Desa Legetang

Akhir November 2010 saya menyempatkan mengunjungi bekas desa Legetang . “Beautiful, Misty and Mysterous. Cantik, berkabut dan misterius. Dan kata terakhir dalam kalimat tersebut cukup menggambarkan  Legetang. Udara yang lembab dan berkabut membuat saya merinding, hampir tak nongol matahari walo ditengah hari.
Jalan menuju Legetang cukup lebar, tetapi kecuraman dan jalan yang masih basah diguyur hujan membuat saya harus berhati-hati. Apalagi jalan masih terbuat dari batu serta bahu jalan adalah sebuah jurang. Perjalanan sekitar 10 menit dari jalan masuk Dieng-Pekasiran menuju lokasi.

Disekitar lokasi saya sempat ngobrol dengan beberapa petani. Bahwa salah satu diantara petani tersebut pernah menemukan 10 lembar seng (atap rumah) bekas rumah yang terkubur puluhan tahun silam dan beberapa potongan tulang manusia sewaktu menggarap lahan yang dulunya bekas desa legetang itu. Siang itu para petani adalah jam makan siang, sambil mengobrol saya diberi kesempatan mencicipi bekal mereka dari rumah, nasi jagung, sayur kentang, daun waluh rebus, sambel mentah dan ikan asin. Enak juga rupanya makan siang dikebun bareng para petani ini…

Dan puncak gunung Pengamun-amun yang berpindah itu sekarang masih bisa dijumpai, berada disebelah tenggara tugu peringatan. Berupa gundukan tanah kecil mengerucut yang ditumbuhi tanaman “waluh jipang”. Penduduk sekitar sering memetik buah waluh jipang dan daunya untuk dijadikan sayuran dirumah.

Lihat video beserta cerita lengkapnya disini

suasana bekas desa legetang

puncak gunung pengamun – amun yang konon berpindah tersebut

tugu peringatan

landscape dari jauh puncak pengamun – amun dan tugu peringatan

 

* Artikel dan foto adalah karya pribadi penulis,
dimohon untuk tidak menggunakan foto & artikel di website, blog atau media lain tanpa ijin :)

Advertisements

Situs Tangga Batu Kuno Ondho Budho

Berupa bangunan tangga batu kuno yang terletak di timur desa Siterus .  Konon diatas desa Sikunang dan Di dekat curug Sikarim juga masih terlihat terusan batuan ini. Sekarang komplek ini dikelilingi pohon cemara , pinus dan areal pertanian warga. Sesekali masyarakat menggunakan jalur ini untuk jalan pintas dari Dieng menuju desa Sembungan atau menuju lahan pertanian di sekitar sini. Sayang sekarang sangat tidak terawat, batuanya banyak yang hilang dan di kanan kiri situs sudah berjejer pertanian warga, tidak sedikit yang tertutup tanah. Situs kuno ini merupakan obyek yang jarang dikunjungi oleh wisatawan di Dieng.

Ondho Budho 1912

Sisa situs Ondho Budho November 2011

Courtesy : Tropenmuseum NL  &  Wikimedia

Perkebunan Teh Ngliyer


Buat sekedar tiduran semalam sembari lihatin bintang-bintang & ngopi-ngopi diluar.
simple & easy :)

Sikunir Honeymoon

Ketemu pasangan yang baru nikah dan honeymoon di puncak sikunir pas saya jalan-jalan sore sama pacal. Ngobrol-ngobrol ternyata mereka sesepuh kaskus regional Bekasi dan ternyata juga pernah posting nanya-nanya di trit Dieng sebelumnya. Sore itu cukup cerah dan saya sempat kepincut ajakan mereka buat ngecamp juga nanti malam (dengan tenda sendiri-sendiri tentunya, pan mereka lagi program pembuatan dedek :p ).  Tapi saya juga ingat kalau itu adalah malam jumat kliwon… walau mengiyakan ajakan mereka tapi saya gak janji untuk naek lagi tar malam hehe #atuuutttt. Sekitar pukul 4 sore saya turun Sikunir, kembali ke desa Sembungan dan malamnya menginap di desa tersebut. Malam berlalu disertai gerimis… saya berpikir “indah nian honeymoon kalian” tetapi saya tetap memilih berada di depan tungku api dan meringkuk di kasur dan selimut tebal Sembungan :)

Selamat berbahagia dan selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang samawa, cepet punya momongan (sampai tulisan ini tayang, mbaknya sudah hamil 5bulan). Berkat purwaceng kali ya… saran saya sebelum kita berpisah sore itu #ngakak

Syafmita Wahyuni Asri (id kaskus : wanna be )

dengan

Arvanny Albar (id kaskus  :  falkrye )