Gunung Prau – Tim Sergap Indonesia

Bertepatan dengan DCF (Dieng Culture Festival) 2013

Roiz yg sudah jauh-jauh hari mengabarkan hendak ke Dieng,  DCF an sekaligus tilik Gunung Prau. Tetapi jauh-jauh hari juga saya bilang kalau gak bisa nemenin atau nganterin muter-muter edisi mbalayang kali ini. Beberapa rombongan kudu dilayani di DCF tahun ini.
*Sedikit cerita tentang Roiz, kita kenal sekitar April 2013. Sore Dia dateng dari Temanggung dan Cojack (temen Traveller Kaskus) datang dari Jakarta. Mereka ketemuan di Dieng, sebelum akhirnya kita ber3 ketemu di Dieng dalam keadaan hujan. Ngobrol-ngobrol dan ngopi di Bujono (waktu masih ada mas Dwi).  Suasana sore yg dingin tapi hangat, beberapa macam gorengan dan bergelas-gelas arak, eh kopi. Mbahas dari yg namanya A sampai Z, lor kidul wetan kulon, ngisor nduwur kiwo tengen ngarep mburi. Suasana cair kaya dah kenal lama.
Seperti rencana sebelumnya yg diutarakan Cojack, malamnya berangkat ke Sikunir, saya ngajakin Eko, temen segala suasana dari Dieng. Berangkatlah kami ber4 dalam keadaan gerimis. 10 menit sesampai di desa Sembungan gerimis makin deras alias berubah jadi hujan. Niat nenda di puncak Sikunir pun surut, kondisi suram. Suer enakan tidur di homestay dengan kasur dan selimut tebel nya, ada kopi teh panas dan cemilan suguhan homestay, racun saya bisikan selanjutnya. Tanpa lama mereka mengiyakan. Kami ber4 tidur di homestay salah 1 rekan di Sembungan. Dasar cangkem gojek ketemu cangkem nglayap, ngecret panjang lebar finish jam 2 pagi. Sekamar ber4 no problem dah, biar rapet anget.
Paginya cuaca masih sama, mereka ber3 nekat naik Sikunir walau sudah jam 7 pagi (berangkat nyunrise apa berangkat ke ladang pak #ngakaks). Nglanjutin narik selimut itu dah ide paling bagus, bosen mah Sikunir #cool. Sampai Dzuhur kami masih tertahan di Sembungan, karena memang enak bener kabut disini buat gegoleran di kasur.
Siang sekitar jam 1 an, mereka (Roiz & Cojack) pada turun ke Wonosobo, suasana langit juga tidak berubah dari kemarin, syuram bagi kami tetapi tidak bagi para petani kentang karena tanaman kentangnya sudah disiram alam. So… kadang yg kita keluhkan itu justru sangat bermanfaat bagi orang lain, entah sekitar kita atau belahan bumi lain *sok a wise*
Nah ini… Selama 2 hari 1 malam obrolan kita, Roiz berkali nyentil “ra meh jaluk tanda tangan ku po?” (gak mau pada minta tanda tanganku apa?). Loh apa maksud bocah ini… dalam ati tanya gitu. Dia siapa, bisa apa, apakah salah 1 orang yg berkompeten di salah 1 bidang dan berpengaruh? Muka dan gaya nya emang nyleneh, omonganya banyak gak jelas nya. Asu tenan pokoke cah 1 iki! hahaha
Sampai akhirnya saya tau, setelah meliat tayangan dia beserta komunitasnya, BaliBackpacker di program Kick Andy Metro Tv (baru beberapa minggu yll, video silakan searcing di youtube). Dia menjabat sebagai Dalang utama di band Ethno Experimental “Tembang Pribumi” (Website : tembangpribumi.com – Twitter : @tembangpribumi) . Selanjutnya ubek-ubek sendiri ya alamat tersebut :D* (OOT nya udahan ya, back to topic)

Semalam sebelum DCF, Roiz sms bahwa dia sudah berada di Gardu Pandang Tieng bareng Pak Dadi Wiryawan (Tim SERGAP Indonesia) dari Jogja, dengan 2 motor. Because salah 1 motornya dikhawatirkan gak kuat nanjak, maka saya turun menjemput boncengan sama Eko ke tkp. Pokoknya ceritanya kita tau-tau sampe Dieng aja dan istirahat di rumah Eko. Ramailah di rumah, Roiz, Pak Dadi dan juga Mulkan… temen titipan dr temen Backpacker Medan dan juga member Traveller Kaskus. Ngeteh ngemil gojek, tepatnya gojek kere kalau sama Roiz.

Pagi hari Dieng udah menggeliat, ramai orang dan kendaraan pada wara wiri. Saya sudah harus ngurus beberapa rombongan yang ketemu di Dieng hari ini. Dari urusan transport, ada yg lewat jalur Pantura Pekalongan – Bandar – Gerlang – Batur – Dieng  karena waktu itu memang jalur Wonosobo – Dieng ditutup karena perbaikan jembatan Tieng, sampai ngurusin tiket beserta ID card DCF, yg kelihatanya sepele tapi vital.
Siang yang sibuk, menyempatkan lah saya mengantar si Dalang edan dan Pak Dadi ke basecamp Gunung Prau di desa Patak Banteng. Maaf sekali saya tidak bisa ikut naik ke atas karena hal hal sudah menjadi kodrat saya, akhir pembicaraan sebelum mereka trekking naik dan saya balik ke Dieng.

Skip skip…
Sampai akhirnya mereka turun dari Gunung Prau keesokan harinya (hari pertama DCF) dan menjumpai foto foto dari kamera Pak Dadi seperti berikut ini ~

 


Misi mereka mengibarkan si Koneng bendera SERGAP di Gunung Prau terlaksana \m/

Hari ke 2 tamu-tamu DCF mayoritas sudah berada di Dieng hari ini. Kami mencar, Mulkan juga sudah gabung ke rombongan nya yg ngumpul di Dieng. Ketoke pagi hari nya Pak Dadi & Roiz jalan-jalan ke Sikunir, kalau dilihat jepretan beliau seperti berikut :

 


Di hari ke 2 ini, sore harinya Roiz pulang duluan. Katanya sih ada urusan yg sangat urgent di Jogja . Tapi udah ketebak sih urusan dia apaan :))) . Disertai urusan saya yang sudah selesai, Pak Dadi nambah nginep semalam di Dieng, dan baru ke esokan hari nya dia bertolak ke Jogja :D

Credit :
Dadi Wiryawan , Fotografer TIM SERGAP INDONESIA
Terimakasih atas kunjungan dan jepretannya yg luar biasa _/\_

Curug Sirawe

Sempat bingung mau nulis dalam bentuk FR (field report) atau hanya sekedar informasi baku tentang curug ini :D. Setelah dipikir, mending menggabungkan 2 gaya tersebut #uhuk

Untuk kesekian kali, bukan hal umum yang saya tulis tentang apa yang ada di kawasan dataran tinggi Dieng. Sudah banyak yang menulis tentang apa itu telaga warna, kawah sikidang, komplek candi arjuna dan hal mainstream lainya di Dieng. Itu standar dan tidak akan saya ulas. Dan mungkin juga sudah ada beberapa postingan di internet yang menulis tentang curug ini… tp saya mencoba menyajikanya ala blog ini sendiri.

Sebenarnya… secara wilayah curug sirawe masuk dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang, kabupaten Batang. Karena sejarah, orang lebih banyak mengetahui curug ini masuk wilayah Banjarnegara, tepatnya desa Bitingan. Lalu bagaimana sejarahnya? Katanya… dulu curug ini sempat menjadi rebutan 2 kabupaten, Banjarnegara dan Batang. Pihak Banjarnegara mengklaim curug sirawe sebagai asetnya karena memang sumber mata air curug (di desa Bitingan) masuk wilayah Banjarnegara. Pihak Batang tidak begitu saja meng-iya-kan klaim tersebut, karena memang curugnya sudah masuk wilayah Batang. Pihak Batang berdalih, kalau memang curug tersebut mau diaku menjadi milik Banjarnegara, pihak Banjarnegara tidak diperkenankan mengalirkan aliran sumber mata air dari desa Bitingan tersebut ke wilayah Batang oleh pihak Batang. Dengan begitu Banjarnegara diharuskan mencari jalan lain untuk meneruskan aliran sumber mata air tersebut ke wilayah Banjarnegara sendiri, tidak ke wilayah Batang. Batang rela tidak memiliki curug Sirawe asal air yang mengalir dari wilayah Banjarnegara tidak mengalir ke wilayah Batang. Itu dirasa sulit dilakukan, karena cekungan atau daerah yang lebih rendah tempat jatuhnya air yang terdapat di sekitar daerah tersebut merupakan wilayah Batang. Dan kontur disitu murni proses alam atau lebih luasnya adalah ciptaan Tuhan. Aliran air dari curug ini menjadi sungai besar di kecamatan Bawang dan bermuara di pantai utara. Jadi bisa disimpulan seperti ini :

  • Mata air berasal dari wilayah Banjarnegara, tepatnya dusun Bitingan, desa Kepakisan, Kecamatan Batur
  • Air yang mengalir manjadi curug sudah masuk wilayah Batang, tepatnya dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang

Karena proses pemikiran tersebut curug Sirawe jatuh ke pangkuan Batang. Tetapi pihak Batang tidak serta merta membangun sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata di tempat ini, apalagi mempromosikanya. Curug ini dibiarkan saja seperti aslinya. Mungkin Batang sudah berpikir antara anggaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang akan didapat. Tetapi entah nanti jika Batang berubah pikiran :). Jika dipikir, untuk membangun proyek besar ini sebagai obyek wisata yang potensial di kabupaten Batang, maka Batang harus memperbaiki jalan antara Bawang – Bintoro – Sigemplong, atau jalan antara Bawang – Pranten – Sigemplong dan jembatan di selatan desa Pranten yang entah bagaimana kabarnya :)
Review nya bisa dilihat disini : Desa Pranten

Berbicara akses ke curug Sirawe, ada 2 jalur yang bisa dilewati. Pertama jalur Pawuhan (Geodipa) – Siglagah – Sigemplong. Dari Pawuhan dihadapkan jalanan aspal dan cor beton yang mengelupas. Sesampai Sigemplong kendaraan berhenti disini, dilanjut dengan jalan kaki ke atas desa, ke lereng gunung Sipandu. Kemudian menyusuri jalan setapak alternatif penghubung desa Sigemplong dan desa Bitingan. Jalur ini sulit dan jauh. Akan lebih sulit dan berbahaya di musim hujan.
Jalur kedua bisa lewat Kepakisan – Kawah Sileri –  Bitingan. Jalur ini lebih dekat dari jalur Sigemplong. Jalanan aspal mengelupas tetap bisa dijumpai dari pertigaan kawah Sileri sampai desa Bitingan. Sampai desa Bitingan semua kendaraan berhenti, menuju curug dilanjut dengan jalan kaki.
Kedua jalur tersebut sama sulitnya ketika memasuki turunan curug Sirawe, terlebih jika musim hujan.

Mengenai hal lain, curug ini gabungan dari air panas dan air dingin serta 2 air terjun yang berjejer. Air panas berasal dari proses geothermal di pegunungan Dieng, dan air dingin dari sungai biasa. Yang saya lihat, disekitar curug masih terjaga hutan heterogen khas dengan pohon pohon besarnya.

ツ ツ ツ

Saya dan tim berangkat dari Dieng sekitar pukul 9 malam, lewat jalur Pawuhan Siglagah Sigemplong. Sekitar 15 menit kami sampai di Sigemplong, mampir ke rumah sesepuh desa tersebut. Nitip motor dan pamitan untuk bermalam di wilayah curug Sirawe. Perjalanan dilanjut jalan kaki menyusuri lereng gunung Sipandu, sepi gelap dingin dan berkabut. Sesampai tempat yang di maksud, kami bingung hendak dimana mendirikan tenda. Karena tempat landai sangat jarang dan ini merupakan bukan area camp yang wajar. Setelah pilah pilih tempat diputuskan nenda di samping perkebunan kentang warga, dimana sebelah baratnya adalah jurang curug Sirawe. Tak banyak yang dilakukan setelah tenda berdiri, ngobrol dan ngopi saja. Sesekali terdengar hembusan suara air curug yang terbawa angin. Malam ini beraura horor tapi saya suka :D. Pukul setengah 12 an kami tidur didalam tenda zzz…

Keesokan harinya, pagi jam 6 kurang 5 menit bangun dan keluar tenda, subhanallah… tepat dibelakang tenda terlihat jauh 2 curug yang berjejer tersebut, ini yang di cari! Pemandangan ini tidak kami jumpai semalaman… Terbayar rasanya bermalam disini dengan berbagai rasa semalam. Desa Bitingan nampak tertata rapi diatas curug. Dari sebelah timur muncul mentari dari sisi gunung Prau, di sebelah tenggara ada gunung Sipandu, di sebelah utara nampak ijo hutan hutan lebat. Spot yang komplit buat selow… Banyak ditemui petani yang berangkat berkebun dan tampaknya mereka bingung dengan keberadaan kami. Bermalam di tempat seperti ini mau cari apa tanya-nya…
Mengemas tenda dan perabot camp done, dilanjut jalan ke timur menyusuri lereng Sipandu, kembali menuju desa Sigemplong tepatnya. Sambil berjalan melihat aktivitas petani sekitar sini, sesekali mengobrol. Perjalanan kembali ke Sigemplong cukup lama, karena melewat jalur memutar arah desa Bintoro. Di jalur ini masih banyak terdapat tanaman ucen liar dan gandapura. Pukul 10 pagi tiba dirumah sesepuh desa Sigemplong tempat menitip motor. Gak lama berselang kami berpamitan. Sampai di penghujung desa mampir dulu di sumber air panas, berniat mandi dan melepas lelah. Kurang lebih 1 jam berada di pancuran air panas ini dan hasilnya… sangat freshhh! #lebaydikit
Pukul 12 siang lebih kami sampai lagi dieng :D

Desa Bitingan nampak diatas curug Sirawe

Matahari pagi dari samping gunung Prau

Gunung Sipandu

Lahan kentang & langit di sebelah utara

Hutan lebat disebelah barat, berjajar sampai telaga Dringo

Desa Pranten dari atas Sigemplong

Ucen liar

Lebih dekat lagi dengan Ucen

Gunung Prau

Pancuran air panas

Pemandangan depan pancuran, sekitar lereng Prau

Curug kecil sekitar pancuran air panas

Pemandangan desa Pranten dari sekitar air panas

[FR] Float 2 Nature Dieng

Yeaahhh… gatel juga pengin nulis sedikit cerita Float2Nature di Dieng kemaren. Uneg-uneg sih udah ada setelah F2N selesai, tapi mood buat cerita hitam diatas putih amat sangatlah malas. Bukanya apa-apa, tetapi saya memang bukanlah peserta apalagi panita di acara akbar tersebut. Blog-blog pribadi, website, tumblr, video-video di youtube yang tersebar di dunia maya dari peserta F2N jadi pematik buat ngekor kaya mereka (tapi tetep original tulisan saya loh ya…) #skip

Saya sendiri tau bakal ada F2N di Dieng sudah sejak akhir februari kemarin. Sore hujan itu lagi nyantai di penginapan Bu Jono Dieng, anteng di depan tv sambil nyruput kopi panas.  Datenglah rombongan mas mas dan mbak mbak yang belum saya kenal sebelumnya. Lewat mas Dwi saya berkenalan dengan 2 orang dari mereka, bang Meng, vokalisnya Float dan om Aley, selaku panitia F2N tersebut. Ngobrol-ngobrol bentar kalau mereka lagi mencari tempat yang pas untuk acara tersebut. Dan katanya mereka barusan survey ke Telaga Dringo… wow… tempat yang cocok buat acara bertema music dan alam pikir saya. Tetapi mereka tampak kurang yakin jika F2N harus diadakan di telaga dringo, karena akses jalan yang sulit dan terjal. Mengkhawatirkan kalau seperangkat alat band beserta sound sistem dan perabot lain harus melewati jalanan yang lebih pas dibilang sungai mengering tersebut. Dan wacana Telaga Cebong bakal menjadi kandidat kuat tempat acara F2N semakin jelas, dekat dengan kampung, dekat dengan Sikunir dan jalan yang relatif lebih bagus dari tempat lain. #seeedeeeppp

Sampai 2 hari kemudian setelah hari tersebut saya browsing dirumah, kalau Telaga Cebong adalah tempat bakal digelarnya acara tersebut pada 9-10 Juni 2012. klik | END

•••

Awal Juni…
Henpon berdering, telepon dari seseorang dari Jakarta… menanyakan persewaan tenda di Dieng buat tanggal 9-10 Juni di Telaga Cebong pintanya. Ok deal, ketemu di Dieng hari sabtu tanggal 9 Juni #beer

Seven days later…
Sabtu sore, setelah ashar dalam keadaan Dieng habis diguyur hujan, ketemuanlah dengan orang yang dimaksud di penginapan Bu Jono. Saya kira yang mesan tenda tersebut anak muda yang masih kuliah atau se enggaknya pemuda tanggung… Ternyata mas mas dengan pawakan tinggi besar, dan kalau boleh saya bilang mirip dengan Tora Sudiro #hahhaa. Mas Condro namanya dan bersama seorang temannya bernama mas Uman, tampaknya mereka “partner in crime” #haha pisss
Hujan agak mereda, gak lama basa basi ngobrol di penginapan Bu Jono kamipun menuju telaga cebong. Mobil carteran dari Semarang sekalian mengantar mereka ke telaga cebong (turun di bandara Ahmad Yani langsung Dieng hari itu juga)
Sesampai telaga cebong, disambut bang Meng dengan hem kotak kotak nya. Lapangan pinggir telaga dah penuh dengan tenda-tenda untuk peserta, beserta tenda-tenda panitia untuk masak, jual souvenir oleh-oleh dll. Ramai dan tampak hidup suasana pinggir telaga sore ini, gak kaya biasanya. Tenda segera didirikan di paling selatan bersebelah dengan jalan masuk, mas condro mas uman bergegas menaruh barang-barang yang dibawa ke dalam tenda #banyak benar perbekalan mereka. Obrolan sore dimulai… di tengah-tengah tenda peserta yang sudah disiapkan panitia dan seragam model tendanya, kenapa mereka ber-2 (mas condro mas uman -red) harus susah bawa tenda sendiri? (nyewa sendiri dan bukan dari panitia maksudnya). Intermezzo dikit ya… Ternyata mereka bukanlah peserta yang ikut rombongan naek bus dari Jakarta dengan budget yang ditentukan beserta ubo rampe lainya. Mereka diundang oleh teman akrab mereka yang gak lain adalah bang Meng (vokalis Float) untuk ada di acara tersebut. Tetapi dengan transport, makan, camp equipment dll nya mereka urus sendiri (dalam artian gak masuk dalam fasilitas panitia F2N). Oh jadi tau saya, setelah ketemu pertama di Bu Jono pikiran tersebut sempat terpikir tapi saya malas mempertanyakan mengapa harus bawa tenda sendir

suasana sore lapangan pinggir telaga cebong

Sore cukup cerah walau udara masih agak basah setelah hujan, lapangan yang otomatis jadi becek dan riuh orang-orang yang andil dalam F2N. Sebagian panitia dari tim Dieng kulon sibuk mengelap dalam tenda yang basah karena hujan. Maaf sedikit ya, maaf ni… kalau saya bilang tenda yang disiapkan gak rekomen buat camping masal dalam keadaan yang kena hujan. Merk “Jalan Terbaik” dirasa kurang pas untuk acara semewah F2N, baik yang model keong racun (semacam consina magnum) atau yang model imut 2p (semacam consina summertime). Untuk model keong racun saya gak tau itu dobel atau single wall, tetapi untuk yang imut jelas itu single dan tanpa flysheet. Okelah untuk cuaca tanpa hujan, tenda bakal tetap kering. Tetapi “ora bangetlah” untuk acara di lokasi yang sangat memungkinkan turun hujan secara mendadak seperti di Dieng ini. Satu saran saja, siapkan pawang hujan! #maaf lagi ya pisss
Panitia dari desa Sembungan juga gak kalah sibuk, para perempuan sebagai juru masak dan laki-lakinya urusan keperluan lain-lain di sekitar lapangan. Bisa dikata panitia Sembungan semuanya saya kenal, mereka orang-orang wisata di telaga cebong dan sunrise sikunir. #tssaaahhhh. Saya yang bukan siapa-siapa disitu akhirnya jadi ikut gabung dengan lainya, dengan panitia  juga (terutama sembungan) #hahahaaa

stage Float

Acara konser Float yang sesuai rundown acara dimulai jam 5 sore (kalau gak salah) terpaksa mundur karena ada beberapa rombongan dari Jakarta yang belom datang, denger-denger sih karena lama terjebak macet di daerah Jawa Barat.
Opening Act dari peserta pada sukarela tampil di venue memberi hiburan gratis kepada peserta lainya, ada yang band, ada yang solo vokal dengan diiringi pemain Float lainya. Cukup menghibur sembari nungguin acara sesungguhnya.

salah satu opening act dari peserta #bagus juga suara nih cewek

Sekitar jam 9 an rombongan terakhir pun datang, disambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai peserta yang sudah duluan tiba. Membaur dan bergabung membikin lapangan jadi tambah ramai. Gak lama berselang dari jalanan desa terdengar suara ramai dengan nada marah #upss. Segeremobolan pemuda desa Sembungan datang ke lapangan dan banyak yang saya kenal juga. Arrghhh ada apa ini anak-anak… pasang muka sadis dan gak peduli sama panitia-peserta, mereka langsung menghajar api unggun di tengah lapangan dengan  air… lagi butuh-butuhnya penghangat malah api dimatikan :nohope. Usut punya usut ternyata mereka (pemuda Sembungan -red) kurang suka kalau lapangan tempat mereka bermain sepak bola dirusak dengan acara tersebut, lapangan jadi makin becek, rumput terbakar karena api unggun. Ada omongan lain juga kalau acara tersebut belum ada izin dari kepala desa dan ketua pemuda desa Sembungan. Ah gak mau terlibat, saya hanya diam memperhatikan dari pojokan. Ada gak ada saya juga gak ngaruh acara #ngelesss

api unggun stelah dinyalakan kembali

Jam 9 lebih setelah urusan dengan pemuda Sembungan rampung dan api unggun boleh dinyalakan kembali, Float pun tampil. Ini 1 yang saya salut, kualitas sound mereka di alam terbuka bagus. huuaahhhh bagus pokonyaaaa… gak kalah kualitas sama sound di stage sekelas soundrenalin #ttsaaaaahhhh. Suara live bang Meng juga sama persis kaya di mp3 yang sering saya denger dirumah, persissss gak ada beda. Gak kaya acara-acara di pesawat telepisi yang lagi menjamur lipsing sekarang. Ini baru yang namanya BAND berkualitas, skill, perform, live dan sound nya mantab! (sambil bayangin bang Meng maenin blackbird nya the beatles pas cek sound). Salut juga buat sound engineer dibelakang meja mixer mereka \m/
Ditengah perform Float sempet nyempil seorang cowok yang ikut nyanyi bareng Float, suaranya keren. Lagu “Sementara” pun dinyanyikan kembali. Banyak yang histeris dan diminta kembali nyanyi bareng Float di panggung #sayang sekali kalau saja dia gak punya band! eman-eman suaranya dianggurin mas :p
Gak inget Float bawain berapa lagu, yang jelas terlihat audience puas malam itu \m/ (untuk perform Float loh ya, gak tau dll nya #ngacir).

perform Float

Setelah bubaran sebagian peserta pada balik ke tenda, ada yang makan di tenda panitia, ada yang tetep asik di sekitaran api unggun dan mas condro mas uman juga gak tau kemana. Saya milih ke rumah salah satu teman di desa Sembungan, ngopi ngobrol selonjoran disana.

Kembali ke lapangan sekitar jam 12 an, masih ada beberapa yang bertahan melek di tengah dinginya telaga cebong. Ada serombongan yang asik main game di tengah lapangan… mereka ramai sangat, gak peduli sama sekitarnya hahaha. Saya milih gabung dengan mas condro, bang meng, sebagian panitia dan beberapa orang yang baru saya kenal mengelilingi api unggun. Pada benar-benar menikmati hangatnya api unggun tampaknya, sambil bergantian maen gitar buat nyanyi bareng-bareng. Bang meng dan gitaris Float (gak tau namanya) juga tampak andil disitu. Tiba-tiba saja dapet giliran buat nyedot daun aceh kering… hmmmm #nocommentsforthenext

Minggu Jam 2 dini hari acara plus plus pun usai. Pada masuk tenda buat sitirahat… saya pindah haluan ke pojokan toilet parkiran telaga gabung dengan panitia Sembungan. Pada bakar-bakar kayu dan sampah kertas plastik yang bercecer di lapangan. Saya diharuskan gak tidur, karena jam 4 sudah harus membangunkan mas  condro mas uman buat trekking sunrise  sikunir (kalau tidur bisa-bisa mbablas sampe siang)

Jam 4 teng, para peserta sudah pada ngantri di toilet dan bersiap trekking. Bergegas bangunin mas condro mas uman. Tanpa lama kami ber3 jalan duluan, dengan tujuan gak terlalu crowded pas trekking sikunir dan bisa dapat space di puncak buat ngambil poto (soal mereka ber 2 bawa kamera dewa). Jalan di depan bawain tas kamera yang segede tas rancel 40l punya mas uman. Niat awal jalan duluan tapi mas uman gak terlalu kuat buat mendaki sikunir. Kurang biasa kali dia buat jalan nanjak sepagi ini, udara masah basah dan dingin, mana sitirahat juga sebentar semalam. Pada giliranya disalip ma rombongan peserta-panitia F2N… yah sia sia juga udah curi start karena puluhan orang jalan didepan saya dan mas uman ketika beristirahat. Mas condro melenggang dengan santai sampai puncak duluan, secara fisikly juga nampak lebih fit buat trekking.
Sampai puncak yang tengah sudah ramai, berjejer kamera buat njepret sunrise sikunir. Giliran buka tas kamera mas uman, huuwahhh ternyata kamera dengan gear lengkap, dengan lensa sepanjang termos #hahaha.
Mmmmm… golden sunrise nya mana ya kok ga nongol nongol. Cuaca cerah di sekitar sikunir, tetapi tidak untuk posisi munculnya matahari pagi itu. Sebagian awan hitam menutupi dan boleh dikatakan sunrise kali ini adalah gagal #norose

suasana camp area, pagi

aktivitas pagi

penampakan lightness #bingung

Turun sikunir jam 7an. Ada rombongan yang hendak kembali ke Jakarta pagi ini juga (takut macet dan takut gak tepat waktu mungkin). Sementara peserta F2N ngantri sarapan, mas uman mas condro berkemas dan saya bongkar-bongkar tenda. Dengan 1 bantuan teman Sembungan nganter mereka kembali ke Dieng, ke penginapan Bu Jono. Istirahat di penginapan setelah semalam gak tidur… Dan aktivitas F2N setelahnya saya tidak tahu -__-
(Rangkaian acara tersebut : tour dieng 1, lihat tarian dan kesenian adat dieng, serta penanaman pohon #kayaknya sih seperti itu)

menjelang bubaran dari telaga cebong

Mas condro mas uman cabut dari dieng sekitar jam 11 an. Mereka langsung menuju Semarang dengan mobil carteran dan langsung terbang ke Jakarta sore itu juga. Sayonara :-h

• Acara yang mengasyikan, apalagi buat yang belom pernah camping bareng atau kegiatan outdoor
• Bukan peserta dan bukan panitia, yang penting ketemu dan kenalan orang baru #modus cari link baru
• Orang desa Sembungan dan  orang di Dieng sedikit yang mengetahui acara ini
• Perform yang memuaskan dari Float
• Termasuk acara besar di Dieng dengan banyak peserta
• Diluar segala kekurangan, panitia juga manusia yang… (lanjutin sendiri ya) #larilarikecil

Gunung Jimat (2213 mdpl)

Image

Gunung Jimat… Namanya terasa asing bagi para pendaki gunung maupun pecinta alam. Ya, gunung ini bukan merupakan gunung tinggi yang biasa untuk di daki. Hanya gunung kecil yang dikelilingi perkebunan kentang.  Gunung ini terletak di jajaran gunung gunung kecil di dataran tinggi Dieng sebelah utara. Tepatnya berada di desa Pekasiran Kecamatan Batur, Banjarnegara.

Awal cerita, saya selalu penasaran dengan gunung ini ketika pulang dari dieng melewati jalanan Pekasiran dan Kepakisan. Gunung yang di puncaknya terdapat menara dan dapat terlihat dari berbagai arah.

  • terlihat dari jalanan desa Pekasiran dan Kepakisan (kecamatan Batur)
  • terlihat dari desa Surenan (kecamatan Batur)
  • terlihat dari desa Condongcampur (kecamatan Batur)
  • terlihat dari desa Kradenan dan Gerlang (kecamatan Blado)
  • terlihat dari desa Wonopriyo (kecamatan Blado)
  • terlihat dari desa Gunung Alang (kecamatan Blado)
  • terlihat dari desa Sembungan dan Sikunang (kecamatan Kejajar, Wonosobo)
  • terlihat dari puncak bukit atas Telaga Warna (Dieng)
  • dan terlihat jelas dari Telaga Dringo serta Kawah Candradimuka

Di hari yang cukup bebas, saya berpikiran untuk mendaki gunung ini. Setelah lama ditunda, saya niatkan untuk berangkat. Bukan karena hal laen, karena sebelumnya saya belum menemukan orang yang tau dan mau mengantar saya kesana (porter gitu maksdunya he he). Teman yang apes yang saya ajak blusukan alas kali ini adalah pemuda tanggung pribumi desa Gerlang. Namanya kang Diqin, dia seorang karyawan sebuah toko pupuk di desanya. Kenapa saya bilang apes…? Ya karena dia bakal saya suruh ini itu, bawain kamera, bawa bekal makanan kecil dan minuman, naik motor didepan menembus dingin dan kabutnya pegunungan (kalau hujan bakal basah duluan) sekaligus penunjuk jalan karena dia tau daerah yang akan saya tuju.

Kamis
Pukul 5 sore
Saya berangkat sendiri dari rumah dengan motor dan  peralatan seadanya. Kamera, pakaian hangat, jaket tebal dan selebihnya badan yang dipaksakan tangguh ini :cool. Mampir dulu dirumah teman yg kebetulan bokapnya punya usaha budidaya ikan darat. Saya beli ikan Nila 1 kg… buat bakar-bakar nanti malam di tempat kang diqin. (intinya sih buat nyogok dia supaya besok lebih semangat mau nganter ke gunung)
Perjalanan santai sehabis hujan menyusuri kebun teh Ngliyer dan hutan tropis di selatan kabupaten Batang, orang sini menyebutnya alas Kluwung. Hutan ini masih asri, masih banyak tanaman besar dan berbagai anggrek hutan. Masih sering dijumpai burung gagak, burung deruk liar ,kucing alas, kelinci hutan, kidang dan celeng. Sampai tiba di perbatasan hutan, daerah ini sudah merupakan daerah konservasi dataran tinggi Dieng yg masuk kabupaten Batang dengan ditandainya lahan yang sudah ditanami sayuran, kentang, kobis, loncang, wortel, kacang babi, lombok bagong dan pohon pepaya kerdil a.k.a carica. Tampak di sebelah timur adalah puncak gunung Kemulan.

Pukul 06.10 petang
Sampai di pertigaan Gerlang, berhenti disebuah toko pupuk yg dihuni kang Diqin. Ikan yang aku bawa langsung aku kasih ke sifa, adik sepupu perempuan kang Diqin buat bersihin lalu dibakar. Oh ya…Sifa adalah perempuan desa, perempuan gunung, usianya masih 16 tahun. Ia sering di toko pupuk buat bantuin jaga dan bersih-bersih disana. Orangnya ramah dan masih lugu.
Selagi ikan dibersihkan saya dan kang Diqin menyiapkan bara api untuk membakar. Acara bakar-bakar dimulai, saya dan kang Diqin bergantian meliuk-liukan kipas tangan supaya bara tetap mengangah, sementara sifa  bikin sambal kecap. Setelah semua ikan matang, kami melahapnya bertiga sampai habis. Kenyang…
Praktis tidak ada kegiatan apa-apa setelah makan malam, hanya tiduran di depan tv, selimut tebal dan menunggu mata mengantuk. Kami bertiga tidur di toko dan sifa tidur di kamar belakang. Sunyi senyap, suara-suara hewan malam dan sesekali atap seng berbunyi kala tertiup angin yang agak kencang.

Pukul 10 malam
zzz…

Jumat
Pukul 7 pagi
Bangun dengan hawa yang cukup dingin. Setelah mata melek masih saja  tetap dibalik selimut sambil nonton tv. 30menit kemudian bangkit dari pulau kapuk, cuci muka dan bergegas keluar. Mencari hangat mentari pagi alias berjemur atau kalau orang jawa bilang “karing”. Sembari melihat anak-anak berangkat sekolah (kebetulan depan toko adalah sebuah sekolah dasar). Sekolah disini masuk pukul 8. Kenapa? Jarak antar kampung sampai sekolah disini cukup jauh, jalanya aspal hancur, kalau hujan lumpur dimana-mana. Belum lagi gurunya yang rumahnya sekitar 15km dari sekolah dan harus menempuh jalanan tengah hutan yang rusak.
Di depan toko banyak petani berlalu lalang menuju ladang masing-masing, tak sedikit pula mampir ke toko untuk membeli pupuk atau obat hama tanaman sayur. Tempat yang strategis untuk berbisnis pertanian.

Pukul 9 pagi
Setelah semua siap, saya dan kang Diqin segera berangkat. Berboncengan dan saya dibelakang dengan tujuan bisa sambil tengok kanan kiri lihat pemandangan pagi sekitar sini. Melewati desa Sidongkal dan  Wonopriyo. Dari Wonopriyo menara gunung Jimat sudah terlihat. Dilanjut memasuki hutan pinus dan kemudian memasuki kawasan gunung Petarangan. Lanjut ke desa terakhir, yaitu desa Gunung Alang. Desa buntu dibawah kaki gunung Jimat. Motor kami titipkan di salah satu teman kang Diqin di desa tersebut.

Pukul setengah 10 pagi
Kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Sembari bertanya ke para petani yang kami jumpai di sepanjang perjalanan. Kang Diqin hanya mengetahui 1/2 akses jalan ke puncak gunung tersebut. Banyak para petani yang bilang tidak tahu lagi jalan menuju puncak karena jalanya sudah jarang dilewati dan tertutup rumput tinggi. Hanya 1 petani yang tau jalan ke puncak dan kami diberi gambaran beserta simpangan-simpangan yang harus kami tempuh. Dengan modal nekat dan rasa ingin tau yg tinggi kami memulai langkah dari kaki gunung. Bekas jalan masih nampak tetapi sudah tertutup rerumputan tinggi. Disini saya masih sempat menjumpai tanaman Kantong Semar (Nepenthes) dan memotretnya beberapa kali. Semoga spesies yang sudah semakin langka ini tetap bertahan dihabitat aslinya dan jauh dari tangan jahil warga sekitar.

Pukul 10 pagi
Setelah menempuh reremputan tinggi itu, kami sampai pada punggungan gunung, dari sini desa desa di sekitaran Dieng sudah mulai nampak dan puncak gunung Jimat sudah semakin jelas. Kami melanjutkan perjalanan menerobos tanaman alang-alang dengan tinggi sedada. Hampir tidak ada jalan tersisa disini, kami membuat jalan sendiri dengan membelah duren… eh rumput maksudnya…
Menara gunung Jimat sudah semakin dekat dan kami melewati tanjakan terakhir, berupa savana di puncak gunung.

Sekitar pukul 11 siang
Kami sampai di puncak gunung Jimat, kami sampai di menara setinggi kurang lebih 15 meter yang terlihat dari mana mana itu *lebay. Kang Diqin mulai memanjat tangga dari menara tersebut dan berdiri diatas (ada semacam tempat duduk yang cukup untuk 4 orang diatas). Saya tidak berani karena angin yg cukup kencang, takut kawur he he…

Saya cukup istirahat dibawah menara sambil minum dan manyantap perbekalan yang kami bawa. Dari spot ini terlihat :

  • Desa Pekasiran dan Kepakisan
  • PLTU Geodipa Dieng
  • Telaga Sewiwi
  • Gunung Nagasari
  • Gunung Sipandu
  • Gunung Butak
  • Gunung Klaras
  • Gunung Petarangan (masyarakat lebih mengenal dengan nama gunung Batur)
  • Bekas retakan gunung Pangamun-amun (Tragedi desa Legetang)
  • Kawah Candradimuka
  • Dan view yang paling fenomenal (*lebay) adalah bekas kawah yang menjelma menjadi telaga cantik di puncak gunung atau tante wikipedia menyebutnya “Telaga Dringo”

Dari sudut ini telaga Dringo terlihat lebih indah daripada ketika saya berada di dekat telaganya. Gunung Petarangan lebih terlihat sebagai gunung dan telaga Dringo sebagai kawah mati di puncak gunung. Tinggi gunung Petarangan adalah 2135 mdpl, lebih rendah daripada gunung Jimat 2213 mdpl.

Pukul Setengah 12 siang
Kira-kira setengah jam kami mengahabiskan waktu dipuncak, kami tidak bisa bersantai mengingat harus segera turun ke kampung dan jumatan. Saya yang dipaksa untuk puas dan sejenak mematikan rasa penasaran yang sudah terjawab akhirnya bergegas turun. Ditambah mendung dan kabut yang mulai naik. Jalur yang kami tempuh pun berbeda dari saat kami naik. Tanpa navigasi darat kang Diqin berani mengambil arah memotong jalan (pengalaman, feeling dan positioning orang setempat sangat berguna disaat seperti ini kali ya) Kami melewati rerumputan yang lebih tinggi dari jalan berangkat. Kang Diqin terus mencari jalan diantara semak belukar dan saya mengikutinya di belakang. Saya Sempat merasa takut kalo bakal tersesat di labirin gunung Jimat, ditambah kabut yang semakin tebal membuat jarak pandang pendek dan gak tau arah. Jalan yang kami tempuh semakin menurun menuju  jurang dan tak lekas menemui jalan penduduk atau ladang pertanian. Saya sempat berpikiran yang tidak tidak setelah mengingat ini adalah jumat kliwon… (dalam hati gak elit banget mati di gunung Jimat :hammer:)
Tapi alhamdulilah kami menemui jalan kecil yang biasa digunakan petani antar ke dua desa, Pekasiran dan Gunung alang. Kami mengikuti jalan tersebut sampai ujung lahan pertanian desa Gunung alang, tempat pertama saya bertanya-tanya kepada petani. Kami bergegas ke kampung untuk jumatan walau akhirnya tidak cukup waktu. Sesampai kampung sholat jumat sudah selesai :norose

Pukul 12.25 siang
Kami segera menuju rumah temen kang Diqin untuk mengambil motor. Karena sesampai kampung hujan kami disuruh mampir. Adat orang di pegunungan Dieng, tamu tidak dipersilahkan duduk di ruang tamu, melainkan duduk di dapur dan depan tungku kayu bakar. Biar hangat…
Beberapa hidangan dan teh panas pahit tersaji di meja, ditambah nasi hangat, telur dadar dan sayur lombok bagong (baru kali ini ngrasain sayur lombok bagong)
Kami mengobrol dengan warga setempat yang kebetulan berada bersama di depan tungku sambil menunggu hujan reda. Saya asik nanya ini itu tentang gunung Jimat. Dari obrolan tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan :

  • Warga setempat pun sudah jarang yang mendaki sampai puncak gunung Jimat
  • Warga setempat tak mengetahui fungsi menara yang berada dipuncak gunung Jimat
  • Pemuda disana tak mengetahui jalur ke puncak gunung Jimat
  • Terdapat sebuah goa beracun dikaki gunung Jimat sebelah timur (semoga suatu saat diberi kesempatan buat menengoknya)

Pukul 2 siang
Kami bergegas pulang setelah hujan agak reda. Melewati telaga Dringo yang tadi saya nikmati view nya dari puncak gunung Jimat. Sampai di toko pertanian nya kang Diqin, istirahat sebentar dan selanjutnya pulang kerumah.

Beberapa kesimpulan dari saya sendiri :

  • Salah satu spot yang menarik di jajaran pegunungan dieng yang belum terjamah banyak orang terutama oleh wisata Dieng (semoga tidak terjamah)
  • Bisa melihat beberapa view menarik dari puncak sini, seperti yang sudah dijelaskan diatas
  • Salah satu gunung yang hampir tidak ada tanaman kerasnya, hanya rumput tinggi dan semak belukar
  • Masih ditemukanya habitat Kantong Semar (Nepenthes)
  • Belum ada jalur yang tersedia untuk menuju puncak
  • Tidak ada sampah plastik/non organik di puncaknya
  • Area yang pas buat ngegalau :malus

Suatu saat saya akan mencoba kembali mengunjungi gunung ini, mencoba bermalam dan mencicipi sunrisenya… siapa berminat? he he he

Imagelembah gerlang (awal berangkat)

Imagelembah gerlang

Imagegunung kemulan (atas perkebunan teh pagilaran)

Imagepertanian desa Gerlang

Imagetelaga Dringo

Imagekantong semar gunung Jimat

Imagetrek awal

Imagegunung Nagasari

Imagedieng + Geodipa energi

Imagemenara gunung Jimat

Imagekang Diqin pose

Imagetelaga Dringo

Imagekawah Candradimuka

Imagetrekking turun

Imageareal pertanian warga

Imagemenu santab sore