Curug Sirawe

Sempat bingung mau nulis dalam bentuk FR (field report) atau hanya sekedar informasi baku tentang curug ini :D. Setelah dipikir, mending menggabungkan 2 gaya tersebut #uhuk

Untuk kesekian kali, bukan hal umum yang saya tulis tentang apa yang ada di kawasan dataran tinggi Dieng. Sudah banyak yang menulis tentang apa itu telaga warna, kawah sikidang, komplek candi arjuna dan hal mainstream lainya di Dieng. Itu standar dan tidak akan saya ulas. Dan mungkin juga sudah ada beberapa postingan di internet yang menulis tentang curug ini… tp saya mencoba menyajikanya ala blog ini sendiri.

Sebenarnya… secara wilayah curug sirawe masuk dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang, kabupaten Batang. Karena sejarah, orang lebih banyak mengetahui curug ini masuk wilayah Banjarnegara, tepatnya desa Bitingan. Lalu bagaimana sejarahnya? Katanya… dulu curug ini sempat menjadi rebutan 2 kabupaten, Banjarnegara dan Batang. Pihak Banjarnegara mengklaim curug sirawe sebagai asetnya karena memang sumber mata air curug (di desa Bitingan) masuk wilayah Banjarnegara. Pihak Batang tidak begitu saja meng-iya-kan klaim tersebut, karena memang curugnya sudah masuk wilayah Batang. Pihak Batang berdalih, kalau memang curug tersebut mau diaku menjadi milik Banjarnegara, pihak Banjarnegara tidak diperkenankan mengalirkan aliran sumber mata air dari desa Bitingan tersebut ke wilayah Batang oleh pihak Batang. Dengan begitu Banjarnegara diharuskan mencari jalan lain untuk meneruskan aliran sumber mata air tersebut ke wilayah Banjarnegara sendiri, tidak ke wilayah Batang. Batang rela tidak memiliki curug Sirawe asal air yang mengalir dari wilayah Banjarnegara tidak mengalir ke wilayah Batang. Itu dirasa sulit dilakukan, karena cekungan atau daerah yang lebih rendah tempat jatuhnya air yang terdapat di sekitar daerah tersebut merupakan wilayah Batang. Dan kontur disitu murni proses alam atau lebih luasnya adalah ciptaan Tuhan. Aliran air dari curug ini menjadi sungai besar di kecamatan Bawang dan bermuara di pantai utara. Jadi bisa disimpulan seperti ini :

  • Mata air berasal dari wilayah Banjarnegara, tepatnya dusun Bitingan, desa Kepakisan, Kecamatan Batur
  • Air yang mengalir manjadi curug sudah masuk wilayah Batang, tepatnya dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang

Karena proses pemikiran tersebut curug Sirawe jatuh ke pangkuan Batang. Tetapi pihak Batang tidak serta merta membangun sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata di tempat ini, apalagi mempromosikanya. Curug ini dibiarkan saja seperti aslinya. Mungkin Batang sudah berpikir antara anggaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang akan didapat. Tetapi entah nanti jika Batang berubah pikiran :). Jika dipikir, untuk membangun proyek besar ini sebagai obyek wisata yang potensial di kabupaten Batang, maka Batang harus memperbaiki jalan antara Bawang – Bintoro – Sigemplong, atau jalan antara Bawang – Pranten – Sigemplong dan jembatan di selatan desa Pranten yang entah bagaimana kabarnya :)
Review nya bisa dilihat disini : Desa Pranten

Berbicara akses ke curug Sirawe, ada 2 jalur yang bisa dilewati. Pertama jalur Pawuhan (Geodipa) – Siglagah – Sigemplong. Dari Pawuhan dihadapkan jalanan aspal dan cor beton yang mengelupas. Sesampai Sigemplong kendaraan berhenti disini, dilanjut dengan jalan kaki ke atas desa, ke lereng gunung Sipandu. Kemudian menyusuri jalan setapak alternatif penghubung desa Sigemplong dan desa Bitingan. Jalur ini sulit dan jauh. Akan lebih sulit dan berbahaya di musim hujan.
Jalur kedua bisa lewat Kepakisan – Kawah Sileri –  Bitingan. Jalur ini lebih dekat dari jalur Sigemplong. Jalanan aspal mengelupas tetap bisa dijumpai dari pertigaan kawah Sileri sampai desa Bitingan. Sampai desa Bitingan semua kendaraan berhenti, menuju curug dilanjut dengan jalan kaki.
Kedua jalur tersebut sama sulitnya ketika memasuki turunan curug Sirawe, terlebih jika musim hujan.

Mengenai hal lain, curug ini gabungan dari air panas dan air dingin serta 2 air terjun yang berjejer. Air panas berasal dari proses geothermal di pegunungan Dieng, dan air dingin dari sungai biasa. Yang saya lihat, disekitar curug masih terjaga hutan heterogen khas dengan pohon pohon besarnya.

ツ ツ ツ

Saya dan tim berangkat dari Dieng sekitar pukul 9 malam, lewat jalur Pawuhan Siglagah Sigemplong. Sekitar 15 menit kami sampai di Sigemplong, mampir ke rumah sesepuh desa tersebut. Nitip motor dan pamitan untuk bermalam di wilayah curug Sirawe. Perjalanan dilanjut jalan kaki menyusuri lereng gunung Sipandu, sepi gelap dingin dan berkabut. Sesampai tempat yang di maksud, kami bingung hendak dimana mendirikan tenda. Karena tempat landai sangat jarang dan ini merupakan bukan area camp yang wajar. Setelah pilah pilih tempat diputuskan nenda di samping perkebunan kentang warga, dimana sebelah baratnya adalah jurang curug Sirawe. Tak banyak yang dilakukan setelah tenda berdiri, ngobrol dan ngopi saja. Sesekali terdengar hembusan suara air curug yang terbawa angin. Malam ini beraura horor tapi saya suka :D. Pukul setengah 12 an kami tidur didalam tenda zzz…

Keesokan harinya, pagi jam 6 kurang 5 menit bangun dan keluar tenda, subhanallah… tepat dibelakang tenda terlihat jauh 2 curug yang berjejer tersebut, ini yang di cari! Pemandangan ini tidak kami jumpai semalaman… Terbayar rasanya bermalam disini dengan berbagai rasa semalam. Desa Bitingan nampak tertata rapi diatas curug. Dari sebelah timur muncul mentari dari sisi gunung Prau, di sebelah tenggara ada gunung Sipandu, di sebelah utara nampak ijo hutan hutan lebat. Spot yang komplit buat selow… Banyak ditemui petani yang berangkat berkebun dan tampaknya mereka bingung dengan keberadaan kami. Bermalam di tempat seperti ini mau cari apa tanya-nya…
Mengemas tenda dan perabot camp done, dilanjut jalan ke timur menyusuri lereng Sipandu, kembali menuju desa Sigemplong tepatnya. Sambil berjalan melihat aktivitas petani sekitar sini, sesekali mengobrol. Perjalanan kembali ke Sigemplong cukup lama, karena melewat jalur memutar arah desa Bintoro. Di jalur ini masih banyak terdapat tanaman ucen liar dan gandapura. Pukul 10 pagi tiba dirumah sesepuh desa Sigemplong tempat menitip motor. Gak lama berselang kami berpamitan. Sampai di penghujung desa mampir dulu di sumber air panas, berniat mandi dan melepas lelah. Kurang lebih 1 jam berada di pancuran air panas ini dan hasilnya… sangat freshhh! #lebaydikit
Pukul 12 siang lebih kami sampai lagi dieng :D

Desa Bitingan nampak diatas curug Sirawe

Matahari pagi dari samping gunung Prau

Gunung Sipandu

Lahan kentang & langit di sebelah utara

Hutan lebat disebelah barat, berjajar sampai telaga Dringo

Desa Pranten dari atas Sigemplong

Ucen liar

Lebih dekat lagi dengan Ucen

Gunung Prau

Pancuran air panas

Pemandangan depan pancuran, sekitar lereng Prau

Curug kecil sekitar pancuran air panas

Pemandangan desa Pranten dari sekitar air panas

Advertisements

Gunung Jimat (2213 mdpl)

Image

Gunung Jimat… Namanya terasa asing bagi para pendaki gunung maupun pecinta alam. Ya, gunung ini bukan merupakan gunung tinggi yang biasa untuk di daki. Hanya gunung kecil yang dikelilingi perkebunan kentang.  Gunung ini terletak di jajaran gunung gunung kecil di dataran tinggi Dieng sebelah utara. Tepatnya berada di desa Pekasiran Kecamatan Batur, Banjarnegara.

Awal cerita, saya selalu penasaran dengan gunung ini ketika pulang dari dieng melewati jalanan Pekasiran dan Kepakisan. Gunung yang di puncaknya terdapat menara dan dapat terlihat dari berbagai arah.

  • terlihat dari jalanan desa Pekasiran dan Kepakisan (kecamatan Batur)
  • terlihat dari desa Surenan (kecamatan Batur)
  • terlihat dari desa Condongcampur (kecamatan Batur)
  • terlihat dari desa Kradenan dan Gerlang (kecamatan Blado)
  • terlihat dari desa Wonopriyo (kecamatan Blado)
  • terlihat dari desa Gunung Alang (kecamatan Blado)
  • terlihat dari desa Sembungan dan Sikunang (kecamatan Kejajar, Wonosobo)
  • terlihat dari puncak bukit atas Telaga Warna (Dieng)
  • dan terlihat jelas dari Telaga Dringo serta Kawah Candradimuka

Di hari yang cukup bebas, saya berpikiran untuk mendaki gunung ini. Setelah lama ditunda, saya niatkan untuk berangkat. Bukan karena hal laen, karena sebelumnya saya belum menemukan orang yang tau dan mau mengantar saya kesana (porter gitu maksdunya he he). Teman yang apes yang saya ajak blusukan alas kali ini adalah pemuda tanggung pribumi desa Gerlang. Namanya kang Diqin, dia seorang karyawan sebuah toko pupuk di desanya. Kenapa saya bilang apes…? Ya karena dia bakal saya suruh ini itu, bawain kamera, bawa bekal makanan kecil dan minuman, naik motor didepan menembus dingin dan kabutnya pegunungan (kalau hujan bakal basah duluan) sekaligus penunjuk jalan karena dia tau daerah yang akan saya tuju.

Kamis
Pukul 5 sore
Saya berangkat sendiri dari rumah dengan motor dan  peralatan seadanya. Kamera, pakaian hangat, jaket tebal dan selebihnya badan yang dipaksakan tangguh ini :cool. Mampir dulu dirumah teman yg kebetulan bokapnya punya usaha budidaya ikan darat. Saya beli ikan Nila 1 kg… buat bakar-bakar nanti malam di tempat kang diqin. (intinya sih buat nyogok dia supaya besok lebih semangat mau nganter ke gunung)
Perjalanan santai sehabis hujan menyusuri kebun teh Ngliyer dan hutan tropis di selatan kabupaten Batang, orang sini menyebutnya alas Kluwung. Hutan ini masih asri, masih banyak tanaman besar dan berbagai anggrek hutan. Masih sering dijumpai burung gagak, burung deruk liar ,kucing alas, kelinci hutan, kidang dan celeng. Sampai tiba di perbatasan hutan, daerah ini sudah merupakan daerah konservasi dataran tinggi Dieng yg masuk kabupaten Batang dengan ditandainya lahan yang sudah ditanami sayuran, kentang, kobis, loncang, wortel, kacang babi, lombok bagong dan pohon pepaya kerdil a.k.a carica. Tampak di sebelah timur adalah puncak gunung Kemulan.

Pukul 06.10 petang
Sampai di pertigaan Gerlang, berhenti disebuah toko pupuk yg dihuni kang Diqin. Ikan yang aku bawa langsung aku kasih ke sifa, adik sepupu perempuan kang Diqin buat bersihin lalu dibakar. Oh ya…Sifa adalah perempuan desa, perempuan gunung, usianya masih 16 tahun. Ia sering di toko pupuk buat bantuin jaga dan bersih-bersih disana. Orangnya ramah dan masih lugu.
Selagi ikan dibersihkan saya dan kang Diqin menyiapkan bara api untuk membakar. Acara bakar-bakar dimulai, saya dan kang Diqin bergantian meliuk-liukan kipas tangan supaya bara tetap mengangah, sementara sifa  bikin sambal kecap. Setelah semua ikan matang, kami melahapnya bertiga sampai habis. Kenyang…
Praktis tidak ada kegiatan apa-apa setelah makan malam, hanya tiduran di depan tv, selimut tebal dan menunggu mata mengantuk. Kami bertiga tidur di toko dan sifa tidur di kamar belakang. Sunyi senyap, suara-suara hewan malam dan sesekali atap seng berbunyi kala tertiup angin yang agak kencang.

Pukul 10 malam
zzz…

Jumat
Pukul 7 pagi
Bangun dengan hawa yang cukup dingin. Setelah mata melek masih saja  tetap dibalik selimut sambil nonton tv. 30menit kemudian bangkit dari pulau kapuk, cuci muka dan bergegas keluar. Mencari hangat mentari pagi alias berjemur atau kalau orang jawa bilang “karing”. Sembari melihat anak-anak berangkat sekolah (kebetulan depan toko adalah sebuah sekolah dasar). Sekolah disini masuk pukul 8. Kenapa? Jarak antar kampung sampai sekolah disini cukup jauh, jalanya aspal hancur, kalau hujan lumpur dimana-mana. Belum lagi gurunya yang rumahnya sekitar 15km dari sekolah dan harus menempuh jalanan tengah hutan yang rusak.
Di depan toko banyak petani berlalu lalang menuju ladang masing-masing, tak sedikit pula mampir ke toko untuk membeli pupuk atau obat hama tanaman sayur. Tempat yang strategis untuk berbisnis pertanian.

Pukul 9 pagi
Setelah semua siap, saya dan kang Diqin segera berangkat. Berboncengan dan saya dibelakang dengan tujuan bisa sambil tengok kanan kiri lihat pemandangan pagi sekitar sini. Melewati desa Sidongkal dan  Wonopriyo. Dari Wonopriyo menara gunung Jimat sudah terlihat. Dilanjut memasuki hutan pinus dan kemudian memasuki kawasan gunung Petarangan. Lanjut ke desa terakhir, yaitu desa Gunung Alang. Desa buntu dibawah kaki gunung Jimat. Motor kami titipkan di salah satu teman kang Diqin di desa tersebut.

Pukul setengah 10 pagi
Kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Sembari bertanya ke para petani yang kami jumpai di sepanjang perjalanan. Kang Diqin hanya mengetahui 1/2 akses jalan ke puncak gunung tersebut. Banyak para petani yang bilang tidak tahu lagi jalan menuju puncak karena jalanya sudah jarang dilewati dan tertutup rumput tinggi. Hanya 1 petani yang tau jalan ke puncak dan kami diberi gambaran beserta simpangan-simpangan yang harus kami tempuh. Dengan modal nekat dan rasa ingin tau yg tinggi kami memulai langkah dari kaki gunung. Bekas jalan masih nampak tetapi sudah tertutup rerumputan tinggi. Disini saya masih sempat menjumpai tanaman Kantong Semar (Nepenthes) dan memotretnya beberapa kali. Semoga spesies yang sudah semakin langka ini tetap bertahan dihabitat aslinya dan jauh dari tangan jahil warga sekitar.

Pukul 10 pagi
Setelah menempuh reremputan tinggi itu, kami sampai pada punggungan gunung, dari sini desa desa di sekitaran Dieng sudah mulai nampak dan puncak gunung Jimat sudah semakin jelas. Kami melanjutkan perjalanan menerobos tanaman alang-alang dengan tinggi sedada. Hampir tidak ada jalan tersisa disini, kami membuat jalan sendiri dengan membelah duren… eh rumput maksudnya…
Menara gunung Jimat sudah semakin dekat dan kami melewati tanjakan terakhir, berupa savana di puncak gunung.

Sekitar pukul 11 siang
Kami sampai di puncak gunung Jimat, kami sampai di menara setinggi kurang lebih 15 meter yang terlihat dari mana mana itu *lebay. Kang Diqin mulai memanjat tangga dari menara tersebut dan berdiri diatas (ada semacam tempat duduk yang cukup untuk 4 orang diatas). Saya tidak berani karena angin yg cukup kencang, takut kawur he he…

Saya cukup istirahat dibawah menara sambil minum dan manyantap perbekalan yang kami bawa. Dari spot ini terlihat :

  • Desa Pekasiran dan Kepakisan
  • PLTU Geodipa Dieng
  • Telaga Sewiwi
  • Gunung Nagasari
  • Gunung Sipandu
  • Gunung Butak
  • Gunung Klaras
  • Gunung Petarangan (masyarakat lebih mengenal dengan nama gunung Batur)
  • Bekas retakan gunung Pangamun-amun (Tragedi desa Legetang)
  • Kawah Candradimuka
  • Dan view yang paling fenomenal (*lebay) adalah bekas kawah yang menjelma menjadi telaga cantik di puncak gunung atau tante wikipedia menyebutnya “Telaga Dringo”

Dari sudut ini telaga Dringo terlihat lebih indah daripada ketika saya berada di dekat telaganya. Gunung Petarangan lebih terlihat sebagai gunung dan telaga Dringo sebagai kawah mati di puncak gunung. Tinggi gunung Petarangan adalah 2135 mdpl, lebih rendah daripada gunung Jimat 2213 mdpl.

Pukul Setengah 12 siang
Kira-kira setengah jam kami mengahabiskan waktu dipuncak, kami tidak bisa bersantai mengingat harus segera turun ke kampung dan jumatan. Saya yang dipaksa untuk puas dan sejenak mematikan rasa penasaran yang sudah terjawab akhirnya bergegas turun. Ditambah mendung dan kabut yang mulai naik. Jalur yang kami tempuh pun berbeda dari saat kami naik. Tanpa navigasi darat kang Diqin berani mengambil arah memotong jalan (pengalaman, feeling dan positioning orang setempat sangat berguna disaat seperti ini kali ya) Kami melewati rerumputan yang lebih tinggi dari jalan berangkat. Kang Diqin terus mencari jalan diantara semak belukar dan saya mengikutinya di belakang. Saya Sempat merasa takut kalo bakal tersesat di labirin gunung Jimat, ditambah kabut yang semakin tebal membuat jarak pandang pendek dan gak tau arah. Jalan yang kami tempuh semakin menurun menuju  jurang dan tak lekas menemui jalan penduduk atau ladang pertanian. Saya sempat berpikiran yang tidak tidak setelah mengingat ini adalah jumat kliwon… (dalam hati gak elit banget mati di gunung Jimat :hammer:)
Tapi alhamdulilah kami menemui jalan kecil yang biasa digunakan petani antar ke dua desa, Pekasiran dan Gunung alang. Kami mengikuti jalan tersebut sampai ujung lahan pertanian desa Gunung alang, tempat pertama saya bertanya-tanya kepada petani. Kami bergegas ke kampung untuk jumatan walau akhirnya tidak cukup waktu. Sesampai kampung sholat jumat sudah selesai :norose

Pukul 12.25 siang
Kami segera menuju rumah temen kang Diqin untuk mengambil motor. Karena sesampai kampung hujan kami disuruh mampir. Adat orang di pegunungan Dieng, tamu tidak dipersilahkan duduk di ruang tamu, melainkan duduk di dapur dan depan tungku kayu bakar. Biar hangat…
Beberapa hidangan dan teh panas pahit tersaji di meja, ditambah nasi hangat, telur dadar dan sayur lombok bagong (baru kali ini ngrasain sayur lombok bagong)
Kami mengobrol dengan warga setempat yang kebetulan berada bersama di depan tungku sambil menunggu hujan reda. Saya asik nanya ini itu tentang gunung Jimat. Dari obrolan tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan :

  • Warga setempat pun sudah jarang yang mendaki sampai puncak gunung Jimat
  • Warga setempat tak mengetahui fungsi menara yang berada dipuncak gunung Jimat
  • Pemuda disana tak mengetahui jalur ke puncak gunung Jimat
  • Terdapat sebuah goa beracun dikaki gunung Jimat sebelah timur (semoga suatu saat diberi kesempatan buat menengoknya)

Pukul 2 siang
Kami bergegas pulang setelah hujan agak reda. Melewati telaga Dringo yang tadi saya nikmati view nya dari puncak gunung Jimat. Sampai di toko pertanian nya kang Diqin, istirahat sebentar dan selanjutnya pulang kerumah.

Beberapa kesimpulan dari saya sendiri :

  • Salah satu spot yang menarik di jajaran pegunungan dieng yang belum terjamah banyak orang terutama oleh wisata Dieng (semoga tidak terjamah)
  • Bisa melihat beberapa view menarik dari puncak sini, seperti yang sudah dijelaskan diatas
  • Salah satu gunung yang hampir tidak ada tanaman kerasnya, hanya rumput tinggi dan semak belukar
  • Masih ditemukanya habitat Kantong Semar (Nepenthes)
  • Belum ada jalur yang tersedia untuk menuju puncak
  • Tidak ada sampah plastik/non organik di puncaknya
  • Area yang pas buat ngegalau :malus

Suatu saat saya akan mencoba kembali mengunjungi gunung ini, mencoba bermalam dan mencicipi sunrisenya… siapa berminat? he he he

Imagelembah gerlang (awal berangkat)

Imagelembah gerlang

Imagegunung kemulan (atas perkebunan teh pagilaran)

Imagepertanian desa Gerlang

Imagetelaga Dringo

Imagekantong semar gunung Jimat

Imagetrek awal

Imagegunung Nagasari

Imagedieng + Geodipa energi

Imagemenara gunung Jimat

Imagekang Diqin pose

Imagetelaga Dringo

Imagekawah Candradimuka

Imagetrekking turun

Imageareal pertanian warga

Imagemenu santab sore