Gunung Prau – Tim Sergap Indonesia

Bertepatan dengan DCF (Dieng Culture Festival) 2013

Roiz yg sudah jauh-jauh hari mengabarkan hendak ke Dieng,  DCF an sekaligus tilik Gunung Prau. Tetapi jauh-jauh hari juga saya bilang kalau gak bisa nemenin atau nganterin muter-muter edisi mbalayang kali ini. Beberapa rombongan kudu dilayani di DCF tahun ini.
*Sedikit cerita tentang Roiz, kita kenal sekitar April 2013. Sore Dia dateng dari Temanggung dan Cojack (temen Traveller Kaskus) datang dari Jakarta. Mereka ketemuan di Dieng, sebelum akhirnya kita ber3 ketemu di Dieng dalam keadaan hujan. Ngobrol-ngobrol dan ngopi di Bujono (waktu masih ada mas Dwi).  Suasana sore yg dingin tapi hangat, beberapa macam gorengan dan bergelas-gelas arak, eh kopi. Mbahas dari yg namanya A sampai Z, lor kidul wetan kulon, ngisor nduwur kiwo tengen ngarep mburi. Suasana cair kaya dah kenal lama.
Seperti rencana sebelumnya yg diutarakan Cojack, malamnya berangkat ke Sikunir, saya ngajakin Eko, temen segala suasana dari Dieng. Berangkatlah kami ber4 dalam keadaan gerimis. 10 menit sesampai di desa Sembungan gerimis makin deras alias berubah jadi hujan. Niat nenda di puncak Sikunir pun surut, kondisi suram. Suer enakan tidur di homestay dengan kasur dan selimut tebel nya, ada kopi teh panas dan cemilan suguhan homestay, racun saya bisikan selanjutnya. Tanpa lama mereka mengiyakan. Kami ber4 tidur di homestay salah 1 rekan di Sembungan. Dasar cangkem gojek ketemu cangkem nglayap, ngecret panjang lebar finish jam 2 pagi. Sekamar ber4 no problem dah, biar rapet anget.
Paginya cuaca masih sama, mereka ber3 nekat naik Sikunir walau sudah jam 7 pagi (berangkat nyunrise apa berangkat ke ladang pak #ngakaks). Nglanjutin narik selimut itu dah ide paling bagus, bosen mah Sikunir #cool. Sampai Dzuhur kami masih tertahan di Sembungan, karena memang enak bener kabut disini buat gegoleran di kasur.
Siang sekitar jam 1 an, mereka (Roiz & Cojack) pada turun ke Wonosobo, suasana langit juga tidak berubah dari kemarin, syuram bagi kami tetapi tidak bagi para petani kentang karena tanaman kentangnya sudah disiram alam. So… kadang yg kita keluhkan itu justru sangat bermanfaat bagi orang lain, entah sekitar kita atau belahan bumi lain *sok a wise*
Nah ini… Selama 2 hari 1 malam obrolan kita, Roiz berkali nyentil “ra meh jaluk tanda tangan ku po?” (gak mau pada minta tanda tanganku apa?). Loh apa maksud bocah ini… dalam ati tanya gitu. Dia siapa, bisa apa, apakah salah 1 orang yg berkompeten di salah 1 bidang dan berpengaruh? Muka dan gaya nya emang nyleneh, omonganya banyak gak jelas nya. Asu tenan pokoke cah 1 iki! hahaha
Sampai akhirnya saya tau, setelah meliat tayangan dia beserta komunitasnya, BaliBackpacker di program Kick Andy Metro Tv (baru beberapa minggu yll, video silakan searcing di youtube). Dia menjabat sebagai Dalang utama di band Ethno Experimental “Tembang Pribumi” (Website : tembangpribumi.com – Twitter : @tembangpribumi) . Selanjutnya ubek-ubek sendiri ya alamat tersebut :D* (OOT nya udahan ya, back to topic)

Semalam sebelum DCF, Roiz sms bahwa dia sudah berada di Gardu Pandang Tieng bareng Pak Dadi Wiryawan (Tim SERGAP Indonesia) dari Jogja, dengan 2 motor. Because salah 1 motornya dikhawatirkan gak kuat nanjak, maka saya turun menjemput boncengan sama Eko ke tkp. Pokoknya ceritanya kita tau-tau sampe Dieng aja dan istirahat di rumah Eko. Ramailah di rumah, Roiz, Pak Dadi dan juga Mulkan… temen titipan dr temen Backpacker Medan dan juga member Traveller Kaskus. Ngeteh ngemil gojek, tepatnya gojek kere kalau sama Roiz.

Pagi hari Dieng udah menggeliat, ramai orang dan kendaraan pada wara wiri. Saya sudah harus ngurus beberapa rombongan yang ketemu di Dieng hari ini. Dari urusan transport, ada yg lewat jalur Pantura Pekalongan – Bandar – Gerlang – Batur – Dieng  karena waktu itu memang jalur Wonosobo – Dieng ditutup karena perbaikan jembatan Tieng, sampai ngurusin tiket beserta ID card DCF, yg kelihatanya sepele tapi vital.
Siang yang sibuk, menyempatkan lah saya mengantar si Dalang edan dan Pak Dadi ke basecamp Gunung Prau di desa Patak Banteng. Maaf sekali saya tidak bisa ikut naik ke atas karena hal hal sudah menjadi kodrat saya, akhir pembicaraan sebelum mereka trekking naik dan saya balik ke Dieng.

Skip skip…
Sampai akhirnya mereka turun dari Gunung Prau keesokan harinya (hari pertama DCF) dan menjumpai foto foto dari kamera Pak Dadi seperti berikut ini ~

 


Misi mereka mengibarkan si Koneng bendera SERGAP di Gunung Prau terlaksana \m/

Hari ke 2 tamu-tamu DCF mayoritas sudah berada di Dieng hari ini. Kami mencar, Mulkan juga sudah gabung ke rombongan nya yg ngumpul di Dieng. Ketoke pagi hari nya Pak Dadi & Roiz jalan-jalan ke Sikunir, kalau dilihat jepretan beliau seperti berikut :

 


Di hari ke 2 ini, sore harinya Roiz pulang duluan. Katanya sih ada urusan yg sangat urgent di Jogja . Tapi udah ketebak sih urusan dia apaan :))) . Disertai urusan saya yang sudah selesai, Pak Dadi nambah nginep semalam di Dieng, dan baru ke esokan hari nya dia bertolak ke Jogja :D

Credit :
Dadi Wiryawan , Fotografer TIM SERGAP INDONESIA
Terimakasih atas kunjungan dan jepretannya yg luar biasa _/\_

Ketika “Demam Film 5cm” pindah ke Gunung Prau

Sebenarnya saya pribadi sudah cukup lama memendam hasrat ingin piknik dan “leyeh-leyeh” di Gunung Prau (2.565 mdpl), tepatnya sejak akhir tahun 2011 ketika salah seorang sahabat saya Kukuh Julianto pertama kali mengenalkan keindahan Prau dari cerita-ceritanya. Tentang damainya bermalam di sekitar puncak Prau, tentang bukit tele-tubbies-nya, tentang dahsyatnya view landscape gunung-gunung yang terpampang dari Puncak Prau dan tentu saja tentang keindahan menatap sunrise dari puncak Prau. Namun baru akhir Agustus 2013 niatan anjangsana ke Prau akhirnya terealisir.

Cerita piknik saya kali ini bermula dari usulan mengadakan Halal Bihalal komunitas kecil dimana saya bergiat dengan format kemping ceria. Berbagai opsi destinasi menarik untuk hiking + kemping pun dilontarkan dan akhirnya mengerucut untuk kita piknik ke Prau.

Tanggalpun ditetapkan 30 Agustus – 1 September 2013, 29 pesertapun berhasil terjaring. Bilangan 29 ini kami tetapkan untuk memenuhi kuota seat bis pariwisata yang kami carter untuk membawa rombongan dari Jakarta ke Dieng. Kami sengaja memilih mencarter bis pariwisata untuk fleksibilitas keberangkatan dan selama perjalanan untuk rombongan yang terbilang banyak. Disamping setelah dihitung-hitung ternyata ongkos share-cost per orang untuk menyewa bis pariwisata dibanding biaya per orang untuk transportasi PP Jakarta-Wonosobo ternyata masih lebih murah share-cost carter bis.

From Senayan with Love (Jum’at, 30 Agustus 2013)

Kumpul keberangkatan di Parkiran Depan Patung Senayan GBK Senayan Jum’at Malam 30 Agustus Pkl 19.00, usahakan tidak terlambat ya.. “.

Begitu salah satu keputusan Technical Meeting pra-pendakian yg kemudian saya informasikan di laman group komunitas via FB, Twitter serta SMS broadcast yang saya sebar ke seluruh peserta beberapa hari jelang keberangkatan.

Tapi satu rencana waktu pertemuan di Jum’at Malam di Ibukota memang selalu akan akrab dengan realita mulur bin keterlambatan dengan cerita tentang “macet” jadi kendala utama. Dari Rencana pkl 19.00 WIB seluruh peserta baru lengkap terkumpul jelang pkl 21.00 WIB. Setelah pengaturan tempat duduk, keril-keril dan sedikit briefing serta berdo’a bersama bis pariwisata medium berwarna hijau mulai melaju meninggalkan senayan.

Dan Jum’at Malam itu, seperti juga Jum’at Malam sebelum-sebelumnya di Jakarta memang selalu macet parah. Sekitar tengah malam bis masih belum melewati pertengahan Tol Jakarta Cikampek. Melewati jalur utara, bis kembali terkena macet parah di Simpang Jomin. Setelah beberapa kali berhenti untuk istirahat, makan, sholat serta desakan mendadak untuk buang air, bis akhirnya mulai memasuki kota Wonosobo Sabtu 31 Agustus sekitar pukul 10.00 WIB.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Cuaca cerah menyambut kedatangan kami di Dataran Tinggi Dieng. Setelah sedikit terhambat karena terlampau panasnya mesin bis carteran kami yang mengharuskan seluruh rombongan pindah ke Micro-Bis (Wonosobo-Dieng) beberapa Km sebelum pertigaan Dieng, sekitar pkl 12.30 seluruh rombongan menjejak dieng. Sobat kami, Kukuh dan rekan-rekannya, yang akan menjadi teman perjalanan kami menyambut dengan hangat. Setelah urusan istirahat, bersih-bersih, makan, belanja logistik, packing ulang dll yang cukup lama, karena kami memang ingin santai saja tidak terburu-buru, seluruh rombongan bersiap untuk memulai pendakian di pukul 14.30 WIB. Setelah sedikit pengarahan dan do’a bersama perlahan seluruh rombongan mulai beringsut meninggalkan terminal dieng mulai mendaki menuju puncak Prau. Total ada 34 orang yang berderap dalam rombongan menuju Prau.

Kalau normal sekitar 3 jam-an lah om untuk naik dari Dieng.. kalau dari Pathak Banteng lebih cepat sekitar 2 jam-an tapi tanjakannya terjal” ujar Kukuh sebelum rombongan tiba di Dieng.

Kalau untuk rombongan yang banyak tante-tantenya, enak lewat mana kuh?” tanya saya.

Yaa..pastinya lewat Dieng om, nanti turunnya kombinasi via Pathak Banteng” jawab kukuh.

Okelah bungkus.. kita naik via Dieng, turun via Pathak Banteng” tukas saya menutup pembicaraan.

Itu sekelumit diskusi saya dengan Kukuh yang faham betul jalur-jalur pendakian Prau yang berujung kesimpulan kita akan naik via Dieng dan turun via Pathak Banteng.

Dan benar seperti rekomendasi Kukuh, jalur pendakian via Dieng memang relatif bersahabat terutama untuk para tante-tante yang sudah jauh hari berpesan, “lewat jalur yang landai ya om.. jangan yang terjal”.

Selain relatif bersahabat, jalur pendakian via Dieng juga menawarkan pesona pemandangan yang sangat indah. Setelah melewati ladang penduduk, kemudian memasuki kawasan hutan yang relatif rimbun, kita baru akan dihadapkan dengan tanjakan yang lumayan terjal jelang mencapai puncak yang terdapat Menara Pemancar Radio. Dari Menara Radio vegetasi sudah tersibak luas tanpa halangan dan hamparan pemandangan indahpun terpampang di hadapan.

Kami tiba di Puncak Menara sekitar pkl 17.00, leyeh-leyeh sejenak, berfoto-foto ria beberapa malah makan nasi bungkus yang dibawa dari bawah. 20 menitan berlalu rombongan mulai beringsut ke area kemping dekat tugu triangulasi Prau.

Jalur Permulaan via Dieng, Ladang Penduduk

View dari Puncak Menara Repeater

Puncak Menara Repeater di kejauhan

Di atas awan

Sudah gelap dan lewat maghrib ketika kami menjejak camp area yang ternyata sudah cukup sesak dengan tenda-tenda rombongan lain yang lebih dahulu sampai dari kami. Seorang rekan berujar, “Ketika Demam Film 5cm pindah ke Prau…. “ mengomentari penuhnya area camp favorit di puncak Prau malam itu.

Setelah tenda-tenda berdiri, acara favorit di camp area pun digelar.. masak-masak, sambil dibalut dengan obrolan hangat menepis hawa yang sangat dingin di puncak Prau malam itu. Angin yang berhembus cukup kencang malam itu semakin membuat dingin hingga terasa menusuk tulang. Saya memilih tidur lebih cepat selepas makan malam dan sedikit chit-chat, sementara tawa di luar serta di dalam beberapa tenda terus terdengar di ramainya puncak Prau malam itu, bahkan hingga dinihari ketika saya terbangun sejenak.

Ahad, 1 September 2013

Do’a & harapan seluruh peserta rombongan sebelum tidur agar cuaca terus cerah hingga matahari terbit nampaknya menjadi kenyataan. Setelah sholat subuh dan menyeduh minuman hangat, saya keluar tenda untuk menyambut terbitnya fajar. Dan Ramai-nya Puncak Prau semakin nyata setelah para penghuni tenda-tenda mulai keluar satu persatu untuk merekam indahnya momen sunrise pagi itu, termasuk salah satu OANC-ers yang ternyata juga ada di puncak pagi itu, Mas Damar a.k.a TjahBagus yang unyu-unyu.

Permulaan Pagi di Prau

Sunrise 1

Bukit Teletabis plus Sunrise

Jump

Sindoro Sumbing dari Prau

KPAWW #1

Aktivitas Pagi

Bareng Alfarizi, Bocah Gembel Dieng

Foto Keluarga

Perjalanan turun via jalur pathak banteng ternyata memang disuguhi turunan yang relatif curam yang membuat beberapa rekan berguman, “ untung naeknya kemaren kaga lewat sini ya .. “. Saya hanya tersenyum sambil tetap hati-hati menapaki turunan dan kadang2 harus berpegangan ke tanah aka ngesot (Notes : trekking pole akan sangat berguna di jalur menurun ini).

Singkat cerita, seluruh rombongan akhirnya bisa selamat sampai di basecamp pathak banteng sekitar pkl 11.30 WIB. Kalau rombongan lain melipir turun ke posko pendakian pathak banteng, karena pertimbangan akan penuh dll kami diarahkan untuk melipir ke rumah salah seorang rekan kukuh yang ikut menemani perjalanan kami. Sesampai disana, leyeh-leyeh lagi, langsung di suguhi manisan Carica oleh tuan rumah.. maknyuss tenan, aseli. Lalu bergantian mandi, sholat dzuhur, rombongan lalu berjalan kaki lagi sebentar ke jalan Raya untuk naik Bis jemputan yang sudah menanti kami dengan sebelumnya beli oleh2 carica dkk dulu. Bis carteran baru mulai benar-benar turun dari Dieng jelang pkl 15.00 WIB, dan setelah melewati perjalanan panjang menuju Jakarta via Pantura. Bis akhirnya sampai di Jakarta sekitar pkl 03.30 WIB dengan meninggalkan episode Prau yang indah.

Pemandangan di Jalur Turun via Patak Banteng

Pemandangan dari jalur Patak Banteng

————————————-
Terima Kasih Kepada :
1. ALLAH SWT atas segala karunia kenikmatan dan kemudahannya
2. Keluarga (orang tua, suami/istri, anak2, kakak/adik) yang merestui dan mendo’akan perjalanan kami.
3. Mas Kukuh Julianto dkk atas keramahan dan pengawalannya yang sangat luar biasa selama perjalanan kami.
4. Keluarga Besar OANC atas keramahan serta inspirasi-inspirasi perjalanannya yang luar biasa.
5. Keluarga Besar Komunitas Pecinta Alam Warna-Warni (KPAWW) atas naungannya selama ini

Disadur dari Catper di forum OANC oleh Rudi Priyanto : Gunung Prau

Prau – Djarum Blog Contest

Mengunjungi Taman Bunga Di Tengah Ketinggian (Gunung Prau, 2565 mdpl, 18-19 Juni 2011)
Oleh : Koboi Insap

Taman bunga yang di ceritakan temanku itu ternyata ada, dan aku melihatnya langsung di tengah ketinggian dan dinginnya Gunung Prau.

Tidak terlalu tinggi memang, dan start naik nya pun sudah di ketinggian lebih dari 2000 mdpl. Namun pesona keindahan pemandangan alamnya tidak kalah menarik dengan gunung-gunung di atas 3000 mdpl. Semua terlihat jelas dan begitu mempesona. Aku ingin kembali lagi kesini pada suatu waktu nanti. 

Sabtu, 18 Juni 2011

Sepulangnya dari gunung Sikunir, aku dan Kukuh kembali ke rumah pak Har. Petani asal desa Sembungan, Dieng yang telah menerimaku di rumahnya ketika ku berkunjung ke Dieng ini. Pak Har sudah menyediakan buah Carica untuk bekal ku nanti di gunung Prau. Saatnya carica itu diolah untuk bisa langsung dimakan setibanya kita camping di Prau nanti. Kukuh mengupas carica dan merendamnya dengan air agar getahnya hilang. Setelah itu buah carica yang sudah berwarna kuning itu di belah-belah dan di pisahkan biji dengan dagingnya. Lalu di masukkan ke dalam rebusan air matang dan di tambah gula agar rasanya menjadi lebih manis.

Sementara aku repacking barang-barang yang akan di bawa nanti. Tenda, trangia, sleeping bag sampai gitar tidak lupa aku packing. Bekal berupa mie dan lontong plastik yang sudah di buat bu Har pun tak ketinggalan ku masukkan ke dalam keril 50 liter. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Kata Kukuh, hanya sekitar dua jam trekking untuk bisa sampai ke gunung Prau, jadi tak usah takut kemalaman di jalan.

Kukuh memotong Carica

Carica yang sudah di potong dan siap dimasak 

Carica sudah matang di masak. Buahnya kami taruh di plastik, sementara airnya kami taruh di termos untuk nanti di hangatkan ketika kami ngecamp di puncak Prau. Jam sudah menunjukkan angka setenga tiga ketika aku, Kukuh dan Rudi, putra pak Har mulai berangkat dari rumah. Dengan menggunakan motor, kami berangkat menuju penginapan Bu Jono, tempat kami akan menitipkan motor. Kebetulan trek awal ke gunung Prau ini memang di mulai dari belakang penginapan bu Jono.

Sekitar 15 menit perjalanan menuju pertigaan Dieng. Sesampainya di penginapan bu Jono, kami sudah di tunggu oleh pak Didi, guide lokal Dieng. Berbincang-bincang sedikit dan meminjam sendok yang lupa terbawa, lalu kami menitipkan motor dan langsung berangkat trekking.

Berangkat dai rumah pak Har 

Perjalanan di mulai dari belakang penginapan bu Jono, kemudian melewati ladang-ladang penduduk yang di tanami kentang. Sore itu sangat cerah, namun karena ketinggian jadinya suhu lumayan dingin. Sekitar 15 menit berjalan melewati ladang penduduk, akhirnya kami sampai di pintu hutan. Suhu sudah semakin dingin, Kukuh dan Rudi memakai jaket disini, aku pun mengikutinya karena aku pun sudah merasa kedinginan. Pintu hutan di tandai dengan ujung nya perkebunan, selanjutnya adalah hutan lindung dimana didalam hutan tersebut penduduk dilarang untuk membuka lahan pertanian.

Melewati ladang penduduk

Pintu hutan 

Kami langsung melanjutkan perjalanan. Trek yang dilalui mulai menanjak namun masih agak landai. Terdapat beberapa pohon carica yang kami temui. Kemudian pohon pinus dan ilalang-ilalang tinggi. Trek adalah jalan tanah yang kering karena bukan musim hujan. Tak lama kemudian, pohon-pohon besar mulai jarang dan terdapat lembahan di sisi kanan kami berjalan.

Di sini pemandangan yang terlihat adalah ladang-ladang pertanian yang terdapat di bawah. Kemudian jika melihat ke kanan atas terlihat jelas gunung Prau yang puncaknya adalah datar panjang seperti perahu terbalik. Itulah juga kenapa gunung ini di sebut gunung Prau.

Trek setelah pintu hutan 

Kemudian kami akan melewati tugu perbatasan. Tugu ini adalah perbatasan antara Wonosobo dengan Batang. Jadi mulai titik ini, jalan yang kami injak sudah merupakan daerah Batang. Di tugu ini kami beristirahat sebentar untuk berfoto-foto. Kemudian karena mengejar waktu, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Trek sudah mulai menanjak dan kadang berbatu. Sempat melewati hutan pinus yang kecil, kemudian dihadapkan dengan tanjakan yang lumayan terjal di banding dengan jalan-jalan yang kami lalui sebelumnya. Menurut Kukuh, ini adalah jalur teakhir menuju puncak. Jam ketika itu menunjukkan pukul lima sore. Artinya sudah sekitar dua jam kita berjalan. Melihat ke depan atas, tampak tiang pemancar yang merupakan puncak pertama gunung Prau makin jelas terlihat.

Tugu perbatasan Wonosobo-Batang 

Setengah jam berjalan akhirnya kami sampai di puncak pertama gunung Prau. Hari sudah mulai sedikit gelap ketika kami sampai. Melewati pemancar yang berjumlah 4 buah, kami menuju tempat nge camp berupa tanah datar yang di sisinya adalah jurang. Depannya terlihat jalur menuju puncak utama gunung Prau. Jalurnya terlihat jelas melintasi punggungan bukit. Aku mengusulkan untuk mendirikan tenda disini saja dan besok baru ke puncak utama gunung Prau.

Pemandangan sebelum puncak 

Trek sebelum puncak 

Suhu semakin dingin dan kabut sudah datang ketika aku mendirikan tenda. Sementara Rudi dan Kukuh mencari ranting-ranting untuk nantinya dibakar sebagai penghangat badan. Sambil bergetar kedinginan aku mendirikan tenda, akhirnya berdiri juga. Kemudian aku memasak air dan Rudi membuat api sebagai penghangat. Malam sangat cerah, tampak bulan bulat besar muncul di langit. Sementara itu terlihat di puncak utama sepertinya ada juga yang ngecamp mendirikan tenda. Terlihat dari cahaya-cahaya yang berasal dari sana. Tak lama kemudian ada satu rombongan 4 orang yang datang dan mampir sebentar. Mereka melanjutkan perjalanan ke puncak utama untuk ngecamp disana.

Di puncak pertama gunung Prau dengan latar belakang puncak utama 

Malam dilalui dengan menghangatkan carica yang kami bawa tadi sore. Rebusan airnya kami masak kembali, dan carica yang sidah dipisahkan kami rebus didalam air yang sudah wangi dan manis itu. Kukuh memainkan gitarnya ketika aku memasak, dan Rudi asik dengan api unggun kecilnya. Menambah hangatnya malam di tengah dinginnya gunung Prau.

Selain memasak carica, kami pun memasak mie rebus untuk makan malam. Lontong bikinan bu Har tak lupa kami keluarkan juga. Sangat dingin suhu malam itu, sehingga makan kami pun lahap dan sedikit mengusir dinginya malam. Puas bernyanyi, makan, mengobrol dan menghangatkan badan di api unggun yang di buat Rudi, aku pun tidur duluan karena mata sudah mulai mengantuk. Tidur di dalam tenda dengan sleeping bag di tambah jaket dan kaos kaki untuk mengusir dingin ternyata tidak terlalu berpengaruh. Dinginnya Prau tetap saja kurasakan sampai keesokan paginya.

Menghangatkan Carica 

Minggu, 19 Juni 2011

Pagi-pagi sekali aku bangun. Sekitar jam 5 pagi. Dingin masih sangat terasa, namun melihat keluar sudah sedikit terang. Sunrise, pikirku. Aku membangunkan Kukuh dan Rudi. Namun hanya Kukuh yang bangun, Rudi memilih melanjutkan tidurnya. Kami berdua keluar tenda dan mendapatkan pemandangan yang sangat indah. Sunrise di puncak Gunung Prau. Kukuh menyalakan api kembali untuk menghangatkan badan, sementara aku memasak air untuk membuat kopi. Agak lama kemudian Rudi bangun dan bergabung di luar. Dari puncak utama gunung Prau, terlihat rombongan lain pun asik menikmati sunrise.

Cuaca yang sangat cerah tanpa kabut membuat aku dapat dengan jelas melihat pemandangan indah dari sini. Di sisi kanan tendaku terlihat perkampungan jauh di bawah. Kemudian di depan tampak punggungan menuju puncak utama gunung Prau. Kemudian bukit teletubbies, begitu orang-orang menyebutnya. Sebuah savana luas membentuk bukit-bukit dengan pohon-pohon yang sangat jarang. Lebih jauh mata memandang, tampak jelas gunung Sindoro serta gunung Sumbing di belakangnya. Tak sabar aku untuk menuju puncak utama Prau.

Puncak utama gunung Prau dengan jalur punggungan

Di puncak gunung Prau

Matahari sudah mengeluarkan panasnya. Aku langsung menjemur barang-barang yang lembab karena dingin, serta membongkar tenda untuk kemudian di jemur. Kukuh asik dengan gitarnya. Rudi memfoto-foto pemandangan sekitar. Kemudian kami memasak kembali carica agar tubuh lebih segar.

Tak lupa membuat kopi kembali. Sekitar jam sembilan. Aku dan Kukuh berjalan menuju puncak utama Prau, sementara Rudi tidak ikut. Dia memilih tetap disini sambil membereskan barang-barang. Menuju puncak utama Prau tidaklah terlalu jauh, hanya sekitar 10-15 menit berjalan melewati punggungan yang selalu kulihat dari kemarin. Vegetasi adalah berupa ilalang kecil dan tanaman-tanaman pendek khas ketinggian. Aku memakai celana pendek yang membuat kakiku sering terkena daun-daun yang sedikit tajam, banyak juga luka-luka kecil di kakiku. Jalur menuju puncak utama Prau awalnya menurun, kemudaian landai dan hampir tiba di puncak agak menanjak.

Aktifitas pagi hari 

Keindahan di puncak Prau sulit di ceritakan lewat kata-kata. Kalian harus mencoba untuk kesini jika ingin lebih tahu keindahannya. Dari puncak Prau, gunung Sindoro dan Sumbing terlihat sangat jelas sekali. Kemudian di belakang ku terlihat jelas namun sangat jauh gunung Slamet, yang beberapa hari sebelumnya ku kunjungi. Sementara agak jauh di depan sebelah kiri mataku memandang, tampak jelas pula gunung merbabu, dan agak samar terlihat gunung Merapi di belakangnya. Melihat ke bawah, tampak Dieng dari ketinggian, dikelilingi pegunungan-pegunungan kecil seperti gunung Pakuwaja, gunung Sikunir dan pegununngan lainnya di Dieng. Tampak jelas pula telaga Warna yang terlihat warna biru nya dari atas sini.

Dieng dari puncak Prau, disebelah kanan adalah telaga warna

Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing dibelakangnya terlihat jelas 

Yang paling menakjubkan adalah hamparan savana yang terlihat sangat dekat di depanku. Itulah bukit Teletubbies. Kemudian hamparan padang bunga di depanku. Bung-bunga kecil yang tumbuh serumpun dan sangat banyak, dengan warna bunga yang berlainan membuat carha nya suasana. Tampak juga edelweiss, bunga abadi khas ketinggian yang terlihat namun hanya beberapa batang saja disini. Puas kami berfoto-foto disini sampai akhirnya aku kepanasan karena matahari sudah mulai naik.

Terlihat di jam sudah pukul sebelas siang. Akhirnya kami kembali ke pemancar. Rudi sudah menunggu dan barang-barang sudah beres di packing kembali. Akhirnya kami pulang kembali ke bawah karena hari sudah siang dan aku harus menuju Jogja hari ini. Perjalanan pulang masih ditemani dingin sehingga rasa capai tidak terlalu terasa. Satu jam setengah kami turun dan akhirnya tiba kembali di penginapan bu Jono. Tempat kami menitipkan motor kemarin. Kukuh dan Rudi pulang, sementara aku melanjutkan perjalanan menuju Jogja.

Bersama pak Didi di samping penginapan Bu Jono 

Benar-benar gunung yang sangat mempesona. Terkagum-kagum aku dibuatnya karena keindahan alam yang terlihat. Suatu waktu nanti, aku ingin kembali lagi kesini. Menikmati carica di tengah dinginnya gunung Prau, sambil melihat padang bunga dan bukit teletubbies. Semoga…

Bukit teletubbies ketika kabut datang

Padang bunga dengan latar bukit teletubbies

Padang bunga gunung Prau 

Kukuh di padang bunga

Edelweiss gunung Prau

Disadur dari : (klik icon)

Pernah Terjadi

ini bukanlah salah satu puncak tertinggi di dunia…
tapi ini adalah salah satu puncak terindah di bumi ini

Ayo Ratu… Kamu Pasti Bisa

(19 Juni 2011- Gunung Prau, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah)

thanks Kukuh Julianto Gunadi

disadur dari : RBU Tumblr (klik icon)

Cerita Pagi

Sudah lama tidak lagi menulis di blog ini, entah kenapa? semenjak kejadian itu mood saya hilang, males mengotori blog ini dengan tulisan tak jelas, sampai kapan?
cerita di pagi hari,
“ngantuk, pikiran kemana mana” suara telp membangunkan tidurku. dalam keadaan setengah sadar mengangkat telp masuk,
pecakapan 2 orang bego dimulaii..”
“pik kamu dmn?
di ruang tamu kuh, knp “ujarku
kesini pik (kukuh)
kok buru2 mau pulang?
iya kita mau pergi..
oke aku ke kamar!
sambil kucek2 mata berjalan menuju ke arah kamar nyawa blom terkumpul seutuhnya, ..”terdengar suara pintu kamar” masuk kedalam kamar terlihat seorang cewek,
entah ini pacarnya atau nemu dijalan (pikiran mulai kacau).. penasaran ingin tau siapa nama ceweknya si kukuh, aku mendekati cewek itu, berjabat tangan tanda salam kenal, tp bodohnya aku gak mengeluarkan sepatah kata menanyakan siapa namanya..” #tolol
*pagi kuh, jadi mau pergi sekarang?
kukuh : buru buru mau ke alkid, tp ibu penjaga kosnya masih diluar, gmn nih?
*sabar kuh, ibunya lagi nyuci piring
kukuh : gimana nih pik
*rempong bgt sih kuh, santai toh paling setengah jam lagi ibu itu nganterin anaknya ke sekolah
kukuh : nekad wae po pie yo
..”sial nih anak, dikasih leluasa dipinjamin kamar semalam suntuk dgn ceweknya masih aja ngeropotin pagi2 mikirin bagaiman caranya keluar dari kamar”.. makanya lain kali biar aman nginep di hotel tanpa harus menoleh dari jendela kamar ada siapa diluar, aman ato tidak? (ungkapan dalam hati)
15 menit kemudian, akhirnya kukuh dan seorang cewek terlihat capek dng matanya sayu berdiri meninggalkan kamar ku.. dadaaahhh kukuuhhh,, selamat menikmati hari ini :)

Suatu malam di kos kosan teman berlabel “Sri Perak” sekitar Maguwoharjo Sleman. Maturnuwun sekali tampan… entah apa yang terjadi tanpa ada kamarmu malam itu :kiss

disadur dari : TaufiqPHB Blog (klik icon)

Remember You

Remember You…

judul poto ini, yang saya juga ga sempet nanya yang ngedit dan ngasih judulnya siapa… terlalu Iya Bgt gitu skrg… (aseeekk…)

mereka-mereka, yang anjir belum sebulan kenal juga„, kok kaya udah kenal bertahun-tahun yaa.. kok kaya temen TK terus kita ga sengaja ketemu di atas gunung.. (berle..)

bahkan, sekarang… rasa rindu menggebu-gebu,.. tiap malam, paling tidak, kita komunikasi di berbagai jejaring sosial yang lagi in banget itu loh.. selalu mikir, mereka itu temen kemarin sore… kok bisa sesayang ini yaa.. (anjir ini serius ga berle…) pernah kepikiran, gimana kalau mereka itu jahat, mereka itu ga asyik, mereka itu garing, mereka itu nyebelin, mereka itu cule (dalam bahasa anak gaul sunda yang artinya culas *kurang lebih begitu*), dan sejauh ini, pikiran itu tertampikkan… (semacam tidak terbuktilah *insyaAllah* :D)…

barudak kemarin sore (barudak itu semacam arek-arek)… terlalu membekas, di pikiran saya akhir-akhir ini.. bahkan dengan kata lain, mereka mengalihkan dunia ku (ponds) .. dunia bandung, yang sebentar lagi menjadi metropolitan itu looh mulai tertepikan… bahkan dengan mereka, saya yakin satu mimpi, itu mimpi yang bakal jadi kenyataan.. mimpi yang g cuma “ingin” tapi “akan” (sedeeep….)… ah sial… barudak kemarin sore itu racun sekaligus penawarnyaa… (yoiii..)

ga perlu saya ceritakan, gimana kronologis saya ngapain ke Jogja, karna itu biasa-biasa aja… kita skip, dan langsung ke malam hari, malam rame di kopi joss (kopi tak pernah ingkar janji bray…)„

ini semua berawal dari angkringan, 30 mei 2011 pukul 21 an..

kenal sama bang ali, kukuh, dan obi, waktu singkat nan indah, dilalui dengan main “seven skop” semacam permainan di las vegas, yang ntah kenapa kukuh g bisa memainkannya… dan yang lebih parah lagi, di Pangandaran (tempat saya skripsi itu loh, yang pesisir enjoy destroy itu looh… ), saya master maen poker sama seven skop (ada bukti poto au yang dengan ketentuan Tuhan, jongkok berkali-kali bahkan berpuluhan kali, karena saya mengalahkannya…hehe), tapi pas disitu, dimalam itu, yang cerah itu, yang pake “bayaran..” itu, saya ga dapet duit banyak, damn… cristy yang tiba-tiba jadi bandar koin gope an, disusul lena, disusul gigi, disusul siapa lagi yaa (anee  lupa)… ahhh.. jadi begitu lah singkat ceritanyaa… (jd ga singkat)

lanjut ke benteng, VrederBurg (bener ga yaa nulisnya?) …

ada orang maha jahil, yang dengan kesadarannya sendiri membuat saya berjalan kaki dari kopi joss ke vredeburg itu.. (mungkin dia mau ngetes kesungguhan saya naik gunung..mungkin loh yaa.. tapi ternyata salah, dia itu dendam, gara2 suka saya katain, dia itu siapa, dia itu yang ternyata kini menjadi soulmate saya..).. menjelang waktu shaur untuk indonesia timur, kita masihlah, bergaya bak poto model di VredeBurg itu.. ngerasa vredeburg punya mereka, ngerasa Jogja NU AINK (ungkapan orang sunda yang artinya… MEMILIKI)… ntah berapa ratus JPEG yang tersimpan mungkin dibeberapa komputer kukuh, obi, atau bang ali„, dan berapa MB juga menuhi memori komputer mereka… dan pasti, karena jarak jogja-bandung lumayan jauh, poto-poto itu di upload, agar kami di bandung kota kembang ini bisa lihat..

oke, kita skip beberapa hari setelah VREDEBURG (baca benteng coy)…

saya, lena, dan asti, yang dengan ikhlas hati “memperdalam” mata kuliah Sistem Pemerintahan Daerah (sispemda.red), efek dari keterlaluan enjoy ria dikampus wkt semester 4. dan dengan berat hati mengikuti lagi mata kuliah yang jujur aja, saya ga ngerti apa hubungan pusat dan daerah apalagi kalo disangkut pautin dengan regulasinyaa (so asik… )

oke terima kasih 2009, kalian bawa kami ke Solo, sehingga, ada satu kesempatan lagi, untuk mengukir cerita di Jogja…

bis sore itu, dengan riang meluncur ke Jogja, bis yang isinya dikit, dan cuma angkatan kita aja di tambah ryan anak 2008 yang terlalu terbawa suasana bergaul dengan angkatan 2007.. bis yang selama perjalanan, lagunya “hamil duluan” itu… bis yang sebetulnya terancam Galelut (berantem) karena di dalamnya penuh bibit-bibit maha jahil dan ga pandang bulu melakukan kejahilan yang paling sadis sekalipun… (ga kok, ga gitu-gitu banget juga..)

dengan semangat 45, lena nyuruh saya siap-siap… (ambil tas nya dan jalan ke pintu depan) . hah??? secepat itu kah saya harus turun dari bis ini… (dalam hati).. pikiran langsung menerawang, tar malam naik gunung, Naik loh, jalan kaki, ga naik trail nya om, ga dibantuin mang ulep, mang pey, mang hafer, semua ajudan papa ga ada… (cie ajudan…)…

ritme turun dari bis Biasa, turun, nunggu bang ali, ke angkringan nyamperin bang opik dan babar, dan akhirnya saya harus dibonceng babar.. kita diem.. (iyaa diem-dieman…) ga ada satu kata basa basi yang terucapkan… liat, asti ngobrol, liat lena ngobrol… saya sih sebenernya pengen nanya.. “masih jauh?” tapi takut babar ngerasa jadi tukang ojek… (piss…) terus pengen nanya “ini UGM?” terus pengen nanya “jogja panas yaa” tapi itu g satu kata pun terucapkan„ babar, sekira nya kamu baca tulisan ini… km akan tertawa sendiri juga kan… dan kenapa km wkt itu g nanya duluan… hehhe..

jreng-jreng, sampailah di satu kosan, yang saya paham betul, berantakan, bersih dan kotor kosan tersebut, tergantung kadar kegalauan pemiliknya… (ngakuu boy..). yaa pas kami datang, keadaan bisa dibilang.. mereka sedang “biasa aja” (este…*sok tau*).. karna ada bagian yang beres, dan bagian yang berantakan… hehe…

bruuukkk…
saya yang memang sudah mendambakan kasur dari semenjak di DPRD Kota Surakarta… menjatuhkan badan dikasur, yang ternyata ibarat pembalut, kasur itu slim… :p. bukannya cule (semacam culas dengan konotasi dan arti paling sederhana ke anak-anak mudaan..) saya liat bang ali, sibuk nyiapkan alat-alat buat naik gunung dan saya cuma tiduran, dan lagi-lagi pikiran saya ke gunung yang tak pernah terbayangkan itu.

(dalam pikiran saya..)
gunung apa yaa namanya… ada di google gaa… disana da sinyal ga? ada wc? ada warung? ada jalan nya ga? kaya gunung di depan villa saya ga? gimana kalo tiba-tiba ada petir? nanti kaya anak wanadri yang kesambar petir di gunung wayang.. ada binatang buas g? gimana kalo tiba-tiba saya ngilang di balik kabut? gimana kalo tiba-tiba tangan saya terjepit tebing (like 127 hours)? dan yang paling saya takutin, ini siapaa… itu siapaa… ini lagi datang-datang ke kamar, gaya udah reggae maksimal, pasti anaknya bakal sok gaul dan nyebelin.. ini lagi yang punya kamar ini.. jutek bgt… malah suka teriakin saya ke temannya dengan kata “luluk” (kalo g salah deh gue lupa…) halo… gue ratuu… :p terus lagi ini obi sama kukuh, yang udah saya kenal (setidaknya kita pernah ketemu dan menggila di Vredeburg) kemanaa gitu… katanya disinilah disitu laah… dan saya tau mereka abis dari tempat yang cuma ada dalam mimpi saya… (envy…)”

tapi lama-lama semua mencair kaya es… lama-lama juga nunggu kukuh dan obi ga datang-datang… sekonyong-konyong obi datang, tiduran bentar dan pergi lagi, pukul sudah menjelang larut malam, dan saya masih tiduraan.. lagi-lagi saya bicara sama hati… “si saya yang di lahirkan oleh mama papa dengan banyak mang-mang yang siap melayani, kadang terbesit, bisa ga yaa sendiri, ga minta bantuan orang lain, apalagi sekarang, depan lena asti, saya g boleh lemah. abisnya lena bilang sama bang ali, kalau perjalanan naik gunung 2 jam bisa jadi 3 jam… ooo… itu mengakar dalam benak, dan mencoba untuk membuktikan, GA AKAN TERJADI…(asiik„,), terlebih, banyak yang meragukan kemandirian saya, termasuk, mama papa juga.. :’( (loh jadi curcol) ahhh itulah intinya…”

dan lamunan pun terpecahkan, dengan aba-aba, “ayoo pergi sekarang… kita siap-siap…” dengan kesengajaan saya malas bawa sepatu kets dan saya lupa kapan juga terakhir pake sepatu itu„, (tapi punya loh…) akhirnya minjem spatu bang opik yang bersih dan baru di cuci, dia itu loh sepupunya bang ali, yang masih aja kaku kaya kusen.. :D

satu orang lagi belum dataang„, itu yang namanya kukuh, belum datang-datang juga, (kemanaa yaa kukuh, jangan-jangan ga jadi ikut *dlm hati*).. tiba2 ada samar-samar bayang-bayang datang dr balik lorong kosan, sampai pas dia ngajak salaman, saya baru kenal ini kukuh, (kuh… maaf yaa kamu hitam sekali seperti kopi yang tak pernah ingkar janji.. hehe)

mungkin sekitar jam 1 waktu indonesia timur kita caw ke manaa yaa, dan masih pas disitu juga, saya belum inget nama gunungnya… saya sama bang ali, dan ntah kenapa semenjak perjalanan ini, saya merasa kita soulmate (ngetik ini tidak dibawah todongan senjata)… terus lena sama “pangaribuan” alias logo alias pargabus alias topan harahap, itu loh cowo bujangan asal medan, tapi 4 tahun di bogor, sehingga dia mengerti arti kata “kaleum”, si pangaribuan ini (panggilan kesayangan yang berasal dari susahnya saya menangkap kata pargabus) berasa rossy, jalan motor nya seenak nenek moyangnya, kalo mau nyalip suka menikung tajam.. oke lanjut asti dengan obi, iyaa obi yang baru pulang dari puncak maha dewa, mengendarai sepeda motornya dengan enjoy, serasa seharian kegiatan dia cuma tidur, padahal ngga…

kami ini pasukan belakang, bang opik dan kukuh, kemudian babar dengan moko, melaju kencang tak karu-karuan sampai tak terlihat batang hidungnya.. (piye to..). sampai akhirnyaa.. kita sampai di kaki gunung… dan sampai di kakinya saja, saya belum ingat nama gunungnya (walau berkali-kali nanya) ini bukan masalah lambatnya darah ke otak, tapi karna dia mendominasi pikiran saya„, (dia?? eaa… becandaa kali)

mulai Deg-degan…
liat ke atas, dan gelap, pernah sempet terpikirkan, ini Dinas Bina marga, sumber daya air energi dan sumber daya air mineral, pernah kesini ga sih„, bikinin lampu mercury kek, atau bikinin tangga kek, atau apa kek lah yang dapat menunjang kegiatan wisata. (skripsi saya loh… so?)

oke, naik„, dengan susunan dr paling belakang, bang ali, obi, kukuh, ratu, pangaribuan.. dan (tolong pangaribuan setelah km itu siapa).. berjalan dengan senang hati.. senang karna ini pertama kali buat saya, naik gunung tanpa motor trail, tanpa mang ulep, tanpa mang pey, tanpa mang aco, yang selama ini memanjakan saya..

semacam outbond dengan suasana jauh lebih menantang daripada area paintball di lembang (daerah di bandung)… oke, masih slow… tebing dan tali, oke masih slow… tebing dan tali lagi.. oke masih slow… tebing dan breet (bunyi)… obi kok ga muncul-muncul… ternyata dia nyangkut… padahal udah kaget tiada tara… oke obi jd maju di depan.. terus pas ada area yang 127 hours banget, anak-anak depan kok nyangkut ga maju-maju, ternyata babar menemukan binatang paling aulia takutin seumur hidupnya dan yang paling wesi (temen kampus) paling cari-cari untuk dijual katanya obat dan mahal. binatang itu ialah tokek yang saya ga perlu repot nyari bahasa latin nya di google kan cuy?

suasana semakin edan banget, pas satu-satu lampu center mati, dan yang paling di sesalkan oleh asti ialah, kenyataan bahwa saya dengan sengaja nyopot cashan senter dan diganti ngcash BB, yang plis bgt, ga anak gunung bgt deh… dan pasti, BB ga guna di atas gunung… hahha.. maafkan si kami karna kami newbie yaa agan-agan… piiiisss…. haha

dalam sunyi, tiba-tiba “naik-naik ke puncak gunung” hah??? penilaian saya terhadap cowo reggae dan tampang ga minus-minus amat ini langsung menjudge, ini anak tampilan kaya gini sih, bukan berguru kek Bob Marley tapi ke mbah surip..

mbook yaa, piye to, saya berharap dia nanyi

” one love, one heart, let’s get together and feel all right”

ehh, dia malah nyanyi “naik-naik ke puncak gunung”nah dari situ lah, saya merasa pangaribuan ini merupakan sosok mahluk langka yang slalu menutupi jati dirinya.. dia yang kuliah di photografi, mungkin menjiwai aktingnya, pura-pura, mungkin dia adalah penganut nike ardila sejati, dunia ini panggung sandiwara.. terlepas apa tujuannya, yang pura-pura ga tau reggae, pura2 ga tau Tarling pantura.. pura2 ga expert main gitar, tapi untuk lagu “naik-naik gunung” itu, saya yakin itu ga pura-pura, itulah dia yang sbener-benernyaa.. kekanak-kanakan walau pikirannya sudah agak porno. haha…
dan dia itu, menerangi jalan saya.. (tanpa ucapkan makasih, batin saya berterima kasih pangaribuan…)

oiii… kaleum boy | kaleum apaan.. | sek-sek…

semakin nanjak, semakin lelah, dan air semakin menipis (air? menipis?), dan bruuuk, lagi-lagi belakang itu penuh kejutan„, apalagi ini yang nyangkut?? ngebalik, ehhh„, babar tergeletak„, jleb, inget ade dirumah, namany sultan yaa 11-12 badannya sama babar, tapi gantengan ade saya, hehhehe.. saya tungu sambil ngeliat babar, tapi kok g bangun-bangun, bruk-bruk saya turun, dan nanya kabar dia (piye to.. masi aja nanya kabar…) ohh, saya punya kayu putih aromatherapy yang hampir sekali pake lagi itu, saya pijitin dikepala babar.. smoga babar inget jasa saya (kalaupun lupa saya mau ingetin, biar nanti kalo babar jadi pilot, ehh apapun yang berhubungan dengan penerbangan, bisa gratis.. haha).. dalam hati (ini orang yang bonceng saya pertama kali.. kok dia ga kuat gini… apa jangan-jangan gara2 td dia grogi ngebonceng saya, haha.. berle… dan g ada korelasinya juga… :p)

akhirnya babar bisa semangat lagi, dengan lagu-lagu dangdut, mengalun dari hp nya, sejujur-jujurnya saya g terlalu suka dangdut, bahkan bisa di bilang, plis„ jangan dangdut lah plis… (maaf bukan menyinggung siapa-siapa saja yang lagu dan muka nya dangdut banget.. @nomention) (terus ada yang mention @ratubulqiah) siaal… :p

mulai berat sekali dada, tapi woles (selow).. terlebih lagi, suasana di belakang tidak hening, yaa sekedar membangkitkan suasana biar terkendali aja sih maan… dan bang opikyang nun jauh disana, akhirnya saya bisa lihat… dan dia ini masih menjadi sebuah misteri.. terlalu sungkan untuk diajak bercanda waktu itu, mungkin pada saat itu jiwanya bukan bersama kami.. (aheey…)

sampai ditebing terakhir…ketemu sama 2 bapak-bapak, yang ntah kenapa begitu nyambung dengan kukuh, dan saya tidak mengerti bahasa mereka.. dan itu susah (tebingnya, bukan bahasa nya) … huh hah huh hah… aba-aba … dan saya slalu bilang “bisa…. (insyaAllah)” saya naik„, ooooooo…… sampai jugaa… terbayarkan??? SURE…

saya bisa lihat apa yang terlihat, indah… mungkin ini perasaan yang relatif, perasaan yang  ”pernah kok” menurut bang opik yang udah pernah kesini sebelumnya, perasaan yang “ga seberapa” buat obi yang baru pulang dari mahameru, perasaan yang “syukur bisa liat orang seneng” menurut bang ali yang udah ngajak igo bandungnya nyampe kesini, perasaan yang “santay aja lagi” buat kukuh, yang terbiasa dengan dieng, perasaan yang beda-beda, buat lena, asti, pangaribuan, moko, dan babar…

indah, ga cuma itu aja sih dibenak saya… saya menyesali 21 tahun tanpa petualangan, halo sebentar lagi 22 tahun, dan saya baru taklukan satu gunung… ohhh kemane aja gue selama ini.. ngapain ajee„, ada rasa yang ga bisa dibeli… ga kaya pas kita mau naik tornado, kita bisa beli tiket dufan, ga kaya pas kita pengen nonton pirates of the carribean kita bisa beli di XXI, ga kaya waktu kita pengen berkuda, kita bisa dateng ke Dranch (area berkuda di Lembang Bandung), ga kaya pas kita pengen ke pantai kita masuk loket retribusi Disbudpar, ga kaya kita pengen nyanyi, kita bisa sewa room ke NAV…

dan puncak gunung, itu ga bisa di beli…

saya duduk, lihat apa yang saya pengen lihat, saya nikmatin, ada taste yang beda kalau orang naik gunung, perasaan kaya kita naik kelas gara-gara belajar, perasaan dapet nilai A bukan karena nyontek, perasaan kaya kita udah bisa bikin senyum orang tua, perasaan yang sesuai dengan apa yang kita perjuangkan…
disinilah, saya baru merasakan betapa betul peribahasa-peribahasa Indonesia yang dulu sempat saya becandain di hashtag #peribahasa atau #soalbowbow di twitter..
ini lah betul yang namanya

apa yang kita tanam itu yang kita tuai

agak sedikit ganggu sih, dalam konteks, ini cerita naik gunung, bukan cerita liburan di rumah nenek…
tapi haloo, plislah, setidaknya itu yang menggambarkan perjuangan dari kaki gunung ke puncak gunung…
semua sibuk, ada yang mendirikan tenda, ada yang masak, ada yang cuma tiduran, ada yang bersihin tas nya gara-gara ketumpahan tuwak, ada yang main gitar, ada yang nyalain lagu dari hp, ada yang diem aja cengok, dan itu AKU.. (anjis kangen gila suasana kaya gitu… inilah ini yang membuat “remember you” ngena banget sekarang)
pengen update status “aing dipuncak gunung bro..”, pengen sms mama “mam, teteh tos di luhur gunung” (mam, kakak sudah di atas gunung)…
suasana semakin mencair, bintang, kopi yang tak pernah ingkar janji, dingin tuwak, rokok, gitar, mie, persahabatan, barudak kemaren sore, jatuh cinta, pecundang, memendam, menepikan, tenda, kamera, rasa, puas, bahagia, sedih, pengorbanan, dan impian… (mungkin ada yang belum saya sebutkan, nanti saja saya tulis kalau ingat..)

kita terbawa suasana, subuh, di Gunung Api Purba, ada cerita…

yang g ada habisnya diceritakaan….
sampai pada pagi,
pagi yang perut saya sakit sekali…
pagi yang saya harus di dorong untuk naik ke atas lagi setelah pipis…
pagi yang saya ga kuat ketawa lagi, ga kuat ngobrol lagi…
pagi yang saya lewatkan di tenda…
tanpa sadar diri… (berle nya tidur)
huaaammm….
bangun dan, sepi…
ihh pada kemana dah…
saya liat obi sama pangaribuan… (mereka jaga tenda, males ke puncak bareng anak-anak, atau jaga saya yaa?? dalam hatiii..)

nih minum air panas dulu | baik banget pangaribuan.. | baik gimana, kita yang repot kalo harus gotong km ke bawah, mending cuma siapin minum doang |

hehehhe…. saya ketawa, dan saya suka persahabatan yang seperti ini… tak terucapkan… saya tau pangaribuan sebenernya kwatirin saya (pede… )
si obi lagi main gitar, pertama liat obi itu waktu di merapi, dia sama erny, saya pikir orang-orang yang jaga pusat informasi disitu, ehh taunya kita ketemu lagi di Angkringan, dan tanpa paksaan dan ancaman, si obi ini kalo lagi main kartu, maunya ngalah terus sama lena, dengan iming-iming “kita tetangga..” dan percaya apa tidak, obi dan lena itu tetanggaan di Jakarta, di kampung rambutan yang keras itu… (hidup ini keras coy…)
obi yang sampai ke puncak mahameru, yang meninggalkan kukuh di kalimati, karna tangannya mati rasa sebelah.. oohhh kalian ini sahabat yang super… keren sekali… yang mendahului saya ke tempat yang saya puja…

bi, bisa lihat apa di mahameru ? | ga ada yang bisa diungkapin, cuma air mata, saya speechless | oh (damn bgt dah, ini kamsud toh, biar saya makin tergila-gila sama puncak legenda itu *ngomong dalam hati*)

anak-anak yang lain, semua naik puncak gunung lagi, mereka terlihat asyik foto-foto, dan moment itu tanpa saya… miriss… oo perut, kadang kamu ga seunyu biasanyaa… tapi maafkan saya yaa perut… :)

jreng-jreng mereka datang, tiba-tiba ngajak balik… saya lihat asti dan lena… teman yang sejak 4 tahun lalu menjadi sahabat saya, kami disatukan dalam salah satu kepantiaan futsal, yang tercatat sebagai pertandingan tersukses di abad ini di IP Unpad… saya sebagai Koor Danus, Lena sebagai Koor Acara, dan Asti sebagai Koor Medic. (dan kenalkan ini Giusty bisa dipanggil Gigi sebagai sekretaris, dan Aulia bisa dipanggil Au sebagai Koor Konsumsi, dan trakhir Cristy di Danus jg)

asti dan lena yang dengan bangga setengah mati nunjukin hasil jepretan di atas, dan dengan baik hati, cowo yang kini menjadi soulmate saya, mau mengantar saya naik ke atas cuma buat poto lagi…  tapi karna kondiis perut yang belum membaik, saya menolak dengan mentah-mentah (padahal dalam hati, watur nuhun yaa bang… :) )

turun, dengan saya dibelakang dengan kukuh dan bang ali, ntah kenapa dari awal naik, diatas, dan bahkan mau turun, saya sama kukuh ga pernah akur…dan bang ali slalu membelaa… (weee„, kasian deh kukuh :p) akhirnya dalam kondisi terjal…

kuh bantuin ratu kuh | lah ngapain dibantuin bang, ngapain juga kita harus pura-pura peduli kalo kita ga peduli | 
oh gitu kuh, menyebalkan | yaa becanda kali | huuh….

kita masuk ketebing paling sempit se Indonesia raya, buat liat mata air yang pas nyampe, mata air itu g ngalir, terlebih ada jejak orang semedi, yang ntah di tahun berapa orang itu semedinya, yang jelas, ada kakinya… (jejak kakinya to, bukan kakinyaa)  abis gitu kita naik ke tebing lagi dan liat banyak monyet-monyet (tanpa mau menyinggung siapapun) hehhe…

setelah itu,merasa terskip kan susunan jalan kita, yang tidak tau kenapa, saya tertinggal jauh dengan anak-anak…. saya sama moko… moko yang hobi banget di poto pake kaca mata item, dan ga punya bakat jadi cover boy, bukan karena tampangnya yang terlihat agak minus, tapi karena gaya nya yang itu-itu saja… hahahha.. piss moko…

moko yang sejak dipuncak malah sibuk bersihin tasnya yang tetumpah tuwak, dan malah seneng dengerin lagu dari BB nyaa…. ehh moko anak gaul yeee… ngerii.. ehehehhe…

mok, yang lain kok ninggalin | tau nih.. | atuuh moko takut… |

bruuk, saya jatuh lumayan terjal di tebing dan menyisakan kaki biru-biru sampai sekarang.. (tapi gpp… bahagia di atas puncak sudah mengalahkan rasa selainnya..) dan baru itulah, saya denger moko ketawa lepas… anjrit ini orang dalam hati, malah ketawa bukannya panik, liat orang jatuh, ini tebih looh ini tebing yaa, bukan selokaan… iyuuuwhhhh….

barulah, dia bilang, sini bawain satu barangnya… dalam hati “lain titatadi beulll..” (bukannya daritadi su..) hahahha…

dan ada pertanyaan paling konyol dalam periode SBY saat ini,

sakit tu?

moko, kurang ASI nih waktu bayi, hahahha..

dan oooo.. saya lihat perkampungan yang masih di bawah… dan ternyata,pas kita rasa kesasar, dibalik semak-semak munculah, sejenis monster, ehhh… hehehe.. munculah soulmate yang speaknya sih ngikutin kita dari belakang, padahal dengan yakin seyakin-yakinnya, saya dan moko ga lihat dia dari tadi.. hahaha…

sampailah kita di tempat parkir motor, dan puji Tuhan, masih ada orang yang baik kaya bapak yang pakai baju biru, yang menyediakan teh dengan merek sariwangi beserta kopi yang tak pernah ingkar janji dan gula, juga air panas… tanpa pamrih… tanda tanda jasa… tanpa iming-iming…

pak, kalo saya udah di kementerian kebudayan dan pariwisata, saya pasti inget bapak… bapak menanam kebaikan pak, mungkin juga menanam tanaman lainnya yang ada di halaman rumah bapak, yang di rusak oleh babar… maafkan kami yaa pak, nanti saya pasti inget tempat ini pak… suatu saat bapak akan menuai kebaikan yang bapak tanam… makasih bapak… kalau ada kesempatan saya mau mampir ke tempat bapak, napak tilas puncak awal keberhasilan saya nanti di Mahameru pak… saya bawain edelweiss buat bapak… insyaAllah… (amin)

perjalanan pulang…

mie ayam 5 ribu yang banyak seanjing-anjing… yang ohhh, ini menakjubkan kedua setelah puncak gunung api purba….
pulang pergi gunung api purba, telah membuat saya mengetahui bang ali, bahkan saya diberi tahu hal-hal yang sudah dia beritahu sebelumnya… sampai saya hapal betul kisahnyaa…. :)
dan kita itu sama….

malioboro…
setelah istirahat di kosan sebentar, saya dimalioboro, ada yang lain malioboro sekarang…

ada perasaan beda, ada perasaan yang berharap “smoga ga dapat tiket malam ini”

dan detik-detik menjelang pulang, kukuh yang dari awal memang sangat menyebalkan, menjadi seorang yang lumayan baiklah… setidaknya kalau ngobrol agak nyambung…

sampai pada di kopi joss, detik2 trakhir, kukuh cuma diem aja… g tau apa yang dipikrin„ bang opik, yang belum makan dari kemaren, ada bang ali, ada obi, ada lena dan ada asti…. keadaan masi ramai….

sampai pada jam 9… si kereta yang besar dan menuju bandung hendak pergi…

kita bergegas ke stasiun, sampai di pintu loket, saya lihat, mana bang ali??? bang ali kok g adaa yaa???? sampai saya harus menoleh ke kukuh, untuk memberikan tas saya yang dia bawa…

tanpa kata… saya naik ke kereta…
melewati 4 atau 5 gerbong, tiba-tiba..

RATU…. | 
bang opik memberikan korek lena yang di pinjam tadi… saya menoleh ke kanan, dan baru sadar,bang opik, kukuh dan obi, lari ngikutin kita, sampai mereka ga lihat kita lagi, dan kita lihat mereka….

dan tanpa kata , saya ambil korek dari bang opik, yang dengan suksesnya naik ke atas gerbong… itu adegan paling dramatis yang pernah ada… adegan cinta ngejar rangga.. END…

sampai pada akhirnya di kereta, saya dan asti, merasa sangat terharu… dan betul-betul terharu…

bang ali? soulmate kemana??

besok nya saya baru baca sms  bang ali
saya ga sanggup liat kalian pergi…..
baca sms kukuh
jogja seketika sepi
baca  sms bang opik
kalian jangan pada nangis, berlee…
baca sms obi
kalian hati-hati yaa…

oke… begitulah alasan kenapa begitu membekas “barudak kemarin sore” dibenak saya, dihati saya, diingatan saya, dihidup saya. kenal mereka baru 24 jam, dan banyak moment yang bahkan dari jam 9 pagi sampai jam 2 sore ini saya tuliskan tak terceritakan semuaa…. dan saya menepikan tiket mahameru untuk menulis ini.. oh.. plis semangatin saya yaa..
makasih…

kalo ada yang lebih dari makasih, saya kasih pasti buat kalian…
ratu bulqiah ulfa. kukuh julianto gunadi. muhamad fadlu robby. wiratmoko yanwar. ali akbar siregar. topan harahap. taufiq siregar. wirasti sarasati. ali akbar harahap. lena daniyati
irememberyou.

Disadur dari :

TaufiqPHB Blog | RatuBulqiah Tumblr (klik icon)