Gunung Prau – Tim Sergap Indonesia

Bertepatan dengan DCF (Dieng Culture Festival) 2013

Roiz yg sudah jauh-jauh hari mengabarkan hendak ke Dieng,  DCF an sekaligus tilik Gunung Prau. Tetapi jauh-jauh hari juga saya bilang kalau gak bisa nemenin atau nganterin muter-muter edisi mbalayang kali ini. Beberapa rombongan kudu dilayani di DCF tahun ini.
*Sedikit cerita tentang Roiz, kita kenal sekitar April 2013. Sore Dia dateng dari Temanggung dan Cojack (temen Traveller Kaskus) datang dari Jakarta. Mereka ketemuan di Dieng, sebelum akhirnya kita ber3 ketemu di Dieng dalam keadaan hujan. Ngobrol-ngobrol dan ngopi di Bujono (waktu masih ada mas Dwi).  Suasana sore yg dingin tapi hangat, beberapa macam gorengan dan bergelas-gelas arak, eh kopi. Mbahas dari yg namanya A sampai Z, lor kidul wetan kulon, ngisor nduwur kiwo tengen ngarep mburi. Suasana cair kaya dah kenal lama.
Seperti rencana sebelumnya yg diutarakan Cojack, malamnya berangkat ke Sikunir, saya ngajakin Eko, temen segala suasana dari Dieng. Berangkatlah kami ber4 dalam keadaan gerimis. 10 menit sesampai di desa Sembungan gerimis makin deras alias berubah jadi hujan. Niat nenda di puncak Sikunir pun surut, kondisi suram. Suer enakan tidur di homestay dengan kasur dan selimut tebel nya, ada kopi teh panas dan cemilan suguhan homestay, racun saya bisikan selanjutnya. Tanpa lama mereka mengiyakan. Kami ber4 tidur di homestay salah 1 rekan di Sembungan. Dasar cangkem gojek ketemu cangkem nglayap, ngecret panjang lebar finish jam 2 pagi. Sekamar ber4 no problem dah, biar rapet anget.
Paginya cuaca masih sama, mereka ber3 nekat naik Sikunir walau sudah jam 7 pagi (berangkat nyunrise apa berangkat ke ladang pak #ngakaks). Nglanjutin narik selimut itu dah ide paling bagus, bosen mah Sikunir #cool. Sampai Dzuhur kami masih tertahan di Sembungan, karena memang enak bener kabut disini buat gegoleran di kasur.
Siang sekitar jam 1 an, mereka (Roiz & Cojack) pada turun ke Wonosobo, suasana langit juga tidak berubah dari kemarin, syuram bagi kami tetapi tidak bagi para petani kentang karena tanaman kentangnya sudah disiram alam. So… kadang yg kita keluhkan itu justru sangat bermanfaat bagi orang lain, entah sekitar kita atau belahan bumi lain *sok a wise*
Nah ini… Selama 2 hari 1 malam obrolan kita, Roiz berkali nyentil “ra meh jaluk tanda tangan ku po?” (gak mau pada minta tanda tanganku apa?). Loh apa maksud bocah ini… dalam ati tanya gitu. Dia siapa, bisa apa, apakah salah 1 orang yg berkompeten di salah 1 bidang dan berpengaruh? Muka dan gaya nya emang nyleneh, omonganya banyak gak jelas nya. Asu tenan pokoke cah 1 iki! hahaha
Sampai akhirnya saya tau, setelah meliat tayangan dia beserta komunitasnya, BaliBackpacker di program Kick Andy Metro Tv (baru beberapa minggu yll, video silakan searcing di youtube). Dia menjabat sebagai Dalang utama di band Ethno Experimental “Tembang Pribumi” (Website : tembangpribumi.com – Twitter : @tembangpribumi) . Selanjutnya ubek-ubek sendiri ya alamat tersebut :D* (OOT nya udahan ya, back to topic)

Semalam sebelum DCF, Roiz sms bahwa dia sudah berada di Gardu Pandang Tieng bareng Pak Dadi Wiryawan (Tim SERGAP Indonesia) dari Jogja, dengan 2 motor. Because salah 1 motornya dikhawatirkan gak kuat nanjak, maka saya turun menjemput boncengan sama Eko ke tkp. Pokoknya ceritanya kita tau-tau sampe Dieng aja dan istirahat di rumah Eko. Ramailah di rumah, Roiz, Pak Dadi dan juga Mulkan… temen titipan dr temen Backpacker Medan dan juga member Traveller Kaskus. Ngeteh ngemil gojek, tepatnya gojek kere kalau sama Roiz.

Pagi hari Dieng udah menggeliat, ramai orang dan kendaraan pada wara wiri. Saya sudah harus ngurus beberapa rombongan yang ketemu di Dieng hari ini. Dari urusan transport, ada yg lewat jalur Pantura Pekalongan – Bandar – Gerlang – Batur – Dieng  karena waktu itu memang jalur Wonosobo – Dieng ditutup karena perbaikan jembatan Tieng, sampai ngurusin tiket beserta ID card DCF, yg kelihatanya sepele tapi vital.
Siang yang sibuk, menyempatkan lah saya mengantar si Dalang edan dan Pak Dadi ke basecamp Gunung Prau di desa Patak Banteng. Maaf sekali saya tidak bisa ikut naik ke atas karena hal hal sudah menjadi kodrat saya, akhir pembicaraan sebelum mereka trekking naik dan saya balik ke Dieng.

Skip skip…
Sampai akhirnya mereka turun dari Gunung Prau keesokan harinya (hari pertama DCF) dan menjumpai foto foto dari kamera Pak Dadi seperti berikut ini ~

 


Misi mereka mengibarkan si Koneng bendera SERGAP di Gunung Prau terlaksana \m/

Hari ke 2 tamu-tamu DCF mayoritas sudah berada di Dieng hari ini. Kami mencar, Mulkan juga sudah gabung ke rombongan nya yg ngumpul di Dieng. Ketoke pagi hari nya Pak Dadi & Roiz jalan-jalan ke Sikunir, kalau dilihat jepretan beliau seperti berikut :

 


Di hari ke 2 ini, sore harinya Roiz pulang duluan. Katanya sih ada urusan yg sangat urgent di Jogja . Tapi udah ketebak sih urusan dia apaan :))) . Disertai urusan saya yang sudah selesai, Pak Dadi nambah nginep semalam di Dieng, dan baru ke esokan hari nya dia bertolak ke Jogja :D

Credit :
Dadi Wiryawan , Fotografer TIM SERGAP INDONESIA
Terimakasih atas kunjungan dan jepretannya yg luar biasa _/\_

[FR] Float 2 Nature Dieng

Yeaahhh… gatel juga pengin nulis sedikit cerita Float2Nature di Dieng kemaren. Uneg-uneg sih udah ada setelah F2N selesai, tapi mood buat cerita hitam diatas putih amat sangatlah malas. Bukanya apa-apa, tetapi saya memang bukanlah peserta apalagi panita di acara akbar tersebut. Blog-blog pribadi, website, tumblr, video-video di youtube yang tersebar di dunia maya dari peserta F2N jadi pematik buat ngekor kaya mereka (tapi tetep original tulisan saya loh ya…) #skip

Saya sendiri tau bakal ada F2N di Dieng sudah sejak akhir februari kemarin. Sore hujan itu lagi nyantai di penginapan Bu Jono Dieng, anteng di depan tv sambil nyruput kopi panas.  Datenglah rombongan mas mas dan mbak mbak yang belum saya kenal sebelumnya. Lewat mas Dwi saya berkenalan dengan 2 orang dari mereka, bang Meng, vokalisnya Float dan om Aley, selaku panitia F2N tersebut. Ngobrol-ngobrol bentar kalau mereka lagi mencari tempat yang pas untuk acara tersebut. Dan katanya mereka barusan survey ke Telaga Dringo… wow… tempat yang cocok buat acara bertema music dan alam pikir saya. Tetapi mereka tampak kurang yakin jika F2N harus diadakan di telaga dringo, karena akses jalan yang sulit dan terjal. Mengkhawatirkan kalau seperangkat alat band beserta sound sistem dan perabot lain harus melewati jalanan yang lebih pas dibilang sungai mengering tersebut. Dan wacana Telaga Cebong bakal menjadi kandidat kuat tempat acara F2N semakin jelas, dekat dengan kampung, dekat dengan Sikunir dan jalan yang relatif lebih bagus dari tempat lain. #seeedeeeppp

Sampai 2 hari kemudian setelah hari tersebut saya browsing dirumah, kalau Telaga Cebong adalah tempat bakal digelarnya acara tersebut pada 9-10 Juni 2012. klik | END

•••

Awal Juni…
Henpon berdering, telepon dari seseorang dari Jakarta… menanyakan persewaan tenda di Dieng buat tanggal 9-10 Juni di Telaga Cebong pintanya. Ok deal, ketemu di Dieng hari sabtu tanggal 9 Juni #beer

Seven days later…
Sabtu sore, setelah ashar dalam keadaan Dieng habis diguyur hujan, ketemuanlah dengan orang yang dimaksud di penginapan Bu Jono. Saya kira yang mesan tenda tersebut anak muda yang masih kuliah atau se enggaknya pemuda tanggung… Ternyata mas mas dengan pawakan tinggi besar, dan kalau boleh saya bilang mirip dengan Tora Sudiro #hahhaa. Mas Condro namanya dan bersama seorang temannya bernama mas Uman, tampaknya mereka “partner in crime” #haha pisss
Hujan agak mereda, gak lama basa basi ngobrol di penginapan Bu Jono kamipun menuju telaga cebong. Mobil carteran dari Semarang sekalian mengantar mereka ke telaga cebong (turun di bandara Ahmad Yani langsung Dieng hari itu juga)
Sesampai telaga cebong, disambut bang Meng dengan hem kotak kotak nya. Lapangan pinggir telaga dah penuh dengan tenda-tenda untuk peserta, beserta tenda-tenda panitia untuk masak, jual souvenir oleh-oleh dll. Ramai dan tampak hidup suasana pinggir telaga sore ini, gak kaya biasanya. Tenda segera didirikan di paling selatan bersebelah dengan jalan masuk, mas condro mas uman bergegas menaruh barang-barang yang dibawa ke dalam tenda #banyak benar perbekalan mereka. Obrolan sore dimulai… di tengah-tengah tenda peserta yang sudah disiapkan panitia dan seragam model tendanya, kenapa mereka ber-2 (mas condro mas uman -red) harus susah bawa tenda sendiri? (nyewa sendiri dan bukan dari panitia maksudnya). Intermezzo dikit ya… Ternyata mereka bukanlah peserta yang ikut rombongan naek bus dari Jakarta dengan budget yang ditentukan beserta ubo rampe lainya. Mereka diundang oleh teman akrab mereka yang gak lain adalah bang Meng (vokalis Float) untuk ada di acara tersebut. Tetapi dengan transport, makan, camp equipment dll nya mereka urus sendiri (dalam artian gak masuk dalam fasilitas panitia F2N). Oh jadi tau saya, setelah ketemu pertama di Bu Jono pikiran tersebut sempat terpikir tapi saya malas mempertanyakan mengapa harus bawa tenda sendir

suasana sore lapangan pinggir telaga cebong

Sore cukup cerah walau udara masih agak basah setelah hujan, lapangan yang otomatis jadi becek dan riuh orang-orang yang andil dalam F2N. Sebagian panitia dari tim Dieng kulon sibuk mengelap dalam tenda yang basah karena hujan. Maaf sedikit ya, maaf ni… kalau saya bilang tenda yang disiapkan gak rekomen buat camping masal dalam keadaan yang kena hujan. Merk “Jalan Terbaik” dirasa kurang pas untuk acara semewah F2N, baik yang model keong racun (semacam consina magnum) atau yang model imut 2p (semacam consina summertime). Untuk model keong racun saya gak tau itu dobel atau single wall, tetapi untuk yang imut jelas itu single dan tanpa flysheet. Okelah untuk cuaca tanpa hujan, tenda bakal tetap kering. Tetapi “ora bangetlah” untuk acara di lokasi yang sangat memungkinkan turun hujan secara mendadak seperti di Dieng ini. Satu saran saja, siapkan pawang hujan! #maaf lagi ya pisss
Panitia dari desa Sembungan juga gak kalah sibuk, para perempuan sebagai juru masak dan laki-lakinya urusan keperluan lain-lain di sekitar lapangan. Bisa dikata panitia Sembungan semuanya saya kenal, mereka orang-orang wisata di telaga cebong dan sunrise sikunir. #tssaaahhhh. Saya yang bukan siapa-siapa disitu akhirnya jadi ikut gabung dengan lainya, dengan panitia  juga (terutama sembungan) #hahahaaa

stage Float

Acara konser Float yang sesuai rundown acara dimulai jam 5 sore (kalau gak salah) terpaksa mundur karena ada beberapa rombongan dari Jakarta yang belom datang, denger-denger sih karena lama terjebak macet di daerah Jawa Barat.
Opening Act dari peserta pada sukarela tampil di venue memberi hiburan gratis kepada peserta lainya, ada yang band, ada yang solo vokal dengan diiringi pemain Float lainya. Cukup menghibur sembari nungguin acara sesungguhnya.

salah satu opening act dari peserta #bagus juga suara nih cewek

Sekitar jam 9 an rombongan terakhir pun datang, disambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai peserta yang sudah duluan tiba. Membaur dan bergabung membikin lapangan jadi tambah ramai. Gak lama berselang dari jalanan desa terdengar suara ramai dengan nada marah #upss. Segeremobolan pemuda desa Sembungan datang ke lapangan dan banyak yang saya kenal juga. Arrghhh ada apa ini anak-anak… pasang muka sadis dan gak peduli sama panitia-peserta, mereka langsung menghajar api unggun di tengah lapangan dengan  air… lagi butuh-butuhnya penghangat malah api dimatikan :nohope. Usut punya usut ternyata mereka (pemuda Sembungan -red) kurang suka kalau lapangan tempat mereka bermain sepak bola dirusak dengan acara tersebut, lapangan jadi makin becek, rumput terbakar karena api unggun. Ada omongan lain juga kalau acara tersebut belum ada izin dari kepala desa dan ketua pemuda desa Sembungan. Ah gak mau terlibat, saya hanya diam memperhatikan dari pojokan. Ada gak ada saya juga gak ngaruh acara #ngelesss

api unggun stelah dinyalakan kembali

Jam 9 lebih setelah urusan dengan pemuda Sembungan rampung dan api unggun boleh dinyalakan kembali, Float pun tampil. Ini 1 yang saya salut, kualitas sound mereka di alam terbuka bagus. huuaahhhh bagus pokonyaaaa… gak kalah kualitas sama sound di stage sekelas soundrenalin #ttsaaaaahhhh. Suara live bang Meng juga sama persis kaya di mp3 yang sering saya denger dirumah, persissss gak ada beda. Gak kaya acara-acara di pesawat telepisi yang lagi menjamur lipsing sekarang. Ini baru yang namanya BAND berkualitas, skill, perform, live dan sound nya mantab! (sambil bayangin bang Meng maenin blackbird nya the beatles pas cek sound). Salut juga buat sound engineer dibelakang meja mixer mereka \m/
Ditengah perform Float sempet nyempil seorang cowok yang ikut nyanyi bareng Float, suaranya keren. Lagu “Sementara” pun dinyanyikan kembali. Banyak yang histeris dan diminta kembali nyanyi bareng Float di panggung #sayang sekali kalau saja dia gak punya band! eman-eman suaranya dianggurin mas :p
Gak inget Float bawain berapa lagu, yang jelas terlihat audience puas malam itu \m/ (untuk perform Float loh ya, gak tau dll nya #ngacir).

perform Float

Setelah bubaran sebagian peserta pada balik ke tenda, ada yang makan di tenda panitia, ada yang tetep asik di sekitaran api unggun dan mas condro mas uman juga gak tau kemana. Saya milih ke rumah salah satu teman di desa Sembungan, ngopi ngobrol selonjoran disana.

Kembali ke lapangan sekitar jam 12 an, masih ada beberapa yang bertahan melek di tengah dinginya telaga cebong. Ada serombongan yang asik main game di tengah lapangan… mereka ramai sangat, gak peduli sama sekitarnya hahaha. Saya milih gabung dengan mas condro, bang meng, sebagian panitia dan beberapa orang yang baru saya kenal mengelilingi api unggun. Pada benar-benar menikmati hangatnya api unggun tampaknya, sambil bergantian maen gitar buat nyanyi bareng-bareng. Bang meng dan gitaris Float (gak tau namanya) juga tampak andil disitu. Tiba-tiba saja dapet giliran buat nyedot daun aceh kering… hmmmm #nocommentsforthenext

Minggu Jam 2 dini hari acara plus plus pun usai. Pada masuk tenda buat sitirahat… saya pindah haluan ke pojokan toilet parkiran telaga gabung dengan panitia Sembungan. Pada bakar-bakar kayu dan sampah kertas plastik yang bercecer di lapangan. Saya diharuskan gak tidur, karena jam 4 sudah harus membangunkan mas  condro mas uman buat trekking sunrise  sikunir (kalau tidur bisa-bisa mbablas sampe siang)

Jam 4 teng, para peserta sudah pada ngantri di toilet dan bersiap trekking. Bergegas bangunin mas condro mas uman. Tanpa lama kami ber3 jalan duluan, dengan tujuan gak terlalu crowded pas trekking sikunir dan bisa dapat space di puncak buat ngambil poto (soal mereka ber 2 bawa kamera dewa). Jalan di depan bawain tas kamera yang segede tas rancel 40l punya mas uman. Niat awal jalan duluan tapi mas uman gak terlalu kuat buat mendaki sikunir. Kurang biasa kali dia buat jalan nanjak sepagi ini, udara masah basah dan dingin, mana sitirahat juga sebentar semalam. Pada giliranya disalip ma rombongan peserta-panitia F2N… yah sia sia juga udah curi start karena puluhan orang jalan didepan saya dan mas uman ketika beristirahat. Mas condro melenggang dengan santai sampai puncak duluan, secara fisikly juga nampak lebih fit buat trekking.
Sampai puncak yang tengah sudah ramai, berjejer kamera buat njepret sunrise sikunir. Giliran buka tas kamera mas uman, huuwahhh ternyata kamera dengan gear lengkap, dengan lensa sepanjang termos #hahaha.
Mmmmm… golden sunrise nya mana ya kok ga nongol nongol. Cuaca cerah di sekitar sikunir, tetapi tidak untuk posisi munculnya matahari pagi itu. Sebagian awan hitam menutupi dan boleh dikatakan sunrise kali ini adalah gagal #norose

suasana camp area, pagi

aktivitas pagi

penampakan lightness #bingung

Turun sikunir jam 7an. Ada rombongan yang hendak kembali ke Jakarta pagi ini juga (takut macet dan takut gak tepat waktu mungkin). Sementara peserta F2N ngantri sarapan, mas uman mas condro berkemas dan saya bongkar-bongkar tenda. Dengan 1 bantuan teman Sembungan nganter mereka kembali ke Dieng, ke penginapan Bu Jono. Istirahat di penginapan setelah semalam gak tidur… Dan aktivitas F2N setelahnya saya tidak tahu -__-
(Rangkaian acara tersebut : tour dieng 1, lihat tarian dan kesenian adat dieng, serta penanaman pohon #kayaknya sih seperti itu)

menjelang bubaran dari telaga cebong

Mas condro mas uman cabut dari dieng sekitar jam 11 an. Mereka langsung menuju Semarang dengan mobil carteran dan langsung terbang ke Jakarta sore itu juga. Sayonara :-h

• Acara yang mengasyikan, apalagi buat yang belom pernah camping bareng atau kegiatan outdoor
• Bukan peserta dan bukan panitia, yang penting ketemu dan kenalan orang baru #modus cari link baru
• Orang desa Sembungan dan  orang di Dieng sedikit yang mengetahui acara ini
• Perform yang memuaskan dari Float
• Termasuk acara besar di Dieng dengan banyak peserta
• Diluar segala kekurangan, panitia juga manusia yang… (lanjutin sendiri ya) #larilarikecil

Sikunir Honeymoon

Ketemu pasangan yang baru nikah dan honeymoon di puncak sikunir pas saya jalan-jalan sore sama pacal. Ngobrol-ngobrol ternyata mereka sesepuh kaskus regional Bekasi dan ternyata juga pernah posting nanya-nanya di trit Dieng sebelumnya. Sore itu cukup cerah dan saya sempat kepincut ajakan mereka buat ngecamp juga nanti malam (dengan tenda sendiri-sendiri tentunya, pan mereka lagi program pembuatan dedek :p ).  Tapi saya juga ingat kalau itu adalah malam jumat kliwon… walau mengiyakan ajakan mereka tapi saya gak janji untuk naek lagi tar malam hehe #atuuutttt. Sekitar pukul 4 sore saya turun Sikunir, kembali ke desa Sembungan dan malamnya menginap di desa tersebut. Malam berlalu disertai gerimis… saya berpikir “indah nian honeymoon kalian” tetapi saya tetap memilih berada di depan tungku api dan meringkuk di kasur dan selimut tebal Sembungan :)

Selamat berbahagia dan selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang samawa, cepet punya momongan (sampai tulisan ini tayang, mbaknya sudah hamil 5bulan). Berkat purwaceng kali ya… saran saya sebelum kita berpisah sore itu #ngakak

Syafmita Wahyuni Asri (id kaskus : wanna be )

dengan

Arvanny Albar (id kaskus  :  falkrye )

Dieng – ilovemonday

Sabtu siang yang mendung

Seperti biasa, sendiri menuju Dieng. Di tengah perjalanan dingin di badan mulai terasa. Berhenti sebentar untuk ganti jaket yang lebih hangat. Setelah melongok tas, tak dijumpai jaket yang saya maksud… azzzz sial rupanya si jaket gak masuk  packingan hari ini. Terpaksa saya lanjutin pakai switer tipis yang dipakai dari rumah. Memasuki daerah konservasi dataran tinggi Dieng udara semakin dingin terasa di badan #brrrrr

Sampai Dieng jam setengah 5, langsung masuk ke homestay Bu Djono, tempat di Dieng yang sangat nyaman. Begitu masuk langsung disambut pak Didi, dia mengatakan ada beberapa orang mencariku dan kemudian mempertemukanya. Dia adalah rombongan dari Jakarta, Farhan dkk (diluar segala penyamaranya). Berisi 7 anak muda, 5 cowok dan 2 cewek. Setelah berkenalan, mereka adalah Erwin, Lancip, Maman, Anto, Karin, Puput dan Farhan (nulis nama terakhir tetep dengan tertawa #ngakak). Oh ya, ada 1 yang bukan dari Ibu kota, dia adalah puput dari Salatiga, yang bertemu rombongan mereka di terminal Wonosobo. Rombongan ini yang menghubungiku 1 minggu (1 bulan dink aslinya kalo inget id Ahmad.JP :p) sebelumnya untuk diurusin homestay, makan, guide dan transport selama di Dieng. Dan kami janjian bertemu sabtu sore di longweekend ini. Kami mengobrol sebentar di samping homestay, lalu mereka lanjut masuk ke kamar yang sudah saya bokingkan beberapa hari yang lalu. Selanjutnya saya ngacir ke warung miayam depan homestay, sambil liatin situasi jalanan Dieng sore ini. Cukup ramai walau gerimis udah mulai turun.

Sebelum maghrib saya balek ke homestay. Duduk di depan tv ditemani segelas teh panas. Ngobrol ngalor ngidul ma  Mbah Sur, orang Bandung pemilik homestay ini. Sesekali ngobrol ma mas Dwi yang sibuk melayani para tamu di restoran. Hujan turun, membuat switer yang saya pakai gak sanggup membentengi tubuh yang tak seberapa ini #beerlleee…
Setelah maghrib si Farhan turun (a.k.a geilandri) ngobrolin mau gimana besok dan dll nya. Of course, saya hanya memudahkan dan menuruti permintaan mereka. Tak banyak obrolan terjadi, yang jelas saya mudeng dan tau mau mereka :p. Setelah cukup hangat karena jaket pinjeman mas  Dwi, saya keluar ke per3an depan. Nemuin kang Sugeng, guide lokal Dieng yang cukup akrab dengan saya. Ada beberapa guide lain dan tukang ojek bersama saya malam itu. Kebetulan malam itu tanggal 16 jawa, semalam setelah bulan purnama. Dan sisa-sisa purnama masih terang buat malam ini. Cukup menarik berinteraksi dengan mereka, dipayungi cahaya bulan dan ngobrol dengan bahasa “ngapak” khas Dieng.
Jam 9 malam mas Dwi menghampiri saya, lalu kami makan malam bareng di warung bu Yati. Makan di depan tungku arang… #lumayan angetin badan. Setelahnya kembali di homestay dan  Farhan dkk sudah ada berada di balkon penginapan. Perkenalan yang cukup menarik dengan mereka sembari menguntal martabak manis. Jam 10 lebih mereka masuk kamar dan saya menuju kamar atas, tidur sekamar bareng mas Dwi #mahos

Minggu jam 4 pagi

Saya dibangunkan mas Dwi. Para tamu homestay bersiap sunrise di Sikunir. Mas Dwi ngantar 4 tamu dari Singapur dan saya nganter Farhan dkk.  Cuci muka, gosok gigi dan panasin motor… kegiatan yang gak pernah saya kerjakan kalau dirumah dikala jam 4 pagi (“,)…
8 orang berbonceng dengan 4 motor (dan saya berbonceng dengan anto), bersiap dan kami berangkat menuju Sikunir dengan sisa bulan semalam dan udara yang cukup dingin. Sampai di desa terakhir, Sembungan, lanjut ke parkiran telaga cebong.  Ada kang Herman dkk, petugas tiket dan parkir Sikunir, kang Yuna berserta istri yang jualan minuman anget dan makanan khas Dieng di kaki gunung Sikunir. Mereka adalah orang-orang wisata yang cukup akrab dengan saya. #so what…

Treking Sikunir Dimulai. Situasi masih gelap, angin tak terlalu bertiup kencang. Perjalanan santai dan tanpa rintangan. Sekitar 30 menit kemudian sampai di puncak ke 2. Kita beristirahat disitu, nungguin sunrise bersama wisawatan lain. Cukup ramai pagi ini… cuaca cerah.
Farhan dkk asik mengobrol, becanda dan foto-foto disini. Saya hanya diam karena ga mudeng apa yang mereka obrolin haha. Sembari mereka puasin sunrise disini, saya mengampiri kang Tusman, penjual minuman anget di Sikunir.
Sekitar setengah jam disini, Farhan dkk berminat ke puncak pertama Sikunir. Dengan treking sekitar 10 menit kami berjalan ke atas sampai puncak. Sesampai puncak tak kalah ramai, banyak yang gelar tenda disini. Kami membongkar trangia, berniat nyeduh kopi dengan sisa air yang menipis (ontanya dah pada aus pas di puncak ke 2, gara-gara itu air aq*a 1 liter dah hampir habis duluan #pisss hehe). Dengan sisa air yang ada, cukup untuk 2 gelas kopi buat ramai-ramai. Di titik ini view nya lebih bagus dari puncak 2, Sindoro dan Wonosobo terlihat dari sini. Berfoto adalah kegiatan wajib, apalagi ada si Anto, dedengkot Klastic ibu kota. Dia bawa 2 kamera yang masih pake rol film (kagak mudeng aing apa aja merk kameranya #hammer). Setengah jam lebih kami habiskan dengan ngopi, foto dan ngobrolin Dieng. Lalu kami turun menuju parkiran telaga cebong, tempat pertama kami naik. Parkiran dah sepi, petugas karcis ma parkir sudah pada pulang. Lumayan 8rebu kami utuh karena gak bayar parkir hiihihii

sunrise sikunir

karing bareng

Tujuan selanjutnya adalah telaga Warna. Mereka sarapan mi Ongklok, sate ayam dan tempe kemul di salah 1 warung di areal parkir. Dilanjut treking, tetapi ini bukan masuk ke area telaga Warna dan Pengilon beserta komplek goa Semarnya. Kami menuju bukit Sidengkeng, bukit diutara telaga. View disini lebih luas dan bisa melihat ke 2 telaga dari atas. Punggungan gunung Prau juga terlihat jelas dari sini #hugs
Dilanjut ke kawah Sikidang. Saya memilih tidak masuk di area kawah dan menunggu mereka di parkiran sambil ngopi dan nguntal tempe kemul. Panas cuiii… mending ngendon di warung mbak-mbak berjilbab haha. Rampung di kawah langsung nuju areal candi Arjuna. Cukup ramai juga disini dan saya memilih duduk di pojokan pura-pura dongo seolah baru pertama kesini sambil liatin orang berlalulalang, dan mereka asik poto-poto di sekitaran candi. Panasnya mulai anyingg, (dalam hati : dijamin bakal pecah-pecah ni wajah kalo sampai rumah). Sekitar pukul 1 siang kami cabut dari candi. Berbonceng dengan karin, yang lalu dia curhat kalo kakak perempuanya gak buruan dilamar ma kekasihnya hahay… Masuk ke homestay, berniat makan siang dan istirahat sebentar sebelum melanjutkan explore area Dieng 2. Belum lama di homestay, hujan turun dengan santai dan tanpa dosa, membuyarkan rencana mereka yang hendak lanjutin explore. Kabut tebel pun ikut serta membuyarkan pandangan kalau kita jadi jalan. Suasana yang komplit buat malas beranjak dari homestay. Diputuskan Dieng 2 batal karena perubahan cuaca yang mendadak ini. Mereka memilih tidur dan kemudian makan siang di warung bu Yati yang tak jauh dari homestay. Sore hujan kami habiskan di kamar sambil ngopi pakai trangia (walau mas Dwi sebenernya gak bolehin haha).

sidengkeng, bukit utara telaga warna + pengilon

lancip + karin @ sidengkeng

areal candi arjuna

mie ongklok + sate ayam

Malam dihabiskan dikamar, pada maen uno yang saya sama sekali gak tau cara mainya. Jam 9 saya turun, liat Arsenal vs ManCity bareng mbah Sur. Gilak ni mbah-mbah masih kuat melek + tau info-info bola, semangat pula ngobrolnya, kaya pangeran Diponegoro ketika memarangi VOC #berle!. Tak lama mereka ikut turun dan memesan makanan di homestay. Situasi hening resto homestay pun pecah ketika mereka turun dari lantai 2. Sambil makan mereka ngobrol dan ketawa cukup keras haha. Dinginya Dieng mereka isi dengan obrolan khas anak muda yang hangat dan akrab. Tapi terlihat disitu Puput hanya diam saja, menjadi pendengar yang baik bagi gank ibu kota haha…
Jam 11 rampung makan mereka cabut ke kamar, sebagian ikut nonton bola bareng saya  dan mbah Sur walau akhirnya mereka pada tumbang setelah babak pertama berakhir. Tinggalah saya dan Mbah Sur lanjutin sampai bubaran, kemenangan 1-0 untuk Arsenal (Arteta 63′)
Pukul 12 lebih saya beranjak ke kamar lantai 3 dan zzzzzz…

situasi kamar homestay

Senin Pagi yang cerah dan berulang kali bilang  ”ilovemonday”

Saya sendiri bangun pukul setengah 9, capek dan kebetulan ga ada treking lagi untuk hari ini. Mereka memilih untuk jalan-jalan di sekitaran Dieng, dan tidak jadi ke Dieng 2. Bersih-bersih badan di balkon belakang lantai 3, matahari muncul gagah dari balik gunung Prau, membuat saya betah karing dengan pak Didi yang sibuk mencuci  selimut di washing machine yang dipakai para tamu hari sebelumnya.  Dan ngopi diresto rasanya cukup nikmat di pagi ini, saya bergegas ke bawah…
Farhan dkk turun dan sarapan di warung belakang homestay. Saya menunggu santai di depan pesawat telepisi, nyruput kopi dan nyemil tempe kemul dari dapur hehe.

sarapan

Pukul setengah 12 mereka selesai makan. Tujuan kali ini adalah jalan ke candi Dwarawati, 1 candi yang terletak di kaki gunung Prau. Melewati perkampungan penduduk di Dieng Kulon dengan jalan yang cukup bagus. Kira-kira 20menit kita sampai di candi. Ada yang berpose kaya arca, ada yang sok asik sendiri, ada yang duduk-duduk dirumput, ada yang latihan poto prewed… mereka adalah sekumpulan anak muda yang gembira :p
Sentra oleh-oleh Dieng, tujuan kami selanjutnya. Mereka saya ajak ke pembuatan carica dan oleh-oleh Dieng lainya di salah satu penduduk di Dieng kulon. Tester berupa 2 botol carica segar dan 1 bungkus jamur crispy habis dihajar masa haha. Mereka memborong berbotol carica, berbungkus jamur dan jajanan lainya. Tau deh kalau ada yang diem-diem nyempil belanja purwaceng #ups

arca candi dwarawati yang telah kembali #ngacir

karin + puput

karin puput lagi

semacam prewed

poto keluarga

sentra oleh-oleh

sentra oleh-oleh

Puas di sentra oleh-oleh, kembali jalan pulang ke homestay. Mengunjungi Watu Kelir dan Tuk Bima Lukar dibatalkan karena hari dah siang. Mereka bersiap pulang, sibuk packing di kamar. Saya memilih nyantai lagi di depan tivi. Pas lagi asik liat cuplikan bola di Tr*nspitu, ada 2 orang mas mas yang pesen makanan yang kemudian ikut nimbrung nonton, dan saya mempersilahkan mereka duduk disamping saya. Terjadilah obrolan yang akhirnya diketahui dia adalah om Muhyad, seorang sepuh OANC #sungkemsesepuh
K = Kukuh, M = Muhyad
K : dari mana om?
M : dari muria?
K : muria kudus om? tripnya om jenggot bukan? #kagets
M : iya, kok tau? #kagetsjuga
K : baca ajakan tripnya on jenggot di lounge fb OANC. berarti situ OANC donk #think
M : iya om, situ OANC?
K : iya om tp saya nyubitol #sedikitmalu. ID nya apa om?
M : muhyad, situ apa?
K : oh situ om… (dulu sering post bareng tanpa pernah bertemu muka) saya garayy #malulagi
M : lah ini yang dicari…!
Akhirnya tertawa bareng #ngakak

Ada 1 lagi temenya, namanya om Dhianto tapi saya lupa ID kaskusnya apa. Mereka cukup friendly dan sepertinya poto prof dengan agama Nikonya @_@. 2 orang sepuh yang nyempil kecer ke Dieng setelah ikut tripnya om Jenggot. Yang juga dikabarkan ikut adalah si soham Undip = Andrehidayatarasuli :p. Bahkan ada cerita  angkot terbalik sebelum mereka naik ke Muria, untung gak ada korban jiwa atau luka serius kata om Muhyad. 2 porsi ayam bakar telah siap dan mereka lanjut ke meja makan.

sepuh OANC : om dianto & om muhyad

Farhan dkk turun dengan packingan mereka masing-masing, bersiap bubar jalan dari Dieng. Mereka (om Muhyad dkk dan Farhan dkk) saya kenalin. Kebetulan om Muhyad juga mau balik Jakarta siang ini juga. Barenglah mereka sebagai temen ke barat, syukur-syukur ada yang cinlok di bus :p. Pukul setengah 3 sore mereka bersama naik micro bus jurusan Wonosobo. Berpamitan bersalaman, Sayonara, babay dan sampai jumpa :kiss

sejenak berpoto bareng sebelum mereka pulang

Dieng  sore yang berkabut

Dengan berlalunya mereka, homestay seketika sepi #berle!. Saya bergegas ke Sembungan, ambil tenda reot dan beberapa urusan lain. Sampai di Sembungan langsung nuju rumah Aan, ndekem di depan tungku kayu, berpegangan segelas teh panas. Ngobrol dengan pak Har, sodara nemu yang sangat baik ini. Sedikit ngrampok cabe bagong buat dirumah. Ambil tenda done… balik ke Dieng lagi disertai gerimis.
Pukul 4 sore, ada sms masuk dari adik saya “mas, paketanya dah nyampai rumah”. Semakin bersemangat saya untuk pulang sore ini. Packing selesai, tak lupa pinjem jaket parasit nya mas Dwi. Kemudian pamit ke semua jajaran  staf dan kru Bu Djono hotel dan resto #berlelagi!. Terimakasih berat buat kerjasama manis ini #kiss.

Pukul 5 sore saya beranjak meninggalkan Dieng, disertai hujan yang dan kabut yang turun, jalanan sepi dan horor. Gak ada 1pun kendaraan dijumpai lewat, baik searah atau berlawanan arah. Masuk hutan kabutnya makin parah, jarak pandang kira-kira 1 meter di depan ban motor. 20km/jam mentok daripada harus nabrak tebing, masuk jurang atau terperosok ke lubang jalan yang terisi air. Suwer baru kali ini ngrasain pulang kaya gini, gimana kalau ada rampok, ada bencoleng, gimana kalau kamera, hp, duit saya dirampas mereka. Gambaran ini sempat ada di pikiran saya mengingat ga bisa memacu kencang motor dijalanan ini #nohoff.  Turun memasuki hutan yang lebih lebat lagi. Tiba-tiba inget omongan 2 bapak-bapak Koramil yang bertemu di Dieng beberapa hari yang lalu, kalau doski pernah bertemu dengan ular hitam pekat dipinggir jalan alas Kluwung yang sebesar meriam perang katanya (kalau meriam belina sih gapapa :genit), dia hanya diam, behenti sejenak mempersilahkan ular besar itu berlalu kembali masuk hutan. Semakin mengikis nyali saya… Untung dari atas terlihat ada 2 truk sayur dan 1 sepeda motor merangkak masuk hutan. Lumayan buat temen jalan menembus gelap dingin dan angkernya alas Kluwung. Lantas memacu motor supaya bisa beriringan dengan 2 truk tersebut. 1 pohon besar di pinggir jalan alas Kluwung yang konon angker saya lewatin di tengah-tengah ke 2 truk yang beriring pelan itu. Dan perjalanan terhoror di periode SBY ini berakhir ketika sampai di perkebunan teh. Turun dikit di warung ibu gorengan yang rupanya jam segini belum tutup (jam hampir isya). Mampir bentaran buat nglepas jas ujan ma minum air putih. Lega… Bergegas lanjutin perjalanan.

Sampai rumah jam setengah 8 malam dengan selamat.  Dan gak sabaran buat bongkar paketan yang dikirim teman dari ibu kota, si ojan. Di bungkusnya tertulis Kebayoran baru, Jaksel (alamat rumah tu soham :p). Perabotan lenong aing dateng juga cyiiinnn… #malus. Bongkar-bongkar paketan yang tebel kertas paketanya berlapis-lapis (kaya buka kado aja rasanya #berbusa). Tenda, SB, matras saya terima dengan segel, nice job dude!. Saya buka tuh tenda di halaman samping rumah (berpikir gubug baru mau diprawanin dimana… #mikir)

Istirahat… besok harus ke Solo buat selamatan 100 hari mbah kakung, kata mbok ku. Zzz baru aja pulang dan besok harus keluar kota lagi -_-

Weekend yang cukup menarik dan patut disyukuri apapun itu. Dari skenario Farhan dkk yang belakangan diketauhui kalau nama aslinya Geilandri (:p) sampai turun dari kayanganya perabotan lenong yang sudah ditunggu 1 bulan lamanya. Dari dapet sunrise Sikunir sampai ketemu om Muhyad di homestay. Dari gak bawa jaket tebel sampai perjalanan horor pulang alas Kluwung. Riweuhnya ati sebelum berangkat hingga bertemu dengan orang-orang baru dan karakter-karakter menarik :)
Dan berulang saya bilang “ilovemonday”

berulang kali si farhan di panggil “ge” sama the gank. dan saya percaya saja ketika diberitau nama panggilanya adalah “toge”, walau diawal sempet curiga dan berpikir gak ada korelasinya. diakhir anto kirim message di Ym, yang dimaksud “ge” itu adalah “geilandri”. ya… togeilandri, dan farhan yang asli sebenarnya gak ada dalam trip tersebut.

Dieng – the longest journey

Jam 5 sore berangkat dengan suasana cerah sabtu sore.
Ditemani teman bernama ardi “partner in crime” saya menyusuri hutan. Berbonceng bedua kaya maho, dengan rute standar yang sering dilewatin, rute Gerlang yang jalanya ancur nya makin ancur kaya sungai mengering. Mau gimana lagi, cuma jalur ini yg terdekat dan situasi yg hutan, pegunungan, ladang pertanian di sepanjang perjalanan. Jalur ini romantis kala bulan penuh . Cahaya bulan yg nembus disela sela ranting dan daun pepohonan hutan kluwung, hutan dibawah gerlang. mengingatkan akan mantan yang sering saya ajak lewat jalan ini #eeaaaa

Sesampai gerlang gerimis menjelang maghrib. Desa itu baru saja mengadakan pangajian di siang harinya, masih ada sisa sisa pedagang dan kesibukan lainya memberesi tempat itu, depan SD Gerlang. Dan sebelumnya sudah janjian dengan teman yang orang Gerlang, Dia sudah menunggu di toko pestisida depan SD, sebut dia fahri… pemuda lokal kampung tersebut. Setelah berjabat tangan dan ngobrol dengan beberapa orang yang saya kenal kami memutuskan ke rumah fahri. Sesampai dirumahnya bertemu dan “salim lebaran” dengan anggota keluarga lainya. Tanpa lama saya menyerbu tungku api di dapur untuk menghangatkan badan, tak lama teh panas tanpa gula disuguhkan. komplit juga suasana di depan tungku sambil ngobrol ngalor ngidul setelah beberapa bulan ini ga ketemu.
adzan maghrib berkumandang, saya bergegas ke mushola bareng fahri dan ardi. wudlu dengan air yg cukup dingin… ditambah… rasa kaya nginjek balok es batu ketika kaki menyentuh keramik mushola *bbrrrrrr

Setelah santap malam dirumah fahri, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, kebetulan juga hujan telah reda. tujuan kami selanjutnya adalah rumah mak dar di desa Kradenan. Fahri ikut karena mengenal mak dar juga. 5 menit perjalanan sampai jg di desa Kradenan. Sesampai disana seperti biasa, ngobrol, kopi dan makanan sisa lebaran. oh ya… mak dar mempunyai anak perempuan, sebut saja bunga. tergolong cantik lah buat ukuran perempuan gunung, perempuan desa. bisa saya bilang dia paling cantik di desanya. tapi sayang, dia sudah janda di usia muda. usia dia baru 19 tahun… nikah muda, ditinggal pergi ma suaminya dan belum mempunyai anak. orang sini meyebutnya dengan istilah “lanjar”. Kebiasaan orang desa, orang gunung, belom cukup dewasa dah main nikah aja :nohope
Saya sudah mengenal dia sebelum dia menikah. malam itu terlewati dibalik selimut tebal sembari nonton tv di dalam kamar, nonton Manchester city vs Wigan. Saya, fahri, abdi, bunga, makdar dan roni, anak makdar yg terakhir (adik bunga)
Pukul 10 malam saya dan ardi putuskan untuk melanjutkan menuju dieng. Dah malem juga jam segini harus menyusuri hutan dan jalanan sepi. Saya dan ardi berpamitan lalu pergi, sementara fahri menginap di rumah mak dar…
Gutbye Kradenan…

Dingin boy… gelap dan sepi. Dipikir kaya orang kurang kerjaan aja jam segini nglewati jalanan kaya gini. Sampai di Pekasiran meteran bensin di spedometer dan berkedip, tanda bensin mo habis. 3 rumah yg jualan bensin saya ketuk gak ada yg mau buka. Ya iyalah… jam 10 lebih, mana ada orang mau bukain pintu hanya untuk nglayanin orang butuh bensin yang seharga Rp 5.000.

Dengan nekat kami putuskan lanjut, pelan pelan lewat jalan Pekasiran, jalan arah desa Legetang *seereeemmmm… Gada satu pun kami jumpai kendaran berpapasan ato menyalip kami. sampai di PLTU Geodipa, per3an curug sirawe-kawah bitingan-kawah sileri, saya berhenti dan ambil beberapa poto. cerobong2 asap yg asapnya menyerupai kabut menarik saya untuk memotret.
horor… ditambah suara2 gemuruh dr mesin2 di areal PLTU tersebut.

15menit kemudian, sekitar pukul 12 tengah malam, sampailah di Dieng dengan bensin yg dah semakin menipis dan tubuh yg menggigil. cuma ada 1 warung kopi yg masih buka, tepat berada di depan penginapan Bu Djono. Saya memesan segelas susu coklat panas. sambil nanya, apakah masih ada orang jual bensin jam segini…
Bapak penjual kopi tersebut menunjukan 3 warung yang menjual bensin, kami samperin dan ketuk pintu tetapi ga ada 1 pun yang bukain. Pasrah deh… kalo dipikir gak mungkin cukup bensin segitu bisa nyampai Sembungan, takutnya berhenti di tengah2 jalan yang pas ga ada rumahnya. mana dah sering denger cerita2 serem jalanan Dieng sampai Sembungan. Makin nohoff nih malam!
Kami kembali ke warung kopi tersebut sambil berharap keajaiban datang.
Gimana ya gimana ya gimana ya… tukang ojek juga dah gak ada…

Gak lama kemudian mobil patroli PLTU Geodipa datang di warkop tersebut.
2 petugasnya menanyai kami mau kmana.
“petugas : arep nangdi sih mas, bengi temen
saya : badhe ke Sembungan pak, tapi bensin teng motor telas
petugas : melas temen sih, tak ter bae njo… motore deleh mburi. rika ng mburi njagani motore.”
Tanpa pikir panjang kami iyakan tawaran bapak tersebut.
Motor kami dinaikan dibagian belakang mobil 4×4 patroli PLTU Geodipa ke Sembungan. Sesampai Sembungan setelah menurunkan motor bapak itu dibayar ga mau…
dia bilang “wes rapapa mas, nyante bae, nyong ikhlas… saestu”
2 bapak itu sangat baik, datang memberi bantuan disaat yang tak terduga. thx ya pak :kiss

Seperti biasa, tempat peristirahatan paling nyaman di sembungan
rumah Diran… yang hanya berjarak 300 meter an dari kami turun dari mobil PLTU.
Disana ada beberapa anak ngumpul. mereka belom pada tidur! sippp… dinginya Sembungan masih kuat buat mereka untung begadang liat bola.

Ga puas kalo malam ini dilewatin tanpa nenda, kopi, api unggun dan genjrengan gitar. tapi apa mau dikata, sebagian dari mereka dah tumbang setelah liat bola. Kata Diran, tendaku dipake tetangga ke gunung slamet. Omg… tenda reot gtu nyampe gunung slamet! aku aja ga pernah bawa tenda itu selain ke Sikunir dan Prau *rada marah!

Pukul 4 pagi waktu Sembungan, udara masih dingin2nya, angin bertiup kencang dari Sikunir dan telaga Cebong dan semua orang dah pada tidur. Nekat juga saya keluar sendiri, sembari mengayun langkah tipis (supaya gak kedengaran ada orang jalan) menyusuri jalanan kampung dan menuju pojok barat Telaga Cebong…
Angin begitu kencang, sampe berdiri diatas batu pun rasanya mau ikut terbawa angin. Disebelah kanan bulan yg hampir penuh, dan sebelah kiri Telaga Cebong dan Sikunir yg masih tampak gelap. Dipayungi bintang bintang yang tak sebanyak kalo terlihat di dataran rendah. Rasi bintang “gubug penceng” disebelah selatan, rasi yg paling mudah dijumpai dibanding rasi yg laen.
Oh tuhan… malam indah buatanmu, walo harus dilewatin sendiri hanya dengan duduk diatas batu disudut telaga. Bersyukur aku bisa berada ditempat ini malam ini
(dalam hati tetap berbilang : anjrit malam ini ga ngecamp! )

“berapa banyak doa doa malam ini berterbangan di langit
doa aku, doa kamu, doa kita, doa kalian, doa semuanya… dan doa penentu mimpi.
doa yang saling berbenturan… doa seseorang yang berharap penuh terhadap sesorang dan sementara yang diharapkan berdoa juga buat seseorang yang laen. siklus 3, lingkup 4 atau bahkan lebih, dimana terlalu prematur untuk mengetahui siapa pemenangnya. kejadian kejadian tak terduga, keajaiban yang cepat atau bahkan penghambat mimpi kita karena doa orang yang berharap terhadap kita sangatlah kuat dibanding doa doa kita, yang kadang kalau dipikir cermat, itu kurang bijak.

mari kita lihat, doa siapa yang lebih dulu mencapai lantai tuhan,
doa yang kemudian lebih dulu menyentuh kaki tuhan.
dan berproses menjadi rasa sakit, kekecewaan, kekalahan dahulu sebelum menjadi doa yang di inginkan berupa kapas tipis dan suara pelan alam yang misteruis”

Bulan tampak sudah berlindung di Gunung Bismo sebelah barat
Angsa-angsa yang sudah mulai beraatifitas di pinggiran telaga
beserta adzan subuh dari mesjid Sembungan.
Pulang… melewati jalan tengah desa, dan banyak berjumpa warga Sembungan yang hendak sholat subuh di masjid. Banyak dr mereka bertanya : “gasik temen deke…?” lalu kujawab, “enggeh niki saking telogo pak/mak” sembari saling tukar senyum.
Mereka tetap saja ramah, menyambut orang asing yang belom dijumpainya sama skali. Makin cinta ma desa ini :berlleee
Ya… sembungan… yang katanya desa tertinggi di Jawa dengan tanah yang begitu subur…

– Perjalanan ke dieng terlama seumur-umur, jam 5 sore nyampe jam 12 malam (ngalahin jogja-dieng yang cuma 4 jam an)
– Ada aja yang harus ditemui sebelum nyampe dieng, untung terang dan bulan mau mencapai penuh

Sembungan pagi hari