah Sigemplong. Sekitar 15 menit kami sampai di Sigemplong, mampir ke rumah sesepuh desa tersebut. Nitip motor dan pamitan untuk bermalam di wilayah curug Sirawe. Perjalanan dilanjut jalan kaki menyusuri lereng gunung Sipandu, sepi gelap dingin dan berkabut. Sesampai tempat yang di maksud, kami bingung hendak dimana mendirikan tenda. Karena tempat landai sangat jarang dan ini merupakan bukan area camp yang wajar. Setelah pilah pilih tempat diputuskan nenda di samping perkebunan kentang warga, dimana sebelah baratnya adalah jurang curug Sirawe. Tak banyak yang dilakukan setelah tenda berdiri, ngobrol dan ngopi saja. Sesekali terdengar hembusan suara air curug yang terbawa angin. Malam ini beraura horor tapi saya suka :D. Pukul setengah 12 an kami tidur didalam tenda zzz…

Keesokan harinya, pagi jam 6 kurang 5 menit bangun dan keluar tenda, subhanallah… tepat dibelakang tenda terlihat jauh 2 curug yang berjejer tersebut, ini yang di cari! Pemandangan ini tidak kami jumpai semalaman… Terbayar rasanya bermalam disini dengan berbagai rasa semalam. Desa Bitingan nampak tertata rapi diatas curug. Dari sebelah timur muncul mentari dari sisi gunung Prau, di sebelah tenggara ada gunung Sipandu, di sebelah utara nampak ijo hutan hutan lebat. Spot yang komplit buat selow… Banyak ditemui petani yang berangkat berkebun dan tampaknya mereka bingung dengan keberadaan kami. Bermalam di tempat seperti ini mau cari apa tanya-nya…
Mengemas tenda dan perabot camp done, dilanjut jalan ke timur menyusuri lereng Sipandu, kembali menuju desa Sigemplong tepatnya. Sambil berjalan melihat aktivitas petani sekitar sini, sesekali mengobrol. Perjalanan kembali ke Sigemplong cukup lama, karena melewat jalur memutar arah desa Bintoro. Di jalur ini masih banyak terdapat tanaman ucen liar dan gandapura. Pukul 10 pagi tiba dirumah sesepuh desa Sigemplong tempat menitip motor. Gak lama berselang kami berpamitan. Sampai di penghujung desa mampir dulu di sumber air panas, berniat mandi dan melepas lelah. Kurang lebih 1 jam berada di pancuran air panas ini dan hasilnya… sangat freshhh! #lebaydikit
Pukul 12 siang lebih kami sampai lagi dieng :D

Desa Bitingan nampak diatas curug Sirawe

Matahari pagi dari samping gunung Prau

Gunung Sipandu

Lahan kentang & langit di sebelah utara

Hutan lebat disebelah barat, berjajar sampai telaga Dringo

Desa Pranten dari atas Sigemplong

Ucen liar

Lebih dekat lagi dengan Ucen

Gunung Prau

Pancuran air panas

Pemandangan depan pancuran, sekitar lereng Prau

Curug kecil sekitar pancuran air panas

Pemandangan desa Pranten dari sekitar air panas