Culo Liyangan

Pagi yang sepoi mendung, menerus melemahkan semangat yang sore sebelumnya sudah diguyur hujan. Berasa bangun sudah berada di tumpukan busa dan sofa. Melengok dari balkon tingkat 2 rumah yang belum lama di akrabi. Membual ke barat, hutan-hutan padat yang di baliknya bermimikri menjadi lahan-lahan subur penghancur, ada di penghujung pupil, merapat bersama debu yang sudah berubah wujud di tepian mata. Cahaya nya samar-samar, begitu mengenal tetapi tidak untuk menertawakan nya hari ini. Cantik nya cukup membuat bosan tak lebih dari seperempat detik.

Sekira Sepenggalan, setelah membungkus sangu dari Tlangu. Menuju barak hasil dari tulang-tulang dinosaurus yang telah berfermentasi menjadi atom-atom yang diserap kuda kuda dari tanah para Romusha. Ada rekan yang saya kenal tapi tak pernah menjumpai dan tak bisa mengikut untuk hari ini, Damarjati (sebuah desa yang mengingatkan pada seorang filsuf, Guru Besar Filsafat UGM, Damardjati Supadjar)


Dimana alas buat bermalam, tak menentukan akan berada pada fokus yang mana, melewati rangkaian kontur dan sistem yang seperti apa. Sampai sore mengerucut, bentuknya meruncing persis cula badak jika dilihat dari sisi utara. Titik bahasan yang kudu segera di diskusikan. Bernegoisasi dengan para user zat zat pemacu lelahnya tanah setempat tentang apa yang bisa mereka perbuat untuk kami bisa sampai atas. Hari semakin gelap… kabut-kabut tipis cantik mulai naik, embun yg menyentuh kulit perlahan tiris. Dikira serta merta kami adalah penggadai usia, penggadai kumpulan bilangan recehan dengan tuah-tuah dunia yang ditinggalkan manusia sebelumnya.



Menjumpai maghrib menjumpai puncak. Jangan harap pohon-pohon besar yang bisa tersenyum seperti pada film “Bridge of Terabithia”, cuma ilalang pun disini hitam, terbakar di sela kemarau kemarin. Hanya rumput-rumput yang menggeliat, menunjukan sel sel Tuhan masih hidup dibawah tanah meskipun tubuh mereka dihajar api. Cukup menunggu hujan, mereka tumbuh, karena ini benar-benar November!


Pagi hari, sang kakak yang tercatat samar memuntahkan solfatara di rentan tahun 1800-an

Sepenggalan berikutnya, menuruni sebuah peradaban kuno yang dihajar letusan beberapa abad silam, terdapat 3 lingga, terkubur material dan konon seluas 6Ha. Kayu apa yang dipakai untuk mendirikan bangunan? Bagaimana cara memotong batuan? Jenis beras apa yang gabahnya telah memfosil? Dimana ujung jalan berbatu buatan nenek moyang? Ilmu, adat dan kearifan lokal yang seharusnya tetap kita sandang sampai sekarang



 

Sabdo Palon . Salam _/\_

Gunung Prau – Tim Sergap Indonesia

Bertepatan dengan DCF (Dieng Culture Festival) 2013

Roiz yg sudah jauh-jauh hari mengabarkan hendak ke Dieng,  DCF an sekaligus tilik Gunung Prau. Tetapi jauh-jauh hari juga saya bilang kalau gak bisa nemenin atau nganterin muter-muter edisi mbalayang kali ini. Beberapa rombongan kudu dilayani di DCF tahun ini.
*Sedikit cerita tentang Roiz, kita kenal sekitar April 2013. Sore Dia dateng dari Temanggung dan Cojack (temen Traveller Kaskus) datang dari Jakarta. Mereka ketemuan di Dieng, sebelum akhirnya kita ber3 ketemu di Dieng dalam keadaan hujan. Ngobrol-ngobrol dan ngopi di Bujono (waktu masih ada mas Dwi).  Suasana sore yg dingin tapi hangat, beberapa macam gorengan dan bergelas-gelas arak, eh kopi. Mbahas dari yg namanya A sampai Z, lor kidul wetan kulon, ngisor nduwur kiwo tengen ngarep mburi. Suasana cair kaya dah kenal lama.
Seperti rencana sebelumnya yg diutarakan Cojack, malamnya berangkat ke Sikunir, saya ngajakin Eko, temen segala suasana dari Dieng. Berangkatlah kami ber4 dalam keadaan gerimis. 10 menit sesampai di desa Sembungan gerimis makin deras alias berubah jadi hujan. Niat nenda di puncak Sikunir pun surut, kondisi suram. Suer enakan tidur di homestay dengan kasur dan selimut tebel nya, ada kopi teh panas dan cemilan suguhan homestay, racun saya bisikan selanjutnya. Tanpa lama mereka mengiyakan. Kami ber4 tidur di homestay salah 1 rekan di Sembungan. Dasar cangkem gojek ketemu cangkem nglayap, ngecret panjang lebar finish jam 2 pagi. Sekamar ber4 no problem dah, biar rapet anget.
Paginya cuaca masih sama, mereka ber3 nekat naik Sikunir walau sudah jam 7 pagi (berangkat nyunrise apa berangkat ke ladang pak #ngakaks). Nglanjutin narik selimut itu dah ide paling bagus, bosen mah Sikunir #cool. Sampai Dzuhur kami masih tertahan di Sembungan, karena memang enak bener kabut disini buat gegoleran di kasur.
Siang sekitar jam 1 an, mereka (Roiz & Cojack) pada turun ke Wonosobo, suasana langit juga tidak berubah dari kemarin, syuram bagi kami tetapi tidak bagi para petani kentang karena tanaman kentangnya sudah disiram alam. So… kadang yg kita keluhkan itu justru sangat bermanfaat bagi orang lain, entah sekitar kita atau belahan bumi lain *sok a wise*
Nah ini… Selama 2 hari 1 malam obrolan kita, Roiz berkali nyentil “ra meh jaluk tanda tangan ku po?” (gak mau pada minta tanda tanganku apa?). Loh apa maksud bocah ini… dalam ati tanya gitu. Dia siapa, bisa apa, apakah salah 1 orang yg berkompeten di salah 1 bidang dan berpengaruh? Muka dan gaya nya emang nyleneh, omonganya banyak gak jelas nya. Asu tenan pokoke cah 1 iki! hahaha
Sampai akhirnya saya tau, setelah meliat tayangan dia beserta komunitasnya, BaliBackpacker di program Kick Andy Metro Tv (baru beberapa minggu yll, video silakan searcing di youtube). Dia menjabat sebagai Dalang utama di band Ethno Experimental “Tembang Pribumi” (Website : tembangpribumi.com – Twitter : @tembangpribumi) . Selanjutnya ubek-ubek sendiri ya alamat tersebut :D* (OOT nya udahan ya, back to topic)

Semalam sebelum DCF, Roiz sms bahwa dia sudah berada di Gardu Pandang Tieng bareng Pak Dadi Wiryawan (Tim SERGAP Indonesia) dari Jogja, dengan 2 motor. Because salah 1 motornya dikhawatirkan gak kuat nanjak, maka saya turun menjemput boncengan sama Eko ke tkp. Pokoknya ceritanya kita tau-tau sampe Dieng aja dan istirahat di rumah Eko. Ramailah di rumah, Roiz, Pak Dadi dan juga Mulkan… temen titipan dr temen Backpacker Medan dan juga member Traveller Kaskus. Ngeteh ngemil gojek, tepatnya gojek kere kalau sama Roiz.

Pagi hari Dieng udah menggeliat, ramai orang dan kendaraan pada wara wiri. Saya sudah harus ngurus beberapa rombongan yang ketemu di Dieng hari ini. Dari urusan transport, ada yg lewat jalur Pantura Pekalongan – Bandar – Gerlang – Batur – Dieng  karena waktu itu memang jalur Wonosobo – Dieng ditutup karena perbaikan jembatan Tieng, sampai ngurusin tiket beserta ID card DCF, yg kelihatanya sepele tapi vital.
Siang yang sibuk, menyempatkan lah saya mengantar si Dalang edan dan Pak Dadi ke basecamp Gunung Prau di desa Patak Banteng. Maaf sekali saya tidak bisa ikut naik ke atas karena hal hal sudah menjadi kodrat saya, akhir pembicaraan sebelum mereka trekking naik dan saya balik ke Dieng.

Skip skip…
Sampai akhirnya mereka turun dari Gunung Prau keesokan harinya (hari pertama DCF) dan menjumpai foto foto dari kamera Pak Dadi seperti berikut ini ~

 


Misi mereka mengibarkan si Koneng bendera SERGAP di Gunung Prau terlaksana \m/

Hari ke 2 tamu-tamu DCF mayoritas sudah berada di Dieng hari ini. Kami mencar, Mulkan juga sudah gabung ke rombongan nya yg ngumpul di Dieng. Ketoke pagi hari nya Pak Dadi & Roiz jalan-jalan ke Sikunir, kalau dilihat jepretan beliau seperti berikut :

 


Di hari ke 2 ini, sore harinya Roiz pulang duluan. Katanya sih ada urusan yg sangat urgent di Jogja . Tapi udah ketebak sih urusan dia apaan :))) . Disertai urusan saya yang sudah selesai, Pak Dadi nambah nginep semalam di Dieng, dan baru ke esokan hari nya dia bertolak ke Jogja :D

Credit :
Dadi Wiryawan , Fotografer TIM SERGAP INDONESIA
Terimakasih atas kunjungan dan jepretannya yg luar biasa _/\_

Ketika “Demam Film 5cm” pindah ke Gunung Prau

Sebenarnya saya pribadi sudah cukup lama memendam hasrat ingin piknik dan “leyeh-leyeh” di Gunung Prau (2.565 mdpl), tepatnya sejak akhir tahun 2011 ketika salah seorang sahabat saya Kukuh Julianto pertama kali mengenalkan keindahan Prau dari cerita-ceritanya. Tentang damainya bermalam di sekitar puncak Prau, tentang bukit tele-tubbies-nya, tentang dahsyatnya view landscape gunung-gunung yang terpampang dari Puncak Prau dan tentu saja tentang keindahan menatap sunrise dari puncak Prau. Namun baru akhir Agustus 2013 niatan anjangsana ke Prau akhirnya terealisir.

Cerita piknik saya kali ini bermula dari usulan mengadakan Halal Bihalal komunitas kecil dimana saya bergiat dengan format kemping ceria. Berbagai opsi destinasi menarik untuk hiking + kemping pun dilontarkan dan akhirnya mengerucut untuk kita piknik ke Prau.

Tanggalpun ditetapkan 30 Agustus – 1 September 2013, 29 pesertapun berhasil terjaring. Bilangan 29 ini kami tetapkan untuk memenuhi kuota seat bis pariwisata yang kami carter untuk membawa rombongan dari Jakarta ke Dieng. Kami sengaja memilih mencarter bis pariwisata untuk fleksibilitas keberangkatan dan selama perjalanan untuk rombongan yang terbilang banyak. Disamping setelah dihitung-hitung ternyata ongkos share-cost per orang untuk menyewa bis pariwisata dibanding biaya per orang untuk transportasi PP Jakarta-Wonosobo ternyata masih lebih murah share-cost carter bis.

From Senayan with Love (Jum’at, 30 Agustus 2013)

Kumpul keberangkatan di Parkiran Depan Patung Senayan GBK Senayan Jum’at Malam 30 Agustus Pkl 19.00, usahakan tidak terlambat ya.. “.

Begitu salah satu keputusan Technical Meeting pra-pendakian yg kemudian saya informasikan di laman group komunitas via FB, Twitter serta SMS broadcast yang saya sebar ke seluruh peserta beberapa hari jelang keberangkatan.

Tapi satu rencana waktu pertemuan di Jum’at Malam di Ibukota memang selalu akan akrab dengan realita mulur bin keterlambatan dengan cerita tentang “macet” jadi kendala utama. Dari Rencana pkl 19.00 WIB seluruh peserta baru lengkap terkumpul jelang pkl 21.00 WIB. Setelah pengaturan tempat duduk, keril-keril dan sedikit briefing serta berdo’a bersama bis pariwisata medium berwarna hijau mulai melaju meninggalkan senayan.

Dan Jum’at Malam itu, seperti juga Jum’at Malam sebelum-sebelumnya di Jakarta memang selalu macet parah. Sekitar tengah malam bis masih belum melewati pertengahan Tol Jakarta Cikampek. Melewati jalur utara, bis kembali terkena macet parah di Simpang Jomin. Setelah beberapa kali berhenti untuk istirahat, makan, sholat serta desakan mendadak untuk buang air, bis akhirnya mulai memasuki kota Wonosobo Sabtu 31 Agustus sekitar pukul 10.00 WIB.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Cuaca cerah menyambut kedatangan kami di Dataran Tinggi Dieng. Setelah sedikit terhambat karena terlampau panasnya mesin bis carteran kami yang mengharuskan seluruh rombongan pindah ke Micro-Bis (Wonosobo-Dieng) beberapa Km sebelum pertigaan Dieng, sekitar pkl 12.30 seluruh rombongan menjejak dieng. Sobat kami, Kukuh dan rekan-rekannya, yang akan menjadi teman perjalanan kami menyambut dengan hangat. Setelah urusan istirahat, bersih-bersih, makan, belanja logistik, packing ulang dll yang cukup lama, karena kami memang ingin santai saja tidak terburu-buru, seluruh rombongan bersiap untuk memulai pendakian di pukul 14.30 WIB. Setelah sedikit pengarahan dan do’a bersama perlahan seluruh rombongan mulai beringsut meninggalkan terminal dieng mulai mendaki menuju puncak Prau. Total ada 34 orang yang berderap dalam rombongan menuju Prau.

Kalau normal sekitar 3 jam-an lah om untuk naik dari Dieng.. kalau dari Pathak Banteng lebih cepat sekitar 2 jam-an tapi tanjakannya terjal” ujar Kukuh sebelum rombongan tiba di Dieng.

Kalau untuk rombongan yang banyak tante-tantenya, enak lewat mana kuh?” tanya saya.

Yaa..pastinya lewat Dieng om, nanti turunnya kombinasi via Pathak Banteng” jawab kukuh.

Okelah bungkus.. kita naik via Dieng, turun via Pathak Banteng” tukas saya menutup pembicaraan.

Itu sekelumit diskusi saya dengan Kukuh yang faham betul jalur-jalur pendakian Prau yang berujung kesimpulan kita akan naik via Dieng dan turun via Pathak Banteng.

Dan benar seperti rekomendasi Kukuh, jalur pendakian via Dieng memang relatif bersahabat terutama untuk para tante-tante yang sudah jauh hari berpesan, “lewat jalur yang landai ya om.. jangan yang terjal”.

Selain relatif bersahabat, jalur pendakian via Dieng juga menawarkan pesona pemandangan yang sangat indah. Setelah melewati ladang penduduk, kemudian memasuki kawasan hutan yang relatif rimbun, kita baru akan dihadapkan dengan tanjakan yang lumayan terjal jelang mencapai puncak yang terdapat Menara Pemancar Radio. Dari Menara Radio vegetasi sudah tersibak luas tanpa halangan dan hamparan pemandangan indahpun terpampang di hadapan.

Kami tiba di Puncak Menara sekitar pkl 17.00, leyeh-leyeh sejenak, berfoto-foto ria beberapa malah makan nasi bungkus yang dibawa dari bawah. 20 menitan berlalu rombongan mulai beringsut ke area kemping dekat tugu triangulasi Prau.

Jalur Permulaan via Dieng, Ladang Penduduk

View dari Puncak Menara Repeater

Puncak Menara Repeater di kejauhan

Di atas awan

Sudah gelap dan lewat maghrib ketika kami menjejak camp area yang ternyata sudah cukup sesak dengan tenda-tenda rombongan lain yang lebih dahulu sampai dari kami. Seorang rekan berujar, “Ketika Demam Film 5cm pindah ke Prau…. “ mengomentari penuhnya area camp favorit di puncak Prau malam itu.

Setelah tenda-tenda berdiri, acara favorit di camp area pun digelar.. masak-masak, sambil dibalut dengan obrolan hangat menepis hawa yang sangat dingin di puncak Prau malam itu. Angin yang berhembus cukup kencang malam itu semakin membuat dingin hingga terasa menusuk tulang. Saya memilih tidur lebih cepat selepas makan malam dan sedikit chit-chat, sementara tawa di luar serta di dalam beberapa tenda terus terdengar di ramainya puncak Prau malam itu, bahkan hingga dinihari ketika saya terbangun sejenak.

Ahad, 1 September 2013

Do’a & harapan seluruh peserta rombongan sebelum tidur agar cuaca terus cerah hingga matahari terbit nampaknya menjadi kenyataan. Setelah sholat subuh dan menyeduh minuman hangat, saya keluar tenda untuk menyambut terbitnya fajar. Dan Ramai-nya Puncak Prau semakin nyata setelah para penghuni tenda-tenda mulai keluar satu persatu untuk merekam indahnya momen sunrise pagi itu, termasuk salah satu OANC-ers yang ternyata juga ada di puncak pagi itu, Mas Damar a.k.a TjahBagus yang unyu-unyu.

Permulaan Pagi di Prau

Sunrise 1

Bukit Teletabis plus Sunrise

Jump

Sindoro Sumbing dari Prau

KPAWW #1

Aktivitas Pagi

Bareng Alfarizi, Bocah Gembel Dieng

Foto Keluarga

Perjalanan turun via jalur pathak banteng ternyata memang disuguhi turunan yang relatif curam yang membuat beberapa rekan berguman, “ untung naeknya kemaren kaga lewat sini ya .. “. Saya hanya tersenyum sambil tetap hati-hati menapaki turunan dan kadang2 harus berpegangan ke tanah aka ngesot (Notes : trekking pole akan sangat berguna di jalur menurun ini).

Singkat cerita, seluruh rombongan akhirnya bisa selamat sampai di basecamp pathak banteng sekitar pkl 11.30 WIB. Kalau rombongan lain melipir turun ke posko pendakian pathak banteng, karena pertimbangan akan penuh dll kami diarahkan untuk melipir ke rumah salah seorang rekan kukuh yang ikut menemani perjalanan kami. Sesampai disana, leyeh-leyeh lagi, langsung di suguhi manisan Carica oleh tuan rumah.. maknyuss tenan, aseli. Lalu bergantian mandi, sholat dzuhur, rombongan lalu berjalan kaki lagi sebentar ke jalan Raya untuk naik Bis jemputan yang sudah menanti kami dengan sebelumnya beli oleh2 carica dkk dulu. Bis carteran baru mulai benar-benar turun dari Dieng jelang pkl 15.00 WIB, dan setelah melewati perjalanan panjang menuju Jakarta via Pantura. Bis akhirnya sampai di Jakarta sekitar pkl 03.30 WIB dengan meninggalkan episode Prau yang indah.

Pemandangan di Jalur Turun via Patak Banteng

Pemandangan dari jalur Patak Banteng

————————————-
Terima Kasih Kepada :
1. ALLAH SWT atas segala karunia kenikmatan dan kemudahannya
2. Keluarga (orang tua, suami/istri, anak2, kakak/adik) yang merestui dan mendo’akan perjalanan kami.
3. Mas Kukuh Julianto dkk atas keramahan dan pengawalannya yang sangat luar biasa selama perjalanan kami.
4. Keluarga Besar OANC atas keramahan serta inspirasi-inspirasi perjalanannya yang luar biasa.
5. Keluarga Besar Komunitas Pecinta Alam Warna-Warni (KPAWW) atas naungannya selama ini

Disadur dari Catper di forum OANC oleh Rudi Priyanto : Gunung Prau

Prau – 1 Hari Bersama Sampah

Acara : 1 Hari Bersama Sampah
Waktu : 13 Januari 2013
Keterangan : Membersihkan sampah sisa aktivitas perayaan tahun baru 2013 di puncak Gunung Prau. Kumpul dari basecamp Bull Eggs Adv Jl. Dieng km 24 Patakbanteng Wonosobo, jam 7 – selesai

Awalnya pagi berangkat 5 orang dari basecamp. Mereka menyisir puncak dari tugu perbatasan Kendal – Wonosobo sampai menara pemancar di sebelah barat dan kembali lagi di tugu perbatasan Kendal – Wonosobo. Cuaca tidak mendukung, hujan campur badai… angin bertiup kencang sehingga tak banyak dokumentasi yang bisa terambil. Fokus pada kegiatan “mulungi sampah”, katanya. Saya dan 3 orang naik siang menyusul mereka, membawa beberapa logistik. Tapi ketika kami sampai di “cacingan” diatas pos 3 kita bertemu, akhirnya rombongan siang dengan 2 karung sampah dan rombongan pagi  dengan logistik yg fresh bersama turun ke pos 3. Praktis saya cuma punya dokumentasi kegiatan di pos 3.  Sore ini lumayan asik, tumpukan sampah dan kopi penetral dingin, istirahat ngemil sambil bercanda, hujan dan badaipun lumayan reda. Kami ber-sembilan turun, menjelang maghrib kami sampai desa \m/

Sekarung sampah – jalur cacingan

Menjelang turun di pos 3

2 karung sampah

Tiba di pos 3

Istirahat ngopi ngobrol di pos 3

Curug Sirawe

Sempat bingung mau nulis dalam bentuk FR (field report) atau hanya sekedar informasi baku tentang curug ini :D. Setelah dipikir, mending menggabungkan 2 gaya tersebut #uhuk

Untuk kesekian kali, bukan hal umum yang saya tulis tentang apa yang ada di kawasan dataran tinggi Dieng. Sudah banyak yang menulis tentang apa itu telaga warna, kawah sikidang, komplek candi arjuna dan hal mainstream lainya di Dieng. Itu standar dan tidak akan saya ulas. Dan mungkin juga sudah ada beberapa postingan di internet yang menulis tentang curug ini… tp saya mencoba menyajikanya ala blog ini sendiri.

Sebenarnya… secara wilayah curug sirawe masuk dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang, kabupaten Batang. Karena sejarah, orang lebih banyak mengetahui curug ini masuk wilayah Banjarnegara, tepatnya desa Bitingan. Lalu bagaimana sejarahnya? Katanya… dulu curug ini sempat menjadi rebutan 2 kabupaten, Banjarnegara dan Batang. Pihak Banjarnegara mengklaim curug sirawe sebagai asetnya karena memang sumber mata air curug (di desa Bitingan) masuk wilayah Banjarnegara. Pihak Batang tidak begitu saja meng-iya-kan klaim tersebut, karena memang curugnya sudah masuk wilayah Batang. Pihak Batang berdalih, kalau memang curug tersebut mau diaku menjadi milik Banjarnegara, pihak Banjarnegara tidak diperkenankan mengalirkan aliran sumber mata air dari desa Bitingan tersebut ke wilayah Batang oleh pihak Batang. Dengan begitu Banjarnegara diharuskan mencari jalan lain untuk meneruskan aliran sumber mata air tersebut ke wilayah Banjarnegara sendiri, tidak ke wilayah Batang. Batang rela tidak memiliki curug Sirawe asal air yang mengalir dari wilayah Banjarnegara tidak mengalir ke wilayah Batang. Itu dirasa sulit dilakukan, karena cekungan atau daerah yang lebih rendah tempat jatuhnya air yang terdapat di sekitar daerah tersebut merupakan wilayah Batang. Dan kontur disitu murni proses alam atau lebih luasnya adalah ciptaan Tuhan. Aliran air dari curug ini menjadi sungai besar di kecamatan Bawang dan bermuara di pantai utara. Jadi bisa disimpulan seperti ini :

  • Mata air berasal dari wilayah Banjarnegara, tepatnya dusun Bitingan, desa Kepakisan, Kecamatan Batur
  • Air yang mengalir manjadi curug sudah masuk wilayah Batang, tepatnya dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang

Karena proses pemikiran tersebut curug Sirawe jatuh ke pangkuan Batang. Tetapi pihak Batang tidak serta merta membangun sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata di tempat ini, apalagi mempromosikanya. Curug ini dibiarkan saja seperti aslinya. Mungkin Batang sudah berpikir antara anggaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang akan didapat. Tetapi entah nanti jika Batang berubah pikiran :). Jika dipikir, untuk membangun proyek besar ini sebagai obyek wisata yang potensial di kabupaten Batang, maka Batang harus memperbaiki jalan antara Bawang – Bintoro – Sigemplong, atau jalan antara Bawang – Pranten – Sigemplong dan jembatan di selatan desa Pranten yang entah bagaimana kabarnya :)
Review nya bisa dilihat disini : Desa Pranten

Berbicara akses ke curug Sirawe, ada 2 jalur yang bisa dilewati. Pertama jalur Pawuhan (Geodipa) – Siglagah – Sigemplong. Dari Pawuhan dihadapkan jalanan aspal dan cor beton yang mengelupas. Sesampai Sigemplong kendaraan berhenti disini, dilanjut dengan jalan kaki ke atas desa, ke lereng gunung Sipandu. Kemudian menyusuri jalan setapak alternatif penghubung desa Sigemplong dan desa Bitingan. Jalur ini sulit dan jauh. Akan lebih sulit dan berbahaya di musim hujan.
Jalur kedua bisa lewat Kepakisan – Kawah Sileri –  Bitingan. Jalur ini lebih dekat dari jalur Sigemplong. Jalanan aspal mengelupas tetap bisa dijumpai dari pertigaan kawah Sileri sampai desa Bitingan. Sampai desa Bitingan semua kendaraan berhenti, menuju curug dilanjut dengan jalan kaki.
Kedua jalur tersebut sama sulitnya ketika memasuki turunan curug Sirawe, terlebih jika musim hujan.

Mengenai hal lain, curug ini gabungan dari air panas dan air dingin serta 2 air terjun yang berjejer. Air panas berasal dari proses geothermal di pegunungan Dieng, dan air dingin dari sungai biasa. Yang saya lihat, disekitar curug masih terjaga hutan heterogen khas dengan pohon pohon besarnya.

ツ ツ ツ

Saya dan tim berangkat dari Dieng sekitar pukul 9 malam, lewat jalur Pawuhan Siglagah Sigemplong. Sekitar 15 menit kami sampai di Sigemplong, mampir ke rumah sesepuh desa tersebut. Nitip motor dan pamitan untuk bermalam di wilayah curug Sirawe. Perjalanan dilanjut jalan kaki menyusuri lereng gunung Sipandu, sepi gelap dingin dan berkabut. Sesampai tempat yang di maksud, kami bingung hendak dimana mendirikan tenda. Karena tempat landai sangat jarang dan ini merupakan bukan area camp yang wajar. Setelah pilah pilih tempat diputuskan nenda di samping perkebunan kentang warga, dimana sebelah baratnya adalah jurang curug Sirawe. Tak banyak yang dilakukan setelah tenda berdiri, ngobrol dan ngopi saja. Sesekali terdengar hembusan suara air curug yang terbawa angin. Malam ini beraura horor tapi saya suka :D. Pukul setengah 12 an kami tidur didalam tenda zzz…

Keesokan harinya, pagi jam 6 kurang 5 menit bangun dan keluar tenda, subhanallah… tepat dibelakang tenda terlihat jauh 2 curug yang berjejer tersebut, ini yang di cari! Pemandangan ini tidak kami jumpai semalaman… Terbayar rasanya bermalam disini dengan berbagai rasa semalam. Desa Bitingan nampak tertata rapi diatas curug. Dari sebelah timur muncul mentari dari sisi gunung Prau, di sebelah tenggara ada gunung Sipandu, di sebelah utara nampak ijo hutan hutan lebat. Spot yang komplit buat selow… Banyak ditemui petani yang berangkat berkebun dan tampaknya mereka bingung dengan keberadaan kami. Bermalam di tempat seperti ini mau cari apa tanya-nya…
Mengemas tenda dan perabot camp done, dilanjut jalan ke timur menyusuri lereng Sipandu, kembali menuju desa Sigemplong tepatnya. Sambil berjalan melihat aktivitas petani sekitar sini, sesekali mengobrol. Perjalanan kembali ke Sigemplong cukup lama, karena melewat jalur memutar arah desa Bintoro. Di jalur ini masih banyak terdapat tanaman ucen liar dan gandapura. Pukul 10 pagi tiba dirumah sesepuh desa Sigemplong tempat menitip motor. Gak lama berselang kami berpamitan. Sampai di penghujung desa mampir dulu di sumber air panas, berniat mandi dan melepas lelah. Kurang lebih 1 jam berada di pancuran air panas ini dan hasilnya… sangat freshhh! #lebaydikit
Pukul 12 siang lebih kami sampai lagi dieng :D

Desa Bitingan nampak diatas curug Sirawe

Matahari pagi dari samping gunung Prau

Gunung Sipandu

Lahan kentang & langit di sebelah utara

Hutan lebat disebelah barat, berjajar sampai telaga Dringo

Desa Pranten dari atas Sigemplong

Ucen liar

Lebih dekat lagi dengan Ucen

Gunung Prau

Pancuran air panas

Pemandangan depan pancuran, sekitar lereng Prau

Curug kecil sekitar pancuran air panas

Pemandangan desa Pranten dari sekitar air panas