Jambangan

Judul : Jambangan
Kamera : Yashica FX3 – 2000
Location : Semeru Jawa Timur
Deskripsi : Ngadem dibawah pohon dan sejuknya udara jambangan, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Ki – ka = Raqo, Rizli, Me, Ukie

*credit : oby

Advertisements

Quote Of The Day

dunia… sekeras apapun kamu berusaha, setinggi apapun kamu berharap dan sehebat apapun proses yang kamu tempuh kadang harus berada pada hasil akhir yang bertolak belakang dengan semua itu. ya… tapi lebih baik melewati proses yang cadas dan berakhir mengenaskan, daripada hanya berdiam diri dan bermimpi berharap mendapat tempat ideal seperti yang di inginkan.

tangguh bukanlah berarti bisa menaklukan segalanya, namun berdiri tegak walau tubuh ini memberi sinyal untuk menyerah lalu kita tetap gigih bertahan. bersikap jujur dalam menjalani hidup, memaksimalkan fungsi dirinya, berani mengambil resiko dalam melaksanakan hal-hal besar dalam hidup, mengakui kesalahan dan berhenti mengeluh mengasihani diri.

(Eross Candra)

Desa Pranten

Pranten merupakan salah satu desa di kecamatan Bawang kabupaten Batang yang berbatasan langsung dengan dataran tinggi Dieng. Berada di kaki gunung Prau sebelah utara dan lereng gunung Sipandu sebelah timur dengan ketinggian +/- 1700 mdpl. Kelurahan Pranten terbagi menjadi beberapa dusun, diantaranya; Siglagah (sekarang bernama Rejosari), Sigemplong, Bintoro serta Pranten itu sendiri. Dan beberapa desa lain rangkaian gunung Prau dan gunung Sipandu, yaitu; desa Pawuhan, Bitingan, Deles.
Secara letak Pranten dan Dieng sangat dekat, hanya dipisahkan gunung kecil yaitu gunung Sipandu dan desa yang bersebelahan di bagian Dieng adalah desa Pawuhan (desa sebelah timur PLTU Geo Dipa). Tetapi secara administratif sudah berbeda kabupaten, Pranten kabupaten Batang, Pawuhan kabupaten Banjarnegara.

Desa ini adalah desa terakhir semua akses kendaraan. Karena untuk menuju Dieng dari desa ini harus berjalan kaki di kaki gunung Sipandu, melewati jembatan rusak  yang tak lekas selesai pembangunanya, dan areal pertanian warga.
Jikalau memutar arah akan cukup jauh, untuk lewat jalur timur harus melewati Sukorejo (Kendal) – Ngadirejo (Temanggung) – Tambi – Kejajar dan Dieng. Untuk lewat jalur barat harus melewati Reban – Blado – Bandar (Batang) Batur (Banjarnegara) dan kemudian Dieng.

Sepanjang kurang lebih 15 Km, jalur Pranten adalah jalur kuno untuk masyarakat Dieng menjual hasil sayur ke pasar Bawang. Karena jaman dulu sebelum ada angkutan, pasar Bawang merupakan pasar terdekat yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Dieng, dibanding pasar Batur dan pasar Kejajar. Menurut cerita, dahulu para petani Dieng bisa berangkat pukul 02.00 / 03.00 dini hari dan sampai pasar Bawang menjelang fajar. Tidak heran kalo Dieng – Bawang mempunyai hubungan yang erat, antara puncak gunung dan kaki gunung. Banyak terjadi hubungan yang berakhir ke pernikahan antara petani sayur dan penjual di pasar serta orang orang yang berada dalam lingkaran tersebut. Bahkan sampai sekarang, beberapa orang Dieng mempunyai suami/istri orang Bawang, begitu sebaliknya.

gunung prau

gunung sipandu

Di Pranten sendiri, sebagian besar mata pencaharian warga betumpu pada pertanian, terutama sayur. Ada areal tembakau tetapi tak banyak. Masyarakat disini cukup ramah, khas penduduk pegunungan. Banyak sumber air  yang cukup jernih, dan mata air kecil dari sini  menjadi sungai besar di kecamatan Bawang dan bermuara di pantai utara.

Ada akses lain dari Bawang ke Dieng yang bisa dilewati kendaraan. Jalurnya sama dari pertigaan pasar Bawang, kemudian ambil kanan menuju desa Deles. Dari Deles terus ke selatan dan akan bertemu dengan desa Bintoro – Sigemplong – Siglagah – Pawuhan – Dieng. Itupun bisa dilewatin saat musim terang dalam kondisi jalan agak bagus. Kalau musim hujan akan sangat licin dan sulit dilewati.

jembatan rusak pranten – siglagah yang terbengkalai pembangunanya

Pranten dengan background desa Sigemplong

Ada 2 air terjun bagus yang saling bersebelahan disini. Air terjun dengan sumber mata air panas dari proses geothermal di pegunungan Dieng.  Dan kawah Pagerkandang gunung Sipandu yang jarang dikunjungi wisatawan Dieng. Akan saya ulas dilain kesempatan.

Jika ingin merasakan hawa khas pegunungan, suasana desa yang asri, adem, sejuk, pemandangan hijau di kanan kiri serta keramah tamahan penduduknya, atau bahkan ingin terjun langsung membantu petani bercocok tanaman sayur, tidak salah jika Pranten menjadi alternatif tujuan refreshing.

Rute Bawang – Dieng :
Pasar Bawang  – Pranten (buntu, semua kendaraan berhenti di desa ini, ke Dieng dilanjutkan dengan jalan kaki)
Pasar Bawang – Deles – Bintoro – Sigemplong – Siglagah – Pawuhan – Dieng (jalan hanya bisa dilewati kendaraan roda 2 dan layak dilewati sewaktu musim kemarau)

gunung Sipandu dari jalanan desa

Pranten road

Baca juga : Curug Sirawe

Ranti

Ranti, sayuran tradisional yang tumbuh di hutan Gunung Prau. Buahnya kecil, jika masak akan berwarna ungu seperti anggur. Biasanya, tanaman ini cuma dimanfaatkan daunya, dan banyak dijual di pasar pasar tradisional. Tumbuhan bernama latin Solanum nigrum L termasuk terna berumur pendek (1 tahun). Tumbuhan ini juga digunakan sebagai obat – obatan sejak lebih dari ribuan tahun lalu. Namun dalam masyarakat kita, lebih banyak dikonsumsi sebagai lalapan atau sayuran. Karena merupakan tumbuhan liar, maka panennya pun berdasarkan musim. Di musim penghujan tanaman ini akan menjamur di tanah tanah hutan, sedangkan dikala kemarau akan sulit ditemui

Nama umum
Indonesia : Ranti, Leunca (Sunda)
Inggris : Black Nightshade
Melayu : Ranti
Pilipina : Kama-kamatisan
Cina : Long kui
Latin : Solanum nigrum L

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus: Solanum
Spesies: Solanum nigrum L.

Deskripsi Morfologi
Tanaman ini termasuk ke dalan golongan semak, dengan tinggi lebih kurang 1,5 m.
Akar     : Berupa akar tunggang, dengan warna putih kocoklatan.
Batang : Mempunyai batang tegak, berbentuk bulat, lunak, dan berwarna hijau.
Daun    : Berdaun tunggal, lonjong, dan tersebar dengan panjang 5 – 7,5 cm ; lebar 2,5 –3,5 cm. Pangkal dan ujung daun meruncing dengan tepi rata. Pertulangan daun menyirip. Daun mempunyai tangkai dengan panjang ± 1 cm dan berwarna hijau.

Bunga : berupa bunga majemuk dengan mahkota kecil, bangun bintang, berwarna putih, benang sari berwarna kehijaunan dengan jumlah 5 buah. Tangkai bunga berwarna hijau pucat dan berbulu.

Buah : berupa buah buni berbentuk bulat, jika masih muda berwarna hijau, dan berwarna hitam mengkikat jika sudah tua. ukurannya kira-kira sebesar kacang kapri

Biji     : berbentuk bulat pipih, kecil- kecil, dan berwarna putih

Khasiat & Manfaat
Luar Negeri :

  • Buah dan daunnya sebagai obat pusing (di Meksiko)
  • Mengurangi radang ginjal, kandung kemih, dan antidiare (di Cina)
  • Menyembuhkan penyakit anjing gila (di India)
  • Getahnya dapat dapakai sebagai obat kutilan (gangguan pada kulit)
  • Rebusan air daunnya dapat melancarkan buang air kecil, batuk, menurunkan tekanan darah tinggi, dan dapat mengurangi jumlah sel darah putih dalam tubuh
  • Sebagai zat antirematik (di Nigeria)

Indonesia :

  • Buahnya yang agak pahit bisa buat obat herpes simpleks
  • Daunnya buat nyembuhin borok atau kelainin pada kulit
  • Di beberapa daerah di Indonesia, daunnya di taruh di ayunan bayi supa adek bayi bisa cepet bobonya
  • Daun dan buahnya yang telah dikeringkan bisa dikonsumsi untuk mengobati sakit pinggang, encok dan nyeri otot. secara empiris tumbuhan ini bahkan mampu mengobati cacar air atau campak, ketergantungan alkohol, gastritis dan bekas luka bakar

ranti, poto diambil di semak hutan pinus gunung prau

* Disadur dari berbagai sumber