Gathering Forum Traveller Kaskus 2011

Bermula dari trit ajakan untuk kumpul-kumpul bareng dan tatap muka para penghuni forum traveller kaskus, disuruhlah saya sebagai penyiap sesaji dan ubo rampe lainya bagi para bujang dan dayang nya. Siap gak siap, sanggup gak sanggup kudu meng-iya-kan titah mereka, walau harus keteteran menjadi seksi super sibuk sendiri. Apapun itu, suatu kehormatan Dieng dijadikan tempat ngumpul skala nasional ini (walau yang dateng cuma dari beberapa kota saja #hammer). Suasana yang menyenangkan bisa meet dan greet dengan semua, terutama bandit-bandit ibukota dan big boss Bali (Bang Jack)

Waktu : 3-4 Desember 2011
Venue : Dataran Tinggi Dieng (homestay Arjuna 2)
Kesan dan pesan pribadi : anda puas saya lemas


Cerita lebih meriah dan poto lebih banyak bisa dicek disini : FR Gathering Traveller – Dieng

Di Balik Keindahan Alam dan Budaya Dieng

Dieng… mendengar namanya akan langsung terpikirkan sebuah area pegunungan yang sangat dingin. Ya, Dieng adalah sebuah kaldera raksasa dari gunung Prau purba. Konon Dieng adalah sebuah cekungan bekas letusan kawah gunung Prau purba yang begitu besar. Dan bekas kawah itu menjadi pemukiman penduduk dengan pertanian yang sangat subur. Selain itu, Dieng adalah salah satu obyek wisata andalan Jawa Tengah yang dimiliki oleh kabupaten Wonosobo (dieng wetan) dan kabupaten Banjarnegara (dieng kulon).

kaldera dieng, dikiri adalah telaga warna dan pengilon

Dari sisi wisata, Dieng mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Untuk wisata dataran tinggi, Dieng merupakan tujuan wajib bagi turis mancanegara selain Bromo-Tengger-Semeru di malang dan kawah Idjen di Banyuwangi. Banyaknya pengunjung, dilengkapinya fasilitas dan diperbaikinya infrastruktur menjadi contoh wisata Dieng berkembang dengan baik. Keunggulan Dieng, banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi dalam satu komplek. Lihat saja, Telaga warna, telaga pengilon, komplek goa semar, DPT, kawah sikidang, candi bima, sunrise sikunir, telaga cebong menjadi obyek yang dimiliki oleh Wonosobo. Kemudian komplek candi arjuna, museum kailasa, candi dwarawati, kawah sileri, kawah candradimuka, sumur jalatunda dan telaga merdada menjadi milik Banjarnegara. Wisata budaya diwakili oleh candi-candi dan bangunan purbakala lain. Wisata alam banyak dijumpai berupa telaga, kawah dan keindahan alam lain. Satu area yang komplit dah banyak pilihan obyek wisata.

penginapan

Banyaknya penginapan, tersedianya transportasi, internet dan fasilitas lain menjadikan Dieng lebih baik. Dari segi ekonomi pun sangat membantu perekonomian warga pribumi Dieng. Membuka penginapan, membuka warung makan, jualan souvenir, jualan oleh-oleh, tukang ojek, rental mobil dan motor, pengusaha warnet dan guide adalah pekerjaan yang muncul setelah Dieng menjadi obyek wisata yang berkembang. Perekonomian  Dieng menggeliat, banyak pilihan profesi dan tidak melulu bertumpu pada sektor pertanian. Walau tetap di sisi lain pertanian masih banyak diminati oleh warga Dieng. Warisan alam yang begitu subur ini sangat sayang untuk didiamkan. Wortel, kobis, loncang, lombok bagong dan kentang adalah sayuran yang sering ditemui di ladang pertanian sekitar Dieng. Hasil pertanian tersebut biasanya dikirim ke kota-kota di sekitaran Jateng – DIY, Bandung dan Jakarta. Satu lagi, buah-buahan yang hanya tumbuh di dieng yang biasa disebut carica. Seperti pepaya tetapi lebih kerdil ukuranya dan baunya wangi. Buah ini biasanya diolah menjadi manisan carica, dikemas dalam botol dan menjadi salah satu oleh-oleh andalan khas Dieng.

candi dwarawati, candi di kaki gunung prau

carica

Dari sisi spiritual, dieng juga tak kalah mistis. Sebut saja goa semar. Salah satu goa yang terletak ditengah-tengah telaga warna dan pengilon. Di sebelahnya terdapat goa jaran dan goa sumur yang konon di dalam goa, antara goa satu dan goa lain saling terhubung. Goa ini bisa dilihat dari luar tetapi tidak sembarang orang boleh masuk. Di bibir goa ditutup pakai pintu besi dan digembok. Di dalam goa sering digunakan untuk ritual, semedi, meditasi, yoga,  dan kegiatan semacamnya oleh orang yang berkepentingan. Dan tentunya setelah mendapat ijin dari sang juru kunci Dieng, pak Rusmanto salah satunya . Gunung kendil, gunung pakuwaja, gunung bisma dan gunung prau adalah gunung-gunung yang dikeramatkan dan sering digunakan untuk kegiatan ritual. Masih bisa ditemuin dupa, menyan dan kembang di tempat ritual gunung-gunung tersebut.

gunung pakuwaja, batu besar untuk ritual

Dari segi alam, Dieng menyuguhkan berbagai keindahan alam lukisan maha pencipta. Kawah-kawah yang telah mati dan kemudian terisi air, kawah-kawah yang masih hidup , air terjun, bukit-bukit kecil, dan sumber air panas. Tetapi dibalik keindahan alam tersebut ada bahaya yang mengancam baik dari dalam atau dari luar tanahnya. Dimulai dari luar, keadan para petani kentang dan tanaman sayuran lain yang memanfaatkan lahan miring di perbukitan dan gunung-gunung kecil dapat memicu terjadinya erosi dan tanah longsor. Hutan yang seharusnya menjadi daerah resapan air dengan tanaman kayu keras dan akar tunggang berubah menjadi lahan gembur pertanian berakar serabut. Yang secara otomatis akan sangat mengurangi daya cengkeram tanah saat hujan turun. Tanah yang seharusnya stabil akan mudah tergerus kebawah bersama air hujan, mengingat curah hujan di dieng cukup tinggi. Sekarang pun longsor kecil sudah sering terjadi kalau hujan turun berjam-jam. Di bahu-bahu jalan, di tebing-tebing longsor sudah menjadi pemandangan wajib. Salah satu puncaknya adalah peristiwa longsor di desa Tieng, akhir Desember 2011. Puluhan rumah warga hancur dan belasan nyawa menjadi korban. Itu terjadi karena lereng timur gunung prambanan telah gundul, dari hutan berubah menjadi lahan pertanian.

telaga warna, salah satu warnanya adalah karena belerang

salah satu kawah di gunung pangonan

kawah sikidang

Tetapi sebagian warga sadar akan hal tersebut. Bersama pemerintah, sudah beberapa daerah rawah longsor mulai ditanami pohon keras. Mengembalikan kodrat awal lahan miring menjadi lahan hidup tanaman keras. Gunung sikunir sekarang tampak lebat kembali, pohon-pohon mulai besar dan petani sudah dilarang kembali membuka lahan di area tersebut. Di puncak sebelah utara gunung prau pun mulai tumbuh kembali tanaman keras seperti cemara dan pinus. Walau masih kecil, setidaknya sudah ada langkah untuk mengembalikan gunung dan lahan miring menjadi hutan kembali. Dan di beberapa tempat lain, semoga kegiatan ini terus berjalan.

papan larangan kph kedu utara

salah satu sumur pltu geodipa

telaga dringo, bekas kepundan kawah

Kedua, bahaya dari dalam tanah, mengingat Dieng adalah daerah yang masih aktif. Fumarol dari bekas gunung berapi yang masih sering dijumpai mengeluarkan asap dan gas. Solfatara yang terdapat di kawah-kawah belerang dengan gas CO dan CO2 sangat berbahaya bagi manusia dan hewan jika berbaur dalam konsentrasi tinggi. Seperti yang pada peristiwa kawah Senila 20 Februari 1979 , 149 warga desa Pekasiran meninggal menghirup gas CO (karbon monoksida) dan yang terbaru ini, meningkatnya aktifitas kawah timbang (2011) yang mengegerkan warga Batur walau tak sempat merenggut korban jiwa.

Bagai dua sisi mata koin, dibalik peninggalan budayanya yang kuat, dibalik keindahan alamnya yang hebat, terdapat dua potensi dari tanah yang bisa dibilang bom waktu bagi Dieng sendiri, bisa muncul kapan saja jika alam berkehendak. Mari kita jaga dan rawat alam ini, hingga tercipta suatu timbal balik yang saling menguntungkan.

Wasallam :)

Disadur dari tulisan pribadi di Blog Kompasiana Cincin Api (klik ikon)

*Semua poto adalah karya pribadi

Gunung Prau – Awesome Juli

Ceritanya simple…

Kami ber 3 berangkat nanjak dari Dieng jam 2 siang, jalur mainstream.
Tanpa dokumentasi karena langsung tancap gas, ngibrit bagai anjing kena timpuk,
tak lupa ditambah ngos – ngosan tapi gak pake julurun lidah loh yah #Skip

Sampai pada hutan tower sekitar jam 4 sore dan langsung turun ke punggungan gunung menuju savana, dimana kanan jalan adalah jurang dan kalau jatuh saja bisa nyampe Dieng lagi. Bagai turun step karena nginjek lantai ular di permainan ular tangga #End

#1 – Ini poto di salah 1 puncak Prau, jepretan pertama dalam jalan sehat sore ini

#2 – Duduk – duduk di savana, nikmatin angin sepoi – sepoi

#3 – Hamparan bunga daisy (sepertinya sih spesies daisy endemik prau)

#4 – Bukit cinta (salah satu bukit di puncak prau )

#5 – Dobel S, “awesome”. Ini keesokan paginya

#6 – Landscaper, nunggu sunrise

#7 – Tinggal kasih jubah dah mirip “scarecrow”

#8 – Looks warm , kanan bawah “Taman Sireang” camp area

#9 – Kontur puncak gunung yang unik. Adakah ditempat lain? beri tahu saya

#10 – Before sunrise, Bukit Singgeni mendadak tertutup kabut

#11 – Three maskenthir, tugu perbatasan (ki – ka : danar – me – eko)

#12 – Trekking pulang

#13 – Telaga wurung berkabut, penuh dengan butiran butiran embun

#14 – Tiba di bukit pertama njepret, dan itu buah Cantigi

#15 – Romansa di ketinggian

#16 – Landscape Hunter

#17 – Perjalanan turun, ketemu ibu muda yang lagi ntraining putra putrinya

#18 – Pemuda tanggung di penghujung jalan (depan gunung Pangonan)

Sampai jumpa di Prau lagi :)