Jalur / Akses Menuju Dieng

Berikut ini adalah Peta Petunjuk Arah menuju ke Kawasan Dieng.

Jalur Wonosobo
Merupakan jalur favorit untuk menuju ke Dieng. Jika dibandingkan dengan jalur dari Banjarnegara, jalur dari Wonosobo relatif lebih pendek dan mudah untuk dijangkau serta jalan yang tidak terlalu berkelok. Dengan kondisi alam yang sedemikian rupa, satu-satunya jenis angkutan untuk menuju Wonosobo hanyalah angkutan darat. Dahulu pernah ada kereta api jurusan Purwokerto, sekarang hanya tinggal rel-nya. Meskipun demikian, transportasi ke dan dari Wonosobo relatif ramai. Transportasi dari luar kota dapat anda pilih, bis atau jenis travel. Namun banyak juga yang mencarter taxi dari Semarang atau Yogyakarta.

Dari Semarang (Ibu kota Provinsi)
Di terminal antar kota Terboyo banyak terdapat bis yang melayani trayek Semarang – Purwokerto melalui Wonosobo. Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Rutenya adalah :
(Semarang-Ungaran-Bawen-Ambarawa) – (Secang-Temanggung-Parakan) – (Kertek-Wonosobo) – (Kejajar-Dieng)
Atau dengan kendaraan pribadi via Bandungan, dengan rute :
(Semarang-Ungaran-Bandungan-Sumowono) – (Ngadirejo-Jumprit-Tambi) – (Kejajar-Dieng)

Dari Surakarta (Solo)
Walaupun tidak banyak bis langsung dari Solo ke Wonosobo namun ada beberapa perusahaan bis yang melayani trayek ini.  Anda dapat mendapatkan bis tersebut di terminal Tirtonadi jurusan Solo-Purwokerto via Wonosobo. Jaraknya sekitar 180 km waktu tempuhnya kita-kira 6 jam. Jalurnya adalah :
(Solo-Kartasura) – (Boyolali-Ampel) – (Salatiga-Bawen- Ambarawa) – (Secang-Temanggung-Parakan) – (Kertek-Wonosobo) – (Kejajar-Dieng)

Dari Magelang
Jalur dari Magelang ini merupapakan jalur ke Wonosobo yang ramai.  Kira-kira sepuluh menit sekali ada bis yang datang dan pergi. Bis terakhir kira-kira jam 19.00 berangkat dari terminal antar kota Magelang. Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh kira-kira 2 jam. Jalurnya adalah :
(Magelang-Secang) – (Temanggung-Parakan) – (Kertek-Wonosobo) – (Kejajar-Dieng)

Disamping itu, ada rute alternatif ke Wonosobo dari Magelang ini, terutama untuk mempersingkat jalan dari Borobudur-Wonosobo. Ada trayek micro bis langsung dari Magelang ke Wonosobo namun tidak sampai di kota Wonosobo, melainkan hanya sampai di Sapuran, salah satu Kecamatan di Wonosobo. Dari Sapuran ke Wonosobo jaraknya 18 km dan banyak sekali angkutan yang siap melayani anda. Jalur Borobudur-Wonosobo ini sering dijadikan alternatif travel Borobudur – Wonosobo.

Dari Purworejo
Jalur dari Purworejo tidak terlalu ramai, baik ramainya kendaraan maupun pemukiman. Jalannya cukup baik namun berbelak-belok cukup tajam dan menanjak. Tidak ada bis besar yang melayani trayek ini, tetapi banyak micro bis yang beroperasi. Sejak terminal Purworejo pindah ke terminal baru, bis jurusan Wonosobo tidak masuk di terminal antar kota Purworejo. Micro bis jurusan Wonosobo biasanya mangkal di terminal lama atau di Purworejo Plaza. Jika anda dari arah Yogyakarta, silahkan turun di pertigaan Don Bosko, naik angkota dan turun di terminal lama atau di komplek Purworejo Plaza. Jarak Purworejo-Wonosobo sekitar 50 km dan waktu tempuh sekitar 2 jam. Jalurnya adalah :
(Purworejo-Loano) – (Kepil-Sapuran-Kalikajar) – (Kertek-Wonosobo) – (Kejajar-Dieng)

Jika anda naik kendaraan pribadi, harap hati-hati sebab jalur ini agak sempit, banyak truk yang biasanya mengangkut kayu.

Dari Yogyakarta
Tidak ada trayek langsung dari Yogyakarta ke Wonosobo. Namun karena jalur Yogyakarta – Magelang – Semarang sangat ramai, dengan sendirinya dari Yogyakarta ke Wonosobo menjadi sangat mudah. Dari terminal Giwangan, atau dari terminal Jombor, naik bis jurusan Magelang dan turun di terminal antar kota Magelang, baru ke Wonosobo. Total jarak sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Jalurnya adalah :
(Yogyakarta-Sleman-Tempel) – (Magelang-Secang) – (Temanggung-Parakan) – (Kertek-Wonosobo) – (Kejajar -Dieng)

Disamping lewat Magelang, anda juga dapat lewat jalur Purworejo. Dari Terminal Giwangan atau Gamping, naik bis jurusan Purworejo dan baru melanjutkan ke Wonosobo. Total jarak sekitar 120 km dengan waktu tempuh sekitar 3.5 jam. Rutenya adalah :
(Yogyakarta-Sentolo-Wates) – (Purworejo). Selanjutnya ikuti jalur dari Purworejo

Dari Purwokerto
Merupakan jalur yang ramai. Ada banyak bis yang melayani trayek ini. Untuk jalur ini, kira-kira setiap sepuluh menit ada bis yang datang dan pergi. Ada bis yang hanya melayani trayek Purwokerto-Wonosobo dan ada trayek Purwokerto-Semarang lewat Wonosobo. Anda bisa mendapatkan bis jurusan Wonosobo di terminal utama Purwokerto. Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh sekitar 3 jam. Jalurnya sebagai berikut:
(Purwokerto-Sokaraja) – (Purbalingga-Bukateja) – (Klampok-Banjarnegara) – (Selomerto-Wonosobo) – (Kejajar-Dieng)

Dari Kebumen
Meskipun masih langka, sebenarnya ada jalur langsung Wonosobo-Kebumen. Jalurnya berbelok-belok dan naik turun. Anda dapat mendapatkan bis jurusan Wonosobo-Kebumen di terminal antar kota Wonosobo namun hanya beberapa buah saja. Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh sekitar 2.5 jam. Jalurnya sebagai berikut :
(Kebumen) – (Wadaslintang-Kaliwiro-Selomerto-Wonosobo) – (Kejajar-Dieng)

Dari Pekalongan / Banjarnegara
Ke Dieng bisa diakses dari Banjarnegara dan juga Pekalongan. Kalau dari Pekalongan bisa ke arah selatan melalui Linggoasri, Paninggaran, Kalibening, Wanayasa, Batur, dan terakhir sampai Dieng. Dari Pekalongan naik bis kecil jurusan Kalibening, turun di pertigaan Wanayasa. Dari Wanayasa ganti angkutan umum ke Batur, turun di pasar Batur ganti lagi bus kecil ke dieng.
(Kajen – Linggoasri) – (Paninggaran – Kalibening – Wanayasa) – (Batur – Dieng)

Dari Jabodetabek
Trayek Jabotabek Wonosobo dilayani oleh banyak armada yang terdiri dari berbagai perusahaan oto bis. Anda bisa mendapatkan bis tersebut di terminal: Pulo Gadung, Kp Rambutan, Bekasi, Lebak Bulus, Cimone, Merak dan Bogor. Dengan jarak 520 km, dari sekitar wilayah Jakarta, bis biasanya berangkat sekitar pukul 17.00 wib dan sampai di Wonosobo menjelang fajar.

Dari Cilacap
Ada 2 kemungkinan jalur, via Banjarnegara atau via Wonosobo.

Jika menggunakan angkutan umum via Banjarnegara :
Cilacap – Purwokerto : Banyak bus yang melayani trayek ini
(Purwokerto – Banjarnegara) : bisa menggunakan mikrobus jurusan Banjarnegara atau bus tanggung jurusan Wonosobo, turun di Terminal Banjarnegara.
(Banjarnegara – Karangkobar) : dari terminal Banjarnegara naik mikrobus jurusan Kalibening, turun di terminal Karangkobar.
(Karangkobar – Wanayasa – Batur) : naik microbus jurusan Batur.
(Batur – Dieng) : naik mikrobus jurusan Wonosobo turun di Dieng.


Jika menggunakan angkutan umum via Wonosobo :

Cilacap – Purwokerto : Banyak bus yang melayani trayek ini
(Purwokerto – Wonosobo) : naik bus jurusan Purwokerto – Wonosobo atau Purwokerto – Semarang, turun di terminal Wonosobo.
(Wonosobo – Dieng) : mikrobus jurusan Wonosobo – Batur/Dieng. turun di Dieng.

Baca juga : Jalur Alternatif Batang – Dieng

Advertisements

[FR] Float 2 Nature Dieng

Yeaahhh… gatel juga pengin nulis sedikit cerita Float2Nature di Dieng kemaren. Uneg-uneg sih udah ada setelah F2N selesai, tapi mood buat cerita hitam diatas putih amat sangatlah malas. Bukanya apa-apa, tetapi saya memang bukanlah peserta apalagi panita di acara akbar tersebut. Blog-blog pribadi, website, tumblr, video-video di youtube yang tersebar di dunia maya dari peserta F2N jadi pematik buat ngekor kaya mereka (tapi tetep original tulisan saya loh ya…) #skip

Saya sendiri tau bakal ada F2N di Dieng sudah sejak akhir februari kemarin. Sore hujan itu lagi nyantai di penginapan Bu Jono Dieng, anteng di depan tv sambil nyruput kopi panas.  Datenglah rombongan mas mas dan mbak mbak yang belum saya kenal sebelumnya. Lewat mas Dwi saya berkenalan dengan 2 orang dari mereka, bang Meng, vokalisnya Float dan om Aley, selaku panitia F2N tersebut. Ngobrol-ngobrol bentar kalau mereka lagi mencari tempat yang pas untuk acara tersebut. Dan katanya mereka barusan survey ke Telaga Dringo… wow… tempat yang cocok buat acara bertema music dan alam pikir saya. Tetapi mereka tampak kurang yakin jika F2N harus diadakan di telaga dringo, karena akses jalan yang sulit dan terjal. Mengkhawatirkan kalau seperangkat alat band beserta sound sistem dan perabot lain harus melewati jalanan yang lebih pas dibilang sungai mengering tersebut. Dan wacana Telaga Cebong bakal menjadi kandidat kuat tempat acara F2N semakin jelas, dekat dengan kampung, dekat dengan Sikunir dan jalan yang relatif lebih bagus dari tempat lain. #seeedeeeppp

Sampai 2 hari kemudian setelah hari tersebut saya browsing dirumah, kalau Telaga Cebong adalah tempat bakal digelarnya acara tersebut pada 9-10 Juni 2012. klik | END

•••

Awal Juni…
Henpon berdering, telepon dari seseorang dari Jakarta… menanyakan persewaan tenda di Dieng buat tanggal 9-10 Juni di Telaga Cebong pintanya. Ok deal, ketemu di Dieng hari sabtu tanggal 9 Juni #beer

Seven days later…
Sabtu sore, setelah ashar dalam keadaan Dieng habis diguyur hujan, ketemuanlah dengan orang yang dimaksud di penginapan Bu Jono. Saya kira yang mesan tenda tersebut anak muda yang masih kuliah atau se enggaknya pemuda tanggung… Ternyata mas mas dengan pawakan tinggi besar, dan kalau boleh saya bilang mirip dengan Tora Sudiro #hahhaa. Mas Condro namanya dan bersama seorang temannya bernama mas Uman, tampaknya mereka “partner in crime” #haha pisss
Hujan agak mereda, gak lama basa basi ngobrol di penginapan Bu Jono kamipun menuju telaga cebong. Mobil carteran dari Semarang sekalian mengantar mereka ke telaga cebong (turun di bandara Ahmad Yani langsung Dieng hari itu juga)
Sesampai telaga cebong, disambut bang Meng dengan hem kotak kotak nya. Lapangan pinggir telaga dah penuh dengan tenda-tenda untuk peserta, beserta tenda-tenda panitia untuk masak, jual souvenir oleh-oleh dll. Ramai dan tampak hidup suasana pinggir telaga sore ini, gak kaya biasanya. Tenda segera didirikan di paling selatan bersebelah dengan jalan masuk, mas condro mas uman bergegas menaruh barang-barang yang dibawa ke dalam tenda #banyak benar perbekalan mereka. Obrolan sore dimulai… di tengah-tengah tenda peserta yang sudah disiapkan panitia dan seragam model tendanya, kenapa mereka ber-2 (mas condro mas uman -red) harus susah bawa tenda sendiri? (nyewa sendiri dan bukan dari panitia maksudnya). Intermezzo dikit ya… Ternyata mereka bukanlah peserta yang ikut rombongan naek bus dari Jakarta dengan budget yang ditentukan beserta ubo rampe lainya. Mereka diundang oleh teman akrab mereka yang gak lain adalah bang Meng (vokalis Float) untuk ada di acara tersebut. Tetapi dengan transport, makan, camp equipment dll nya mereka urus sendiri (dalam artian gak masuk dalam fasilitas panitia F2N). Oh jadi tau saya, setelah ketemu pertama di Bu Jono pikiran tersebut sempat terpikir tapi saya malas mempertanyakan mengapa harus bawa tenda sendir

suasana sore lapangan pinggir telaga cebong

Sore cukup cerah walau udara masih agak basah setelah hujan, lapangan yang otomatis jadi becek dan riuh orang-orang yang andil dalam F2N. Sebagian panitia dari tim Dieng kulon sibuk mengelap dalam tenda yang basah karena hujan. Maaf sedikit ya, maaf ni… kalau saya bilang tenda yang disiapkan gak rekomen buat camping masal dalam keadaan yang kena hujan. Merk “Jalan Terbaik” dirasa kurang pas untuk acara semewah F2N, baik yang model keong racun (semacam consina magnum) atau yang model imut 2p (semacam consina summertime). Untuk model keong racun saya gak tau itu dobel atau single wall, tetapi untuk yang imut jelas itu single dan tanpa flysheet. Okelah untuk cuaca tanpa hujan, tenda bakal tetap kering. Tetapi “ora bangetlah” untuk acara di lokasi yang sangat memungkinkan turun hujan secara mendadak seperti di Dieng ini. Satu saran saja, siapkan pawang hujan! #maaf lagi ya pisss
Panitia dari desa Sembungan juga gak kalah sibuk, para perempuan sebagai juru masak dan laki-lakinya urusan keperluan lain-lain di sekitar lapangan. Bisa dikata panitia Sembungan semuanya saya kenal, mereka orang-orang wisata di telaga cebong dan sunrise sikunir. #tssaaahhhh. Saya yang bukan siapa-siapa disitu akhirnya jadi ikut gabung dengan lainya, dengan panitia  juga (terutama sembungan) #hahahaaa

stage Float

Acara konser Float yang sesuai rundown acara dimulai jam 5 sore (kalau gak salah) terpaksa mundur karena ada beberapa rombongan dari Jakarta yang belom datang, denger-denger sih karena lama terjebak macet di daerah Jawa Barat.
Opening Act dari peserta pada sukarela tampil di venue memberi hiburan gratis kepada peserta lainya, ada yang band, ada yang solo vokal dengan diiringi pemain Float lainya. Cukup menghibur sembari nungguin acara sesungguhnya.

salah satu opening act dari peserta #bagus juga suara nih cewek

Sekitar jam 9 an rombongan terakhir pun datang, disambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai peserta yang sudah duluan tiba. Membaur dan bergabung membikin lapangan jadi tambah ramai. Gak lama berselang dari jalanan desa terdengar suara ramai dengan nada marah #upss. Segeremobolan pemuda desa Sembungan datang ke lapangan dan banyak yang saya kenal juga. Arrghhh ada apa ini anak-anak… pasang muka sadis dan gak peduli sama panitia-peserta, mereka langsung menghajar api unggun di tengah lapangan dengan  air… lagi butuh-butuhnya penghangat malah api dimatikan :nohope. Usut punya usut ternyata mereka (pemuda Sembungan -red) kurang suka kalau lapangan tempat mereka bermain sepak bola dirusak dengan acara tersebut, lapangan jadi makin becek, rumput terbakar karena api unggun. Ada omongan lain juga kalau acara tersebut belum ada izin dari kepala desa dan ketua pemuda desa Sembungan. Ah gak mau terlibat, saya hanya diam memperhatikan dari pojokan. Ada gak ada saya juga gak ngaruh acara #ngelesss

api unggun stelah dinyalakan kembali

Jam 9 lebih setelah urusan dengan pemuda Sembungan rampung dan api unggun boleh dinyalakan kembali, Float pun tampil. Ini 1 yang saya salut, kualitas sound mereka di alam terbuka bagus. huuaahhhh bagus pokonyaaaa… gak kalah kualitas sama sound di stage sekelas soundrenalin #ttsaaaaahhhh. Suara live bang Meng juga sama persis kaya di mp3 yang sering saya denger dirumah, persissss gak ada beda. Gak kaya acara-acara di pesawat telepisi yang lagi menjamur lipsing sekarang. Ini baru yang namanya BAND berkualitas, skill, perform, live dan sound nya mantab! (sambil bayangin bang Meng maenin blackbird nya the beatles pas cek sound). Salut juga buat sound engineer dibelakang meja mixer mereka \m/
Ditengah perform Float sempet nyempil seorang cowok yang ikut nyanyi bareng Float, suaranya keren. Lagu “Sementara” pun dinyanyikan kembali. Banyak yang histeris dan diminta kembali nyanyi bareng Float di panggung #sayang sekali kalau saja dia gak punya band! eman-eman suaranya dianggurin mas :p
Gak inget Float bawain berapa lagu, yang jelas terlihat audience puas malam itu \m/ (untuk perform Float loh ya, gak tau dll nya #ngacir).

perform Float

Setelah bubaran sebagian peserta pada balik ke tenda, ada yang makan di tenda panitia, ada yang tetep asik di sekitaran api unggun dan mas condro mas uman juga gak tau kemana. Saya milih ke rumah salah satu teman di desa Sembungan, ngopi ngobrol selonjoran disana.

Kembali ke lapangan sekitar jam 12 an, masih ada beberapa yang bertahan melek di tengah dinginya telaga cebong. Ada serombongan yang asik main game di tengah lapangan… mereka ramai sangat, gak peduli sama sekitarnya hahaha. Saya milih gabung dengan mas condro, bang meng, sebagian panitia dan beberapa orang yang baru saya kenal mengelilingi api unggun. Pada benar-benar menikmati hangatnya api unggun tampaknya, sambil bergantian maen gitar buat nyanyi bareng-bareng. Bang meng dan gitaris Float (gak tau namanya) juga tampak andil disitu. Tiba-tiba saja dapet giliran buat nyedot daun aceh kering… hmmmm #nocommentsforthenext

Minggu Jam 2 dini hari acara plus plus pun usai. Pada masuk tenda buat sitirahat… saya pindah haluan ke pojokan toilet parkiran telaga gabung dengan panitia Sembungan. Pada bakar-bakar kayu dan sampah kertas plastik yang bercecer di lapangan. Saya diharuskan gak tidur, karena jam 4 sudah harus membangunkan mas  condro mas uman buat trekking sunrise  sikunir (kalau tidur bisa-bisa mbablas sampe siang)

Jam 4 teng, para peserta sudah pada ngantri di toilet dan bersiap trekking. Bergegas bangunin mas condro mas uman. Tanpa lama kami ber3 jalan duluan, dengan tujuan gak terlalu crowded pas trekking sikunir dan bisa dapat space di puncak buat ngambil poto (soal mereka ber 2 bawa kamera dewa). Jalan di depan bawain tas kamera yang segede tas rancel 40l punya mas uman. Niat awal jalan duluan tapi mas uman gak terlalu kuat buat mendaki sikunir. Kurang biasa kali dia buat jalan nanjak sepagi ini, udara masah basah dan dingin, mana sitirahat juga sebentar semalam. Pada giliranya disalip ma rombongan peserta-panitia F2N… yah sia sia juga udah curi start karena puluhan orang jalan didepan saya dan mas uman ketika beristirahat. Mas condro melenggang dengan santai sampai puncak duluan, secara fisikly juga nampak lebih fit buat trekking.
Sampai puncak yang tengah sudah ramai, berjejer kamera buat njepret sunrise sikunir. Giliran buka tas kamera mas uman, huuwahhh ternyata kamera dengan gear lengkap, dengan lensa sepanjang termos #hahaha.
Mmmmm… golden sunrise nya mana ya kok ga nongol nongol. Cuaca cerah di sekitar sikunir, tetapi tidak untuk posisi munculnya matahari pagi itu. Sebagian awan hitam menutupi dan boleh dikatakan sunrise kali ini adalah gagal #norose

suasana camp area, pagi

aktivitas pagi

penampakan lightness #bingung

Turun sikunir jam 7an. Ada rombongan yang hendak kembali ke Jakarta pagi ini juga (takut macet dan takut gak tepat waktu mungkin). Sementara peserta F2N ngantri sarapan, mas uman mas condro berkemas dan saya bongkar-bongkar tenda. Dengan 1 bantuan teman Sembungan nganter mereka kembali ke Dieng, ke penginapan Bu Jono. Istirahat di penginapan setelah semalam gak tidur… Dan aktivitas F2N setelahnya saya tidak tahu -__-
(Rangkaian acara tersebut : tour dieng 1, lihat tarian dan kesenian adat dieng, serta penanaman pohon #kayaknya sih seperti itu)

menjelang bubaran dari telaga cebong

Mas condro mas uman cabut dari dieng sekitar jam 11 an. Mereka langsung menuju Semarang dengan mobil carteran dan langsung terbang ke Jakarta sore itu juga. Sayonara :-h

• Acara yang mengasyikan, apalagi buat yang belom pernah camping bareng atau kegiatan outdoor
• Bukan peserta dan bukan panitia, yang penting ketemu dan kenalan orang baru #modus cari link baru
• Orang desa Sembungan dan  orang di Dieng sedikit yang mengetahui acara ini
• Perform yang memuaskan dari Float
• Termasuk acara besar di Dieng dengan banyak peserta
• Diluar segala kekurangan, panitia juga manusia yang… (lanjutin sendiri ya) #larilarikecil