Curug Sirawe

Sempat bingung mau nulis dalam bentuk FR (field report) atau hanya sekedar informasi baku tentang curug ini :D. Setelah dipikir, mending menggabungkan 2 gaya tersebut #uhuk

Untuk kesekian kali, bukan hal umum yang saya tulis tentang apa yang ada di kawasan dataran tinggi Dieng. Sudah banyak yang menulis tentang apa itu telaga warna, kawah sikidang, komplek candi arjuna dan hal mainstream lainya di Dieng. Itu standar dan tidak akan saya ulas. Dan mungkin juga sudah ada beberapa postingan di internet yang menulis tentang curug ini… tp saya mencoba menyajikanya ala blog ini sendiri.

Sebenarnya… secara wilayah curug sirawe masuk dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang, kabupaten Batang. Karena sejarah, orang lebih banyak mengetahui curug ini masuk wilayah Banjarnegara, tepatnya desa Bitingan. Lalu bagaimana sejarahnya? Katanya… dulu curug ini sempat menjadi rebutan 2 kabupaten, Banjarnegara dan Batang. Pihak Banjarnegara mengklaim curug sirawe sebagai asetnya karena memang sumber mata air curug (di desa Bitingan) masuk wilayah Banjarnegara. Pihak Batang tidak begitu saja meng-iya-kan klaim tersebut, karena memang curugnya sudah masuk wilayah Batang. Pihak Batang berdalih, kalau memang curug tersebut mau diaku menjadi milik Banjarnegara, pihak Banjarnegara tidak diperkenankan mengalirkan aliran sumber mata air dari desa Bitingan tersebut ke wilayah Batang oleh pihak Batang. Dengan begitu Banjarnegara diharuskan mencari jalan lain untuk meneruskan aliran sumber mata air tersebut ke wilayah Banjarnegara sendiri, tidak ke wilayah Batang. Batang rela tidak memiliki curug Sirawe asal air yang mengalir dari wilayah Banjarnegara tidak mengalir ke wilayah Batang. Itu dirasa sulit dilakukan, karena cekungan atau daerah yang lebih rendah tempat jatuhnya air yang terdapat di sekitar daerah tersebut merupakan wilayah Batang. Dan kontur disitu murni proses alam atau lebih luasnya adalah ciptaan Tuhan. Aliran air dari curug ini menjadi sungai besar di kecamatan Bawang dan bermuara di pantai utara. Jadi bisa disimpulan seperti ini :

  • Mata air berasal dari wilayah Banjarnegara, tepatnya dusun Bitingan, desa Kepakisan, Kecamatan Batur
  • Air yang mengalir manjadi curug sudah masuk wilayah Batang, tepatnya dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang

Karena proses pemikiran tersebut curug Sirawe jatuh ke pangkuan Batang. Tetapi pihak Batang tidak serta merta membangun sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata di tempat ini, apalagi mempromosikanya. Curug ini dibiarkan saja seperti aslinya. Mungkin Batang sudah berpikir antara anggaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang akan didapat. Tetapi entah nanti jika Batang berubah pikiran :). Jika dipikir, untuk membangun proyek besar ini sebagai obyek wisata yang potensial di kabupaten Batang, maka Batang harus memperbaiki jalan antara Bawang – Bintoro – Sigemplong, atau jalan antara Bawang – Pranten – Sigemplong dan jembatan di selatan desa Pranten yang entah bagaimana kabarnya :)
Review nya bisa dilihat disini : Desa Pranten

Berbicara akses ke curug Sirawe, ada 2 jalur yang bisa dilewati. Pertama jalur Pawuhan (Geodipa) – Siglagah – Sigemplong. Dari Pawuhan dihadapkan jalanan aspal dan cor beton yang mengelupas. Sesampai Sigemplong kendaraan berhenti disini, dilanjut dengan jalan kaki ke atas desa, ke lereng gunung Sipandu. Kemudian menyusuri jalan setapak alternatif penghubung desa Sigemplong dan desa Bitingan. Jalur ini sulit dan jauh. Akan lebih sulit dan berbahaya di musim hujan.
Jalur kedua bisa lewat Kepakisan – Kawah Sileri –  Bitingan. Jalur ini lebih dekat dari jalur Sigemplong. Jalanan aspal mengelupas tetap bisa dijumpai dari pertigaan kawah Sileri sampai desa Bitingan. Sampai desa Bitingan semua kendaraan berhenti, menuju curug dilanjut dengan jalan kaki.
Kedua jalur tersebut sama sulitnya ketika memasuki turunan curug Sirawe, terlebih jika musim hujan.

Mengenai hal lain, curug ini gabungan dari air panas dan air dingin serta 2 air terjun yang berjejer. Air panas berasal dari proses geothermal di pegunungan Dieng, dan air dingin dari sungai biasa. Yang saya lihat, disekitar curug masih terjaga hutan heterogen khas dengan pohon pohon besarnya.

ツ ツ ツ

Saya dan tim berangkat dari Dieng sekitar pukul 9 malam, lewat jalur Pawuhan Siglagah Sigemplong. Sekitar 15 menit kami sampai di Sigemplong, mampir ke rumah sesepuh desa tersebut. Nitip motor dan pamitan untuk bermalam di wilayah curug Sirawe. Perjalanan dilanjut jalan kaki menyusuri lereng gunung Sipandu, sepi gelap dingin dan berkabut. Sesampai tempat yang di maksud, kami bingung hendak dimana mendirikan tenda. Karena tempat landai sangat jarang dan ini merupakan bukan area camp yang wajar. Setelah pilah pilih tempat diputuskan nenda di samping perkebunan kentang warga, dimana sebelah baratnya adalah jurang curug Sirawe. Tak banyak yang dilakukan setelah tenda berdiri, ngobrol dan ngopi saja. Sesekali terdengar hembusan suara air curug yang terbawa angin. Malam ini beraura horor tapi saya suka :D. Pukul setengah 12 an kami tidur didalam tenda zzz…

Keesokan harinya, pagi jam 6 kurang 5 menit bangun dan keluar tenda, subhanallah… tepat dibelakang tenda terlihat jauh 2 curug yang berjejer tersebut, ini yang di cari! Pemandangan ini tidak kami jumpai semalaman… Terbayar rasanya bermalam disini dengan berbagai rasa semalam. Desa Bitingan nampak tertata rapi diatas curug. Dari sebelah timur muncul mentari dari sisi gunung Prau, di sebelah tenggara ada gunung Sipandu, di sebelah utara nampak ijo hutan hutan lebat. Spot yang komplit buat selow… Banyak ditemui petani yang berangkat berkebun dan tampaknya mereka bingung dengan keberadaan kami. Bermalam di tempat seperti ini mau cari apa tanya-nya…
Mengemas tenda dan perabot camp done, dilanjut jalan ke timur menyusuri lereng Sipandu, kembali menuju desa Sigemplong tepatnya. Sambil berjalan melihat aktivitas petani sekitar sini, sesekali mengobrol. Perjalanan kembali ke Sigemplong cukup lama, karena melewat jalur memutar arah desa Bintoro. Di jalur ini masih banyak terdapat tanaman ucen liar dan gandapura. Pukul 10 pagi tiba dirumah sesepuh desa Sigemplong tempat menitip motor. Gak lama berselang kami berpamitan. Sampai di penghujung desa mampir dulu di sumber air panas, berniat mandi dan melepas lelah. Kurang lebih 1 jam berada di pancuran air panas ini dan hasilnya… sangat freshhh! #lebaydikit
Pukul 12 siang lebih kami sampai lagi dieng :D

Desa Bitingan nampak diatas curug Sirawe

Matahari pagi dari samping gunung Prau

Gunung Sipandu

Lahan kentang & langit di sebelah utara

Hutan lebat disebelah barat, berjajar sampai telaga Dringo

Desa Pranten dari atas Sigemplong

Ucen liar

Lebih dekat lagi dengan Ucen

Gunung Prau

Pancuran air panas

Pemandangan depan pancuran, sekitar lereng Prau

Curug kecil sekitar pancuran air panas

Pemandangan desa Pranten dari sekitar air panas

Perkebunan Teh Ngliyer


Buat sekedar tiduran semalam sembari lihatin bintang-bintang & ngopi-ngopi diluar.
simple & easy :)

Desa Pranten

Pranten merupakan salah satu desa di kecamatan Bawang kabupaten Batang yang berbatasan langsung dengan dataran tinggi Dieng. Berada di kaki gunung Prau sebelah utara dan lereng gunung Sipandu sebelah timur dengan ketinggian +/- 1700 mdpl. Kelurahan Pranten terbagi menjadi beberapa dusun, diantaranya; Siglagah (sekarang bernama Rejosari), Sigemplong, Bintoro serta Pranten itu sendiri. Dan beberapa desa lain rangkaian gunung Prau dan gunung Sipandu, yaitu; desa Pawuhan, Bitingan, Deles.
Secara letak Pranten dan Dieng sangat dekat, hanya dipisahkan gunung kecil yaitu gunung Sipandu dan desa yang bersebelahan di bagian Dieng adalah desa Pawuhan (desa sebelah timur PLTU Geo Dipa). Tetapi secara administratif sudah berbeda kabupaten, Pranten kabupaten Batang, Pawuhan kabupaten Banjarnegara.

Desa ini adalah desa terakhir semua akses kendaraan. Karena untuk menuju Dieng dari desa ini harus berjalan kaki di kaki gunung Sipandu, melewati jembatan rusak  yang tak lekas selesai pembangunanya, dan areal pertanian warga.
Jikalau memutar arah akan cukup jauh, untuk lewat jalur timur harus melewati Sukorejo (Kendal) – Ngadirejo (Temanggung) – Tambi – Kejajar dan Dieng. Untuk lewat jalur barat harus melewati Reban – Blado – Bandar (Batang) Batur (Banjarnegara) dan kemudian Dieng.

Sepanjang kurang lebih 15 Km, jalur Pranten adalah jalur kuno untuk masyarakat Dieng menjual hasil sayur ke pasar Bawang. Karena jaman dulu sebelum ada angkutan, pasar Bawang merupakan pasar terdekat yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Dieng, dibanding pasar Batur dan pasar Kejajar. Menurut cerita, dahulu para petani Dieng bisa berangkat pukul 02.00 / 03.00 dini hari dan sampai pasar Bawang menjelang fajar. Tidak heran kalo Dieng – Bawang mempunyai hubungan yang erat, antara puncak gunung dan kaki gunung. Banyak terjadi hubungan yang berakhir ke pernikahan antara petani sayur dan penjual di pasar serta orang orang yang berada dalam lingkaran tersebut. Bahkan sampai sekarang, beberapa orang Dieng mempunyai suami/istri orang Bawang, begitu sebaliknya.

gunung prau

gunung sipandu

Di Pranten sendiri, sebagian besar mata pencaharian warga betumpu pada pertanian, terutama sayur. Ada areal tembakau tetapi tak banyak. Masyarakat disini cukup ramah, khas penduduk pegunungan. Banyak sumber air  yang cukup jernih, dan mata air kecil dari sini  menjadi sungai besar di kecamatan Bawang dan bermuara di pantai utara.

Ada akses lain dari Bawang ke Dieng yang bisa dilewati kendaraan. Jalurnya sama dari pertigaan pasar Bawang, kemudian ambil kanan menuju desa Deles. Dari Deles terus ke selatan dan akan bertemu dengan desa Bintoro – Sigemplong – Siglagah – Pawuhan – Dieng. Itupun bisa dilewatin saat musim terang dalam kondisi jalan agak bagus. Kalau musim hujan akan sangat licin dan sulit dilewati.

jembatan rusak pranten – siglagah yang terbengkalai pembangunanya

Pranten dengan background desa Sigemplong

Ada 2 air terjun bagus yang saling bersebelahan disini. Air terjun dengan sumber mata air panas dari proses geothermal di pegunungan Dieng.  Dan kawah Pagerkandang gunung Sipandu yang jarang dikunjungi wisatawan Dieng. Akan saya ulas dilain kesempatan.

Jika ingin merasakan hawa khas pegunungan, suasana desa yang asri, adem, sejuk, pemandangan hijau di kanan kiri serta keramah tamahan penduduknya, atau bahkan ingin terjun langsung membantu petani bercocok tanaman sayur, tidak salah jika Pranten menjadi alternatif tujuan refreshing.

Rute Bawang – Dieng :
Pasar Bawang  – Pranten (buntu, semua kendaraan berhenti di desa ini, ke Dieng dilanjutkan dengan jalan kaki)
Pasar Bawang – Deles – Bintoro – Sigemplong – Siglagah – Pawuhan – Dieng (jalan hanya bisa dilewati kendaraan roda 2 dan layak dilewati sewaktu musim kemarau)

gunung Sipandu dari jalanan desa

Pranten road

Baca juga : Curug Sirawe

Sudah Saatnya Kawasan Hutan Pegunungan Dieng Diperhatikan

KONDISI hutan di kawasan pegunungan Dieng saat ini mengalami kerusakan, akibat berbagai kegiatan yang tanpa memperhitungkan lingkungan hidup. Beberapa areal hutan yang semula tumbuh flora dan fauna, kini berubah fungsi menjadi areal perladangan yang diolah, sehingga tata guna tanah pun berubah fungsi. Ironisnya lagi, kerusakan itu mengakibatkan terdesaknya populasi satwa langka yang dilindungi dan satu-satunya yang ada di Dieng.

Kegiatan lain yang memperparah kerusakan hutan Dieng adalah penebangan liar, perluasan areal pertanian, dan kebakaran hutan. Kerusakan itu terjadi karena dilakukan berbagai pihak masyarakat, petani, dan petugas yang menangani kehutanan.

”Kita harus jantan mengatakan kerusakan hutan itu akibat ulah masyarakat sendiri, petani, termasuk petugas kehutanan. Mengapa ? masyarakat tingkat ekonominya rendah, petani kekurangan lahan, lemahnya dan kurang aktifnya pengawasan oleh Perhutani. Sementara itu, pemda kurang memberi prioritas terhadap warga sekitar. Di sisi lain, tidak adanya kesepakatan tertulis antara Perhutani dan masyarakat,” kata Thomas Ony Veriasa, Koordinator Regional Mitra Dieng.

Rusaknya kawasan hutan itu, menjadikan masyarakat dan berabgai pihak untuk menyelamatkan kawasan pegunungan Dieng. Keterlibatan masyarakat dalam upaya penyelematan hutan diperlukan, karena mereka yang terkena dampak jika hutan rusak.

Sebagai tindak lanjut, belum lama ini diadakan ”Seminar Nasional Penyelematan Kawasan Dieng” yang dilaksanakan di Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang yang diikuti oleh perwakilan masyarakat sekitar hutan Dieng yang meliputi enam kabupaten yaitu Batang, Banjarnegara, Kendal, Pekalongan, Temanggung, dan Wonosobo.

Dipilihnya Tombo, karena merupakan salah satu desa di Kabupaten Batang yang masuk wilayah Kecamatan Bandar yang masih memiliki hutan yang tersisa. Desa itu, menjadi bagian terpenting dalam menjaga seluruh kawasan Dieng, karena letaknya yang langsung berbatasan.

Hutan Tombo berada pada ketinggian 400 – 1.200 meter dari permukaan laut (dpl). Dikelilingi dua sungai besar yaitu Kali Kupang dan Kali Lojahan. Sementara di sebelah selatan, berdiri tegak menghijau Gunung Sinduk, di mana terdapat hutan lindung yang dikenal dengan nama Alas Sutorenggo. ”Di hutan inilah, tempat bermukimnya berbagai satwa unik endemik Dieng berada. Konon, menurut hikayat masyarakat, tokoh wayang Gatotkaca pernah bertapa di Hutan Sutorengo,” ujar Aminudin, dari LSM Jeram.

Di Batang, sebenarnya masih banyak hutan di pegunungan Dieng sebelah utara yang masih tersisa seperti yang ada di Tombo. Sebut saja, Sikesut, Kalitengah, dan kawasan hutan Gunung Kemula (Kamulyan) di Desa Gerlang Kecamatan Blado yang memanjang ke timur sampai di Pranten (Bawang).

Tombo tidak bisa dilepaskan dari sejarah kemerdekaan. Karena dulu pada zaman penjajahan Belanda, pernah menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Bandar. Lokasi itu kini menjadi kompleks perumahan Perhutani.

Dia menjelaskan, Desa Tombo dibagi menjadi empat dusun yaitu Tombo, Centuko, Tampingan, dan Bleder. Jumlah penduduknya pada tahun 2002 sebanyak 570 kepala keluarga yang terdiri atas 2.613 jiwa. Kesadaran akan pentingnya sumber daya alam (SDA) menggugah masyarakat membentuk dua kelembagaan yaitu Tirto Tombo untuk menangani masalah air dan Rekso Tri Mulyo untuk mengatasi masalah hutan di wilayah Desa Tombo.

”Kedua kelembagaan itu, disahkan dan lindungi dengan peraturan desa sesuai dengan UU No 22/1999 tentang otonomi daerah. Disamping mendapat dukungan dari program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) dan UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan,”ujar Slamet.

Tekad Bersama

Selesainya seminar adalah membangkitkan kesadaran dan tekad untuk menyelamatkan alam dan lingkungan di kawasan hutan Dieng. Karena itu, perwakilan masyarakat sebelas desa yang telah melakukan perencanaan pengelolaan sumber daya hutan desa meliputi Desa Tombo, Pranten, Silurah (Batang), Pekasiran (Banjarnegara), Blumah (Kendal), Kayupuring dan Botosari (Pekalongan), Wates (Temanggung), Sembungan (Wonosobo) dan membuat deklarasi Tombo.

”Kami dari desa-desa di sekitar Dieng membentuk Paguyuban Lembaga Lestari Mukti. Mengandung filosofi lestari hutannya mukti masyarakatnya,” ujar Ketua Waris Ng didampingi Sekretaris Rochim.

Tujuan khusus kegiatan di Desa Tombo adalah pengakuan atas kelembagaan desa dalam pengelolaan sumber daya hutan desa. Meningkatkan kesadaran beberapa pihak dalam penyelesaian masalah kawasan hutan di pegunungan Dieng. ”Memperkenalkan berbagai model kelembagaan desa dalam pengelolaan sumber daya hutan di pegunungan Dieng. Kondisi hutan di kawasan itu, kalau tidak segera ditangani berakibat fatal, menyusul hilangnya fungsi hutan sebagai daerah resapan sekaligus tempat pasokan air dan penyediaan oksigen,”ujar Koordinator Jaringan Mitra Dieng Fachrudin Rijadi.

”Ada juga binatang yang dilindungi dan terancam punah seperti harimau tutul (panthera pardus). Serta mamalia endemik pulau Jawa seperti babi hutan (sus verrcosus) dan jenis-jenis monyet seperti owa (hylobates moloch atau kera tidak berekor), surili (presbytis comata), dan lutung (trachypithecus auratus).

Disamping itu, di kawasan hutan Dieng terdapat 42 species burung, 19 di antaranya species endemik pulau Jawa serta tumbuhan spesifik yang hanya hidup di pegunungan Dieng seperti Purwoceng (pimplinea pruacen) tanaman sejenis obat,”papar Fachrudin.

Direktur Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Lingkungan Hidup (LePPLing), Wisnu Suryotomo mengatakan, pengetahuan masyarakat pada hutan masih sebatas. Padahal, masih banyak fungsi hutan baik ekonomi, ekologis yang sangat penting antara lain hidroorologi, penyimpan sumber daya genetik, pengatur kesuburan tanah dan iklim serta penyimpan karbon. (Arif Suryoto–80)

SUMBER : (klik icon)

Review Jalan Bandar – Batur

Selatan desa Kemloko (Kel. Kambangan, Kec. Blado), bahu jalan longsor

Hutan pinus selatan desa Kemloko

Aspal mengelupas, selatan desa Kembanglangit

Dan ini setelahnya, jalan rusak di tikungan tanjakan

Jembatan Sibiting, sebelum perkebunan teh Ngliyer

Nama terang

Memasuki perkebunan teh Ngliyer, jalan rusak parah

Masih di tanjakan Ngliyer, “sungai mengering”

Penghujung perkebunan teh, sebelum memasuki hutan

Memasuki hutan (Alas Kluwung), aspal mengelupas

Peralihan aspal mengelupas dengan cor beton

Jalanan cor beton dan pemandangan hutan yang masih asri

Salah satu tanjakan/turunan dan tikungan tajam dalam hutan

Pemandangan hutan kanan kiri jalan

Desa Sikesut, desa kecil selatan Alas Kluwung

Hutan pinus terakhir, samar-samar puncak gunung Kemulan

Batas hutan dan lahan pertanian sayur warga. Kanan gunung Kemulan

Memasuki desa Gerlang, jalanan masih cor beton

Jalan mulus, selatan desa Kradenan. Menjelang perbatasan Batang – Banjarnegara

Jalan lurus sebelum pertigaan Batur. Kanan gunung Petarangan (Gn. Batur)

Jalur Alternatif Batang – Bandar – Batur – (Dieng)

 Pertigaan Gerlang (poto diambil dari puncak purbukitan batu barat Gerlang)

Visualisasi otak…
Menggambarkan kembali jalan antara Bandar sampai Batur (penting gak penting semoga tetap berguna :)

Jalanan dengan berbagai kondisi yang harus dilewati untuk bisa sampai ke Dieng dengan waktu tercepat dan jarak tempuh terpendek.
Jalan dari  Batang ke Bandar gak usah ditanya, sepanjang +/- 17 kilometer bagus mulus hampir tanpa rintangan :D

Pertama… Jalanan dari Bandar bisa dikatakan aman, lebar halus mulus tanpa lubang. Cuma sekarang ada lampu “bangjo” di pertigaan depan kantor kecamatan Bandar. Kemudian sampai di pertigaan Blado – Kambangan, ambil lurus ke arah Kambangan (pertigaan ke kiri menuju Blado dan Sukorejo). Disini jalan mulai menyempit dan aspal tak semulus aspal hotmix jalan provinsi antara Bandar – Blado. Di pertigaan ini ditandai dengan tanjakan yang lumayan panjang dan tinggi. Diawali dengan sebuah proyek pondok pesantren “TAKZAKA” di kiri jalan yang belum selesai pengerjaanya dan diakhiri dengan gedung STM NU Bandar. Sampai disini kanan kiri masih berupa kebon dan sawah warga. Memasuki desa Kambangan yang ditandai dengan pemukiman warga di kanan kiri jalan yang lumayan padat. Jalanan relatif masih aman dan ramai aktifitas warga.

Memasuki hutan pinus selatan Kambangan, jalanan mulai ada tikungan tajam dan tanjakan. Disini suasana cukup adem hijau dan asri pemandangan hutan pinus, ditambah aspal yang masih bagus. Naik ke arah selatan dikit, dijumpai tikungan tajam dan jalan yang mulai berlubang di kanan kiri. Dimulai dari tikungan yang membentuk setengah lingkaran sampai desa Kembanglangit jalanan penuh lubang, bahkan ada beberapa meter memasuki tanjakan desa Baturan jalan hanya bisa dipergunakan setengahnya, setengahnya lagi hancur. Sampai di desa Kembanglangit, berdiri warung kecil di pojok desa (selatan desa). Warung sederhana yang menjual aneka makanan kecil, terutama gorengan. Warung ini semakin nikmat jika dikunjungi dikala sore dan gerimis (menurut saya), gorengan anget ditambah kopi item panas, atau nyruput teh sangan sangit handmade si ibu pemilik warung. Teh ini dipetik sendiri dari kebun teh si ibu, proses pengeringanya secara tradisional. Menggunakan panci dari tanah atau orang jawa menyebutnya kendil, yang dipanaskan di tungku kayu lalu teh di sangan sampai benar-benar kering. Tanpa pewarna dan tanpa pengawet, benar-benar alami, sampai rasa sangitnya masih terasa kalau diminum (enak loohhhh…). Baca tulisanya disini.

Keluar dari warung itu dihadapkan pada jalanan yang lebih hancur, tanjakan dan aspal yang sudah seperti sungai mengering.
Hanya jembatan Sibiting yang jalanya lebar, bagus aspal masih mulus, karena memang belom lama diperbaiki. Di jembatan ini sering ada orang berhenti memakirkan motornya, foto-foto atau hanya untuk melihat-lihat pemandangan sekitar sini. Sungai jauh dibawah tampak bagus terlihat dari jembatan, tak jarang pula primata-primata ikut bertengger di pepohonan sekitar jembatan. Memasuki perkebunan teh Ngliyer jalanan yang lebih pantes buat dijajah mobil offroad dobel gardan. Pakai mobil atau motor standar kecepatan saja 20km/jam sudah bagus sekali…
sejenis sedan, tipe-tipe seperti honda j*zz  atau mobil keluarga dengan kaki rendah tidak disarankan melewati sini. Sejenis toyota a*anza masih relatif aman. Yang sering ditemui disini adalah truk box, truk pengangkut sayur atau mitusbihi L300. Motor anak muda yang gahul abis juga tidak disarankan, kecuali kalau memang ingin pulang dengan kondisi motor yang semakin gak berbentuk. Ban kecil semakin rawan bocor ketika kena batuan yang tajam, shock yang ceper semakin sering blok mesin nyentuh batuan (paling parah ya blok mesin bocor), gak ada bengkel atau tambal ban di sepanjang hutan. Jok trepes bikin pantas panas dan “ngapal”…

Selepas kebun teh memasuki kawasan hutan, Orang sini menyebutnya alas Kluwung. dimulai dari jalan cor beton yang juga sudah mulai mengelupas. Tampak papan besar kaya papan reklame di kota besar bertuliskan “memasuki hutan lindung kabupaten Batang, jagalah hutan untuk anak cucu kita”. Pohon-pohon besar dan tua menjadi pemandangan selanjutnya. Variasi jalan cor beton dan cor batu sungai menjadi komposisi utama jalanan di tengah hutan ini. Beberapa meter cor beton dilanjut beberapa meter sungai mengering, terus silih berganti sampai ujung hutan. Tanjakan dan tikungan tajam menjadi menu wajib yang harus dilewati. Di hutan ini masih sering dijumpai anggrek hutan, kidang, kelinci hutan, kucing alas, burung deruk, burung gagak, burung jalak,  dan celeng. Katanya masih ada macan jawa, tapi berkali-kali lewat belom pernah menjumpainya… Bisa dikatakan hutan ini masih asri, hijau, indah dan sejuk. Sampai desa Sikesut, desa kecil ditengah hutan, dengan jalan cor beton yang hanya beberapa ratus meter. Dilanjut dengan tanjakan terpanjang sebelum keluar hutan. Tanjakan ini tidak terlalu terjal namum jalan hancur dan panjang menjadikan harus lebih waspada, apalagi kalau hujan datang, batu-batunya akan sangat licin. Sehabis tanjakan ini dihadapkan pada jalan datar aspal mengelupas dan kemudian cor beton yang masih bagus di tanjakan terakhir penghujung hutan. Disebelah timur sudah mulai nampak puncak gunung Kemulan (puncaknya perkebunan teh Pagilaran dan Ngliyer)

Sampai di penghujung hutan, daerah ini sudah merupakan daerah konservasi dataran tinggi Dieng yang masuk kabupaten Batang. Jalan cor beton, dikanan kiri adalah ladang pertanian warga. Ketinggian -/+ 1800 mdpl  dengan udara yang sudah semakin sejuk dan curah hujan tinggi menjadikan daerah ini daerah pertanian yang subur. Kentang, kobis, loncang, wortel, kacang babi, lombok bagong dan pohon pepaya kerdil a.k.a carica sudah mulai hidup disini. Desa Kayuabang, desa Gerlang, desa Kradenan komposisi jalan masih serupa, aspal hancur dan cor beton, dibumbui tanjakan tajam dan tikungan yang hampir 180°. Sewaktu hujan jalan menjadi lebih licin, karena tanah dan lumpur masuk di jalan, diharapkan sangat hati-hati. Bahkan kadang terjadi longsor di tebing-tebing curam sebelum memasuki desa Gerlang.

Ada sebuah pertigaan di desa Gerlang. Sebuah SD, sebuah puskemas pembantu dan sebuah toko pertanian berada disitu. Ke kiri akan menjumpai desa Sidongkal, Watulembu, Wonopriyo dan nembus sampai Telaga Dringo. Ambil lurus menuju desa Kradenan. Setelah melewati desa Gerlang dan tanjakan tajam memasuki desa Kradenan, jalan sudah mulai bagus. Aspal baru melapisi cor beton dibawahnya. Bisa dikatakan jalan desa Kradenan menjadi yang paling bagus untuk saat ini. Perbaikan jalan sekitar bulan Januari 2012 masih tampak awetnya (entah dalam jangka waktu 1 tahun mendatang). Sampai diatas desa Kradenan, jalanan datar dan disebelah kanan dijumpai tugu perbatasan kabupaten Batang dan kabupaten Banjarnegara. Perbedaan jalan terlihat disini, perbedaan perhatian pada daerah terpencil bisa disimpulkan disini.
Sedikit cerita. dulu pernah ada wacana kalau daerah-daerah terpencil disini, seperti desa Kayuabang, Gerlang, Sidongkal, Watulembu, Wonopriyo, Kradenan pernah “diminta” oleh pemerintah kabupaten Banjarnegara, dengan tujuan mau dirawat dan dipelihara. Maksudnya hendak diperbaiki berbagai infrastrukturnya, terutama jalan. Tetapi pemerintah Batang tidak menyerahkanya begitu saja, secara sumber mata air PDAM yang memenuhi kebutuhan sebagian besar warga Batang berasal dari hutan ini. Tetapi Batang juga seperti “menganak tirikan” daerah sini. Bahkan sampai sekarang kebutuhan listrik desa-desa diatas yang masuk kabupaten Batang masih di suplay oleh Banjarnegara. Orang sini membayar listrik bulanan bukan di kecamatan Blado melainkan ke kecamatan Batur, Banjarnegara. Terlihat dari bawah, hutan dan kawasan desa-desa ini tak tampak ada tiang listrik yang berjajar dari kabupaten Batang, yang ada adalah tiang listrik dari jalanan Kecamatan Batur.

Back to focus… Setelah melewati tugu perbatasan jalan sudah relatif bagus, aspalnya masih terawat dan hanya sedikit lubang. Konon, tugu perbatasan berada di puncak gunung Penanggungan, oleh itu sebab setelah melewati tugu yang dijumpai adalah turunan dengan masih disertai tikungan tajam (teteup…). Sampai di desa Tlogobang, desa pertama setelah perbatasan Batang Banjarnegara. Bisa dikatakan jalan setelah tugu perbatasan adalah bagus (milik Banjarnegara) walau tetep masih ada sebagian jalan yang berlubang besar dan menjadi kolam dadakan sewaktu hujan. Sampai di pertigaan kecamatan Batur, jalan utama Banjarnegara – Batur – Dieng sudah merupakan jalan yang bagus dan dapat dilewati berbagai macam ras mobil dan motor :)

Estimasi waktu yang dibutuhkan dari Pantura Batang sampai Dataran Tinggi Dieng kurang lebih 2 jam (versi ngebut) dengan menggunakan sepeda motor. Jikalau menggunakan mobil atau sejenisnya dipastikan lebih dari 2 jam. Berikut rincian waktunya :
– Batang – Bandar : 30 menit
– Bandar – Gerlang : 30 menit
– Gerlang – Batur : 20 menit
– Batur – Dieng : 30 menit

 

Review singkat tentang kondisi jalan alternatif ke Dieng melewati Batang – Bandar – Batur per Maret 2012. Bisa dikatakan jalan ini adalah yang terdekat dari arah pantura (diluar segala kekuranganya). Berikut rute nya : (Batang – Wonotunggal) – (Bandar – Kambangan – Kembanglangit) – (Sikesut – Gerlang – Kradenan) – (Tlagabang – Batur) – Dieng.
Dibanding lewat (Pekalongan – Kajen – Linggoasri – Paninggaran – Kalibening – Wanayasa – Batur – Dieng).
Atau jalur Sukorejo, baik yang masuk dari (Banyuputih – Limpung – Bawang – Plantungan), atau Weleri, kemudian melewati (Ngadirejo -Jumprit – Tambi – Kejajar – Dieng) atau (Ngadirejo – Parakan – Kledung – Kretek – Wonosobo – Kejajar – Dieng)

Berikut visual review nya : Review Jalur Bandar – Batur

Update Jalan Alternatif Bandar – Batur Oktober 2017 : Klik