Gunung Prau – Tim Sergap Indonesia

Bertepatan dengan DCF (Dieng Culture Festival) 2013

Roiz yg sudah jauh-jauh hari mengabarkan hendak ke Dieng,  DCF an sekaligus tilik Gunung Prau. Tetapi jauh-jauh hari juga saya bilang kalau gak bisa nemenin atau nganterin muter-muter edisi mbalayang kali ini. Beberapa rombongan kudu dilayani di DCF tahun ini.
*Sedikit cerita tentang Roiz, kita kenal sekitar April 2013. Sore Dia dateng dari Temanggung dan Cojack (temen Traveller Kaskus) datang dari Jakarta. Mereka ketemuan di Dieng, sebelum akhirnya kita ber3 ketemu di Dieng dalam keadaan hujan. Ngobrol-ngobrol dan ngopi di Bujono (waktu masih ada mas Dwi).  Suasana sore yg dingin tapi hangat, beberapa macam gorengan dan bergelas-gelas arak, eh kopi. Mbahas dari yg namanya A sampai Z, lor kidul wetan kulon, ngisor nduwur kiwo tengen ngarep mburi. Suasana cair kaya dah kenal lama.
Seperti rencana sebelumnya yg diutarakan Cojack, malamnya berangkat ke Sikunir, saya ngajakin Eko, temen segala suasana dari Dieng. Berangkatlah kami ber4 dalam keadaan gerimis. 10 menit sesampai di desa Sembungan gerimis makin deras alias berubah jadi hujan. Niat nenda di puncak Sikunir pun surut, kondisi suram. Suer enakan tidur di homestay dengan kasur dan selimut tebel nya, ada kopi teh panas dan cemilan suguhan homestay, racun saya bisikan selanjutnya. Tanpa lama mereka mengiyakan. Kami ber4 tidur di homestay salah 1 rekan di Sembungan. Dasar cangkem gojek ketemu cangkem nglayap, ngecret panjang lebar finish jam 2 pagi. Sekamar ber4 no problem dah, biar rapet anget.
Paginya cuaca masih sama, mereka ber3 nekat naik Sikunir walau sudah jam 7 pagi (berangkat nyunrise apa berangkat ke ladang pak #ngakaks). Nglanjutin narik selimut itu dah ide paling bagus, bosen mah Sikunir #cool. Sampai Dzuhur kami masih tertahan di Sembungan, karena memang enak bener kabut disini buat gegoleran di kasur.
Siang sekitar jam 1 an, mereka (Roiz & Cojack) pada turun ke Wonosobo, suasana langit juga tidak berubah dari kemarin, syuram bagi kami tetapi tidak bagi para petani kentang karena tanaman kentangnya sudah disiram alam. So… kadang yg kita keluhkan itu justru sangat bermanfaat bagi orang lain, entah sekitar kita atau belahan bumi lain *sok a wise*
Nah ini… Selama 2 hari 1 malam obrolan kita, Roiz berkali nyentil “ra meh jaluk tanda tangan ku po?” (gak mau pada minta tanda tanganku apa?). Loh apa maksud bocah ini… dalam ati tanya gitu. Dia siapa, bisa apa, apakah salah 1 orang yg berkompeten di salah 1 bidang dan berpengaruh? Muka dan gaya nya emang nyleneh, omonganya banyak gak jelas nya. Asu tenan pokoke cah 1 iki! hahaha
Sampai akhirnya saya tau, setelah meliat tayangan dia beserta komunitasnya, BaliBackpacker di program Kick Andy Metro Tv (baru beberapa minggu yll, video silakan searcing di youtube). Dia menjabat sebagai Dalang utama di band Ethno Experimental “Tembang Pribumi” (Website : tembangpribumi.com – Twitter : @tembangpribumi) . Selanjutnya ubek-ubek sendiri ya alamat tersebut :D* (OOT nya udahan ya, back to topic)

Semalam sebelum DCF, Roiz sms bahwa dia sudah berada di Gardu Pandang Tieng bareng Pak Dadi Wiryawan (Tim SERGAP Indonesia) dari Jogja, dengan 2 motor. Because salah 1 motornya dikhawatirkan gak kuat nanjak, maka saya turun menjemput boncengan sama Eko ke tkp. Pokoknya ceritanya kita tau-tau sampe Dieng aja dan istirahat di rumah Eko. Ramailah di rumah, Roiz, Pak Dadi dan juga Mulkan… temen titipan dr temen Backpacker Medan dan juga member Traveller Kaskus. Ngeteh ngemil gojek, tepatnya gojek kere kalau sama Roiz.

Pagi hari Dieng udah menggeliat, ramai orang dan kendaraan pada wara wiri. Saya sudah harus ngurus beberapa rombongan yang ketemu di Dieng hari ini. Dari urusan transport, ada yg lewat jalur Pantura Pekalongan – Bandar – Gerlang – Batur – Dieng  karena waktu itu memang jalur Wonosobo – Dieng ditutup karena perbaikan jembatan Tieng, sampai ngurusin tiket beserta ID card DCF, yg kelihatanya sepele tapi vital.
Siang yang sibuk, menyempatkan lah saya mengantar si Dalang edan dan Pak Dadi ke basecamp Gunung Prau di desa Patak Banteng. Maaf sekali saya tidak bisa ikut naik ke atas karena hal hal sudah menjadi kodrat saya, akhir pembicaraan sebelum mereka trekking naik dan saya balik ke Dieng.

Skip skip…
Sampai akhirnya mereka turun dari Gunung Prau keesokan harinya (hari pertama DCF) dan menjumpai foto foto dari kamera Pak Dadi seperti berikut ini ~

 


Misi mereka mengibarkan si Koneng bendera SERGAP di Gunung Prau terlaksana \m/

Hari ke 2 tamu-tamu DCF mayoritas sudah berada di Dieng hari ini. Kami mencar, Mulkan juga sudah gabung ke rombongan nya yg ngumpul di Dieng. Ketoke pagi hari nya Pak Dadi & Roiz jalan-jalan ke Sikunir, kalau dilihat jepretan beliau seperti berikut :

 


Di hari ke 2 ini, sore harinya Roiz pulang duluan. Katanya sih ada urusan yg sangat urgent di Jogja . Tapi udah ketebak sih urusan dia apaan :))) . Disertai urusan saya yang sudah selesai, Pak Dadi nambah nginep semalam di Dieng, dan baru ke esokan hari nya dia bertolak ke Jogja :D

Credit :
Dadi Wiryawan , Fotografer TIM SERGAP INDONESIA
Terimakasih atas kunjungan dan jepretannya yg luar biasa _/\_

Advertisements

[FR] Float 2 Nature Dieng

Yeaahhh… gatel juga pengin nulis sedikit cerita Float2Nature di Dieng kemaren. Uneg-uneg sih udah ada setelah F2N selesai, tapi mood buat cerita hitam diatas putih amat sangatlah malas. Bukanya apa-apa, tetapi saya memang bukanlah peserta apalagi panita di acara akbar tersebut. Blog-blog pribadi, website, tumblr, video-video di youtube yang tersebar di dunia maya dari peserta F2N jadi pematik buat ngekor kaya mereka (tapi tetep original tulisan saya loh ya…) #skip

Saya sendiri tau bakal ada F2N di Dieng sudah sejak akhir februari kemarin. Sore hujan itu lagi nyantai di penginapan Bu Jono Dieng, anteng di depan tv sambil nyruput kopi panas.  Datenglah rombongan mas mas dan mbak mbak yang belum saya kenal sebelumnya. Lewat mas Dwi saya berkenalan dengan 2 orang dari mereka, bang Meng, vokalisnya Float dan om Aley, selaku panitia F2N tersebut. Ngobrol-ngobrol bentar kalau mereka lagi mencari tempat yang pas untuk acara tersebut. Dan katanya mereka barusan survey ke Telaga Dringo… wow… tempat yang cocok buat acara bertema music dan alam pikir saya. Tetapi mereka tampak kurang yakin jika F2N harus diadakan di telaga dringo, karena akses jalan yang sulit dan terjal. Mengkhawatirkan kalau seperangkat alat band beserta sound sistem dan perabot lain harus melewati jalanan yang lebih pas dibilang sungai mengering tersebut. Dan wacana Telaga Cebong bakal menjadi kandidat kuat tempat acara F2N semakin jelas, dekat dengan kampung, dekat dengan Sikunir dan jalan yang relatif lebih bagus dari tempat lain. #seeedeeeppp

Sampai 2 hari kemudian setelah hari tersebut saya browsing dirumah, kalau Telaga Cebong adalah tempat bakal digelarnya acara tersebut pada 9-10 Juni 2012. klik | END

•••

Awal Juni…
Henpon berdering, telepon dari seseorang dari Jakarta… menanyakan persewaan tenda di Dieng buat tanggal 9-10 Juni di Telaga Cebong pintanya. Ok deal, ketemu di Dieng hari sabtu tanggal 9 Juni #beer

Seven days later…
Sabtu sore, setelah ashar dalam keadaan Dieng habis diguyur hujan, ketemuanlah dengan orang yang dimaksud di penginapan Bu Jono. Saya kira yang mesan tenda tersebut anak muda yang masih kuliah atau se enggaknya pemuda tanggung… Ternyata mas mas dengan pawakan tinggi besar, dan kalau boleh saya bilang mirip dengan Tora Sudiro #hahhaa. Mas Condro namanya dan bersama seorang temannya bernama mas Uman, tampaknya mereka “partner in crime” #haha pisss
Hujan agak mereda, gak lama basa basi ngobrol di penginapan Bu Jono kamipun menuju telaga cebong. Mobil carteran dari Semarang sekalian mengantar mereka ke telaga cebong (turun di bandara Ahmad Yani langsung Dieng hari itu juga)
Sesampai telaga cebong, disambut bang Meng dengan hem kotak kotak nya. Lapangan pinggir telaga dah penuh dengan tenda-tenda untuk peserta, beserta tenda-tenda panitia untuk masak, jual souvenir oleh-oleh dll. Ramai dan tampak hidup suasana pinggir telaga sore ini, gak kaya biasanya. Tenda segera didirikan di paling selatan bersebelah dengan jalan masuk, mas condro mas uman bergegas menaruh barang-barang yang dibawa ke dalam tenda #banyak benar perbekalan mereka. Obrolan sore dimulai… di tengah-tengah tenda peserta yang sudah disiapkan panitia dan seragam model tendanya, kenapa mereka ber-2 (mas condro mas uman -red) harus susah bawa tenda sendiri? (nyewa sendiri dan bukan dari panitia maksudnya). Intermezzo dikit ya… Ternyata mereka bukanlah peserta yang ikut rombongan naek bus dari Jakarta dengan budget yang ditentukan beserta ubo rampe lainya. Mereka diundang oleh teman akrab mereka yang gak lain adalah bang Meng (vokalis Float) untuk ada di acara tersebut. Tetapi dengan transport, makan, camp equipment dll nya mereka urus sendiri (dalam artian gak masuk dalam fasilitas panitia F2N). Oh jadi tau saya, setelah ketemu pertama di Bu Jono pikiran tersebut sempat terpikir tapi saya malas mempertanyakan mengapa harus bawa tenda sendir

suasana sore lapangan pinggir telaga cebong

Sore cukup cerah walau udara masih agak basah setelah hujan, lapangan yang otomatis jadi becek dan riuh orang-orang yang andil dalam F2N. Sebagian panitia dari tim Dieng kulon sibuk mengelap dalam tenda yang basah karena hujan. Maaf sedikit ya, maaf ni… kalau saya bilang tenda yang disiapkan gak rekomen buat camping masal dalam keadaan yang kena hujan. Merk “Jalan Terbaik” dirasa kurang pas untuk acara semewah F2N, baik yang model keong racun (semacam consina magnum) atau yang model imut 2p (semacam consina summertime). Untuk model keong racun saya gak tau itu dobel atau single wall, tetapi untuk yang imut jelas itu single dan tanpa flysheet. Okelah untuk cuaca tanpa hujan, tenda bakal tetap kering. Tetapi “ora bangetlah” untuk acara di lokasi yang sangat memungkinkan turun hujan secara mendadak seperti di Dieng ini. Satu saran saja, siapkan pawang hujan! #maaf lagi ya pisss
Panitia dari desa Sembungan juga gak kalah sibuk, para perempuan sebagai juru masak dan laki-lakinya urusan keperluan lain-lain di sekitar lapangan. Bisa dikata panitia Sembungan semuanya saya kenal, mereka orang-orang wisata di telaga cebong dan sunrise sikunir. #tssaaahhhh. Saya yang bukan siapa-siapa disitu akhirnya jadi ikut gabung dengan lainya, dengan panitia  juga (terutama sembungan) #hahahaaa

stage Float

Acara konser Float yang sesuai rundown acara dimulai jam 5 sore (kalau gak salah) terpaksa mundur karena ada beberapa rombongan dari Jakarta yang belom datang, denger-denger sih karena lama terjebak macet di daerah Jawa Barat.
Opening Act dari peserta pada sukarela tampil di venue memberi hiburan gratis kepada peserta lainya, ada yang band, ada yang solo vokal dengan diiringi pemain Float lainya. Cukup menghibur sembari nungguin acara sesungguhnya.

salah satu opening act dari peserta #bagus juga suara nih cewek

Sekitar jam 9 an rombongan terakhir pun datang, disambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai peserta yang sudah duluan tiba. Membaur dan bergabung membikin lapangan jadi tambah ramai. Gak lama berselang dari jalanan desa terdengar suara ramai dengan nada marah #upss. Segeremobolan pemuda desa Sembungan datang ke lapangan dan banyak yang saya kenal juga. Arrghhh ada apa ini anak-anak… pasang muka sadis dan gak peduli sama panitia-peserta, mereka langsung menghajar api unggun di tengah lapangan dengan  air… lagi butuh-butuhnya penghangat malah api dimatikan :nohope. Usut punya usut ternyata mereka (pemuda Sembungan -red) kurang suka kalau lapangan tempat mereka bermain sepak bola dirusak dengan acara tersebut, lapangan jadi makin becek, rumput terbakar karena api unggun. Ada omongan lain juga kalau acara tersebut belum ada izin dari kepala desa dan ketua pemuda desa Sembungan. Ah gak mau terlibat, saya hanya diam memperhatikan dari pojokan. Ada gak ada saya juga gak ngaruh acara #ngelesss

api unggun stelah dinyalakan kembali

Jam 9 lebih setelah urusan dengan pemuda Sembungan rampung dan api unggun boleh dinyalakan kembali, Float pun tampil. Ini 1 yang saya salut, kualitas sound mereka di alam terbuka bagus. huuaahhhh bagus pokonyaaaa… gak kalah kualitas sama sound di stage sekelas soundrenalin #ttsaaaaahhhh. Suara live bang Meng juga sama persis kaya di mp3 yang sering saya denger dirumah, persissss gak ada beda. Gak kaya acara-acara di pesawat telepisi yang lagi menjamur lipsing sekarang. Ini baru yang namanya BAND berkualitas, skill, perform, live dan sound nya mantab! (sambil bayangin bang Meng maenin blackbird nya the beatles pas cek sound). Salut juga buat sound engineer dibelakang meja mixer mereka \m/
Ditengah perform Float sempet nyempil seorang cowok yang ikut nyanyi bareng Float, suaranya keren. Lagu “Sementara” pun dinyanyikan kembali. Banyak yang histeris dan diminta kembali nyanyi bareng Float di panggung #sayang sekali kalau saja dia gak punya band! eman-eman suaranya dianggurin mas :p
Gak inget Float bawain berapa lagu, yang jelas terlihat audience puas malam itu \m/ (untuk perform Float loh ya, gak tau dll nya #ngacir).

perform Float

Setelah bubaran sebagian peserta pada balik ke tenda, ada yang makan di tenda panitia, ada yang tetep asik di sekitaran api unggun dan mas condro mas uman juga gak tau kemana. Saya milih ke rumah salah satu teman di desa Sembungan, ngopi ngobrol selonjoran disana.

Kembali ke lapangan sekitar jam 12 an, masih ada beberapa yang bertahan melek di tengah dinginya telaga cebong. Ada serombongan yang asik main game di tengah lapangan… mereka ramai sangat, gak peduli sama sekitarnya hahaha. Saya milih gabung dengan mas condro, bang meng, sebagian panitia dan beberapa orang yang baru saya kenal mengelilingi api unggun. Pada benar-benar menikmati hangatnya api unggun tampaknya, sambil bergantian maen gitar buat nyanyi bareng-bareng. Bang meng dan gitaris Float (gak tau namanya) juga tampak andil disitu. Tiba-tiba saja dapet giliran buat nyedot daun aceh kering… hmmmm #nocommentsforthenext

Minggu Jam 2 dini hari acara plus plus pun usai. Pada masuk tenda buat sitirahat… saya pindah haluan ke pojokan toilet parkiran telaga gabung dengan panitia Sembungan. Pada bakar-bakar kayu dan sampah kertas plastik yang bercecer di lapangan. Saya diharuskan gak tidur, karena jam 4 sudah harus membangunkan mas  condro mas uman buat trekking sunrise  sikunir (kalau tidur bisa-bisa mbablas sampe siang)

Jam 4 teng, para peserta sudah pada ngantri di toilet dan bersiap trekking. Bergegas bangunin mas condro mas uman. Tanpa lama kami ber3 jalan duluan, dengan tujuan gak terlalu crowded pas trekking sikunir dan bisa dapat space di puncak buat ngambil poto (soal mereka ber 2 bawa kamera dewa). Jalan di depan bawain tas kamera yang segede tas rancel 40l punya mas uman. Niat awal jalan duluan tapi mas uman gak terlalu kuat buat mendaki sikunir. Kurang biasa kali dia buat jalan nanjak sepagi ini, udara masah basah dan dingin, mana sitirahat juga sebentar semalam. Pada giliranya disalip ma rombongan peserta-panitia F2N… yah sia sia juga udah curi start karena puluhan orang jalan didepan saya dan mas uman ketika beristirahat. Mas condro melenggang dengan santai sampai puncak duluan, secara fisikly juga nampak lebih fit buat trekking.
Sampai puncak yang tengah sudah ramai, berjejer kamera buat njepret sunrise sikunir. Giliran buka tas kamera mas uman, huuwahhh ternyata kamera dengan gear lengkap, dengan lensa sepanjang termos #hahaha.
Mmmmm… golden sunrise nya mana ya kok ga nongol nongol. Cuaca cerah di sekitar sikunir, tetapi tidak untuk posisi munculnya matahari pagi itu. Sebagian awan hitam menutupi dan boleh dikatakan sunrise kali ini adalah gagal #norose

suasana camp area, pagi

aktivitas pagi

penampakan lightness #bingung

Turun sikunir jam 7an. Ada rombongan yang hendak kembali ke Jakarta pagi ini juga (takut macet dan takut gak tepat waktu mungkin). Sementara peserta F2N ngantri sarapan, mas uman mas condro berkemas dan saya bongkar-bongkar tenda. Dengan 1 bantuan teman Sembungan nganter mereka kembali ke Dieng, ke penginapan Bu Jono. Istirahat di penginapan setelah semalam gak tidur… Dan aktivitas F2N setelahnya saya tidak tahu -__-
(Rangkaian acara tersebut : tour dieng 1, lihat tarian dan kesenian adat dieng, serta penanaman pohon #kayaknya sih seperti itu)

menjelang bubaran dari telaga cebong

Mas condro mas uman cabut dari dieng sekitar jam 11 an. Mereka langsung menuju Semarang dengan mobil carteran dan langsung terbang ke Jakarta sore itu juga. Sayonara :-h

• Acara yang mengasyikan, apalagi buat yang belom pernah camping bareng atau kegiatan outdoor
• Bukan peserta dan bukan panitia, yang penting ketemu dan kenalan orang baru #modus cari link baru
• Orang desa Sembungan dan  orang di Dieng sedikit yang mengetahui acara ini
• Perform yang memuaskan dari Float
• Termasuk acara besar di Dieng dengan banyak peserta
• Diluar segala kekurangan, panitia juga manusia yang… (lanjutin sendiri ya) #larilarikecil

Dieng – the longest journey

Jam 5 sore berangkat dengan suasana cerah sabtu sore.
Ditemani teman bernama ardi “partner in crime” saya menyusuri hutan. Berbonceng bedua kaya maho, dengan rute standar yang sering dilewatin, rute Gerlang yang jalanya ancur nya makin ancur kaya sungai mengering. Mau gimana lagi, cuma jalur ini yg terdekat dan situasi yg hutan, pegunungan, ladang pertanian di sepanjang perjalanan. Jalur ini romantis kala bulan penuh . Cahaya bulan yg nembus disela sela ranting dan daun pepohonan hutan kluwung, hutan dibawah gerlang. mengingatkan akan mantan yang sering saya ajak lewat jalan ini #eeaaaa

Sesampai gerlang gerimis menjelang maghrib. Desa itu baru saja mengadakan pangajian di siang harinya, masih ada sisa sisa pedagang dan kesibukan lainya memberesi tempat itu, depan SD Gerlang. Dan sebelumnya sudah janjian dengan teman yang orang Gerlang, Dia sudah menunggu di toko pestisida depan SD, sebut dia fahri… pemuda lokal kampung tersebut. Setelah berjabat tangan dan ngobrol dengan beberapa orang yang saya kenal kami memutuskan ke rumah fahri. Sesampai dirumahnya bertemu dan “salim lebaran” dengan anggota keluarga lainya. Tanpa lama saya menyerbu tungku api di dapur untuk menghangatkan badan, tak lama teh panas tanpa gula disuguhkan. komplit juga suasana di depan tungku sambil ngobrol ngalor ngidul setelah beberapa bulan ini ga ketemu.
adzan maghrib berkumandang, saya bergegas ke mushola bareng fahri dan ardi. wudlu dengan air yg cukup dingin… ditambah… rasa kaya nginjek balok es batu ketika kaki menyentuh keramik mushola *bbrrrrrr

Setelah santap malam dirumah fahri, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, kebetulan juga hujan telah reda. tujuan kami selanjutnya adalah rumah mak dar di desa Kradenan. Fahri ikut karena mengenal mak dar juga. 5 menit perjalanan sampai jg di desa Kradenan. Sesampai disana seperti biasa, ngobrol, kopi dan makanan sisa lebaran. oh ya… mak dar mempunyai anak perempuan, sebut saja bunga. tergolong cantik lah buat ukuran perempuan gunung, perempuan desa. bisa saya bilang dia paling cantik di desanya. tapi sayang, dia sudah janda di usia muda. usia dia baru 19 tahun… nikah muda, ditinggal pergi ma suaminya dan belum mempunyai anak. orang sini meyebutnya dengan istilah “lanjar”. Kebiasaan orang desa, orang gunung, belom cukup dewasa dah main nikah aja :nohope
Saya sudah mengenal dia sebelum dia menikah. malam itu terlewati dibalik selimut tebal sembari nonton tv di dalam kamar, nonton Manchester city vs Wigan. Saya, fahri, abdi, bunga, makdar dan roni, anak makdar yg terakhir (adik bunga)
Pukul 10 malam saya dan ardi putuskan untuk melanjutkan menuju dieng. Dah malem juga jam segini harus menyusuri hutan dan jalanan sepi. Saya dan ardi berpamitan lalu pergi, sementara fahri menginap di rumah mak dar…
Gutbye Kradenan…

Dingin boy… gelap dan sepi. Dipikir kaya orang kurang kerjaan aja jam segini nglewati jalanan kaya gini. Sampai di Pekasiran meteran bensin di spedometer dan berkedip, tanda bensin mo habis. 3 rumah yg jualan bensin saya ketuk gak ada yg mau buka. Ya iyalah… jam 10 lebih, mana ada orang mau bukain pintu hanya untuk nglayanin orang butuh bensin yang seharga Rp 5.000.

Dengan nekat kami putuskan lanjut, pelan pelan lewat jalan Pekasiran, jalan arah desa Legetang *seereeemmmm… Gada satu pun kami jumpai kendaran berpapasan ato menyalip kami. sampai di PLTU Geodipa, per3an curug sirawe-kawah bitingan-kawah sileri, saya berhenti dan ambil beberapa poto. cerobong2 asap yg asapnya menyerupai kabut menarik saya untuk memotret.
horor… ditambah suara2 gemuruh dr mesin2 di areal PLTU tersebut.

15menit kemudian, sekitar pukul 12 tengah malam, sampailah di Dieng dengan bensin yg dah semakin menipis dan tubuh yg menggigil. cuma ada 1 warung kopi yg masih buka, tepat berada di depan penginapan Bu Djono. Saya memesan segelas susu coklat panas. sambil nanya, apakah masih ada orang jual bensin jam segini…
Bapak penjual kopi tersebut menunjukan 3 warung yang menjual bensin, kami samperin dan ketuk pintu tetapi ga ada 1 pun yang bukain. Pasrah deh… kalo dipikir gak mungkin cukup bensin segitu bisa nyampai Sembungan, takutnya berhenti di tengah2 jalan yang pas ga ada rumahnya. mana dah sering denger cerita2 serem jalanan Dieng sampai Sembungan. Makin nohoff nih malam!
Kami kembali ke warung kopi tersebut sambil berharap keajaiban datang.
Gimana ya gimana ya gimana ya… tukang ojek juga dah gak ada…

Gak lama kemudian mobil patroli PLTU Geodipa datang di warkop tersebut.
2 petugasnya menanyai kami mau kmana.
“petugas : arep nangdi sih mas, bengi temen
saya : badhe ke Sembungan pak, tapi bensin teng motor telas
petugas : melas temen sih, tak ter bae njo… motore deleh mburi. rika ng mburi njagani motore.”
Tanpa pikir panjang kami iyakan tawaran bapak tersebut.
Motor kami dinaikan dibagian belakang mobil 4×4 patroli PLTU Geodipa ke Sembungan. Sesampai Sembungan setelah menurunkan motor bapak itu dibayar ga mau…
dia bilang “wes rapapa mas, nyante bae, nyong ikhlas… saestu”
2 bapak itu sangat baik, datang memberi bantuan disaat yang tak terduga. thx ya pak :kiss

Seperti biasa, tempat peristirahatan paling nyaman di sembungan
rumah Diran… yang hanya berjarak 300 meter an dari kami turun dari mobil PLTU.
Disana ada beberapa anak ngumpul. mereka belom pada tidur! sippp… dinginya Sembungan masih kuat buat mereka untung begadang liat bola.

Ga puas kalo malam ini dilewatin tanpa nenda, kopi, api unggun dan genjrengan gitar. tapi apa mau dikata, sebagian dari mereka dah tumbang setelah liat bola. Kata Diran, tendaku dipake tetangga ke gunung slamet. Omg… tenda reot gtu nyampe gunung slamet! aku aja ga pernah bawa tenda itu selain ke Sikunir dan Prau *rada marah!

Pukul 4 pagi waktu Sembungan, udara masih dingin2nya, angin bertiup kencang dari Sikunir dan telaga Cebong dan semua orang dah pada tidur. Nekat juga saya keluar sendiri, sembari mengayun langkah tipis (supaya gak kedengaran ada orang jalan) menyusuri jalanan kampung dan menuju pojok barat Telaga Cebong…
Angin begitu kencang, sampe berdiri diatas batu pun rasanya mau ikut terbawa angin. Disebelah kanan bulan yg hampir penuh, dan sebelah kiri Telaga Cebong dan Sikunir yg masih tampak gelap. Dipayungi bintang bintang yang tak sebanyak kalo terlihat di dataran rendah. Rasi bintang “gubug penceng” disebelah selatan, rasi yg paling mudah dijumpai dibanding rasi yg laen.
Oh tuhan… malam indah buatanmu, walo harus dilewatin sendiri hanya dengan duduk diatas batu disudut telaga. Bersyukur aku bisa berada ditempat ini malam ini
(dalam hati tetap berbilang : anjrit malam ini ga ngecamp! )

“berapa banyak doa doa malam ini berterbangan di langit
doa aku, doa kamu, doa kita, doa kalian, doa semuanya… dan doa penentu mimpi.
doa yang saling berbenturan… doa seseorang yang berharap penuh terhadap sesorang dan sementara yang diharapkan berdoa juga buat seseorang yang laen. siklus 3, lingkup 4 atau bahkan lebih, dimana terlalu prematur untuk mengetahui siapa pemenangnya. kejadian kejadian tak terduga, keajaiban yang cepat atau bahkan penghambat mimpi kita karena doa orang yang berharap terhadap kita sangatlah kuat dibanding doa doa kita, yang kadang kalau dipikir cermat, itu kurang bijak.

mari kita lihat, doa siapa yang lebih dulu mencapai lantai tuhan,
doa yang kemudian lebih dulu menyentuh kaki tuhan.
dan berproses menjadi rasa sakit, kekecewaan, kekalahan dahulu sebelum menjadi doa yang di inginkan berupa kapas tipis dan suara pelan alam yang misteruis”

Bulan tampak sudah berlindung di Gunung Bismo sebelah barat
Angsa-angsa yang sudah mulai beraatifitas di pinggiran telaga
beserta adzan subuh dari mesjid Sembungan.
Pulang… melewati jalan tengah desa, dan banyak berjumpa warga Sembungan yang hendak sholat subuh di masjid. Banyak dr mereka bertanya : “gasik temen deke…?” lalu kujawab, “enggeh niki saking telogo pak/mak” sembari saling tukar senyum.
Mereka tetap saja ramah, menyambut orang asing yang belom dijumpainya sama skali. Makin cinta ma desa ini :berlleee
Ya… sembungan… yang katanya desa tertinggi di Jawa dengan tanah yang begitu subur…

– Perjalanan ke dieng terlama seumur-umur, jam 5 sore nyampe jam 12 malam (ngalahin jogja-dieng yang cuma 4 jam an)
– Ada aja yang harus ditemui sebelum nyampe dieng, untung terang dan bulan mau mencapai penuh

Sembungan pagi hari