Perkebunan Teh Ngliyer


Buat sekedar tiduran semalam sembari lihatin bintang-bintang & ngopi-ngopi diluar.
simple & easy :)

Advertisements

Dieng – ilovemonday

Sabtu siang yang mendung

Seperti biasa, sendiri menuju Dieng. Di tengah perjalanan dingin di badan mulai terasa. Berhenti sebentar untuk ganti jaket yang lebih hangat. Setelah melongok tas, tak dijumpai jaket yang saya maksud… azzzz sial rupanya si jaket gak masuk  packingan hari ini. Terpaksa saya lanjutin pakai switer tipis yang dipakai dari rumah. Memasuki daerah konservasi dataran tinggi Dieng udara semakin dingin terasa di badan #brrrrr

Sampai Dieng jam setengah 5, langsung masuk ke homestay Bu Djono, tempat di Dieng yang sangat nyaman. Begitu masuk langsung disambut pak Didi, dia mengatakan ada beberapa orang mencariku dan kemudian mempertemukanya. Dia adalah rombongan dari Jakarta, Farhan dkk (diluar segala penyamaranya). Berisi 7 anak muda, 5 cowok dan 2 cewek. Setelah berkenalan, mereka adalah Erwin, Lancip, Maman, Anto, Karin, Puput dan Farhan (nulis nama terakhir tetep dengan tertawa #ngakak). Oh ya, ada 1 yang bukan dari Ibu kota, dia adalah puput dari Salatiga, yang bertemu rombongan mereka di terminal Wonosobo. Rombongan ini yang menghubungiku 1 minggu (1 bulan dink aslinya kalo inget id Ahmad.JP :p) sebelumnya untuk diurusin homestay, makan, guide dan transport selama di Dieng. Dan kami janjian bertemu sabtu sore di longweekend ini. Kami mengobrol sebentar di samping homestay, lalu mereka lanjut masuk ke kamar yang sudah saya bokingkan beberapa hari yang lalu. Selanjutnya saya ngacir ke warung miayam depan homestay, sambil liatin situasi jalanan Dieng sore ini. Cukup ramai walau gerimis udah mulai turun.

Sebelum maghrib saya balek ke homestay. Duduk di depan tv ditemani segelas teh panas. Ngobrol ngalor ngidul ma  Mbah Sur, orang Bandung pemilik homestay ini. Sesekali ngobrol ma mas Dwi yang sibuk melayani para tamu di restoran. Hujan turun, membuat switer yang saya pakai gak sanggup membentengi tubuh yang tak seberapa ini #beerlleee…
Setelah maghrib si Farhan turun (a.k.a geilandri) ngobrolin mau gimana besok dan dll nya. Of course, saya hanya memudahkan dan menuruti permintaan mereka. Tak banyak obrolan terjadi, yang jelas saya mudeng dan tau mau mereka :p. Setelah cukup hangat karena jaket pinjeman mas  Dwi, saya keluar ke per3an depan. Nemuin kang Sugeng, guide lokal Dieng yang cukup akrab dengan saya. Ada beberapa guide lain dan tukang ojek bersama saya malam itu. Kebetulan malam itu tanggal 16 jawa, semalam setelah bulan purnama. Dan sisa-sisa purnama masih terang buat malam ini. Cukup menarik berinteraksi dengan mereka, dipayungi cahaya bulan dan ngobrol dengan bahasa “ngapak” khas Dieng.
Jam 9 malam mas Dwi menghampiri saya, lalu kami makan malam bareng di warung bu Yati. Makan di depan tungku arang… #lumayan angetin badan. Setelahnya kembali di homestay dan  Farhan dkk sudah ada berada di balkon penginapan. Perkenalan yang cukup menarik dengan mereka sembari menguntal martabak manis. Jam 10 lebih mereka masuk kamar dan saya menuju kamar atas, tidur sekamar bareng mas Dwi #mahos

Minggu jam 4 pagi

Saya dibangunkan mas Dwi. Para tamu homestay bersiap sunrise di Sikunir. Mas Dwi ngantar 4 tamu dari Singapur dan saya nganter Farhan dkk.  Cuci muka, gosok gigi dan panasin motor… kegiatan yang gak pernah saya kerjakan kalau dirumah dikala jam 4 pagi (“,)…
8 orang berbonceng dengan 4 motor (dan saya berbonceng dengan anto), bersiap dan kami berangkat menuju Sikunir dengan sisa bulan semalam dan udara yang cukup dingin. Sampai di desa terakhir, Sembungan, lanjut ke parkiran telaga cebong.  Ada kang Herman dkk, petugas tiket dan parkir Sikunir, kang Yuna berserta istri yang jualan minuman anget dan makanan khas Dieng di kaki gunung Sikunir. Mereka adalah orang-orang wisata yang cukup akrab dengan saya. #so what…

Treking Sikunir Dimulai. Situasi masih gelap, angin tak terlalu bertiup kencang. Perjalanan santai dan tanpa rintangan. Sekitar 30 menit kemudian sampai di puncak ke 2. Kita beristirahat disitu, nungguin sunrise bersama wisawatan lain. Cukup ramai pagi ini… cuaca cerah.
Farhan dkk asik mengobrol, becanda dan foto-foto disini. Saya hanya diam karena ga mudeng apa yang mereka obrolin haha. Sembari mereka puasin sunrise disini, saya mengampiri kang Tusman, penjual minuman anget di Sikunir.
Sekitar setengah jam disini, Farhan dkk berminat ke puncak pertama Sikunir. Dengan treking sekitar 10 menit kami berjalan ke atas sampai puncak. Sesampai puncak tak kalah ramai, banyak yang gelar tenda disini. Kami membongkar trangia, berniat nyeduh kopi dengan sisa air yang menipis (ontanya dah pada aus pas di puncak ke 2, gara-gara itu air aq*a 1 liter dah hampir habis duluan #pisss hehe). Dengan sisa air yang ada, cukup untuk 2 gelas kopi buat ramai-ramai. Di titik ini view nya lebih bagus dari puncak 2, Sindoro dan Wonosobo terlihat dari sini. Berfoto adalah kegiatan wajib, apalagi ada si Anto, dedengkot Klastic ibu kota. Dia bawa 2 kamera yang masih pake rol film (kagak mudeng aing apa aja merk kameranya #hammer). Setengah jam lebih kami habiskan dengan ngopi, foto dan ngobrolin Dieng. Lalu kami turun menuju parkiran telaga cebong, tempat pertama kami naik. Parkiran dah sepi, petugas karcis ma parkir sudah pada pulang. Lumayan 8rebu kami utuh karena gak bayar parkir hiihihii

sunrise sikunir

karing bareng

Tujuan selanjutnya adalah telaga Warna. Mereka sarapan mi Ongklok, sate ayam dan tempe kemul di salah 1 warung di areal parkir. Dilanjut treking, tetapi ini bukan masuk ke area telaga Warna dan Pengilon beserta komplek goa Semarnya. Kami menuju bukit Sidengkeng, bukit diutara telaga. View disini lebih luas dan bisa melihat ke 2 telaga dari atas. Punggungan gunung Prau juga terlihat jelas dari sini #hugs
Dilanjut ke kawah Sikidang. Saya memilih tidak masuk di area kawah dan menunggu mereka di parkiran sambil ngopi dan nguntal tempe kemul. Panas cuiii… mending ngendon di warung mbak-mbak berjilbab haha. Rampung di kawah langsung nuju areal candi Arjuna. Cukup ramai juga disini dan saya memilih duduk di pojokan pura-pura dongo seolah baru pertama kesini sambil liatin orang berlalulalang, dan mereka asik poto-poto di sekitaran candi. Panasnya mulai anyingg, (dalam hati : dijamin bakal pecah-pecah ni wajah kalo sampai rumah). Sekitar pukul 1 siang kami cabut dari candi. Berbonceng dengan karin, yang lalu dia curhat kalo kakak perempuanya gak buruan dilamar ma kekasihnya hahay… Masuk ke homestay, berniat makan siang dan istirahat sebentar sebelum melanjutkan explore area Dieng 2. Belum lama di homestay, hujan turun dengan santai dan tanpa dosa, membuyarkan rencana mereka yang hendak lanjutin explore. Kabut tebel pun ikut serta membuyarkan pandangan kalau kita jadi jalan. Suasana yang komplit buat malas beranjak dari homestay. Diputuskan Dieng 2 batal karena perubahan cuaca yang mendadak ini. Mereka memilih tidur dan kemudian makan siang di warung bu Yati yang tak jauh dari homestay. Sore hujan kami habiskan di kamar sambil ngopi pakai trangia (walau mas Dwi sebenernya gak bolehin haha).

sidengkeng, bukit utara telaga warna + pengilon

lancip + karin @ sidengkeng

areal candi arjuna

mie ongklok + sate ayam

Malam dihabiskan dikamar, pada maen uno yang saya sama sekali gak tau cara mainya. Jam 9 saya turun, liat Arsenal vs ManCity bareng mbah Sur. Gilak ni mbah-mbah masih kuat melek + tau info-info bola, semangat pula ngobrolnya, kaya pangeran Diponegoro ketika memarangi VOC #berle!. Tak lama mereka ikut turun dan memesan makanan di homestay. Situasi hening resto homestay pun pecah ketika mereka turun dari lantai 2. Sambil makan mereka ngobrol dan ketawa cukup keras haha. Dinginya Dieng mereka isi dengan obrolan khas anak muda yang hangat dan akrab. Tapi terlihat disitu Puput hanya diam saja, menjadi pendengar yang baik bagi gank ibu kota haha…
Jam 11 rampung makan mereka cabut ke kamar, sebagian ikut nonton bola bareng saya  dan mbah Sur walau akhirnya mereka pada tumbang setelah babak pertama berakhir. Tinggalah saya dan Mbah Sur lanjutin sampai bubaran, kemenangan 1-0 untuk Arsenal (Arteta 63′)
Pukul 12 lebih saya beranjak ke kamar lantai 3 dan zzzzzz…

situasi kamar homestay

Senin Pagi yang cerah dan berulang kali bilang  ”ilovemonday”

Saya sendiri bangun pukul setengah 9, capek dan kebetulan ga ada treking lagi untuk hari ini. Mereka memilih untuk jalan-jalan di sekitaran Dieng, dan tidak jadi ke Dieng 2. Bersih-bersih badan di balkon belakang lantai 3, matahari muncul gagah dari balik gunung Prau, membuat saya betah karing dengan pak Didi yang sibuk mencuci  selimut di washing machine yang dipakai para tamu hari sebelumnya.  Dan ngopi diresto rasanya cukup nikmat di pagi ini, saya bergegas ke bawah…
Farhan dkk turun dan sarapan di warung belakang homestay. Saya menunggu santai di depan pesawat telepisi, nyruput kopi dan nyemil tempe kemul dari dapur hehe.

sarapan

Pukul setengah 12 mereka selesai makan. Tujuan kali ini adalah jalan ke candi Dwarawati, 1 candi yang terletak di kaki gunung Prau. Melewati perkampungan penduduk di Dieng Kulon dengan jalan yang cukup bagus. Kira-kira 20menit kita sampai di candi. Ada yang berpose kaya arca, ada yang sok asik sendiri, ada yang duduk-duduk dirumput, ada yang latihan poto prewed… mereka adalah sekumpulan anak muda yang gembira :p
Sentra oleh-oleh Dieng, tujuan kami selanjutnya. Mereka saya ajak ke pembuatan carica dan oleh-oleh Dieng lainya di salah satu penduduk di Dieng kulon. Tester berupa 2 botol carica segar dan 1 bungkus jamur crispy habis dihajar masa haha. Mereka memborong berbotol carica, berbungkus jamur dan jajanan lainya. Tau deh kalau ada yang diem-diem nyempil belanja purwaceng #ups

arca candi dwarawati yang telah kembali #ngacir

karin + puput

karin puput lagi

semacam prewed

poto keluarga

sentra oleh-oleh

sentra oleh-oleh

Puas di sentra oleh-oleh, kembali jalan pulang ke homestay. Mengunjungi Watu Kelir dan Tuk Bima Lukar dibatalkan karena hari dah siang. Mereka bersiap pulang, sibuk packing di kamar. Saya memilih nyantai lagi di depan tivi. Pas lagi asik liat cuplikan bola di Tr*nspitu, ada 2 orang mas mas yang pesen makanan yang kemudian ikut nimbrung nonton, dan saya mempersilahkan mereka duduk disamping saya. Terjadilah obrolan yang akhirnya diketahui dia adalah om Muhyad, seorang sepuh OANC #sungkemsesepuh
K = Kukuh, M = Muhyad
K : dari mana om?
M : dari muria?
K : muria kudus om? tripnya om jenggot bukan? #kagets
M : iya, kok tau? #kagetsjuga
K : baca ajakan tripnya on jenggot di lounge fb OANC. berarti situ OANC donk #think
M : iya om, situ OANC?
K : iya om tp saya nyubitol #sedikitmalu. ID nya apa om?
M : muhyad, situ apa?
K : oh situ om… (dulu sering post bareng tanpa pernah bertemu muka) saya garayy #malulagi
M : lah ini yang dicari…!
Akhirnya tertawa bareng #ngakak

Ada 1 lagi temenya, namanya om Dhianto tapi saya lupa ID kaskusnya apa. Mereka cukup friendly dan sepertinya poto prof dengan agama Nikonya @_@. 2 orang sepuh yang nyempil kecer ke Dieng setelah ikut tripnya om Jenggot. Yang juga dikabarkan ikut adalah si soham Undip = Andrehidayatarasuli :p. Bahkan ada cerita  angkot terbalik sebelum mereka naik ke Muria, untung gak ada korban jiwa atau luka serius kata om Muhyad. 2 porsi ayam bakar telah siap dan mereka lanjut ke meja makan.

sepuh OANC : om dianto & om muhyad

Farhan dkk turun dengan packingan mereka masing-masing, bersiap bubar jalan dari Dieng. Mereka (om Muhyad dkk dan Farhan dkk) saya kenalin. Kebetulan om Muhyad juga mau balik Jakarta siang ini juga. Barenglah mereka sebagai temen ke barat, syukur-syukur ada yang cinlok di bus :p. Pukul setengah 3 sore mereka bersama naik micro bus jurusan Wonosobo. Berpamitan bersalaman, Sayonara, babay dan sampai jumpa :kiss

sejenak berpoto bareng sebelum mereka pulang

Dieng  sore yang berkabut

Dengan berlalunya mereka, homestay seketika sepi #berle!. Saya bergegas ke Sembungan, ambil tenda reot dan beberapa urusan lain. Sampai di Sembungan langsung nuju rumah Aan, ndekem di depan tungku kayu, berpegangan segelas teh panas. Ngobrol dengan pak Har, sodara nemu yang sangat baik ini. Sedikit ngrampok cabe bagong buat dirumah. Ambil tenda done… balik ke Dieng lagi disertai gerimis.
Pukul 4 sore, ada sms masuk dari adik saya “mas, paketanya dah nyampai rumah”. Semakin bersemangat saya untuk pulang sore ini. Packing selesai, tak lupa pinjem jaket parasit nya mas Dwi. Kemudian pamit ke semua jajaran  staf dan kru Bu Djono hotel dan resto #berlelagi!. Terimakasih berat buat kerjasama manis ini #kiss.

Pukul 5 sore saya beranjak meninggalkan Dieng, disertai hujan yang dan kabut yang turun, jalanan sepi dan horor. Gak ada 1pun kendaraan dijumpai lewat, baik searah atau berlawanan arah. Masuk hutan kabutnya makin parah, jarak pandang kira-kira 1 meter di depan ban motor. 20km/jam mentok daripada harus nabrak tebing, masuk jurang atau terperosok ke lubang jalan yang terisi air. Suwer baru kali ini ngrasain pulang kaya gini, gimana kalau ada rampok, ada bencoleng, gimana kalau kamera, hp, duit saya dirampas mereka. Gambaran ini sempat ada di pikiran saya mengingat ga bisa memacu kencang motor dijalanan ini #nohoff.  Turun memasuki hutan yang lebih lebat lagi. Tiba-tiba inget omongan 2 bapak-bapak Koramil yang bertemu di Dieng beberapa hari yang lalu, kalau doski pernah bertemu dengan ular hitam pekat dipinggir jalan alas Kluwung yang sebesar meriam perang katanya (kalau meriam belina sih gapapa :genit), dia hanya diam, behenti sejenak mempersilahkan ular besar itu berlalu kembali masuk hutan. Semakin mengikis nyali saya… Untung dari atas terlihat ada 2 truk sayur dan 1 sepeda motor merangkak masuk hutan. Lumayan buat temen jalan menembus gelap dingin dan angkernya alas Kluwung. Lantas memacu motor supaya bisa beriringan dengan 2 truk tersebut. 1 pohon besar di pinggir jalan alas Kluwung yang konon angker saya lewatin di tengah-tengah ke 2 truk yang beriring pelan itu. Dan perjalanan terhoror di periode SBY ini berakhir ketika sampai di perkebunan teh. Turun dikit di warung ibu gorengan yang rupanya jam segini belum tutup (jam hampir isya). Mampir bentaran buat nglepas jas ujan ma minum air putih. Lega… Bergegas lanjutin perjalanan.

Sampai rumah jam setengah 8 malam dengan selamat.  Dan gak sabaran buat bongkar paketan yang dikirim teman dari ibu kota, si ojan. Di bungkusnya tertulis Kebayoran baru, Jaksel (alamat rumah tu soham :p). Perabotan lenong aing dateng juga cyiiinnn… #malus. Bongkar-bongkar paketan yang tebel kertas paketanya berlapis-lapis (kaya buka kado aja rasanya #berbusa). Tenda, SB, matras saya terima dengan segel, nice job dude!. Saya buka tuh tenda di halaman samping rumah (berpikir gubug baru mau diprawanin dimana… #mikir)

Istirahat… besok harus ke Solo buat selamatan 100 hari mbah kakung, kata mbok ku. Zzz baru aja pulang dan besok harus keluar kota lagi -_-

Weekend yang cukup menarik dan patut disyukuri apapun itu. Dari skenario Farhan dkk yang belakangan diketauhui kalau nama aslinya Geilandri (:p) sampai turun dari kayanganya perabotan lenong yang sudah ditunggu 1 bulan lamanya. Dari dapet sunrise Sikunir sampai ketemu om Muhyad di homestay. Dari gak bawa jaket tebel sampai perjalanan horor pulang alas Kluwung. Riweuhnya ati sebelum berangkat hingga bertemu dengan orang-orang baru dan karakter-karakter menarik :)
Dan berulang saya bilang “ilovemonday”

berulang kali si farhan di panggil “ge” sama the gank. dan saya percaya saja ketika diberitau nama panggilanya adalah “toge”, walau diawal sempet curiga dan berpikir gak ada korelasinya. diakhir anto kirim message di Ym, yang dimaksud “ge” itu adalah “geilandri”. ya… togeilandri, dan farhan yang asli sebenarnya gak ada dalam trip tersebut.

Review Jalan Bandar – Batur

Selatan desa Kemloko (Kel. Kambangan, Kec. Blado), bahu jalan longsor

Hutan pinus selatan desa Kemloko

Aspal mengelupas, selatan desa Kembanglangit

Dan ini setelahnya, jalan rusak di tikungan tanjakan

Jembatan Sibiting, sebelum perkebunan teh Ngliyer

Nama terang

Memasuki perkebunan teh Ngliyer, jalan rusak parah

Masih di tanjakan Ngliyer, “sungai mengering”

Penghujung perkebunan teh, sebelum memasuki hutan

Memasuki hutan (Alas Kluwung), aspal mengelupas

Peralihan aspal mengelupas dengan cor beton

Jalanan cor beton dan pemandangan hutan yang masih asri

Salah satu tanjakan/turunan dan tikungan tajam dalam hutan

Pemandangan hutan kanan kiri jalan

Desa Sikesut, desa kecil selatan Alas Kluwung

Hutan pinus terakhir, samar-samar puncak gunung Kemulan

Batas hutan dan lahan pertanian sayur warga. Kanan gunung Kemulan

Memasuki desa Gerlang, jalanan masih cor beton

Jalan mulus, selatan desa Kradenan. Menjelang perbatasan Batang – Banjarnegara

Jalan lurus sebelum pertigaan Batur. Kanan gunung Petarangan (Gn. Batur)

Warung Gorengan Kembanglangit

Warung sederhana yang berada di desa Kembanglangit, kecamatan Blado ini menjual aneka makanan kecil, terutama gorengan. Warung ini semakin nikmat jika dikunjungi dikala sore dan gerimis, gorengan anget ditambah kopi item panas, atau nyruput teh sangan handmade si ibu pemilik warung. Teh ini dipetik sendiri dari kebun teh si ibu, proses pengeringanya secara tradisional. Menggunakan panci dari tanah atau orang Jawa menyebutnya kendil, yg dipanaskan di tungku kayu lalu teh nya di sangan sampai benar-benar kering. Tanpa pewarna dan tanpa pengawet, benar-benar alami, sampai rasa sangit masih terasa ketika diminum.

Disini biasanya bertemu orang-orang dari desa daerah atas semacam Gerlang yang hendak pulang. Mampir untuk istirahat atau memborong gorengan untuk dirumah (karena diatas gak ada warung lagi).

Depan warung banyak berseliweran truk pengakut sayur menuju pasar Bandar. Kala sore,  biasanya turun kabut tebal menutupi sekitaran warung. Bisa dikatakan warung ini yang paling laris, selain gorenganya enak dan selalu anget juga karena si ibu penjualnya sangat ramah kepada semua pembeli yang datang.

Jalur Alternatif Batang – Bandar – Batur – (Dieng)

 Pertigaan Gerlang (poto diambil dari puncak purbukitan batu barat Gerlang)

Visualisasi otak…
Menggambarkan kembali jalan antara Bandar sampai Batur (penting gak penting semoga tetap berguna :)

Jalanan dengan berbagai kondisi yang harus dilewati untuk bisa sampai ke Dieng dengan waktu tercepat dan jarak tempuh terpendek.
Jalan dari  Batang ke Bandar gak usah ditanya, sepanjang +/- 17 kilometer bagus mulus hampir tanpa rintangan :D

Pertama… Jalanan dari Bandar bisa dikatakan aman, lebar halus mulus tanpa lubang. Cuma sekarang ada lampu “bangjo” di pertigaan depan kantor kecamatan Bandar. Kemudian sampai di pertigaan Blado – Kambangan, ambil lurus ke arah Kambangan (pertigaan ke kiri menuju Blado dan Sukorejo). Disini jalan mulai menyempit dan aspal tak semulus aspal hotmix jalan provinsi antara Bandar – Blado. Di pertigaan ini ditandai dengan tanjakan yang lumayan panjang dan tinggi. Diawali dengan sebuah proyek pondok pesantren “TAKZAKA” di kiri jalan yang belum selesai pengerjaanya dan diakhiri dengan gedung STM NU Bandar. Sampai disini kanan kiri masih berupa kebon dan sawah warga. Memasuki desa Kambangan yang ditandai dengan pemukiman warga di kanan kiri jalan yang lumayan padat. Jalanan relatif masih aman dan ramai aktifitas warga.

Memasuki hutan pinus selatan Kambangan, jalanan mulai ada tikungan tajam dan tanjakan. Disini suasana cukup adem hijau dan asri pemandangan hutan pinus, ditambah aspal yang masih bagus. Naik ke arah selatan dikit, dijumpai tikungan tajam dan jalan yang mulai berlubang di kanan kiri. Dimulai dari tikungan yang membentuk setengah lingkaran sampai desa Kembanglangit jalanan penuh lubang, bahkan ada beberapa meter memasuki tanjakan desa Baturan jalan hanya bisa dipergunakan setengahnya, setengahnya lagi hancur. Sampai di desa Kembanglangit, berdiri warung kecil di pojok desa (selatan desa). Warung sederhana yang menjual aneka makanan kecil, terutama gorengan. Warung ini semakin nikmat jika dikunjungi dikala sore dan gerimis (menurut saya), gorengan anget ditambah kopi item panas, atau nyruput teh sangan sangit handmade si ibu pemilik warung. Teh ini dipetik sendiri dari kebun teh si ibu, proses pengeringanya secara tradisional. Menggunakan panci dari tanah atau orang jawa menyebutnya kendil, yang dipanaskan di tungku kayu lalu teh di sangan sampai benar-benar kering. Tanpa pewarna dan tanpa pengawet, benar-benar alami, sampai rasa sangitnya masih terasa kalau diminum (enak loohhhh…). Baca tulisanya disini.

Keluar dari warung itu dihadapkan pada jalanan yang lebih hancur, tanjakan dan aspal yang sudah seperti sungai mengering.
Hanya jembatan Sibiting yang jalanya lebar, bagus aspal masih mulus, karena memang belom lama diperbaiki. Di jembatan ini sering ada orang berhenti memakirkan motornya, foto-foto atau hanya untuk melihat-lihat pemandangan sekitar sini. Sungai jauh dibawah tampak bagus terlihat dari jembatan, tak jarang pula primata-primata ikut bertengger di pepohonan sekitar jembatan. Memasuki perkebunan teh Ngliyer jalanan yang lebih pantes buat dijajah mobil offroad dobel gardan. Pakai mobil atau motor standar kecepatan saja 20km/jam sudah bagus sekali…
sejenis sedan, tipe-tipe seperti honda j*zz  atau mobil keluarga dengan kaki rendah tidak disarankan melewati sini. Sejenis toyota a*anza masih relatif aman. Yang sering ditemui disini adalah truk box, truk pengangkut sayur atau mitusbihi L300. Motor anak muda yang gahul abis juga tidak disarankan, kecuali kalau memang ingin pulang dengan kondisi motor yang semakin gak berbentuk. Ban kecil semakin rawan bocor ketika kena batuan yang tajam, shock yang ceper semakin sering blok mesin nyentuh batuan (paling parah ya blok mesin bocor), gak ada bengkel atau tambal ban di sepanjang hutan. Jok trepes bikin pantas panas dan “ngapal”…

Selepas kebun teh memasuki kawasan hutan, Orang sini menyebutnya alas Kluwung. dimulai dari jalan cor beton yang juga sudah mulai mengelupas. Tampak papan besar kaya papan reklame di kota besar bertuliskan “memasuki hutan lindung kabupaten Batang, jagalah hutan untuk anak cucu kita”. Pohon-pohon besar dan tua menjadi pemandangan selanjutnya. Variasi jalan cor beton dan cor batu sungai menjadi komposisi utama jalanan di tengah hutan ini. Beberapa meter cor beton dilanjut beberapa meter sungai mengering, terus silih berganti sampai ujung hutan. Tanjakan dan tikungan tajam menjadi menu wajib yang harus dilewati. Di hutan ini masih sering dijumpai anggrek hutan, kidang, kelinci hutan, kucing alas, burung deruk, burung gagak, burung jalak,  dan celeng. Katanya masih ada macan jawa, tapi berkali-kali lewat belom pernah menjumpainya… Bisa dikatakan hutan ini masih asri, hijau, indah dan sejuk. Sampai desa Sikesut, desa kecil ditengah hutan, dengan jalan cor beton yang hanya beberapa ratus meter. Dilanjut dengan tanjakan terpanjang sebelum keluar hutan. Tanjakan ini tidak terlalu terjal namum jalan hancur dan panjang menjadikan harus lebih waspada, apalagi kalau hujan datang, batu-batunya akan sangat licin. Sehabis tanjakan ini dihadapkan pada jalan datar aspal mengelupas dan kemudian cor beton yang masih bagus di tanjakan terakhir penghujung hutan. Disebelah timur sudah mulai nampak puncak gunung Kemulan (puncaknya perkebunan teh Pagilaran dan Ngliyer)

Sampai di penghujung hutan, daerah ini sudah merupakan daerah konservasi dataran tinggi Dieng yang masuk kabupaten Batang. Jalan cor beton, dikanan kiri adalah ladang pertanian warga. Ketinggian -/+ 1800 mdpl  dengan udara yang sudah semakin sejuk dan curah hujan tinggi menjadikan daerah ini daerah pertanian yang subur. Kentang, kobis, loncang, wortel, kacang babi, lombok bagong dan pohon pepaya kerdil a.k.a carica sudah mulai hidup disini. Desa Kayuabang, desa Gerlang, desa Kradenan komposisi jalan masih serupa, aspal hancur dan cor beton, dibumbui tanjakan tajam dan tikungan yang hampir 180°. Sewaktu hujan jalan menjadi lebih licin, karena tanah dan lumpur masuk di jalan, diharapkan sangat hati-hati. Bahkan kadang terjadi longsor di tebing-tebing curam sebelum memasuki desa Gerlang.

Ada sebuah pertigaan di desa Gerlang. Sebuah SD, sebuah puskemas pembantu dan sebuah toko pertanian berada disitu. Ke kiri akan menjumpai desa Sidongkal, Watulembu, Wonopriyo dan nembus sampai Telaga Dringo. Ambil lurus menuju desa Kradenan. Setelah melewati desa Gerlang dan tanjakan tajam memasuki desa Kradenan, jalan sudah mulai bagus. Aspal baru melapisi cor beton dibawahnya. Bisa dikatakan jalan desa Kradenan menjadi yang paling bagus untuk saat ini. Perbaikan jalan sekitar bulan Januari 2012 masih tampak awetnya (entah dalam jangka waktu 1 tahun mendatang). Sampai diatas desa Kradenan, jalanan datar dan disebelah kanan dijumpai tugu perbatasan kabupaten Batang dan kabupaten Banjarnegara. Perbedaan jalan terlihat disini, perbedaan perhatian pada daerah terpencil bisa disimpulkan disini.
Sedikit cerita. dulu pernah ada wacana kalau daerah-daerah terpencil disini, seperti desa Kayuabang, Gerlang, Sidongkal, Watulembu, Wonopriyo, Kradenan pernah “diminta” oleh pemerintah kabupaten Banjarnegara, dengan tujuan mau dirawat dan dipelihara. Maksudnya hendak diperbaiki berbagai infrastrukturnya, terutama jalan. Tetapi pemerintah Batang tidak menyerahkanya begitu saja, secara sumber mata air PDAM yang memenuhi kebutuhan sebagian besar warga Batang berasal dari hutan ini. Tetapi Batang juga seperti “menganak tirikan” daerah sini. Bahkan sampai sekarang kebutuhan listrik desa-desa diatas yang masuk kabupaten Batang masih di suplay oleh Banjarnegara. Orang sini membayar listrik bulanan bukan di kecamatan Blado melainkan ke kecamatan Batur, Banjarnegara. Terlihat dari bawah, hutan dan kawasan desa-desa ini tak tampak ada tiang listrik yang berjajar dari kabupaten Batang, yang ada adalah tiang listrik dari jalanan Kecamatan Batur.

Back to focus… Setelah melewati tugu perbatasan jalan sudah relatif bagus, aspalnya masih terawat dan hanya sedikit lubang. Konon, tugu perbatasan berada di puncak gunung Penanggungan, oleh itu sebab setelah melewati tugu yang dijumpai adalah turunan dengan masih disertai tikungan tajam (teteup…). Sampai di desa Tlogobang, desa pertama setelah perbatasan Batang Banjarnegara. Bisa dikatakan jalan setelah tugu perbatasan adalah bagus (milik Banjarnegara) walau tetep masih ada sebagian jalan yang berlubang besar dan menjadi kolam dadakan sewaktu hujan. Sampai di pertigaan kecamatan Batur, jalan utama Banjarnegara – Batur – Dieng sudah merupakan jalan yang bagus dan dapat dilewati berbagai macam ras mobil dan motor :)

Estimasi waktu yang dibutuhkan dari Pantura Batang sampai Dataran Tinggi Dieng kurang lebih 2 jam (versi ngebut) dengan menggunakan sepeda motor. Jikalau menggunakan mobil atau sejenisnya dipastikan lebih dari 2 jam. Berikut rincian waktunya :
– Batang – Bandar : 30 menit
– Bandar – Gerlang : 30 menit
– Gerlang – Batur : 20 menit
– Batur – Dieng : 30 menit

 

Review singkat tentang kondisi jalan alternatif ke Dieng melewati Batang – Bandar – Batur per Maret 2012. Bisa dikatakan jalan ini adalah yang terdekat dari arah pantura (diluar segala kekuranganya). Berikut rute nya : (Batang – Wonotunggal) – (Bandar – Kambangan – Kembanglangit) – (Sikesut – Gerlang – Kradenan) – (Tlagabang – Batur) – Dieng.
Dibanding lewat (Pekalongan – Kajen – Linggoasri – Paninggaran – Kalibening – Wanayasa – Batur – Dieng).
Atau jalur Sukorejo, baik yang masuk dari (Banyuputih – Limpung – Bawang – Plantungan), atau Weleri, kemudian melewati (Ngadirejo -Jumprit – Tambi – Kejajar – Dieng) atau (Ngadirejo – Parakan – Kledung – Kretek – Wonosobo – Kejajar – Dieng)

Berikut visual review nya : Review Jalur Bandar – Batur

Update Jalan Alternatif Bandar – Batur Oktober 2017 : Klik