Gunung Prau – Spesies Jamur Liar (Wild Mushroom)

Jamur sering kita jumpai pada saat musim penghujan pada tempat-tempat yang lembab. Jamur tumbuh di kayu-kayu yang telah lapuk, serasah, jerami, dan bahan organik yang lainnya. Umur hidup jamur tidaklah lama, pada musim kemarau jamur sulit ditemukan kecuali pada lantai-lantai hutan yang iklim mikronya masih sangat bagus. Tidak semua orang mengetahui manfaat jamur, bahkan ada beberapa orang yang tidak tertarik untuk mengenalnya karena alasan kotor dan beracun. Beberapa jenis jamur telah diketahui bisa dimakan (edible mushrooms) bahkan ada yang berkhasiat obat. Tapi ada juga beberapa jenis lainya yang berbahaya untuk dimakan.

Identifikasi jamur liar di hutan Gunung Prau perlu dilakukan untuk mengetahui keragaman jamur liar yang tumbuh di dalamnya. Dari kegiatan identifikasi akan dapat diketahui jenis jamur apa saja yang berpotensi untuk dimakan, yang beracun, dan yang berkhasiat obat.

Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya, yaitu dalam hal : struktur tubuh, cara makan, dan reproduksinya.

a. Struktur Tubuh
Struktur tubuh jamur ada yang satu sel, misalnya: khamir, ada pula jamur yang multi seluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, misalnya : jamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.

Tubuh buah jamur pada umumnya tersusun oleh bagian bagian yang dinamakan  tudung/cap (pileus), bilah (lamellae), kumpulan bilah (gills), cincin (annulus/ring), batang/tangkai (stipe), cawan (volva), akar semu (rhizoids), sisik (scale)

b. Cara Makan
Untuk memperoleh makanan jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya yang akan disimpan dalam bentuk glikogen. Jamur bersifat heterotrof yaitu sebagai konsumen murni yang bergantung pada subtract yang menyediakan karbohodrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
  1. Parasit Obligatif, merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya, sedangkan diluar inangnya tidak dapat hidup, misalnya Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS).
  2. Parasit Fakultatif, merupakan jamur yang bersifat parasit jika mendapat inang yang sesuai, tetapi dapat bersifat saprofit jika tidak menemukan inang yang cocok.
  3. Saprofit, merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang telah mati.
c. Reproduksi
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generative) dan aseksual (vegetative). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Sedangkan secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu.
Berikut macam spesies jamur yang berhasil kami temui tumbuh di rimba Gunung Prau :








Identifikasi jamur dilakukan pada jalur tracking yang ada di dalam kawasan rimba Gunung Prau. Selama di lapangan dilakukan pengambilan gambar dengan kamera. Selanjutnya akan dilakukan identifikasi jenis berdasarkan bentuk, warna, dan ukuran tubuh buah dengan merujuk pada berbagai sumber. Kami sangat senang bilamana ada yang hendak bertukar informasi dan sharing dengan kami tentang bahasan ini. Terimakasih.

Daftar Referensi :
dhony-syach.blogspot.com
wikipedia

Gunung Prau – 1 Hari Bersama Sampah

Acara : 1 Hari Bersama Sampah
Waktu : 13 Januari 2013
Keterangan : Membersihkan sampah sisa aktivitas perayaan tahun baru 2013 di puncak Gunung Prau. Kumpul dari basecamp Bull Eggs Adv Jl. Dieng km 24 Patakbanteng Wonosobo, jam 7 – selesai

Awalnya pagi berangkat 5 orang dari basecamp. Mereka menyisir puncak dari tugu perbatasan Kendal – Wonosobo sampai menara pemancar di sebelah barat dan kembali lagi di tugu perbatasan Kendal – Wonosobo. Cuaca tidak mendukung, hujan campur badai… angin bertiup kencang sehingga tak banyak dokumentasi yang bisa terambil. Fokus pada kegiatan “mulungi sampah”, katanya. Saya dan 3 orang naik siang menyusul mereka, membawa beberapa logistik. Tapi ketika kami sampai di “cacingan” diatas pos 3 kita bertemu, akhirnya rombongan siang dengan 2 karung sampah dan rombongan pagi  dengan logistik yg fresh bersama turun ke pos 3. Praktis saya cuma punya dokumentasi kegiatan di pos 3.  Sore ini lumayan asik, tumpukan sampah dan kopi penetral dingin, istirahat ngemil sambil bercanda, hujan dan badaipun lumayan reda. Kami ber-sembilan turun, menjelang maghrib kami sampai desa \m/

Sekarung sampah – jalur cacingan

Menjelang turun di pos 3

2 karung sampah

Tiba di pos 3

Istirahat ngopi ngobrol di pos 3

MPCP (Mount Prau Conservation Program)

Preambule
Permasalahan utama yang sering timbul di kawasan hutan Gunung Prau adalah kebakaran hutan dan penggundulan hutan oleh masyarakat untuk kayu bakar dan para pembuat arang. Kebakaran selain dipicu oleh alam, juga disebabkan oleh sisa api para pembuat arang dan mungkin rokok masyarkat atau pendaki di musim kemarau. Dari data yang dikumpulkan teman-teman dari Bull Eggs, saat ini diwilayah Gunung Prau bagian selatan ada sekitar 45 hektar lahan yang gundul dan harus segera ditanami.
– Solusinya adalah dengan mengadakan bibit tanaman kehutanan dan melakukan reboisasi di kawasan hutan Gunung Prau. Diusahakan bibit tanaman yang ditanaman adalah tanaman hutan asli Gunung Prau dan yang tidak mempunyai nilai secara ekonomis hingga kemungkinan ditebang untuk dimanfaatkan oleh masyarakat kecil. Hal ini untuk menghindari penebangan atau pencurian di kemudian hari.
– Reboisasi akan dilakukan dengan populasi tanaman 500 pohon per ha dengan harga bibit tanaman kehutanan Rp 1.500 per pohon, jadi untuk luas lahan 45 ha dibutuhkan dana Rp 33.750.000. Dana ini secara bersama-sama akan dicari oleh panitia.

Masalah lain yang harus segera diselesaikan adalah kasus penangkapan dan pencurian satwa liar di kawasan hutan Gunung Prau. Kasus terbanyak adalah penangkapan burung penghuni kawasan hutan Gunung Prau dari lereng selatan. Juga perburuan liar satwa lain seperti kancil, rusa, macan, dan sigung, baik dikawasan hutan lereng utara, selatan, dan barat.
– Solusi dari perburuan dan penangkapan satwa liar ini adalah dengan mengadakan sosialisasi undang-undang tentang penangkapan dan perburuan satwa liar kepada para pemburu dan masyarakat di sekitar hutan Gunung Prau. Para masyarakat pemburu satwa liar akan dikumpulkan, terutama di wilayah lereng selatan untuk sosialisasi masalah pelarangan perburuan. Jika masih ada perburuan setelah sosialisasi maka undang-undang akan diterapkan dan akan diproses sesuai hukum yang berlaku.
– Solusi lainnya untuk sosialisasi adalah akan ada pemasangan undang-undang tentang perburuan satwa liar ini di jalur masuk pendakian di Pathak Banteng, Kenjuran, dan di Tugu Perbatasan di Puncak Teletubies.

Akan dilakukan pemetaan flora dan fauna di kawasan hutan Gunung Prau. Sebagai penanggungjawab yaitu Saudara Andi Gunawan sebagai seksi perlindungan satwa liar dan Nur Khamid sebagai seksi perlindungan tanaman hutan. Pekerjaan pemetaan flora dan fauna akan mendata flora dan fauna apa saja yang ada di kawasan hutan Gunung Prau, dan diharapkan ada jumlah populasinya. Juga pemetaan lokasi habitatnya.
Hasil pemetaan flora dan fauna ini selain berupa data jenis dan jumlah juga diharapkan ada data berupa foto dan video flora dan fauna yang ada. Untuk itu kedepan, akan dilakukan ekspedisi pendataan flora dan fauna secara bersama dengan team fotografer dan videografer. Juga akan dilakukan pelatihan pengenalan flora dan fauna dan pelatihan fotografi untuk teman-teman di lapangan.

Rencana jangka panjang adalah merubah status hutan yang ada di kawasan Gunung Prau menjadi daerah konservasi. Saat ini hutan ini masih dikelola oleh PT Perhutani, hingga masih banyak tumpang tindih kepentingan, baik masyarakat maupun para mantri PT Perhutani sendiri. Harapannya adalah hutan di kawasan Gunung Prau akan menjadi Taman Nasional Gunung Prau, sesuai tahapan yang berlaku di Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementrian Kehutanan.

Kampanye tentang target “Taman Nasional Gunung Prau” ini akan dilakukan bersama-sama, dengan membuat petisi online, dengan artikel di majalah dan koran, juga media online dan elektronik, dan akan menekan Kementrian Kehutanan untuk merealisasikan tujuan ini.
Kedepan, promosi dan kampanye akan dibantu oleh “Bee Violet” band yang ada dibawah management PT Samatha Music Indonesia. Bee Violet selain membantu kampanye dalam setiap performnya, juga akan membantu mencarikan dana untuk operasional teman-teman di lapangan.
Sebagai rumah untuk pekerjaan ini, akan dibentuk website yang berisi segala induk informasi di www.gunungprau.com.

Untuk legalisasi dan mewadahi pekerjaan teman-teman yang bekerja untuk pelestarian hutan di Gunung Prau ini maka akan dibentuk lembaga dan dilegalkan dengan bentuk Yayasan. Tujuan legalisasi ini adalah untuk memudahkan membentuk jaringan dan berhubungan dengan lembaga serupa baik di dalam maupun di luar negeri, dan pertanggungjawabannya jelas.

Nama Yayasan yang sampai saat ini disepakati adalah “Yayasan Pelestarian Gunung Prau”.

1. Sebagai “Ikon” Gunung Prau yang akan menjadi logo dan nilai jual kawasan Gunung Prau adalah tanaman atau satwa endemik yang ada di Gunung Prau. Disepakati, ikon yang akan digunakan adalah kantong semar yang ada di Gunung Prau, yaitu Nepenthes gymnamphora. Jika akan menggunakan perwakilan flora dan fauna, maka akan digunakan Nepenthes gymnamphora dan Nisaetus bartelsi.

2. Program pendanaan untuk mendukung pekerjaan akan dibuat dengan prioritas sumber dana adalah swadaya. Dengan cara membuat sebuah badan usaha yang bidang usahanya akan dipikirkan sambil berjalan nanti. Salah satunya adalah dengan mematenkan nama “Prau” ke Dirjen HAKI oleh Yayasan Pelestarian Gunung Prau dalam berbagai kategori produk. Selanjutnya nama “Prau” akan menjadi merk dagang, dan yang menggunakan merk ini akan membayar royalti kepada Yayasan Pelestarian Gunung Prau untuk sumber dana.

3. Akan dilakukan pelatihan dan standardisasi terhadap guide yang akan memandu para pengunjung ke kawasan Gunung Prau. Kemudian akan dibuat dua trip dari pintu masuk Pathak Banteng. Yaitu “Sunrise Trip” dan “Gymnamphora Trip”. Pelatihan juga akan dilakukan untuk calon guide di lereng utara. Untuk promosi wisata kawasan Gunung Prau akan dibuat foto-foto dari Puncak Prau dan dipublikasikan di hotel-hotel dan penginapan serta di TIC (Tourist Information Centre) di kawasan Dieng Plateau.

4. Untuk merangsang masyarakat di sekitar Gunung Prau lebih peduli lingkungan maka tiap tahun Yayasan Pelestarian Gunung Prau akan memberikan award kepada masyarakat yang berperan besar terhadap pelestarian kawasan Gunung Prau. Award akanberupa piala berupa simbol Gunung Prau dan berupa uang yang akan dicari dari sponsor atau lembaga lain. Nama award ini diusulkan adalah “Gymnamphora Award”. Dan untuk tahun 2013 salah satu nominator penerima “Gymnamphora Award” adalah pak Basri yang berada di Desa Kenjuran, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal.

5. Setelah susunan panitia terbentuk, program kerja selesai, dan legalitas Yayasan Pelestarian Gunung Prau siap, maka pengurus akan melakukan audience kepada pihak-pihak terkait. Misalnya kepada PT Perhutani, BKSDA, Bupati Kab. Kendal, Wonosobo, Banjarnegara, dan Pekalongan. Juga kepada Kementrian Kehutanan.

6. Untuk kesuksesan pekerjaan ini maka dibentuk pengurus yang terdiri dari: Disini

Mount Prau Conservation Program, Patean-06 Februari 2013
(Notulen Rapat)

MPCP Activity :