Di Balik Keindahan Alam dan Budaya Dieng

Dieng… mendengar namanya akan langsung terpikirkan sebuah area pegunungan yang sangat dingin. Ya, Dieng adalah sebuah kaldera raksasa dari gunung Prau purba. Konon Dieng adalah sebuah cekungan bekas letusan kawah gunung Prau purba yang begitu besar. Dan bekas kawah itu menjadi pemukiman penduduk dengan pertanian yang sangat subur. Selain itu, Dieng adalah salah satu obyek wisata andalan Jawa Tengah yang dimiliki oleh kabupaten Wonosobo (dieng wetan) dan kabupaten Banjarnegara (dieng kulon).

kaldera dieng, dikiri adalah telaga warna dan pengilon

Dari sisi wisata, Dieng mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Untuk wisata dataran tinggi, Dieng merupakan tujuan wajib bagi turis mancanegara selain Bromo-Tengger-Semeru di malang dan kawah Idjen di Banyuwangi. Banyaknya pengunjung, dilengkapinya fasilitas dan diperbaikinya infrastruktur menjadi contoh wisata Dieng berkembang dengan baik. Keunggulan Dieng, banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi dalam satu komplek. Lihat saja, Telaga warna, telaga pengilon, komplek goa semar, DPT, kawah sikidang, candi bima, sunrise sikunir, telaga cebong menjadi obyek yang dimiliki oleh Wonosobo. Kemudian komplek candi arjuna, museum kailasa, candi dwarawati, kawah sileri, kawah candradimuka, sumur jalatunda dan telaga merdada menjadi milik Banjarnegara. Wisata budaya diwakili oleh candi-candi dan bangunan purbakala lain. Wisata alam banyak dijumpai berupa telaga, kawah dan keindahan alam lain. Satu area yang komplit dah banyak pilihan obyek wisata.

penginapan

Banyaknya penginapan, tersedianya transportasi, internet dan fasilitas lain menjadikan Dieng lebih baik. Dari segi ekonomi pun sangat membantu perekonomian warga pribumi Dieng. Membuka penginapan, membuka warung makan, jualan souvenir, jualan oleh-oleh, tukang ojek, rental mobil dan motor, pengusaha warnet dan guide adalah pekerjaan yang muncul setelah Dieng menjadi obyek wisata yang berkembang. Perekonomian  Dieng menggeliat, banyak pilihan profesi dan tidak melulu bertumpu pada sektor pertanian. Walau tetap di sisi lain pertanian masih banyak diminati oleh warga Dieng. Warisan alam yang begitu subur ini sangat sayang untuk didiamkan. Wortel, kobis, loncang, lombok bagong dan kentang adalah sayuran yang sering ditemui di ladang pertanian sekitar Dieng. Hasil pertanian tersebut biasanya dikirim ke kota-kota di sekitaran Jateng – DIY, Bandung dan Jakarta. Satu lagi, buah-buahan yang hanya tumbuh di dieng yang biasa disebut carica. Seperti pepaya tetapi lebih kerdil ukuranya dan baunya wangi. Buah ini biasanya diolah menjadi manisan carica, dikemas dalam botol dan menjadi salah satu oleh-oleh andalan khas Dieng.

candi dwarawati, candi di kaki gunung prau

carica

Dari sisi spiritual, dieng juga tak kalah mistis. Sebut saja goa semar. Salah satu goa yang terletak ditengah-tengah telaga warna dan pengilon. Di sebelahnya terdapat goa jaran dan goa sumur yang konon di dalam goa, antara goa satu dan goa lain saling terhubung. Goa ini bisa dilihat dari luar tetapi tidak sembarang orang boleh masuk. Di bibir goa ditutup pakai pintu besi dan digembok. Di dalam goa sering digunakan untuk ritual, semedi, meditasi, yoga,  dan kegiatan semacamnya oleh orang yang berkepentingan. Dan tentunya setelah mendapat ijin dari sang juru kunci Dieng, pak Rusmanto salah satunya . Gunung kendil, gunung pakuwaja, gunung bisma dan gunung prau adalah gunung-gunung yang dikeramatkan dan sering digunakan untuk kegiatan ritual. Masih bisa ditemuin dupa, menyan dan kembang di tempat ritual gunung-gunung tersebut.

gunung pakuwaja, batu besar untuk ritual

Dari segi alam, Dieng menyuguhkan berbagai keindahan alam lukisan maha pencipta. Kawah-kawah yang telah mati dan kemudian terisi air, kawah-kawah yang masih hidup , air terjun, bukit-bukit kecil, dan sumber air panas. Tetapi dibalik keindahan alam tersebut ada bahaya yang mengancam baik dari dalam atau dari luar tanahnya. Dimulai dari luar, keadan para petani kentang dan tanaman sayuran lain yang memanfaatkan lahan miring di perbukitan dan gunung-gunung kecil dapat memicu terjadinya erosi dan tanah longsor. Hutan yang seharusnya menjadi daerah resapan air dengan tanaman kayu keras dan akar tunggang berubah menjadi lahan gembur pertanian berakar serabut. Yang secara otomatis akan sangat mengurangi daya cengkeram tanah saat hujan turun. Tanah yang seharusnya stabil akan mudah tergerus kebawah bersama air hujan, mengingat curah hujan di dieng cukup tinggi. Sekarang pun longsor kecil sudah sering terjadi kalau hujan turun berjam-jam. Di bahu-bahu jalan, di tebing-tebing longsor sudah menjadi pemandangan wajib. Salah satu puncaknya adalah peristiwa longsor di desa Tieng, akhir Desember 2011. Puluhan rumah warga hancur dan belasan nyawa menjadi korban. Itu terjadi karena lereng timur gunung prambanan telah gundul, dari hutan berubah menjadi lahan pertanian.

telaga warna, salah satu warnanya adalah karena belerang

salah satu kawah di gunung pangonan

kawah sikidang

Tetapi sebagian warga sadar akan hal tersebut. Bersama pemerintah, sudah beberapa daerah rawah longsor mulai ditanami pohon keras. Mengembalikan kodrat awal lahan miring menjadi lahan hidup tanaman keras. Gunung sikunir sekarang tampak lebat kembali, pohon-pohon mulai besar dan petani sudah dilarang kembali membuka lahan di area tersebut. Di puncak sebelah utara gunung prau pun mulai tumbuh kembali tanaman keras seperti cemara dan pinus. Walau masih kecil, setidaknya sudah ada langkah untuk mengembalikan gunung dan lahan miring menjadi hutan kembali. Dan di beberapa tempat lain, semoga kegiatan ini terus berjalan.

papan larangan kph kedu utara

salah satu sumur pltu geodipa

telaga dringo, bekas kepundan kawah

Kedua, bahaya dari dalam tanah, mengingat Dieng adalah daerah yang masih aktif. Fumarol dari bekas gunung berapi yang masih sering dijumpai mengeluarkan asap dan gas. Solfatara yang terdapat di kawah-kawah belerang dengan gas CO dan CO2 sangat berbahaya bagi manusia dan hewan jika berbaur dalam konsentrasi tinggi. Seperti yang pada peristiwa kawah Senila 20 Februari 1979 , 149 warga desa Pekasiran meninggal menghirup gas CO (karbon monoksida) dan yang terbaru ini, meningkatnya aktifitas kawah timbang (2011) yang mengegerkan warga Batur walau tak sempat merenggut korban jiwa.

Bagai dua sisi mata koin, dibalik peninggalan budayanya yang kuat, dibalik keindahan alamnya yang hebat, terdapat dua potensi dari tanah yang bisa dibilang bom waktu bagi Dieng sendiri, bisa muncul kapan saja jika alam berkehendak. Mari kita jaga dan rawat alam ini, hingga tercipta suatu timbal balik yang saling menguntungkan.

Wasallam :)

Disadur dari tulisan pribadi di Blog Kompasiana Cincin Api (klik ikon)

*Semua poto adalah karya pribadi

Advertisements

Gunung Prau – Pagi Sukorejo

GUNUNG PRAU – SUKOREJO, KENDAL – 07.12 PAGI

Gunung Prau – Awesome Juli

Ceritanya simple…

Kami ber 3 berangkat nanjak dari Dieng jam 2 siang, jalur mainstream.
Tanpa dokumentasi karena langsung tancap gas, ngibrit bagai anjing kena timpuk,
tak lupa ditambah ngos – ngosan tapi gak pake julurun lidah loh yah #Skip

Sampai pada hutan tower sekitar jam 4 sore dan langsung turun ke punggungan gunung menuju savana, dimana kanan jalan adalah jurang dan kalau jatuh saja bisa nyampe Dieng lagi. Bagai turun step karena nginjek lantai ular di permainan ular tangga #End

#1 – Ini poto di salah 1 puncak Prau, jepretan pertama dalam jalan sehat sore ini

#2 – Duduk – duduk di savana, nikmatin angin sepoi – sepoi

#3 – Hamparan bunga daisy (sepertinya sih spesies daisy endemik prau)

#4 – Bukit cinta (salah satu bukit di puncak prau )

#5 – Dobel S, “awesome”. Ini keesokan paginya

#6 – Landscaper, nunggu sunrise

#7 – Tinggal kasih jubah dah mirip “scarecrow”

#8 – Looks warm , kanan bawah “Taman Sireang” camp area

#9 – Kontur puncak gunung yang unik. Adakah ditempat lain? beri tahu saya

#10 – Before sunrise, Bukit Singgeni mendadak tertutup kabut

#11 – Three maskenthir, tugu perbatasan (ki – ka : danar – me – eko)

#12 – Trekking pulang

#13 – Telaga wurung berkabut, penuh dengan butiran butiran embun

#14 – Tiba di bukit pertama njepret, dan itu buah Cantigi

#15 – Romansa di ketinggian

#16 – Landscape Hunter

#17 – Perjalanan turun, ketemu ibu muda yang lagi ntraining putra putrinya

#18 – Pemuda tanggung di penghujung jalan (depan gunung Pangonan)

Sampai jumpa di Prau lagi :)

Gunung Prau – Jeroen and Leentje Honeymoon

Sudah 2 hari saya di Jogja, ngrampungin beberapa urusan yang emang kudu rampung hari ini. Di hari kedua pengenya sih nyantai di Jogja sampai beberaapa hari ke depan, nemuin beberapa teman lama, ngumpul nongkrong ma gerombolan dan menginap dirumah bapak tampan GAP. Siang itu cukup panas, dan saya masih selonjoran dikos teman daerah Jakal. Rencana sih sore ini ke angkringan kopi jos Lek Man, kebiasaan yang dulu sering saya lakukan dikala masih stay di Jogja. Teh panas, sate kulit, tempe bakar, sego kucing, para igo dan suara suara khas stasiun Tugu Jogja, hmmmmmm #hug

Gak lama berselang hp berdering, telp dari mas Dwi, seorang kerabat dari Dieng. Setelah obrolan telepon selesai saya langsung berubah pikiran dan berkemas pulang sore ini juga. Ya… karena ada pasangan suami istri dari Belgia pengen honeymoon di puncak Prau. Bareng mas Dwi saya disuruh mandu in 2 bule tersebut.  Sempet bingung tapi saya mengiyakan  juga tawaran tersebut heheee
Jam 3 sore saya bergegas dari Jogja ke Dieng. Acara nyantai di Jogja pun gagal!

Sampai Dieng sekitar jam 9, langsung disambut mas Dwi dengan secangkir kopi panas. Malam itu di homestay Bu Jono cukup ramai, banyak yang menginap atau sekedar makan malam. Tetapi si bule yang hendak ke Prau pun sudah tidur dikamar atas. Ada sekumpulan mahasiswa dari Jakarta di restoran, saya ikut bergabung menghangatkan diri dengan obrolan dengan mereka.
Jam 11 pun beranjak tidur, selain dingin dan sudah sepi, juga karena besok berangkat trekking mulai jam 3 pagi, huuuaahhh…

Jam 3 pagi dibangunin mas Dwi, mata sepet dan dingin bikin malas juga buat beranjak hahaa… *dirumah aja ga pernah bangun jam segini #hammer
Sedikit adapatasi, cuci mata dan secangkir kopi badan kembali fit dan siap untuk serangan fajar. Di kursi depan kenalan ma tuh bule suami istri, yang cewek bernama Leentje yang cowok bernama Jeroen.

Trekking dimulai dalam situasi gelap gulita. Suasana cukup cerah, bintang bintang masih terlihat di langit, udara tak begitu bertiup kencang. Fokus jalan dan hanya sesekali istirahat buat minum… Foto malam juga ga mungkin, takut ada yang ikut nyempil di frame ihihii…

Jam setengah 6 sampailah di puncak tempat istirahat. Dirikan tenda ma mulai masak masak. Saya nyiapin kopi dan setelah selesai gantian anteng lihatin mas Dwi sibuk nyiapin sarapan tuh bule. Duduk diam  nyruput kopi sambil ngliatin pantai utara dari titik ini, terlihat kapal yang tampak  kecil berada di tengah lautan #wow. Nyemil roti selai sambil ngobrol ngobrol ringan ma tuh pasangan, walo kadang ga ngerti apa yang mereka bicarakan #ngakak
Setelah kenyang semua pada tiduran melepas capek, sembari lihat langit dan berpikir enak juga kalo ada tukang pijit disini. Saya mas Dwi selonjoran di dalem tenda, dan kedua bule tersebut milih tiduran diluar pake matras *mereka pikir pantai kali ya berjemur hahhaaa. Tapi dingin dingin gini emang enaknya karing.

Jam 10 kami bergegas melanjutkan trekking ke savana prau dan bukit teletabis. Setelah packing rampung dan sedikit briefing oleh mas Dwi, perjalananpun dilanjutkan. Dannn… selanjutnya biar poto yang berbicara lah ya :) #capek nulis… siigghhhh

istirahat begitu sampai disalah satu puncak prau

menunggu sarapan & kopi buatan mas dwi

jeroen : hey girl… what can i do for u? *hehe

ngiri ma mereka :(

briefing sebelum melanjutkan trekking

menyebrangi savana prau

sindoro sumbing tertutup awan

hallooo gan :)

Dan cerita liburan mereka di Indonesia dibungkus rapi di blog nya si Leentje : debbiegijsegeit

Desa Pranten

Pranten merupakan salah satu desa di kecamatan Bawang kabupaten Batang yang berbatasan langsung dengan dataran tinggi Dieng. Berada di kaki gunung Prau sebelah utara dan lereng gunung Sipandu sebelah timur dengan ketinggian +/- 1700 mdpl. Kelurahan Pranten terbagi menjadi beberapa dusun, diantaranya; Siglagah (sekarang bernama Rejosari), Sigemplong, Bintoro serta Pranten itu sendiri. Dan beberapa desa lain rangkaian gunung Prau dan gunung Sipandu, yaitu; desa Pawuhan, Bitingan, Deles.
Secara letak Pranten dan Dieng sangat dekat, hanya dipisahkan gunung kecil yaitu gunung Sipandu dan desa yang bersebelahan di bagian Dieng adalah desa Pawuhan (desa sebelah timur PLTU Geo Dipa). Tetapi secara administratif sudah berbeda kabupaten, Pranten kabupaten Batang, Pawuhan kabupaten Banjarnegara.

Desa ini adalah desa terakhir semua akses kendaraan. Karena untuk menuju Dieng dari desa ini harus berjalan kaki di kaki gunung Sipandu, melewati jembatan rusak  yang tak lekas selesai pembangunanya, dan areal pertanian warga.
Jikalau memutar arah akan cukup jauh, untuk lewat jalur timur harus melewati Sukorejo (Kendal) – Ngadirejo (Temanggung) – Tambi – Kejajar dan Dieng. Untuk lewat jalur barat harus melewati Reban – Blado – Bandar (Batang) Batur (Banjarnegara) dan kemudian Dieng.

Sepanjang kurang lebih 15 Km, jalur Pranten adalah jalur kuno untuk masyarakat Dieng menjual hasil sayur ke pasar Bawang. Karena jaman dulu sebelum ada angkutan, pasar Bawang merupakan pasar terdekat yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Dieng, dibanding pasar Batur dan pasar Kejajar. Menurut cerita, dahulu para petani Dieng bisa berangkat pukul 02.00 / 03.00 dini hari dan sampai pasar Bawang menjelang fajar. Tidak heran kalo Dieng – Bawang mempunyai hubungan yang erat, antara puncak gunung dan kaki gunung. Banyak terjadi hubungan yang berakhir ke pernikahan antara petani sayur dan penjual di pasar serta orang orang yang berada dalam lingkaran tersebut. Bahkan sampai sekarang, beberapa orang Dieng mempunyai suami/istri orang Bawang, begitu sebaliknya.

gunung prau

gunung sipandu

Di Pranten sendiri, sebagian besar mata pencaharian warga betumpu pada pertanian, terutama sayur. Ada areal tembakau tetapi tak banyak. Masyarakat disini cukup ramah, khas penduduk pegunungan. Banyak sumber air  yang cukup jernih, dan mata air kecil dari sini  menjadi sungai besar di kecamatan Bawang dan bermuara di pantai utara.

Ada akses lain dari Bawang ke Dieng yang bisa dilewati kendaraan. Jalurnya sama dari pertigaan pasar Bawang, kemudian ambil kanan menuju desa Deles. Dari Deles terus ke selatan dan akan bertemu dengan desa Bintoro – Sigemplong – Siglagah – Pawuhan – Dieng. Itupun bisa dilewatin saat musim terang dalam kondisi jalan agak bagus. Kalau musim hujan akan sangat licin dan sulit dilewati.

jembatan rusak pranten – siglagah yang terbengkalai pembangunanya

Pranten dengan background desa Sigemplong

Ada 2 air terjun bagus yang saling bersebelahan disini. Air terjun dengan sumber mata air panas dari proses geothermal di pegunungan Dieng.  Dan kawah Pagerkandang gunung Sipandu yang jarang dikunjungi wisatawan Dieng. Akan saya ulas dilain kesempatan.

Jika ingin merasakan hawa khas pegunungan, suasana desa yang asri, adem, sejuk, pemandangan hijau di kanan kiri serta keramah tamahan penduduknya, atau bahkan ingin terjun langsung membantu petani bercocok tanaman sayur, tidak salah jika Pranten menjadi alternatif tujuan refreshing.

Rute Bawang – Dieng :
Pasar Bawang  – Pranten (buntu, semua kendaraan berhenti di desa ini, ke Dieng dilanjutkan dengan jalan kaki)
Pasar Bawang – Deles – Bintoro – Sigemplong – Siglagah – Pawuhan – Dieng (jalan hanya bisa dilewati kendaraan roda 2 dan layak dilewati sewaktu musim kemarau)

gunung Sipandu dari jalanan desa

Pranten road

Baca juga : Curug Sirawe

Ranti

Ranti, sayuran tradisional yang tumbuh di hutan Gunung Prau. Buahnya kecil, jika masak akan berwarna ungu seperti anggur. Biasanya, tanaman ini cuma dimanfaatkan daunya, dan banyak dijual di pasar pasar tradisional. Tumbuhan bernama latin Solanum nigrum L termasuk terna berumur pendek (1 tahun). Tumbuhan ini juga digunakan sebagai obat – obatan sejak lebih dari ribuan tahun lalu. Namun dalam masyarakat kita, lebih banyak dikonsumsi sebagai lalapan atau sayuran. Karena merupakan tumbuhan liar, maka panennya pun berdasarkan musim. Di musim penghujan tanaman ini akan menjamur di tanah tanah hutan, sedangkan dikala kemarau akan sulit ditemui

Nama umum
Indonesia : Ranti, Leunca (Sunda)
Inggris : Black Nightshade
Melayu : Ranti
Pilipina : Kama-kamatisan
Cina : Long kui
Latin : Solanum nigrum L

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus: Solanum
Spesies: Solanum nigrum L.

Deskripsi Morfologi
Tanaman ini termasuk ke dalan golongan semak, dengan tinggi lebih kurang 1,5 m.
Akar     : Berupa akar tunggang, dengan warna putih kocoklatan.
Batang : Mempunyai batang tegak, berbentuk bulat, lunak, dan berwarna hijau.
Daun    : Berdaun tunggal, lonjong, dan tersebar dengan panjang 5 – 7,5 cm ; lebar 2,5 –3,5 cm. Pangkal dan ujung daun meruncing dengan tepi rata. Pertulangan daun menyirip. Daun mempunyai tangkai dengan panjang ± 1 cm dan berwarna hijau.

Bunga : berupa bunga majemuk dengan mahkota kecil, bangun bintang, berwarna putih, benang sari berwarna kehijaunan dengan jumlah 5 buah. Tangkai bunga berwarna hijau pucat dan berbulu.

Buah : berupa buah buni berbentuk bulat, jika masih muda berwarna hijau, dan berwarna hitam mengkikat jika sudah tua. ukurannya kira-kira sebesar kacang kapri

Biji     : berbentuk bulat pipih, kecil- kecil, dan berwarna putih

Khasiat & Manfaat
Luar Negeri :

  • Buah dan daunnya sebagai obat pusing (di Meksiko)
  • Mengurangi radang ginjal, kandung kemih, dan antidiare (di Cina)
  • Menyembuhkan penyakit anjing gila (di India)
  • Getahnya dapat dapakai sebagai obat kutilan (gangguan pada kulit)
  • Rebusan air daunnya dapat melancarkan buang air kecil, batuk, menurunkan tekanan darah tinggi, dan dapat mengurangi jumlah sel darah putih dalam tubuh
  • Sebagai zat antirematik (di Nigeria)

Indonesia :

  • Buahnya yang agak pahit bisa buat obat herpes simpleks
  • Daunnya buat nyembuhin borok atau kelainin pada kulit
  • Di beberapa daerah di Indonesia, daunnya di taruh di ayunan bayi supa adek bayi bisa cepet bobonya
  • Daun dan buahnya yang telah dikeringkan bisa dikonsumsi untuk mengobati sakit pinggang, encok dan nyeri otot. secara empiris tumbuhan ini bahkan mampu mengobati cacar air atau campak, ketergantungan alkohol, gastritis dan bekas luka bakar

ranti, poto diambil di semak hutan pinus gunung prau

* Disadur dari berbagai sumber