[FR] Float 2 Nature Dieng

Yeaahhh… gatel juga pengin nulis sedikit cerita Float2Nature di Dieng kemaren. Uneg-uneg sih udah ada setelah F2N selesai, tapi mood buat cerita hitam diatas putih amat sangatlah malas. Bukanya apa-apa, tetapi saya memang bukanlah peserta apalagi panita di acara akbar tersebut. Blog-blog pribadi, website, tumblr, video-video di youtube yang tersebar di dunia maya dari peserta F2N jadi pematik buat ngekor kaya mereka (tapi tetep original tulisan saya loh ya…) #skip

Saya sendiri tau bakal ada F2N di Dieng sudah sejak akhir februari kemarin. Sore hujan itu lagi nyantai di penginapan Bu Jono Dieng, anteng di depan tv sambil nyruput kopi panas.  Datenglah rombongan mas mas dan mbak mbak yang belum saya kenal sebelumnya. Lewat mas Dwi saya berkenalan dengan 2 orang dari mereka, bang Meng, vokalisnya Float dan om Aley, selaku panitia F2N tersebut. Ngobrol-ngobrol bentar kalau mereka lagi mencari tempat yang pas untuk acara tersebut. Dan katanya mereka barusan survey ke Telaga Dringo… wow… tempat yang cocok buat acara bertema music dan alam pikir saya. Tetapi mereka tampak kurang yakin jika F2N harus diadakan di telaga dringo, karena akses jalan yang sulit dan terjal. Mengkhawatirkan kalau seperangkat alat band beserta sound sistem dan perabot lain harus melewati jalanan yang lebih pas dibilang sungai mengering tersebut. Dan wacana Telaga Cebong bakal menjadi kandidat kuat tempat acara F2N semakin jelas, dekat dengan kampung, dekat dengan Sikunir dan jalan yang relatif lebih bagus dari tempat lain. #seeedeeeppp

Sampai 2 hari kemudian setelah hari tersebut saya browsing dirumah, kalau Telaga Cebong adalah tempat bakal digelarnya acara tersebut pada 9-10 Juni 2012. klik | END

•••

Awal Juni…
Henpon berdering, telepon dari seseorang dari Jakarta… menanyakan persewaan tenda di Dieng buat tanggal 9-10 Juni di Telaga Cebong pintanya. Ok deal, ketemu di Dieng hari sabtu tanggal 9 Juni #beer

Seven days later…
Sabtu sore, setelah ashar dalam keadaan Dieng habis diguyur hujan, ketemuanlah dengan orang yang dimaksud di penginapan Bu Jono. Saya kira yang mesan tenda tersebut anak muda yang masih kuliah atau se enggaknya pemuda tanggung… Ternyata mas mas dengan pawakan tinggi besar, dan kalau boleh saya bilang mirip dengan Tora Sudiro #hahhaa. Mas Condro namanya dan bersama seorang temannya bernama mas Uman, tampaknya mereka “partner in crime” #haha pisss
Hujan agak mereda, gak lama basa basi ngobrol di penginapan Bu Jono kamipun menuju telaga cebong. Mobil carteran dari Semarang sekalian mengantar mereka ke telaga cebong (turun di bandara Ahmad Yani langsung Dieng hari itu juga)
Sesampai telaga cebong, disambut bang Meng dengan hem kotak kotak nya. Lapangan pinggir telaga dah penuh dengan tenda-tenda untuk peserta, beserta tenda-tenda panitia untuk masak, jual souvenir oleh-oleh dll. Ramai dan tampak hidup suasana pinggir telaga sore ini, gak kaya biasanya. Tenda segera didirikan di paling selatan bersebelah dengan jalan masuk, mas condro mas uman bergegas menaruh barang-barang yang dibawa ke dalam tenda #banyak benar perbekalan mereka. Obrolan sore dimulai… di tengah-tengah tenda peserta yang sudah disiapkan panitia dan seragam model tendanya, kenapa mereka ber-2 (mas condro mas uman -red) harus susah bawa tenda sendiri? (nyewa sendiri dan bukan dari panitia maksudnya). Intermezzo dikit ya… Ternyata mereka bukanlah peserta yang ikut rombongan naek bus dari Jakarta dengan budget yang ditentukan beserta ubo rampe lainya. Mereka diundang oleh teman akrab mereka yang gak lain adalah bang Meng (vokalis Float) untuk ada di acara tersebut. Tetapi dengan transport, makan, camp equipment dll nya mereka urus sendiri (dalam artian gak masuk dalam fasilitas panitia F2N). Oh jadi tau saya, setelah ketemu pertama di Bu Jono pikiran tersebut sempat terpikir tapi saya malas mempertanyakan mengapa harus bawa tenda sendir

suasana sore lapangan pinggir telaga cebong

Sore cukup cerah walau udara masih agak basah setelah hujan, lapangan yang otomatis jadi becek dan riuh orang-orang yang andil dalam F2N. Sebagian panitia dari tim Dieng kulon sibuk mengelap dalam tenda yang basah karena hujan. Maaf sedikit ya, maaf ni… kalau saya bilang tenda yang disiapkan gak rekomen buat camping masal dalam keadaan yang kena hujan. Merk “Jalan Terbaik” dirasa kurang pas untuk acara semewah F2N, baik yang model keong racun (semacam consina magnum) atau yang model imut 2p (semacam consina summertime). Untuk model keong racun saya gak tau itu dobel atau single wall, tetapi untuk yang imut jelas itu single dan tanpa flysheet. Okelah untuk cuaca tanpa hujan, tenda bakal tetap kering. Tetapi “ora bangetlah” untuk acara di lokasi yang sangat memungkinkan turun hujan secara mendadak seperti di Dieng ini. Satu saran saja, siapkan pawang hujan! #maaf lagi ya pisss
Panitia dari desa Sembungan juga gak kalah sibuk, para perempuan sebagai juru masak dan laki-lakinya urusan keperluan lain-lain di sekitar lapangan. Bisa dikata panitia Sembungan semuanya saya kenal, mereka orang-orang wisata di telaga cebong dan sunrise sikunir. #tssaaahhhh. Saya yang bukan siapa-siapa disitu akhirnya jadi ikut gabung dengan lainya, dengan panitia  juga (terutama sembungan) #hahahaaa

stage Float

Acara konser Float yang sesuai rundown acara dimulai jam 5 sore (kalau gak salah) terpaksa mundur karena ada beberapa rombongan dari Jakarta yang belom datang, denger-denger sih karena lama terjebak macet di daerah Jawa Barat.
Opening Act dari peserta pada sukarela tampil di venue memberi hiburan gratis kepada peserta lainya, ada yang band, ada yang solo vokal dengan diiringi pemain Float lainya. Cukup menghibur sembari nungguin acara sesungguhnya.

salah satu opening act dari peserta #bagus juga suara nih cewek

Sekitar jam 9 an rombongan terakhir pun datang, disambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai peserta yang sudah duluan tiba. Membaur dan bergabung membikin lapangan jadi tambah ramai. Gak lama berselang dari jalanan desa terdengar suara ramai dengan nada marah #upss. Segeremobolan pemuda desa Sembungan datang ke lapangan dan banyak yang saya kenal juga. Arrghhh ada apa ini anak-anak… pasang muka sadis dan gak peduli sama panitia-peserta, mereka langsung menghajar api unggun di tengah lapangan dengan  air… lagi butuh-butuhnya penghangat malah api dimatikan :nohope. Usut punya usut ternyata mereka (pemuda Sembungan -red) kurang suka kalau lapangan tempat mereka bermain sepak bola dirusak dengan acara tersebut, lapangan jadi makin becek, rumput terbakar karena api unggun. Ada omongan lain juga kalau acara tersebut belum ada izin dari kepala desa dan ketua pemuda desa Sembungan. Ah gak mau terlibat, saya hanya diam memperhatikan dari pojokan. Ada gak ada saya juga gak ngaruh acara #ngelesss

api unggun stelah dinyalakan kembali

Jam 9 lebih setelah urusan dengan pemuda Sembungan rampung dan api unggun boleh dinyalakan kembali, Float pun tampil. Ini 1 yang saya salut, kualitas sound mereka di alam terbuka bagus. huuaahhhh bagus pokonyaaaa… gak kalah kualitas sama sound di stage sekelas soundrenalin #ttsaaaaahhhh. Suara live bang Meng juga sama persis kaya di mp3 yang sering saya denger dirumah, persissss gak ada beda. Gak kaya acara-acara di pesawat telepisi yang lagi menjamur lipsing sekarang. Ini baru yang namanya BAND berkualitas, skill, perform, live dan sound nya mantab! (sambil bayangin bang Meng maenin blackbird nya the beatles pas cek sound). Salut juga buat sound engineer dibelakang meja mixer mereka \m/
Ditengah perform Float sempet nyempil seorang cowok yang ikut nyanyi bareng Float, suaranya keren. Lagu “Sementara” pun dinyanyikan kembali. Banyak yang histeris dan diminta kembali nyanyi bareng Float di panggung #sayang sekali kalau saja dia gak punya band! eman-eman suaranya dianggurin mas :p
Gak inget Float bawain berapa lagu, yang jelas terlihat audience puas malam itu \m/ (untuk perform Float loh ya, gak tau dll nya #ngacir).

perform Float

Setelah bubaran sebagian peserta pada balik ke tenda, ada yang makan di tenda panitia, ada yang tetep asik di sekitaran api unggun dan mas condro mas uman juga gak tau kemana. Saya milih ke rumah salah satu teman di desa Sembungan, ngopi ngobrol selonjoran disana.

Kembali ke lapangan sekitar jam 12 an, masih ada beberapa yang bertahan melek di tengah dinginya telaga cebong. Ada serombongan yang asik main game di tengah lapangan… mereka ramai sangat, gak peduli sama sekitarnya hahaha. Saya milih gabung dengan mas condro, bang meng, sebagian panitia dan beberapa orang yang baru saya kenal mengelilingi api unggun. Pada benar-benar menikmati hangatnya api unggun tampaknya, sambil bergantian maen gitar buat nyanyi bareng-bareng. Bang meng dan gitaris Float (gak tau namanya) juga tampak andil disitu. Tiba-tiba saja dapet giliran buat nyedot daun aceh kering… hmmmm #nocommentsforthenext

Minggu Jam 2 dini hari acara plus plus pun usai. Pada masuk tenda buat sitirahat… saya pindah haluan ke pojokan toilet parkiran telaga gabung dengan panitia Sembungan. Pada bakar-bakar kayu dan sampah kertas plastik yang bercecer di lapangan. Saya diharuskan gak tidur, karena jam 4 sudah harus membangunkan mas  condro mas uman buat trekking sunrise  sikunir (kalau tidur bisa-bisa mbablas sampe siang)

Jam 4 teng, para peserta sudah pada ngantri di toilet dan bersiap trekking. Bergegas bangunin mas condro mas uman. Tanpa lama kami ber3 jalan duluan, dengan tujuan gak terlalu crowded pas trekking sikunir dan bisa dapat space di puncak buat ngambil poto (soal mereka ber 2 bawa kamera dewa). Jalan di depan bawain tas kamera yang segede tas rancel 40l punya mas uman. Niat awal jalan duluan tapi mas uman gak terlalu kuat buat mendaki sikunir. Kurang biasa kali dia buat jalan nanjak sepagi ini, udara masah basah dan dingin, mana sitirahat juga sebentar semalam. Pada giliranya disalip ma rombongan peserta-panitia F2N… yah sia sia juga udah curi start karena puluhan orang jalan didepan saya dan mas uman ketika beristirahat. Mas condro melenggang dengan santai sampai puncak duluan, secara fisikly juga nampak lebih fit buat trekking.
Sampai puncak yang tengah sudah ramai, berjejer kamera buat njepret sunrise sikunir. Giliran buka tas kamera mas uman, huuwahhh ternyata kamera dengan gear lengkap, dengan lensa sepanjang termos #hahaha.
Mmmmm… golden sunrise nya mana ya kok ga nongol nongol. Cuaca cerah di sekitar sikunir, tetapi tidak untuk posisi munculnya matahari pagi itu. Sebagian awan hitam menutupi dan boleh dikatakan sunrise kali ini adalah gagal #norose

suasana camp area, pagi

aktivitas pagi

penampakan lightness #bingung

Turun sikunir jam 7an. Ada rombongan yang hendak kembali ke Jakarta pagi ini juga (takut macet dan takut gak tepat waktu mungkin). Sementara peserta F2N ngantri sarapan, mas uman mas condro berkemas dan saya bongkar-bongkar tenda. Dengan 1 bantuan teman Sembungan nganter mereka kembali ke Dieng, ke penginapan Bu Jono. Istirahat di penginapan setelah semalam gak tidur… Dan aktivitas F2N setelahnya saya tidak tahu -__-
(Rangkaian acara tersebut : tour dieng 1, lihat tarian dan kesenian adat dieng, serta penanaman pohon #kayaknya sih seperti itu)

menjelang bubaran dari telaga cebong

Mas condro mas uman cabut dari dieng sekitar jam 11 an. Mereka langsung menuju Semarang dengan mobil carteran dan langsung terbang ke Jakarta sore itu juga. Sayonara :-h

• Acara yang mengasyikan, apalagi buat yang belom pernah camping bareng atau kegiatan outdoor
• Bukan peserta dan bukan panitia, yang penting ketemu dan kenalan orang baru #modus cari link baru
• Orang desa Sembungan dan  orang di Dieng sedikit yang mengetahui acara ini
• Perform yang memuaskan dari Float
• Termasuk acara besar di Dieng dengan banyak peserta
• Diluar segala kekurangan, panitia juga manusia yang… (lanjutin sendiri ya) #larilarikecil

Advertisements

Gunung Prau – Djarum Blog Contest

Mengunjungi Taman Bunga Di Tengah Ketinggian (Gunung Prau, 2565 mdpl, 18-19 Juni 2011)
Oleh : Koboi Insap

Taman bunga yang di ceritakan temanku itu ternyata ada, dan aku melihatnya langsung di tengah ketinggian dan dinginnya Gunung Prau.

Tidak terlalu tinggi memang, dan start naik nya pun sudah di ketinggian lebih dari 2000 mdpl. Namun pesona keindahan pemandangan alamnya tidak kalah menarik dengan gunung-gunung di atas 3000 mdpl. Semua terlihat jelas dan begitu mempesona. Aku ingin kembali lagi kesini pada suatu waktu nanti. 

Sabtu, 18 Juni 2011

Sepulangnya dari gunung Sikunir, aku dan Kukuh kembali ke rumah pak Har. Petani asal desa Sembungan, Dieng yang telah menerimaku di rumahnya ketika ku berkunjung ke Dieng ini. Pak Har sudah menyediakan buah Carica untuk bekal ku nanti di gunung Prau. Saatnya carica itu diolah untuk bisa langsung dimakan setibanya kita camping di Prau nanti. Kukuh mengupas carica dan merendamnya dengan air agar getahnya hilang. Setelah itu buah carica yang sudah berwarna kuning itu di belah-belah dan di pisahkan biji dengan dagingnya. Lalu di masukkan ke dalam rebusan air matang dan di tambah gula agar rasanya menjadi lebih manis.

Sementara aku repacking barang-barang yang akan di bawa nanti. Tenda, trangia, sleeping bag sampai gitar tidak lupa aku packing. Bekal berupa mie dan lontong plastik yang sudah di buat bu Har pun tak ketinggalan ku masukkan ke dalam keril 50 liter. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Kata Kukuh, hanya sekitar dua jam trekking untuk bisa sampai ke gunung Prau, jadi tak usah takut kemalaman di jalan.

Kukuh memotong Carica

Carica yang sudah di potong dan siap dimasak 

Carica sudah matang di masak. Buahnya kami taruh di plastik, sementara airnya kami taruh di termos untuk nanti di hangatkan ketika kami ngecamp di puncak Prau. Jam sudah menunjukkan angka setenga tiga ketika aku, Kukuh dan Rudi, putra pak Har mulai berangkat dari rumah. Dengan menggunakan motor, kami berangkat menuju penginapan Bu Jono, tempat kami akan menitipkan motor. Kebetulan trek awal ke gunung Prau ini memang di mulai dari belakang penginapan bu Jono.

Sekitar 15 menit perjalanan menuju pertigaan Dieng. Sesampainya di penginapan bu Jono, kami sudah di tunggu oleh pak Didi, guide lokal Dieng. Berbincang-bincang sedikit dan meminjam sendok yang lupa terbawa, lalu kami menitipkan motor dan langsung berangkat trekking.

Berangkat dai rumah pak Har 

Perjalanan di mulai dari belakang penginapan bu Jono, kemudian melewati ladang-ladang penduduk yang di tanami kentang. Sore itu sangat cerah, namun karena ketinggian jadinya suhu lumayan dingin. Sekitar 15 menit berjalan melewati ladang penduduk, akhirnya kami sampai di pintu hutan. Suhu sudah semakin dingin, Kukuh dan Rudi memakai jaket disini, aku pun mengikutinya karena aku pun sudah merasa kedinginan. Pintu hutan di tandai dengan ujung nya perkebunan, selanjutnya adalah hutan lindung dimana didalam hutan tersebut penduduk dilarang untuk membuka lahan pertanian.

Melewati ladang penduduk

Pintu hutan 

Kami langsung melanjutkan perjalanan. Trek yang dilalui mulai menanjak namun masih agak landai. Terdapat beberapa pohon carica yang kami temui. Kemudian pohon pinus dan ilalang-ilalang tinggi. Trek adalah jalan tanah yang kering karena bukan musim hujan. Tak lama kemudian, pohon-pohon besar mulai jarang dan terdapat lembahan di sisi kanan kami berjalan.

Di sini pemandangan yang terlihat adalah ladang-ladang pertanian yang terdapat di bawah. Kemudian jika melihat ke kanan atas terlihat jelas gunung Prau yang puncaknya adalah datar panjang seperti perahu terbalik. Itulah juga kenapa gunung ini di sebut gunung Prau.

Trek setelah pintu hutan 

Kemudian kami akan melewati tugu perbatasan. Tugu ini adalah perbatasan antara Wonosobo dengan Batang. Jadi mulai titik ini, jalan yang kami injak sudah merupakan daerah Batang. Di tugu ini kami beristirahat sebentar untuk berfoto-foto. Kemudian karena mengejar waktu, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Trek sudah mulai menanjak dan kadang berbatu. Sempat melewati hutan pinus yang kecil, kemudian dihadapkan dengan tanjakan yang lumayan terjal di banding dengan jalan-jalan yang kami lalui sebelumnya. Menurut Kukuh, ini adalah jalur teakhir menuju puncak. Jam ketika itu menunjukkan pukul lima sore. Artinya sudah sekitar dua jam kita berjalan. Melihat ke depan atas, tampak tiang pemancar yang merupakan puncak pertama gunung Prau makin jelas terlihat.

Tugu perbatasan Wonosobo-Batang 

Setengah jam berjalan akhirnya kami sampai di puncak pertama gunung Prau. Hari sudah mulai sedikit gelap ketika kami sampai. Melewati pemancar yang berjumlah 4 buah, kami menuju tempat nge camp berupa tanah datar yang di sisinya adalah jurang. Depannya terlihat jalur menuju puncak utama gunung Prau. Jalurnya terlihat jelas melintasi punggungan bukit. Aku mengusulkan untuk mendirikan tenda disini saja dan besok baru ke puncak utama gunung Prau.

Pemandangan sebelum puncak 

Trek sebelum puncak 

Suhu semakin dingin dan kabut sudah datang ketika aku mendirikan tenda. Sementara Rudi dan Kukuh mencari ranting-ranting untuk nantinya dibakar sebagai penghangat badan. Sambil bergetar kedinginan aku mendirikan tenda, akhirnya berdiri juga. Kemudian aku memasak air dan Rudi membuat api sebagai penghangat. Malam sangat cerah, tampak bulan bulat besar muncul di langit. Sementara itu terlihat di puncak utama sepertinya ada juga yang ngecamp mendirikan tenda. Terlihat dari cahaya-cahaya yang berasal dari sana. Tak lama kemudian ada satu rombongan 4 orang yang datang dan mampir sebentar. Mereka melanjutkan perjalanan ke puncak utama untuk ngecamp disana.

Di puncak pertama gunung Prau dengan latar belakang puncak utama 

Malam dilalui dengan menghangatkan carica yang kami bawa tadi sore. Rebusan airnya kami masak kembali, dan carica yang sidah dipisahkan kami rebus didalam air yang sudah wangi dan manis itu. Kukuh memainkan gitarnya ketika aku memasak, dan Rudi asik dengan api unggun kecilnya. Menambah hangatnya malam di tengah dinginnya gunung Prau.

Selain memasak carica, kami pun memasak mie rebus untuk makan malam. Lontong bikinan bu Har tak lupa kami keluarkan juga. Sangat dingin suhu malam itu, sehingga makan kami pun lahap dan sedikit mengusir dinginya malam. Puas bernyanyi, makan, mengobrol dan menghangatkan badan di api unggun yang di buat Rudi, aku pun tidur duluan karena mata sudah mulai mengantuk. Tidur di dalam tenda dengan sleeping bag di tambah jaket dan kaos kaki untuk mengusir dingin ternyata tidak terlalu berpengaruh. Dinginnya Prau tetap saja kurasakan sampai keesokan paginya.

Menghangatkan Carica 

Minggu, 19 Juni 2011

Pagi-pagi sekali aku bangun. Sekitar jam 5 pagi. Dingin masih sangat terasa, namun melihat keluar sudah sedikit terang. Sunrise, pikirku. Aku membangunkan Kukuh dan Rudi. Namun hanya Kukuh yang bangun, Rudi memilih melanjutkan tidurnya. Kami berdua keluar tenda dan mendapatkan pemandangan yang sangat indah. Sunrise di puncak Gunung Prau. Kukuh menyalakan api kembali untuk menghangatkan badan, sementara aku memasak air untuk membuat kopi. Agak lama kemudian Rudi bangun dan bergabung di luar. Dari puncak utama gunung Prau, terlihat rombongan lain pun asik menikmati sunrise.

Cuaca yang sangat cerah tanpa kabut membuat aku dapat dengan jelas melihat pemandangan indah dari sini. Di sisi kanan tendaku terlihat perkampungan jauh di bawah. Kemudian di depan tampak punggungan menuju puncak utama gunung Prau. Kemudian bukit teletubbies, begitu orang-orang menyebutnya. Sebuah savana luas membentuk bukit-bukit dengan pohon-pohon yang sangat jarang. Lebih jauh mata memandang, tampak jelas gunung Sindoro serta gunung Sumbing di belakangnya. Tak sabar aku untuk menuju puncak utama Prau.

Puncak utama gunung Prau dengan jalur punggungan

Di puncak gunung Prau

Matahari sudah mengeluarkan panasnya. Aku langsung menjemur barang-barang yang lembab karena dingin, serta membongkar tenda untuk kemudian di jemur. Kukuh asik dengan gitarnya. Rudi memfoto-foto pemandangan sekitar. Kemudian kami memasak kembali carica agar tubuh lebih segar.

Tak lupa membuat kopi kembali. Sekitar jam sembilan. Aku dan Kukuh berjalan menuju puncak utama Prau, sementara Rudi tidak ikut. Dia memilih tetap disini sambil membereskan barang-barang. Menuju puncak utama Prau tidaklah terlalu jauh, hanya sekitar 10-15 menit berjalan melewati punggungan yang selalu kulihat dari kemarin. Vegetasi adalah berupa ilalang kecil dan tanaman-tanaman pendek khas ketinggian. Aku memakai celana pendek yang membuat kakiku sering terkena daun-daun yang sedikit tajam, banyak juga luka-luka kecil di kakiku. Jalur menuju puncak utama Prau awalnya menurun, kemudaian landai dan hampir tiba di puncak agak menanjak.

Aktifitas pagi hari 

Keindahan di puncak Prau sulit di ceritakan lewat kata-kata. Kalian harus mencoba untuk kesini jika ingin lebih tahu keindahannya. Dari puncak Prau, gunung Sindoro dan Sumbing terlihat sangat jelas sekali. Kemudian di belakang ku terlihat jelas namun sangat jauh gunung Slamet, yang beberapa hari sebelumnya ku kunjungi. Sementara agak jauh di depan sebelah kiri mataku memandang, tampak jelas pula gunung merbabu, dan agak samar terlihat gunung Merapi di belakangnya. Melihat ke bawah, tampak Dieng dari ketinggian, dikelilingi pegunungan-pegunungan kecil seperti gunung Pakuwaja, gunung Sikunir dan pegununngan lainnya di Dieng. Tampak jelas pula telaga Warna yang terlihat warna biru nya dari atas sini.

Dieng dari puncak Prau, disebelah kanan adalah telaga warna

Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing dibelakangnya terlihat jelas 

Yang paling menakjubkan adalah hamparan savana yang terlihat sangat dekat di depanku. Itulah bukit Teletubbies. Kemudian hamparan padang bunga di depanku. Bung-bunga kecil yang tumbuh serumpun dan sangat banyak, dengan warna bunga yang berlainan membuat carha nya suasana. Tampak juga edelweiss, bunga abadi khas ketinggian yang terlihat namun hanya beberapa batang saja disini. Puas kami berfoto-foto disini sampai akhirnya aku kepanasan karena matahari sudah mulai naik.

Terlihat di jam sudah pukul sebelas siang. Akhirnya kami kembali ke pemancar. Rudi sudah menunggu dan barang-barang sudah beres di packing kembali. Akhirnya kami pulang kembali ke bawah karena hari sudah siang dan aku harus menuju Jogja hari ini. Perjalanan pulang masih ditemani dingin sehingga rasa capai tidak terlalu terasa. Satu jam setengah kami turun dan akhirnya tiba kembali di penginapan bu Jono. Tempat kami menitipkan motor kemarin. Kukuh dan Rudi pulang, sementara aku melanjutkan perjalanan menuju Jogja.

Bersama pak Didi di samping penginapan Bu Jono 

Benar-benar gunung yang sangat mempesona. Terkagum-kagum aku dibuatnya karena keindahan alam yang terlihat. Suatu waktu nanti, aku ingin kembali lagi kesini. Menikmati carica di tengah dinginnya gunung Prau, sambil melihat padang bunga dan bukit teletubbies. Semoga…

Bukit teletubbies ketika kabut datang

Padang bunga dengan latar bukit teletubbies

Padang bunga gunung Prau 

Kukuh di padang bunga

Edelweiss gunung Prau

Disadur dari : (klik icon)