One Night Stands – Telaga Dringo

bakar kayu dan ranting kering

masak carica

silver sunrise , kiri gunung jimat, kanan jauh puncak sindoro

sinaran mentari pagi

pinggiran telaga

rerumputan luas

karing, sembari bikin kopi

Advertisements

Dieng – the longest journey

Jam 5 sore berangkat dengan suasana cerah sabtu sore.
Ditemani teman bernama ardi “partner in crime” saya menyusuri hutan. Berbonceng bedua kaya maho, dengan rute standar yang sering dilewatin, rute Gerlang yang jalanya ancur nya makin ancur kaya sungai mengering. Mau gimana lagi, cuma jalur ini yg terdekat dan situasi yg hutan, pegunungan, ladang pertanian di sepanjang perjalanan. Jalur ini romantis kala bulan penuh . Cahaya bulan yg nembus disela sela ranting dan daun pepohonan hutan kluwung, hutan dibawah gerlang. mengingatkan akan mantan yang sering saya ajak lewat jalan ini #eeaaaa

Sesampai gerlang gerimis menjelang maghrib. Desa itu baru saja mengadakan pangajian di siang harinya, masih ada sisa sisa pedagang dan kesibukan lainya memberesi tempat itu, depan SD Gerlang. Dan sebelumnya sudah janjian dengan teman yang orang Gerlang, Dia sudah menunggu di toko pestisida depan SD, sebut dia fahri… pemuda lokal kampung tersebut. Setelah berjabat tangan dan ngobrol dengan beberapa orang yang saya kenal kami memutuskan ke rumah fahri. Sesampai dirumahnya bertemu dan “salim lebaran” dengan anggota keluarga lainya. Tanpa lama saya menyerbu tungku api di dapur untuk menghangatkan badan, tak lama teh panas tanpa gula disuguhkan. komplit juga suasana di depan tungku sambil ngobrol ngalor ngidul setelah beberapa bulan ini ga ketemu.
adzan maghrib berkumandang, saya bergegas ke mushola bareng fahri dan ardi. wudlu dengan air yg cukup dingin… ditambah… rasa kaya nginjek balok es batu ketika kaki menyentuh keramik mushola *bbrrrrrr

Setelah santap malam dirumah fahri, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, kebetulan juga hujan telah reda. tujuan kami selanjutnya adalah rumah mak dar di desa Kradenan. Fahri ikut karena mengenal mak dar juga. 5 menit perjalanan sampai jg di desa Kradenan. Sesampai disana seperti biasa, ngobrol, kopi dan makanan sisa lebaran. oh ya… mak dar mempunyai anak perempuan, sebut saja bunga. tergolong cantik lah buat ukuran perempuan gunung, perempuan desa. bisa saya bilang dia paling cantik di desanya. tapi sayang, dia sudah janda di usia muda. usia dia baru 19 tahun… nikah muda, ditinggal pergi ma suaminya dan belum mempunyai anak. orang sini meyebutnya dengan istilah “lanjar”. Kebiasaan orang desa, orang gunung, belom cukup dewasa dah main nikah aja :nohope
Saya sudah mengenal dia sebelum dia menikah. malam itu terlewati dibalik selimut tebal sembari nonton tv di dalam kamar, nonton Manchester city vs Wigan. Saya, fahri, abdi, bunga, makdar dan roni, anak makdar yg terakhir (adik bunga)
Pukul 10 malam saya dan ardi putuskan untuk melanjutkan menuju dieng. Dah malem juga jam segini harus menyusuri hutan dan jalanan sepi. Saya dan ardi berpamitan lalu pergi, sementara fahri menginap di rumah mak dar…
Gutbye Kradenan…

Dingin boy… gelap dan sepi. Dipikir kaya orang kurang kerjaan aja jam segini nglewati jalanan kaya gini. Sampai di Pekasiran meteran bensin di spedometer dan berkedip, tanda bensin mo habis. 3 rumah yg jualan bensin saya ketuk gak ada yg mau buka. Ya iyalah… jam 10 lebih, mana ada orang mau bukain pintu hanya untuk nglayanin orang butuh bensin yang seharga Rp 5.000.

Dengan nekat kami putuskan lanjut, pelan pelan lewat jalan Pekasiran, jalan arah desa Legetang *seereeemmmm… Gada satu pun kami jumpai kendaran berpapasan ato menyalip kami. sampai di PLTU Geodipa, per3an curug sirawe-kawah bitingan-kawah sileri, saya berhenti dan ambil beberapa poto. cerobong2 asap yg asapnya menyerupai kabut menarik saya untuk memotret.
horor… ditambah suara2 gemuruh dr mesin2 di areal PLTU tersebut.

15menit kemudian, sekitar pukul 12 tengah malam, sampailah di Dieng dengan bensin yg dah semakin menipis dan tubuh yg menggigil. cuma ada 1 warung kopi yg masih buka, tepat berada di depan penginapan Bu Djono. Saya memesan segelas susu coklat panas. sambil nanya, apakah masih ada orang jual bensin jam segini…
Bapak penjual kopi tersebut menunjukan 3 warung yang menjual bensin, kami samperin dan ketuk pintu tetapi ga ada 1 pun yang bukain. Pasrah deh… kalo dipikir gak mungkin cukup bensin segitu bisa nyampai Sembungan, takutnya berhenti di tengah2 jalan yang pas ga ada rumahnya. mana dah sering denger cerita2 serem jalanan Dieng sampai Sembungan. Makin nohoff nih malam!
Kami kembali ke warung kopi tersebut sambil berharap keajaiban datang.
Gimana ya gimana ya gimana ya… tukang ojek juga dah gak ada…

Gak lama kemudian mobil patroli PLTU Geodipa datang di warkop tersebut.
2 petugasnya menanyai kami mau kmana.
“petugas : arep nangdi sih mas, bengi temen
saya : badhe ke Sembungan pak, tapi bensin teng motor telas
petugas : melas temen sih, tak ter bae njo… motore deleh mburi. rika ng mburi njagani motore.”
Tanpa pikir panjang kami iyakan tawaran bapak tersebut.
Motor kami dinaikan dibagian belakang mobil 4×4 patroli PLTU Geodipa ke Sembungan. Sesampai Sembungan setelah menurunkan motor bapak itu dibayar ga mau…
dia bilang “wes rapapa mas, nyante bae, nyong ikhlas… saestu”
2 bapak itu sangat baik, datang memberi bantuan disaat yang tak terduga. thx ya pak :kiss

Seperti biasa, tempat peristirahatan paling nyaman di sembungan
rumah Diran… yang hanya berjarak 300 meter an dari kami turun dari mobil PLTU.
Disana ada beberapa anak ngumpul. mereka belom pada tidur! sippp… dinginya Sembungan masih kuat buat mereka untung begadang liat bola.

Ga puas kalo malam ini dilewatin tanpa nenda, kopi, api unggun dan genjrengan gitar. tapi apa mau dikata, sebagian dari mereka dah tumbang setelah liat bola. Kata Diran, tendaku dipake tetangga ke gunung slamet. Omg… tenda reot gtu nyampe gunung slamet! aku aja ga pernah bawa tenda itu selain ke Sikunir dan Prau *rada marah!

Pukul 4 pagi waktu Sembungan, udara masih dingin2nya, angin bertiup kencang dari Sikunir dan telaga Cebong dan semua orang dah pada tidur. Nekat juga saya keluar sendiri, sembari mengayun langkah tipis (supaya gak kedengaran ada orang jalan) menyusuri jalanan kampung dan menuju pojok barat Telaga Cebong…
Angin begitu kencang, sampe berdiri diatas batu pun rasanya mau ikut terbawa angin. Disebelah kanan bulan yg hampir penuh, dan sebelah kiri Telaga Cebong dan Sikunir yg masih tampak gelap. Dipayungi bintang bintang yang tak sebanyak kalo terlihat di dataran rendah. Rasi bintang “gubug penceng” disebelah selatan, rasi yg paling mudah dijumpai dibanding rasi yg laen.
Oh tuhan… malam indah buatanmu, walo harus dilewatin sendiri hanya dengan duduk diatas batu disudut telaga. Bersyukur aku bisa berada ditempat ini malam ini
(dalam hati tetap berbilang : anjrit malam ini ga ngecamp! )

“berapa banyak doa doa malam ini berterbangan di langit
doa aku, doa kamu, doa kita, doa kalian, doa semuanya… dan doa penentu mimpi.
doa yang saling berbenturan… doa seseorang yang berharap penuh terhadap sesorang dan sementara yang diharapkan berdoa juga buat seseorang yang laen. siklus 3, lingkup 4 atau bahkan lebih, dimana terlalu prematur untuk mengetahui siapa pemenangnya. kejadian kejadian tak terduga, keajaiban yang cepat atau bahkan penghambat mimpi kita karena doa orang yang berharap terhadap kita sangatlah kuat dibanding doa doa kita, yang kadang kalau dipikir cermat, itu kurang bijak.

mari kita lihat, doa siapa yang lebih dulu mencapai lantai tuhan,
doa yang kemudian lebih dulu menyentuh kaki tuhan.
dan berproses menjadi rasa sakit, kekecewaan, kekalahan dahulu sebelum menjadi doa yang di inginkan berupa kapas tipis dan suara pelan alam yang misteruis”

Bulan tampak sudah berlindung di Gunung Bismo sebelah barat
Angsa-angsa yang sudah mulai beraatifitas di pinggiran telaga
beserta adzan subuh dari mesjid Sembungan.
Pulang… melewati jalan tengah desa, dan banyak berjumpa warga Sembungan yang hendak sholat subuh di masjid. Banyak dr mereka bertanya : “gasik temen deke…?” lalu kujawab, “enggeh niki saking telogo pak/mak” sembari saling tukar senyum.
Mereka tetap saja ramah, menyambut orang asing yang belom dijumpainya sama skali. Makin cinta ma desa ini :berlleee
Ya… sembungan… yang katanya desa tertinggi di Jawa dengan tanah yang begitu subur…

– Perjalanan ke dieng terlama seumur-umur, jam 5 sore nyampe jam 12 malam (ngalahin jogja-dieng yang cuma 4 jam an)
– Ada aja yang harus ditemui sebelum nyampe dieng, untung terang dan bulan mau mencapai penuh

Sembungan pagi hari

Review Jalan Bandar – Batur

Selatan desa Kemloko (Kel. Kambangan, Kec. Blado), bahu jalan longsor

Hutan pinus selatan desa Kemloko

Aspal mengelupas, selatan desa Kembanglangit

Dan ini setelahnya, jalan rusak di tikungan tanjakan

Jembatan Sibiting, sebelum perkebunan teh Ngliyer

Nama terang

Memasuki perkebunan teh Ngliyer, jalan rusak parah

Masih di tanjakan Ngliyer, “sungai mengering”

Penghujung perkebunan teh, sebelum memasuki hutan

Memasuki hutan (Alas Kluwung), aspal mengelupas

Peralihan aspal mengelupas dengan cor beton

Jalanan cor beton dan pemandangan hutan yang masih asri

Salah satu tanjakan/turunan dan tikungan tajam dalam hutan

Pemandangan hutan kanan kiri jalan

Desa Sikesut, desa kecil selatan Alas Kluwung

Hutan pinus terakhir, samar-samar puncak gunung Kemulan

Batas hutan dan lahan pertanian sayur warga. Kanan gunung Kemulan

Memasuki desa Gerlang, jalanan masih cor beton

Jalan mulus, selatan desa Kradenan. Menjelang perbatasan Batang – Banjarnegara

Jalan lurus sebelum pertigaan Batur. Kanan gunung Petarangan (Gn. Batur)

Warung Gorengan Kembanglangit

Lokasi : Kembanglangit, Blado, Batang
Warung sederhana yang menjual aneka makanan kecil, terutama gorengan. Warung ini semakin nikmat jika dikunjungi dikala sore dan gerimis (menurut saya), gorengan anget ditambah kopi item panas, atau nyruput teh sangan handmade si ibu pemilik warung. Teh ini dipetik sendiri dari kebun teh si ibu, proses pengeringanya secara tradisional. Menggunakan panci dari tanah atau orang jawa menyebutnya kendil, yg dipanaskan di tungku kayu lalu teh nya di sangan sampai benar-benar kering. Tanpa pewarna dan tanpa pengawet, benar-benar alami, sampai rasa sangitnya masih terasa kalau diminum (enak loohhhh…) Disini biasanya bertemu orang-orang dari daerah atas semacam Gerlang yang hendak pulang. Mampir untuk istirahat atau memborong gorengan untuk dirumah (karena diatas gak ada warung lagi). Depan warung banyak berseliweran truk pengakut sayur menuju pasar Bandar. Kala sore,  biasanya turun kabut tebel menutupi sekitaran warung. Bisa dikatakan warung ini yang paling laris, selain gorenganya enak dan selalu anget juga karena si ibu penjualnya sangat ramah. Karena seringnya mampir, saya jadi kenal dan akrab sama ibu penjualnya :D

Jalur Alternatif Batang – Bandar – Batur – (Dieng)

 Pertigaan Gerlang (poto diambil dari puncak purbukitan batu barat Gerlang)

Visualisasi otak…
Menggambarkan kembali jalan antara Bandar sampai Batur (penting gak penting semoga tetap berguna :)

Jalanan dengan berbagai kondisi yang harus dilewati untuk bisa sampai ke Dieng dengan waktu tercepat dan jarak tempuh terpendek.
Jalan dari  Batang ke Bandar gak usah ditanya, sepanjang +/- 17 kilometer bagus mulus hampir tanpa rintangan :D

Pertama… Jalanan dari Bandar bisa dikatakan aman, lebar halus mulus tanpa lubang. Cuma sekarang ada lampu “bangjo” di pertigaan depan kantor kecamatan Bandar. Kemudian sampai di pertigaan Blado – Kambangan, ambil lurus ke arah Kambangan (pertigaan ke kiri menuju Blado dan Sukorejo). Disini jalan mulai menyempit dan aspal tak semulus aspal hotmix jalan provinsi antara Bandar – Blado. Di pertigaan ini ditandai dengan tanjakan yang lumayan panjang dan tinggi. Diawali dengan sebuah proyek pondok pesantren “TAZAKA” di kiri jalan yang belum selesai pengerjaanya dan diakhiri dengan gedung STM NU Bandar. Sampai disini kanan kiri masih berupa kebon dan sawah warga. Memasuki desa Kambangan yang ditandai dengan pemukiman warga di kanan kiri jalan yang lumayan padat. Jalanan relatif masih aman dan ramai aktifitas warga.

Memasuki hutan pinus selatan Kambangan, jalanan mulai ada tikungan tajam dan tanjakan. Disini suasana cukup adem hijau dan asri pemandangan hutan pinus, ditambah aspal yang masih bagus. Naik ke arah selatan dikit, dijumpai tikungan tajam dan jalan yang mulai berlubang di kanan kiri. Dimulai dari tikungan yang membentuk setengah lingkaran sampai desa Kembanglangit jalanan penuh lubang, bahkan ada beberapa meter memasuki tanjakan desa Baturan jalan hanya bisa dipergunakan setengahnya, setengahnya lagi hancur. Sampai di desa Kembanglangit, biasanya saya mampir di warung kecil di pojok desa (selatan desa). Warung sederhana yang menjual aneka makanan kecil, terutama gorengan. Warung ini semakin nikmat jika dikunjungi dikala sore dan gerimis (menurut saya), gorengan anget ditambah kopi item panas, atau nyruput teh sangan sangit handmade si ibu pemilik warung. Teh ini dipetik sendiri dari kebun teh si ibu, proses pengeringanya secara tradisional. Menggunakan panci dari tanah atau orang jawa menyebutnya kendil, yang dipanaskan di tungku kayu lalu teh di sangan sampai benar-benar kering. Tanpa pewarna dan tanpa pengawet, benar-benar alami, sampai rasa sangitnya masih terasa kalau diminum (enak loohhhh…). Baca tulisanya disini.

Keluar dari warung itu dihadapkan pada jalanan yang lebih hancur, tanjakan dan aspal yang sudah seperti sungai mengering.
Hanya jembatan Sibiting yang jalanya lebar, bagus aspal masih mulus, karena memang belom lama diperbaiki. Di jembatan ini sering ada orang berhenti memakirkan motornya, foto-foto atau hanya untuk melihat-lihat pemandangan sekitar sini. Sungai jauh dibawah tampak bagus terlihat dari jembatan, tak jarang pula primata-primata ikut bertengger di pepohonan sekitar jembatan. Memasuki perkebunan teh Ngliyer jalanan yang lebih pantes buat dijajah mobil offroad dobel gardan. Pakai mobil atau motor standar kecepatan saja 20km/jam sudah bagus sekali…
sejenis sedan, tipe-tipe seperti honda j*zz  atau mobil keluarga dengan kaki rendah tidak disarankan melewati sini. Sejenis toyota a*anza masih relatif aman. Yang sering ditemui disini adalah truk box, truk pengangkut sayur atau mitusbihi L300. Motor anak muda yang gahul abis juga tidak disarankan, kecuali kalau memang ingin pulang dengan kondisi motor yang semakin gak berbentuk. Ban kecil semakin rawan bocor ketika kena batuan yang tajam, shock yang ceper semakin sering blok mesin nyentuh batuan (paling parah ya blok mesin bocor), gak ada bengkel atau tambal ban di sepanjang hutan. Jok trepes bikin pantas panas dan “ngapal”…

Selepas kebun teh memasuki kawasan hutan, Orang sini menyebutnya alas Kluwung. dimulai dari jalan cor beton yang juga sudah mulai mengelupas. Tampak papan besar kaya papan reklame di kota besar bertuliskan “memasuki hutan lindung kabupaten Batang, jagalah hutan untuk anak cucu kita”. Pohon-pohon besar dan tua menjadi pemandangan selanjutnya. Variasi jalan cor beton dan cor batu sungai menjadi komposisi utama jalanan di tengah hutan ini. Beberapa meter cor beton dilanjut beberapa meter sungai mengering, terus silih berganti sampai ujung hutan. Tanjakan dan tikungan tajam menjadi menu wajib yang harus dilewati. Di hutan ini masih sering dijumpai anggrek hutan, kidang, kelinci hutan, kucing alas, burung deruk, burung gagak, burung jalak,  dan celeng. Katanya masih ada macan jawa, tapi berkali-kali lewat belom pernah menjumpainya… Bisa dikatakan hutan ini masih asri, hijau, indah dan sejuk. Sampai desa Sikesut, desa kecil ditengah hutan, dengan jalan cor beton yang hanya beberapa ratus meter. Dilanjut dengan tanjakan terpanjang sebelum keluar hutan. Tanjakan ini tidak terlalu terjal namum jalan hancur dan panjang menjadikan harus lebih waspada, apalagi kalau hujan datang, batu-batunya akan sangat licin. Sehabis tanjakan ini dihadapkan pada jalan datar aspal mengelupas dan kemudian cor beton yang masih bagus di tanjakan terakhir penghujung hutan. Disebelah timur sudah mulai nampak puncak gunung Kemulan (puncaknya perkebunan teh Pagilaran dan Ngliyer)

Sampai di penghujung hutan, daerah ini sudah merupakan daerah konservasi dataran tinggi Dieng yang masuk kabupaten Batang. Jalan cor beton, dikanan kiri adalah ladang pertanian warga. Ketinggian -/+ 1800 mdpl  dengan udara yang sudah semakin sejuk dan curah hujan tinggi menjadikan daerah ini daerah pertanian yang subur. Kentang, kobis, loncang, wortel, kacang babi, lombok bagong dan pohon pepaya kerdil a.k.a carica sudah mulai hidup disini. Desa Kayuabang, desa Gerlang, desa Kradenan komposisi jalan masih serupa, aspal hancur dan cor beton, dibumbui tanjakan tajam dan tikungan yang hampir 180°. Sewaktu hujan jalan menjadi lebih licin, karena tanah dan lumpur masuk di jalan, diharapkan sangat hati-hati. Bahkan kadang terjadi longsor di tebing-tebing curam sebelum memasuki desa Gerlang.

Ada sebuah pertigaan di desa Gerlang. Sebuah SD, sebuah puskemas pembantu dan sebuah toko pertanian berada disitu. Ke kiri akan menjumpai desa Sidongkal, Watulembu, Wonopriyo. Ambil lurus menuju desa Kradenan. Setelah melewati desa Gerlang dan tanjakan tajam memasuki desa Kradenan, jalan sudah mulai bagus. Aspal baru melapisi cor beton dibawahnya. Bisa dikatakan jalan desa Kradenan menjadi yang paling bagus untuk saat ini. Perbaikan jalan sekitar bulan Januari 2012 masih tampak awetnya (entah dalam jangka waktu 1 tahun mendatang). Sampai diatas desa Kradenan, jalanan datar dan disebelah kanan dijumpai tugu perbatasan kabupaten Batang dan kabupaten Banjarnegara. Perbedaan jalan terlihat disini, perbedaan perhatian pada daerah terpencil bisa disimpulkan disini.
Sedikit cerita. dulu pernah ada wacana kalau daerah-daerah terpencil disini, seperti desa Kayuabang, Gerlang, Sidongkal, Watulembu, Wonopriyo, Kradenan pernah “diminta” oleh pemerintah kabupaten Banjarnegara, dengan tujuan mau dirawat dan dipelihara. Maksudnya mau dibangun berbagai infrastrukturnya, terutama jalan. Tetapi pemerintah Batang tidak menyerahkanya begitu saja, secara sumber mata air PDAM yang memenuhi kebutuhan sebagian besar warga Batang berasal dari hutan ini. Tetapi Batang juga seperti “menganak tirikan” daerah sini. Bahkan sampai sekarang kebutuhan listrik desa-desa diatas yang masuk kabupaten Batang masih di suplay oleh Banjarnegara. Orang sini membayar listrik bulanan bukan di kecamatan Blado melainkan ke kecamatan Batur, Banjarnegara. Terlihat dari bawah, hutan dan kawasan desa-desa ini tak tampak ada tiang listrik yang berjajar dari kabupaten Batang, yang ada adalah tiang listrik dari jalanan Kecamatan Batur.

Back to focus… Setelah melewati tugu perbatasan jalan sudah relatif bagus, aspalnya masih terawat dan hanya sedikit lubang. Konon, tugu perbatasan berada di puncak gunung Penanggungan, oleh itu sebab setelah melewati tugu yang dijumpai adalah turunan dengan masih disertai tikungan tajam (teteup…). Sampai di desa Tlogobang, desa pertama setelah perbatasan Batang Banjarnegara. Bisa dikatakan jalan setelah tugu perbatasan adalah bagus (milik Banjarnegara) walau tetep masih ada sebagian jalan yang berlubang besar dan menjadi kolam dadakan sewaktu hujan. Sampai di pertigaan kecamatan Batur, jalan utama Banjarnegara – Batur – Dieng sudah merupakan jalan yang bagus dan dapat dilewati berbagai macam ras mobil dan motor :)

Estimasi waktu yang dibutuhkan dari Pantura Batang sampai Dataran Tinggi Dieng kurang lebih 2 jam (versi ngebut) dengan menggunakan sepeda motor. Jikalau menggunakan mobil atau sejenisnya dipastikan lebih dari 2 jam. Berikut rincian waktunya :
– Batang – Bandar : 30 menit
– Bandar – Gerlang : 30 menit
– Gerlang – Batur : 20 menit
– Batur – Dieng : 30 menit

 

Review singkat tentang kondisi jalan alternatif ke Dieng melewati Batang – Bandar – Batur per Maret 2012. Bisa dikatakan jalan ini adalah yang terdekat dari arah pantura (diluar segala kekuranganya). Berikut rute nya : (Batang – Wonotunggal) – (Bandar – Kambangan – Kembanglangit) – (Sikesut – Gerlang – Kradenan) – (Tlagabang – Batur) – Dieng.
Dibanding lewat (Pekalongan – Kajen – Linggoasri – Paninggaran – Kalibening – Wanayasa – Batur – Dieng).
Atau jalur Sukorejo, baik yang masuk dari (Banyuputih – Limpung – Bawang – Plantungan), atau Weleri, kemudian melewati (Ngadirejo -Jumprit – Tambi – Kejajar – Dieng) atau (Ngadirejo – Parakan – Kledung – Kretek – Wonosobo – Kejajar – Dieng)

Berikut visual review nya : Review Jalur Bandar – Batur

Telaga Dringo

Nama Dringo didapat dari tumbuhnya dringo di sekeliling telaga tanpa ditanam orang. Telaga itu juga merupakan bekas kawah yang meletus pada tahun 1786. Terletak di desa Mojotengah kecamatan Reban kabupaten Batang, dan langsung berbatasan dengan desa Wonopriyo kecamatan Blado kabupaten Batang, sejalur dengan kawah candradimuka yang sudah masuk desa Pekasiran kecamatan Batur kabupaten Banjarnegaara. Telaga ini merupakan salah 1 telaga yg terletak di salah 1 puncak Dieng. Kalau kita berdiri di salah 1 puncak di sekeliling telaga, maka akan tampak cekungan bekas kawah yg meletus dan sekarang terisi air tersebut. Telaga ini adalah telaga yang jarang dikunjungi oleh wisatawan Dieng, treking yang jauh sulit dan jalan yang kurang bagus menjadi alasan utama. Telaga ini asri dan bersih, banyak ikan yg bisa dipancing sesuka hati. Cocok untuk hiking dan area camp yang cukup tersembunyi.

Di salah 1 puncak di sebelah barat, belum lama ini (tahun 2009) ditemukan sekumpulan makam kuno yang konon adalah makam para syekh.
Terdapat 11 makam dan sebagian sudah diketahui siapa saja tokoh tersebut. Sebelum ditemukan makam areal ini adalah lahan pertanian warga berupa tanaman kentang dan kobis. Sekarang sudah dibangun bangunan berupa punden punden buat orang berziarah, walau belum banyak dikunjungi.

Baca juga : Semalam di Telaga Dringo

dieng

diengdieng